
Jack tersenyum kemudian berusaha untuk menyentuh kedua bahu Liora yang segera ditepis oleh gadis itu.
"Aku hanya bercanda Liora," ucap Jack kemudian tertawa.
"Tidak ada yang lucu," jawab Liora ketus, gadis itu kemudian memukul pelan tubuh Jack menumpahkan kekesalannya karena Jack bercanda yang menurut Liora sama sekali tidak lucu, karena Liora tadi berpikir bahwa Jack serius berbicara seperti itu, dan Liora tidak tahu harus apa.
"Maaf," ucap Jack yang kini kembali menarik Liora ke dalam pelukannya.
"Biarkan seperti ini sebentar saja," ucap Jack pelan dan Liora pun membiarkannya.
Liora menepuk-nepuk punggung Jack, Liora sangat tahu bagaimana perasaan Jack saat ini, karena bagaimanapun dia pernah merasakannya, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, karena cinta memang tidak bisa dipaksa.
"Sudah terima kasih," ucap Jack melepas pelukan dan menatap Liora.
"Jaga dirimu baik-baik dan selamat atas pernikahanmu, maaf karena nanti mungkin aku tidak bisa datang."
"Kenapa tidak menunggu sampai hari pernikahanku?"
"Ada pekerjaan yang harus aku urus secepatnya," kata Jack mencari alasan yang masuk akal.
"Ternyata pekerjaan lebih penting dariku," sindir Liora.
Liora menatap Jack sendu, sebenarnya Liora tahu jika itu alasan Jack saja. Tapi Liora berpura-pura saja tidak tahu.
"Bukan seperti itu…"
"Baiklah, kamu juga jaga diri baik-baik di sana, dan ingat, jika kamu tidak betah, kamu harus segera kembali, Kak Max pasti akan dengan senang hati menerimamu lagi," ucap Liora memotong ucapan Jack.
"Hmm tentu saja."
Jack kemudian berpamitan saat mendengar pengumuman keberangkatan pesawatnya. Pria itu menarik nafas dalam dan menghembuskan nafasnya perlahan, saat mulai melangkah. Jack berbalik dan melambaikan tangannya pada Max dan Liora yang dibalas pula lambaian tangan keduanya.
"Apa yang aku katakan sebenarnya itu yang ingin hatiku katakan."
(Maafkan aku Jack)
"Selamat tinggal Liora!"
(Selamat tinggal Jack!)
"Jaga dirimu baik-baik!"
(Kamu harus menjaga diri baik-baik)
"Selamat atas pernikahanmu pada lelaki yang menjadi pilihanmu!"
(Terima kasih atas apa yang kamu lakukan selama ini)
"Semoga kamu bahagia bersama pilihanmu Liora."
__ADS_1
(Semoga kamu menemukan kebahagiaanmu Jack yang tentunya bukan aku)
Jack kini sudah tak terlihat lagi, dan Liora yang sedari tadi menatap punggung Jack yang semakin menjauh, kini tumpahlah sudah air matanya, gadis itu merasa sedih karena harus kehilangan temannya.
Max yang melihat itu merangkul sang adik dan memintanya untuk duduk.
"Dia pergi Kak, dia pergi dan semua karena aku," ucap Liora lirih.
Max menarik Liora ke dalam pelukan.
"Semua bukan salah kamu El, Jack memutuskan untuk pergi karena dia ingin memulai semuanya dari awal, kamu tidak ada kaitannya dengan kepergian Jack."
"Tapi kak…"
"Sst! Jack bilang dia akan datang berkunjung suatu saat, jadi kamu jangan sedih lagi, dan ini…" Max menyerahkan sebuah paper bag berukuran cukup besar pada Liora.
"Jack menitipkan ini pada Kakak, dia bilang ini sebagai hadiah pernikahanmu," kata Max kemudian.
Liora menatap kakaknya dan ragu menerima hadiah itu. Tapi Max meyakinkan Liora untuk menerimanya.
"Sekarang kita pulang?" Ucap Max dan Liora pun mengangguk setuju, keduanya kini berjalan keluar.
"Kamu yakin bisa sendiri?"
"Hmm, iya Kak, El mau ke butik sebentar mengambil barang lalu akan langsung pulang, Kak Max akan ke kantor kan?" Tanya Liora.
"Iya, ya sudah kamu hati-hati di jalan."
Liora membuka kaca dan berpamitan pada Max, lalu gadis itu tampak menutup kacanya kembali dan mulai melajukan mobilnya, setelah melihat Liora sudah pergi, barulah Max masuk ke mobilnya dan segera mengendarai mobilnya menuju kantor.
