
"Jadi rindumu hanya sedikit saja, lebih sedikit dari rinduku?" Kata Lily dengan mata yang sudah berkaca-kaca, tiba-tiba saja dia begitu sensitif mendengar apa yang suaminya katakan hingga membuat dirinya ingin menangis.
"Sayang kok menangis, bukan begitu maksudku, rinduku sangat besar kok, hmm sangat-sangat besar," kata Jason meralat ucapannya menangkup kedua pipi sang istri.
"Benarkah? Kamu tidak bohongkan?"
"Benar sayang, untuk apa aku berbohong. Oh ya kamu minum su*su dulu, biar anak kita sehat," Jason segera mengambilkan su*su yang tadi dia letakkan di atas meja dan memberikannya kepada Lily.
Lily tersenyum menerimanya dan langsung meneguk minuman berwarna putih itu hingga tandas.
"Pintarnya istri aku," kata Jason yang mengusap lembut rambut Lily.
"Tunggu, semalam kan aku ada di rumah sakit nemenin Ibu, kenapa aku tiba-tiba sudah ada di rumah?" Lily menatap suaminya meminta penjelasan.
Jason menceritakan semuanya dari dulunya yang dari bandara langsung pulang ke rumah, tapi begitu sampai di rumah, dia tidak mendapati keberadaan istrinya, kemudian bertanya kepada Bibi, dan Bibi bilang Lily ke rumah sakit. Mendengar itu Jason langsung panik, dia takut terjadi apa-apa dengan istrinya. Tapi perkataan Bibi selanjutnya membuat Jason lega, Bibi bilang bukan istrinya yang sakit tapi istrinya hanya menemani saja.
Akhirnya Jason pun menelpon Al menanyakan di rumah sakit mana istrinya berada, setelah tahu, Jason pun segera keluar menuju ke mobilnya dan melajukan mobilnya di jalanan yang sudah hampir pagi, dia baru pulang, setelah menempuh perjalanan yang begitu panjang, dan kini dia justru pergi menjemput istrinya. Jason sungguh ingin segera bertemu sang istri tercinta, tidak peduli dengan rasa lelahnya.
Begitu sampai di sana, Al sudah ada di depan rumah sakit menunggunya, kemudian mengajak Jason untuk masuk. Dilihatnya sang istri tertidur di sofa sementara Dahlian tidur di kursi dekat brankar dengan kepala di sisi ranjang rawat yang kosong.
Perlahan Jason mendekat ke arah istrinya, dan jongkok di depan sofa memandangi wajah Lily yang belakangan itu begitu sangat membuatnya rindu.
"Bangunkan saja!" Kata Al yang hanya melihat Jason mengusap wajah adiknya.
Jason menatap ke arah Al, Al menghela nafasnya.
"Ale sudah tidur cukup lama, lagian ini sudah pagi, tidak apa-apa jika mau membangunkannya," jelas Al dan Jason kembali menatap istrinya.
"Tidurnya masih nyenyak, aku tidak tega membangunkannya."
"Kamu mau menggendongnya? Hmm, apa perlu aku minta kursi roda saja?"
"Tidak perlu, ayo!" Kata Jason yang kemudian berdiri.
"Aku akan menggendongnya dan aku butuh bantuanmu bukan untuk ke bawah hingga menuju ke dalam mobilku?"
"Benar juga, ya sudah ayo!" Kata Al yang kemudian langsung membuka pintu saat Jason sudah mengangkat tubuh istrinya.
Al pun mendampingi Jason dan membantu adik iparnya itu, hingga sampai di mobilnya. Al membukakan pintu mobil, Jason pun mendudukan Lily di kursi sampingnya, dan gadis itu tidak terusik sama sekali, hanya menggeliat sebentar dan kembali tertidur lagi.
Mendengar itu, Lily kembali membentangkan tangannya dan Jason pun dengan senang hati masuk ke dalam pelukan istrinya.
"Mau makan apa?" Jason bertanya pada sang istri tanpa melepaskan pelukan mereka.
__ADS_1
"Hmm apa ya? Aku mau makan masakan kamu, sudah lama banget kan, terakhir sebelum kita menikah," kata Lily mengingat saat dirinya berada di rumah pria itu.
"Baiklah, ayo!" Jason melepaskan pelukannya kemudian turun dari ranjang dan membantu Lily turun.
Keduanya kemudian berjalan bergandengan menuju dapur.
"Kayak nyebrang jalan aja gandengan," cibir Al yang juga baru keluar dari kamarnya, entah sejak kapan pria itu pulang ke rumah.
