Please Love Me

Please Love Me
Part 66


__ADS_3

"Ayah tidak salah alamat?" Tanya Lily barangkali Alan salah alamat.


"Tidak, ini memang alamat yang benar," jawab Alan yang merasa heran dengan pertanyaan gadis itu.


"Maksud Ayah kita akan memenuhi undangan Tuan William?" Tanya Lily yang kini tidak melanjutkan langkahnya sedikitpun. 


Entah kenapa tiba-tiba perasaannya tidak enak saat dirinya berkunjung ke rumah itu. Entahlah Lily pun tidak tahu kenapa dirinya merasakan perasaan semacam itu.


"Iya katanya sebagai ucapan terima kasih, padahal ini sudah kewajiban Ayah sebagai seorang dokter," kata Alan yang belum menyadari ekspresi Lily yang berubah.


"Ayo!" Al mengulurkan tangan untuk menggandeng tangan gadis itu.


"Ayah masuk dulu!" Kata Alan yang ingin memberikan waktu untuk putranya bersama dengan gadis yang dicintainya itu.


Al mengangguk tapi tidak dengan Lily, dia masih terpaku di tempatnya enggan beranjak.


"Ayo kenapa diam saja? Bukankah harusnya kamu senang karena bisa bertemu dengan Jasmine?" Tanya Al yang bingung menyadari ekspresi Lily.


"Apa kau takut bertemu dengannya?" Tanya Al setelah beberapa menit menunggu Lily dan gadis itu hanya diam saja.


Lily menoleh dan mendongakkan kepalanya, untuk bisa melihat wajah Al, karena pria itu jauh lebih tinggi darinya.


"Maksud Kak Al?" Kata Lily yang benar-benar tidak tahu apa yang dimaksud pria yang kini sedang bertatap mata dengannya.


"Kamu tidak mau masuk bukan karena kamu takut bertemu dengan Asisten Suami Jasmine Kan?" Al menatap Lily dengan tatapan yang sulit diartikan.


Lily diam, dia tidak menyalahkan ataupun membenarkan, karena memang salah satunya adalah karena hal itu, dan yang lain dia tidak ingin bertemu Liora, entah kenapa Lily merasa enggan sendiri bertemu gadis itu, apalagi jika gadis yang usianya lebih tua lima tahun darinya mengetahui jika Jason mencintai dirinya, Lily merasa tidak enak sendiri, walaupun sebenarnya Lily tidak perlu bersikap seperti itu, perasaan cinta siapa yang tahu, toh dia tidak memaksa Jason, pernah memaksa, tapi setelah mendapat jawaban Jason waktu itu yang katanya mencintai Liora, Lily pun mundur, tapi di saat Lily mencoba menjauh, justru Jason yang selalu mendekatinya, dan itu bukan salah Lily, juga bukan salah Jason, karena pada dasarnya perasaan tidak bisa dipaksakan.

__ADS_1


Lily menghela nafas, "Dari Mana Kak Al tahu tentangnya?" Tanya Lily yang memang penasaran kenapa Al bisa tahu tentang Jason.


"Itu tidak penting Lily, yang terpenting sekarang kita harus masuk, terlepas ada tidaknya pria itu, jangan kecewakan Ayah ku mohon!" Pinta Al yang kemudian meraih tangan Lily dan membawanya untuk masuk ke kediaman William Anderson.


Pandangan Jason dan Lily bertemu, Jason menatap tidak percaya gadis itu ada disini sekarang dan yang membuatnya kemudian diam membeku adalah tangan gadis yang dicintainya itu sedang ada dalam genggaman pria lain. Salahkah Jason cemburu?


"Paman, paman, Papa memanggil!" Alno mengguncang kaki Jason karena pria itu hanya diam saja saat Stevano memanggilnya. Mungkin saat ini pikiran Jason sedang tidak berada di tempatnya.


Setelah mendapat guncangan pada kakinya, Jason pun menyetarakan tingginya dengan Alno dan menggendong Alno menghampiri Stevano yang berdiri tidak jauh darinya.


Sementara Lily hanya diam, dia mencoba melepaskan genggaman tangan Al, tapi Al justru memperatnya dan tidak mau melepaskan sama sekali, Lily mendongak menatap Al, tapi Al tidak peduli dan hanya bersikap cuek saja kemudian ikut berjalan menghampiri Stevano.


