Please Love Me

Please Love Me
Bab 346


__ADS_3

"Perkiraan dokter tinggal seminggu lagi kok sayang, jadi kalau kamu mau ke kantor, ke kantor saja, lagian juga ada ibu dan ayah di rumah. Kamu kan beberapa bulan terakhir bekerja hanya di rumah, datang cuma kalau ada pertemuan penting saja, rasanya tidak enak jika kantor sedang membutuhkanmu, kamu malah tidak ada, apalagi Tuan Stevano juga sedang sakit sekarang."


Jason menatap sang istri yang kini duduk di atas ranjang di hadapannya.


"Ya sudah, tapi nanti kamu kabari kalau ada apa-apa ya?" Pesan Jason yang sebenarnya enggan meninggalkan istrinya yang hanya tinggal beberapa hari melahirkan, yang Jason khawatirkan istrinya akan melahirkan disaat dia berada cukup jauh darinya dan dengan keadaan yang tidak memungkinkan. Apalagi hari ini, Jason memang ada jadwal bertemu klien di lokasi yang cukup jauh, dan butuh waktu sekitar sejam lebih untuk sampai disana. Belum lagi jika macet, karena pertemuan akan dilakukan saat jam makan siang.


"Iya kamu tenang saja, sekarang kamu berangkat ya, takutnya nanti terlambat," Lily merapikan dasi Jason, bangun menggamit tangan suaminya dan berjalan keluar untuk mengantarkan Jason ke depan.


"Ingat kabari aku jika kamu merasakan sesuatu," Ucap Jason lagi, sebelum dirinya masuk ke dalam mobil.


"Iya," jawab Lily sambil tersenyum.


"Aku berangkat dulu."


"Hati-hati."


Jason mengangguk, mencium kening serta bibir istrinya sekilas, sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil dan meminta sopir melajukannya, hari ini Jason meminta sopir mengantarnya, agar sopir nanti bisa menjemput putrinya. Sementara dia nanti akan menggunakan mobil kantor jika memang ada bertemu klien di luar.


Melihat mobil yang membawa suaminya menjauh, Lily segera masuk. Dia masuk ke kamarnya, mengambil ponsel menghubungi Dahlia, kakaknya bilang jika hari ini akan datang. Lily menghubunginya hanya memastikan jika kakaknya akan benar-benar datang.


Pintu diketuk dari luar. Begitu terbuka Dea sang ibu tersenyum padanya.


"Ibu keluar sebentar ya sama Bi Nia, kamu mau nitip apa sayang?" 


"Hmmm sepertinya tidak bu. Oh ya, ayah dan Aulia dimana bu?"


"Ayah dan putrimu di belakang. Nanti kalau ada apa-apa hubungi saja, ayah bawa ponsel kok."


"Iya bu."


"Ya sudah ibu pergi dulu." 


Lily mengangguk lalu kembali melanjutkan niatnya untuk menghubungi Dahlia yang tadi sempat tertunda.


Panggilan tidak diangkat membuat Lily memutuskan untuk mengirim pesan saja, jika Dahlia sudah membaca, maka dia akan segera menghubunginya.


"Mau ngapain ya, bosan banget," gumamnya sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling, mencari apa ada sesuatu yang bisa dia kerjakan untuk mengurangi kebosanannya, tapi semuanya masih tampak rapi.


Lily berjalan ke arah lemari, membukanya kemudian memilih beberapa pakaian yang sekiranya sudah tidak terpakai lagi, ponsel Lily berdering, Lily menghentikan kegiatannya lalu berjalan ke arah nakas mengambil ponsel, segera menggeser ikon berwarna hijau menjawabnya.


"Halo kak."


"Halo Lily, iya kakak jadi kesana, ini lagi dijalan sebentar lagi juga sampai," beritahu Dahlia yang membuat Lily senang.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu aku tunggu."


Panggilan pun berakhir, Lily kembali menutup lemarinya, lalu berjalan ke arah dapur, mencari sesuatu yang bisa dihidangkan untuk menyambut kedatangan kakaknya. Dengan perlahan dan hati-hati, Lily berjalan, apalagi mengingat tubuhnya yang terasa cepat lelah.


Menemukan puding juga beberapa camilan di meja makan, Lily segera membawa ke ruang keluarga, tempat dia akan menghabiskan waktu dengan kakaknya sebelum Dahlia akan pergi untuk menemui orang tua kekasihnya.