"Kalau iri ngomong aja kali Kak, ayo sayang," kata Lily yang kini justru bergelayut manja di tangan suaminya.
"Siapa juga yang iri," Al kini mengikuti keduanya ke dapur, dirinya juga sudah lapar, jelas saja karena saat ini sudah lewat jam sarapan.
Jason kemudian langsung masuk ke dapur, Lily mengambilkan celemek dan memakaikan kepada suaminya.
"Sayang menunduk!" Perintah Lily dan Jason pun hanya menurutinya.
Setelah itu Jason pun mulia berkutat dengan alat-alat masak membuat makanan spesial untuk istri tercinta.
"Sudah kamu duduk saja, nanti kalau sudah matang aku bawa ke meja makan," kata Jason yang tidak tega melihat istrinya terus berdiri di sampingnya.
"Baiklah, jangan lama-lama ya sayang," Lily kemudian mencium pipi Jason sebelum dirinya menuruti perintah suaminya itu untuk duduk saja.
Al hanya mencebikkan bibir kesal, saat melihat tingkah adik dan adik iparnya.
Lily mengangguk cepat, "Masakan Jason enak Kak tentu saja aku yakin."
"Dari mana kamu tahu masakan dia enak? Memangnya kamu sudah pernah memakan masakannya.
"Hmm iya sudah, kakak tidak percaya?"
Al hanya mengedikkan bahunya, dan Lily cemberut lalu menoleh dan memandangi suaminya yang sudah seperti chef saja.
"Kak bagaimana pertemuanmu dengan Kak Lia semalam?" Tanya Lily menatap wajah kakaknya mencari tahu dari ekspresi wajah kakaknya apa yang terjadi, tapi wajah Al hanya datar hingga Lily tidak bisa menebaknya. Dan kini ditambah dengan Al yang tiba-tiba diam membuat Lily merasa jika pertemuan itu berakhir buruk.
*
*
Flashback:
"Kamu dimana?" Tanya Al setelah panggilan terhubung.
"Aku disini Kak," Dahlia melambaikan tangannya agar Al bisa melihatnya.
__ADS_1
Ada perasaan ragu, saat Dahlia melangkahkan kakinya untuk menemui pria yang malam ini mengajaknya bertemu, pria itu bilang ada hal penting yang ingin dibicarakannya.
Dahlia menghela nafas panjang dan mempercepat langkahnya agar bisa dengan segera menyelesaikan masalahnya dengan Al. Dahlia ingin semuanya jelas sebelum dia pergi.
Dahlia menarik kursi yang berhadapan dengan tempat duduk Al.
Al menatap Dahlia tanpa berkedip untuk beberapa detik, hingga akhirnya dia tersadar.
"Kamu mau pesan apa?" Tanya Al kepada gadis itu.
"Samain aja," jawab Dahlia yang benar-benar gugup.
Al mengangguk dan memanggil pelayan lalu memesan minuman untuk mereka berdua.
"Jantung kenapa kamu deg-degan seperti ini sih," kata Dahlia dalam hati meremas kedua tangannya di bawah meja.
"Dahlia ada yang ingin aku katakan," ucap Al.
(Jangan berharap Dahlia)
"Aku…
(Nanti kamu akan sakit jika harapanmu tidak sesuai dengan kenyataan)
"Aku mau bilang…" ucapan Al terhenti saat pelayan datang dan meletakkan minuman.
Sementara Dahlia menunduk, Dahlia masih mempersiapkan diri jika memang yang Al katakan mungkin akan menyakitinya.
"Lily bilang kamu mau pergi?"
"Hmm," jawab Dahlia hanya dengan gumaman.
"Kak Al tenang saja, aku tidak akan…"
"Please Lia, ijinkan aku menyelesaikan ucapanku dulu," kata Al menatap Dahlia, baru pertama kalinya pria itu memanggil dirinya Lia.
Dahlia langsung diam dan memberi kesempatan kepada pria itu untuk melanjutkan ucapannya.
"Saat Lily bilang kamu pergi, saat itu juga aku sadar, bahwa usahaku selama ini untuk menipu hatiku ternyata sia-sia, karena apa? Karena aku sadar kalau aku sungguh menyukaimu," Al menarik tangan Dahlia yang sudah ada di atas meja dan menggenggamnya.
"Jadi Dahlia apa kamu mau menjadi kekasihku?"
"Tidak," jawab Dahlia.
__ADS_1
"Baiklah," jawab Al membuat Dahlia menatapnya.