Please Love Me

Please Love Me
Bab 176


__ADS_3

"Ayo kita pulang sekarang!" Ronald segera menarik tangan Liora pergi dari sana. Ya gadis yang sedari tadi Ronald perhatikan tak lain adalah Liora.


Ronald tidak tahu, apa yang gadis itu lakukan kepada dua wanita yang tadi memojokkannya, hingga akhirnya dua wanita itu kini terlihat akrab dengan Liora. Dan Ronald juga tidak tahu darimana mendapat gaun yang...Ronald sendiri malas menjelaskannya, intinya gaun itu benar-benar terbuka, dan Ronald tidak suka melihat Liora mengenakan gaun itu yang membuat mata para lelaki menatapnya lapar.


"Tunggu! Kenapa? Pestanya belum selesai bukan? Aku juga sedang mengobrol dulu sama mereka," kata Liora yang tidak suka Ronald tiba-tiba mengajaknya pergi di saat dia sedang asyik mengobrol dengan teman-teman barunya.


"Benar Ron, biarkan Liora disini!" Kata seorang wanita membantu menahan Liora.


Tanpa mendengar ucapan Liora dan wanita itu, Ronald segera membawa Liora pergi dari tempat itu.


"Lepas!" Kata Liora mencoba melepaskan tangan Ronald yang memegang lengannya.


Tak peduli dengan aksi protes Liora, Ronald kini mengangkat tubuh Liora seperti karung beras menuju ke mobilnya, membuka pintu mobil dengan kasar dan memasukkan Liora ke dalamnya.


"Ronald, apa yang kau lakukan? Kau tahu aku tadi sedang menikmati pestanya dan…"


Jebret


Pintu mobil tertutup tiba-tiba, membuat Liora kesal bukan main, karena pria itu sama sekali tidak mendengarkan ucapannya.


"Ronald kau…" Liora menggenggam tangannya sendiri kuat-kuat, rasanya ingin melayangkannya ke wajah Ronald yang sayangnya begitu tampan.


Ronald kemudian membuka pintu mobilnya, masuk dan duduk di kursi kemudi.


"Kamu yang tadi mengajakku ke tempat ini, tapi kau juga yang membawaku pergi, kamu ini gimana sih? Tidak tahu apa jika ada orang yang sedang bersenang-senang," omel Liora.


Ronald langsung menatap Liora tajam, bukannya takut Liora justru membalas tatapan Ronald tak kalah tajam.


"Kenapa? Bukannya tadi kau juga bersenang-senang dengan para wanitamu? Terus kenapa kau malah marah?" 


"Kau cemburu? Makanya kau membalas dengan cara yang sama, dengan cara kau berdekat-dekatan dengan para lelaki menggunakan gaunmu yang kekurangan bahan ini, dan kau dapatkan dari mana gaun yang tidak layak pakai seperti itu."


"Cemburu, hahaha, kau ini terlalu percaya diri sekali Tuan, mana mungkin aku cemburu, dengan para wanita itu, oh itu sangat tidak mungkin. Aku memakai gaun ini, karena aku tidak ingin kau permalukan. Kau mengajakku ke tempat seperti itu,  bahkan kau  menyuruhku melakukan tugas pelayan, aku tahu kau sengaja ingin mempermalukanku, kenapa? Membalasku karena aku sudah membuatmu mengeluarkan uang, bukannya kau biasanya juga mengeluarkan banyak uang juga untuk para wanitamu, dan sekarang kenapa kau perhitungan denganku? Padahal yang kau keluarkan untukku hanya sedikit, tidak sebanding dengan yang kau keluarkan untuk para wanitamu," kata Liora panjang lebar, dan entah Ronald mengerti tidak dengan apa yang dikatakannya.


"Oh, jadi kau iri, kau ingin aku memberi lebih banyak? Baiklah akan kuberikan, asal kau mau juga jadi wanitaku, bagaimana?"


"Aku tidak kekurangan uang hingga harus melakukan hal menjijikkan seperti  itu Tuan," kata Liora dengan nada sombongnya.

__ADS_1


"Sudahlah, lebih baik aku turun saja disini, dan  ini…," Liora menyerahkan jas milik pria itu dan segera keluar dari mobil, kemudian menelpon seseorang.