*
*
Lily tampak asyik bermain dengan Cinta di taman, wanita itu tampak tersenyum saat melihat nama di layar ponsel yang saat ini tengah menghubunginya. Buru-buru, Lily menggeser ikon berwarna hijau menjawab panggilan video itu.
"Halo Kak," ucap Lily saat melihat layar ponselnya kini penuh dengan wajah gadis cantik yang kini tersenyum padanya.
"Halo, kamu sedang apa? Kakak tidak mengganggumu kan? Kakak sangat merindukanmu, makanya setelah kakak selesai, Kakak langsung menghubungimu."
"Tidak kok, tidak mengganggu sama sekali, aku justru senang, akhirnya Kak Lia menelpon, oh iya ini aku sedang bermain dengan Cinta." Lily mengarahkan kameranya ke arah Cinta yang tampak sibuk menyusun bunga-bunga yang tadi dipetiknya.
"Hai Cinta," ucap Dahlia tapi Cinta justru tampak asyik tidak mempedulikan Dahlia yang menyapanya.
"Cinta, ini Bibi Lia lagi ngomong loh sama Cinta," ucap Lily pada putrinya.
"Halo Bibi," ucap gadis kecil itu tanpa menatap ke layar ponsel.
"Yah, Kakak dicuekin tuh Ly sama anak kamu."
__ADS_1
"Ya biasa dia Kak, kalau lagi asyik sama sesuatu, lupa sama sekitar."
"Iya seperti kamu dulu," jawab Dahlia yang mengingat masa kecil mereka.
"Iya kakak benar," ucap Lily membenarkan perkataan kakaknya itu.
"Oh ya kak, aku punya kabar bahagia," Lily sudah lebih dulu tersenyum sebelum memberitahu kabar bahagia itu.
"Oh ya, apa?"
"Aku sedang hamil lagi, Cinta akan punya adik," kata Lily senang.
"Benarkah, wah selamat ya sayang, Kakak ikut senang, akhirnya kakak akan punya keponakan lagi," jawab Dahlia yang ikut senang mendengar kabar bahagia dari adiknya.
"Makanya, Kakak cepat-cepat pulang dong, aku sangat merindukan Kakak, aku ingin kita berkumpul lagi."
"Hmm tentu saja Kakak akan pulang, tapi nanti ya."
"Sampai kapan?"
"Hmm mungkin setelah kakak lulus, kakak akan mencari pekerjaan dulu disini, bagaimanapun kakak tidak boleh menyia-nyiakan apa yang sudah suami kamu keluarkan untuk membantu kakak selama disini. Jadi Kakak harus lulus dengan nilai terbaik dan juga harus mendapat pekerjaan yang layak dulu."
"Itu pasti akan sangat lama,"
"Tidak hanya beberapa tahun lagi saja, setelah itu kakak pasti pulang dan akan kembali menetap di tempat kakak lahir dan tumbuh besar."
"Baiklah, jika itu keputusan kakak, tapi jika kakak ada waktu luang, kakak harus janji untuk pulang walau sebentar."
"Iya kakak janji, kakak akan sempetin untuk pulang dan ketemu sama kamu dan anak-anakmu."
Lily senang mendengar apa yang Dahlia katakan barusan.
"Bibi Ia, ini untuk Bibi!" Cinta menyodorkan setangkai bunga pada Dahlia, yang membuat gadis itu begitu senang.
"Wah makasih sayang, bunganya cantik sekali," ucap Dahlia yang jadi tidak sabar ingin bertemu dengan keponakannya yang lucu itu.
"Sini biar Ibu yang simpan bunganya," ucap Lily pada putrinya, dan Cinta pun segera menyerahkan bunga itu pada ibunya.
"Kakak tidak sabar ingin bertemu Cinta, padahal dulu waktu kakak lihat dia baru lahir, dan sekarang dia sudah besar bahkan sudah pandai berjalan," kata Dahlia yang kini memperhatikan Cinta yang saat ini sedang asyik memasukkan bunga-bunga ke dalam vas.
"Aman!" Teriak Cinta tiba-tiba, berlari ke seseorang yang baru datang dan menarik tangan pria itu.
Cinta kemudian merebut ponsel di tangan ibunya.
"Bibi Lia halus kenalan sama Aman," ucap Cinta polos.
Dahlia yang tidak tahu siapa yang dimaksud Cinta hanya mengangguk saja.
"Aman, kenalkan ini Bibi Lia," ucap Cinta menyerahkan ponsel Lily pada Al membiarkan pamannya itu berkenalan dengan bibinya.
__ADS_1
Al dan Dahlia sama-sama terkejut, saat kini mereka saling bertatap muka lewat ponsel.