Lily menatap punggung Jason yang berjalan tepat di depannya dengan jarak mungkin sekitar satu meter. Lily merasa kecewa karena Jason bahkan tidak menyapa, atau sekedar memberikan senyum untuknya.


"B*d*h kau Lily! Kenapa kau mengharapkan itu, bahkan kau sendiri sedang bersama pria lain," ucap Lily dalam hati menyalahkan dirinya sendiri.


Lily menunduk dirinya merasa sedih saat Jason tidak peduli padanya, padahal itu yang pernah dia katakan, Lily ingin melupakan pria itu, tapi kini Lily justru masih tampak terlihat jika dia masih mengharapkannya.


"Apa mencintai seseorang rasanya dan orang itu bersikap abai, rasanya sesakit ini? Lily kemudian mendongak menatap langit-langit ruangan itu, berusaha untuk tidak membuat air matanya terjatuh begitu saja. Lily memegang dadanya yang begitu sesak, tapi dia berusaha agar orang-orang tidak ada yang tahu tentang yang dirasakan hatinya. Dia mencoba untuk pura-pura baik-baik saja.


"Hei kita bertemu lagi," sapa Al pada Stevano dan menjabat tangannya.


"Iya, silahkan masuk, semuanya sudah menunggu di ruang makan," kata Stevano yang mempersilahkan dua tamunya itu.


Tampak di meja makan, semua anggota keluarga William Anderson berkumpul kecuali putra keduanya Maxime Anderson dan istrinya mereka sedang ada di negara tempat istri Max berasal.


Lily kembali menghentikan langkahnya, saat melihat jika saat ini Jason duduk di samping Liora, sakit tentu saja, tapi kemudian tetap melangkahkan kakinya, perkataan Al tiba-tiba terlintas di pikirannya, yaitu Lily tidak ingin membuat pria paruh baya yang memperlakukannya seperti putri sendiri merasa kecewa, hingga dia mencoba baik-baik saja, berjalan mendekat ke meja makan yang panjang itu, untungnya yang kosong di samping Jasmine dan Ayah Al. Hingga Lily pun memutuskan untuk duduk di samping Jasmine dan Al, ada di samping Ayahnya.

__ADS_1


"Oh ya kenalkan ini putraku dan gadis ini..,"


"Dia kekasihku Paman," kata Al memotong ucapan Ayahnya.


William dan Tiffa istrinya saling pandang.


"Anak muda sekarang memang sangat semangat apalagi memperkenalkan kekasihnya," gurau William dan Al pun tersenyum menanggapi.


"Oh ya kalian ini teman Olivia kan Nak?" William kini bertanya pada menantunya.


"Iya Pi, mmm lebih tepatnya sahabat baik," jawab Jasmine sambil tersenyum, dan mendapat pengakuan dari sahabatnya itu, Lily ikut tersenyum.


Dan hal itu tidak luput dari pandangan Jason.


"Oh ya Nak Al, Bibi sangat berterima kasih karenamu Bibi bisa berumur panjang, hingga bisa melihat anak-anak Bibi lagi," ucap Tiffa tulus.


"Tidak perlu berterima kasih seperti itu Bibi, aku senang bisa membantu, apalagi membantu Jasmine," ucap Al tak lupa dengan tersenyum.


Mendengar nama istrinya disebut laki-laki lain, Stevano yang tadi sedang menyuapi Alno kini mengangkat kepalanya dan menatap Al tajam, apalagi yang di dengarnya adalah panggilan Jasmine yang orang-orang terdekatlah yang memanggil seperti itu.


"Lihatlah Kak Al kau membangunkan macan yang sedang tidur," kata Jasmine yang melihat tatapan suaminya terhadap Al, dan Jasmine hanya ingin mencairkan suasana karena saat ini orang yang ada di samping dan juga depannya sepertinya tengah berperang dingin


Semua orang di sana serempak tertawa sambil melihat Stevano yang sampai saat ini masih menatap tajam Al.


"Oh jadi dokter Alan akan segera punya menantu ini, kami juga sepertinya begitu, Lihatlah mereka sangat cocok bukan," kata William menunjuk pada Jason dan Liora.


Deg

__ADS_1


Sebagian besar orang yang berada di meja makan itu tiba-tiba terdiam sibuk dengan pikirannya masing-masing.


__ADS_2