Begitu melewati pintu utama tepat saat bel berbunyi. Lily berjalan mendekat, meletakkan makanan di atas meja ruang tamu, membukakan pintu lebih dulu.


"Loh sudah sampai saja."


Dahlia tersenyum lalu menerobos masuk, mau cepat-cepat meletakkan barang bawaannya.


"Hmm iya, waktu kamu telepon kakak sudah di jalan, dan tadi kan kakak bilang bentar lagi mau sampai."


"Nah ini apa? Banyak banget," Lily memandangi barang bawaan Lia, kedua tangan kakaknya itu penuh, pantas saja, kakaknya menerobos masuk begitu saja.


"Hmm ini untuk ketiga ponakan kakak dong, kakak rasa, kakak akan cukup lama disana, jadi pasti kakak tidak akan melihat kamu melahirkan. Jadi kakak bawa sekarang saja, juga ini untuk Cinta dan Aulia, dua bulan lalu waktu Cinta ulang tahun, kakak tidak datang karena kakak ke luar kota dan untuk Aulia, dia pasti ngambek jika kakak hanya memberi Cinta saja," ucap Dahlia tanpa jeda.


"Terima kasih kak, tapi beneran kakak akan berangkat lusa, tidak menunggu beberapa hari lagi sampai aku melahirkan."


"Iya, maaf ya," jawab Dahlia penuh sesal.


"Ya sudah tidak apa-apa, aku doakan semoga pertemuan kakak dan calon mertua kakak lancar ya, oh ya kakak pergi sama kak Devan?"


"Tidak."


"Kata ibunya, kakak jangan memberitahu Devan tentang pertemuan kita, bilangnya untuk kejutan."


"Lalu, hmm maksudnya, ibu kak Devan sendiri yang menghubungi kakak mengajak bertemu?"


"Iya. Oh ya ada yang ingin kakak katakan juga sama kamu, kakak menerima tawaran pekerjaan disana, makanya tadi kakak bilang, kalau kemungkinan kakak akan lama."


Lily tidak suka mendengar kabar yang diberikan kakaknya terakhir, itu artinya Lily akan kembali berpisah dengan kakaknya dengan jarak yang sangat jauh.


"Jangan cemberut gitu dong sayang, kakak usahakan tiap tahunnya, kakak akan pulang."


"Tapi kak…"


"Oh ya, Aulia mana?" Dahlia mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Di belakang sama ayah."


Dahlia mengangguk mengerti.

__ADS_1


"Ini mau diletakkan dimana, biar kakak sekalian membawakannya.


"Ke kamarku saja kak."


"Baiklah, ayo!" Ajak Dahlia, mengangkat kembali barang bawaannya, membawanya masuk.


"Kamu ngapain?" Tanya Dahlia saat melihat Lily membawa nampan berisi beberapa camilan.


"Bawa ini ke ruang keluarga, buat cemilan kita selagi kita ngobrol."


"Letakkan saja disana!" Perintah Dahlia tegas.


"Kakak tidak suka?"


"Bukan seperti itu Lily, kamu jangan bawa-bawa barang, letakkan saja nanti kakak yang akan membawanya setelah meletakkan ini di kamarmu."


"Sekalian aku jalan, tidak apa-apa kok."


Dahlia menatap Lily tajam, hingga Lily mau tidak mau menuruti perintah kakaknya.


"Bagus!" Komentar Dahlia saat Lily akhirnya menuruti permintaannya.


*


*


"Kak!"


"Hmm iya," Dahlia tampak fokus menonton drama korea, tidak menoleh ke arah Lily yang memanggilnya.


Hingga tiba-tiba gadis itu terkejut saat merasakan cengkraman erat di tangan kirinya. Rupanya adiknya kini tengah meringis kesakitan.


"Kamu kenapa?"


"Kak tolong telepon ayah!"


"Ada apa? Kamu mau melahirkan?"


"Cepat kak!" 


"Ini seriusan?"


Dengan panik, Dahlia mengambil ponsel Lily, lalu menghubungi kontak dengan nama ayah.

__ADS_1


Panggilan langsung terhubung, Dahlia hanya diam, tidak tahu harus mengatakan apa, hingga ponsel tiba-tiba berpindah ke tangan Lily.


"Ayah, Ale mau melahirkan!" Teriak Lily lalu memberikan ponselnya kembali pada Dahlia.


__ADS_2