"Terserah saja, kau mengenakan pakaian seperti itu, bukan tidak mungkin memanggil para lelaki untuk mendekat, dasar gadis angkuh," gumam Ronald langsung menancapkan gas meninggalkan Liora.


"Sial!" Ronald memukul kemudi dan memutar balik mobilnya, dan melajukannya dengan kecepatan diatas rata-rata, agar segera ke tempatnya tadi dimana dia meninggalkan Liora.


"Dimana dia?" Gumam Ronald yang tidak menemukan keberadaan Liora di tempat tadi.


Dengan panik Ronald turun dari mobilnya menghentikan seseorang yang kebetulan lewat dan bertanya pada orang itu dengan menyebutkan ciri-ciri Liora, dan sayangnya orang itu menggeleng, tidak melihat ciri-ciri gadis yang Ronald sebutkan.


Ronald berjalan mondar-mandir, bertanya kesana kemari, tapi tidak ada seorangpun yang melihat kemana perginya Liora.


Ronald mengacak rambutnya frustasi, dia tidak tahu lagi harus mencari Liora dimana, bahkan Ronald sampai merutuki dirinya sendiri karena sudah meninggalkan Liora sendiri. Bagaimanapun Liora pergi bersamanya, dan dia harus bertanggung jawab atas keselamatan Liora, tapi kalau sudah seperti itu, Ronald juga bingung harus mengatakan apa kepada orang tua gadis itu. Baru pertama kali jalan, tapi Liora sudah menghilang tanpa jejak karenanya.


Ronald kemudian kembali masuk ke dalam mobilnya, dia akan mencoba mencari Liora, dan berharap bisa menemukan gadis itu segera.


*


*


*


Jason sampai menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah sang istri.


"Aku cinta kamu sayang, cinta banget malah, terima kasih untuk tetap menjaga perasaanmu tetap tumbuh di hatimu, walaupun aku dulu pernah menolakmu," Jason kemudian mengecup seluruh wajah istrinya, dan Lily pun tersenyum geli.


"Sayang hentikan," ucap Lily yang ternyata sudah bangun entah sejak kapan.


"Kamu sudah bangun?" Jason kini menghentikan aksinya, kembali menatap Lily yang juga membalas tatapannya.


"Aku juga cinta sama kamu," ucap Lily tersenyum.


"Jadi kamu mendengarnya?"


"Hmm ya aku mendengar semuanya," jawab Lily sambil menganggukkan kepalanya.


Jason kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri, menempelkan bibirnya di bibir Lily hingga tak sadar, kini tubuh Jason sudah berada di atas tubuh istrinya. Jason menautkan kedua tangannya di kedua tangan Lily, kemudian menatap sang istri yang terlihat tengah meraup oksigen, setelah ciumannya terlepas.

__ADS_1


Jason lalu kembali menatap Lily intens, hingga kemudian kembali mendaratkan bibirnya di bibir istrinya, kembali melakukan penyatuan di pagi itu seperti semalam. 


.


.


"Ayo kita berangkat sama!" Al sudah menunggu di depan gang rumah Dahlia mengajak gadis itu, untuk berangkat ke kampus bersama.


"Kak Al sudah ada disini? Sejak kapan?" Tanya Dahlia melihat jam pada ponselnya.


"Belum lama kok," jawab Al, padahal sebenarnya pria itu, sudah ada di sana sejak setengah jam yang lalu. Al tidak ingin sampai terlambat menjemput Dahlia.


"Kita berangkat sekarang?" Tanya Al menatap Dahlia yang hanya diam saja.


"Oh, iya ayo!" 


Mendengar jawaban Dahlia, Al segera membukakan pintu mobilnya dengan semangat.


Dahlia pun segera masuk, Al berlari kecil dan masuk duduk di kursi kemudi dan melajukan mobilnya.


Tak lama mereka pun sampai, Al dan Dahlia sama-sama terdiam dan tidak juga turun.


"Kak ada yang ingin aku katakan,"


"Dahlia ada yang ingin aku sampaikan,"


Ucap Al dan Dahlia bersamaan.


"Kakak dulu," 


"Kamu duluan saja," 


Ujar Al dan Dahlia bersamaan lagi.


"Kakak dulu saja," ucap Dahlia dan Al hanya menghela nafasnya.


"Apa jawabanmu tentang perasaanku?" Tanya Al menatap Dahlia yang kini juga menatapnya.

__ADS_1


__ADS_2