
Seorang gadis mengendarai mobilnya ke bandara, hari ini dia akan menjemput orang tua, Kakak dan Kakak Iparnya. Liora memutuskan untuk berdamai dengan keadaan, Liora memutuskan untuk kembali ke rumah orang tuanya yang dia tinggalkan cukup lama.
Saat Liora sedang mencari-cari keberadaan keluarganya, tiba-tiba ada yang menepuk bahunya dari belakang. Liora menoleh dan terkejut melihat siapa pelakunya.
"Kamu lagi," ucap Liora memutar bola matanya ketika tahu siapa orang itu.
"Hei El, sepertinya ini takdir, karena kita akhirnya bertemu lagi," ucap pria itu tersenyum.
"Jangan sok kenal, aku tidak mengenalmu, dan apa tadi kamu bilang? Takdir? Ini itu cuma kebetulan, jadi jangan terlalu berharap," ketus Liora kemudian kembali fokus mencari orang yang dijemputnya.
"Hei aku Ronald, ingat ya Ronald, jadi jangan lupakan itu dan selalu ingat baik-baik. Oh ya Sekarang jemput siapa Ibu, Kakak, adik atau mungkin kekasihmu?"
"Bukan urusanmu dan pergilah!" Kata Liora mengusir Ronald.
"Oh oke baiklah, sampai ketemu nanti," ucap Ronald meninggalkan Liora.
Tapi tak lama Liora justru kembali menarik tangan Ronald, membuat Ronald bingung akan tingkah gadis yang dia kenal bernama Elora, Elira, entah El siapa, yang Ronald ingat hanya El saja.
"Bukannya tadi kamu mengusirku El, tapi lihatlah tanganmu justru menahanku," bisik Ronald sambil menatap Liora.
"Ternyata semua wanita yang aku temui sama saja, awalnya menolak, tapi sekarang justru menahanku," tambah Ronald dalam hati menatap tidak suka pada Liora.
Dia kira Liora adalah gadis yang berbeda dari wanita-wanitanya, karena di awal pertemuan mereka, gadis itu selalu berbicara ketus padanya dan tidak ada tanda-tanda ketertarikan pada Ronald, hingga Ronald pun tertarik padanya, dan melihatnya kali ini, membuat Ronald mengecap Liora sama dengan wanita-wanitanya, gadis itu hanya jual mahal, itulah yang Ronald pikirkan.
"Diam dan jangan protes!" Kata Liora masih menggenggam tangan Ronald.
"Baiklah baby, aku akan dengan senang hati akan menuruti keinginanmu, habis ini kita mau kemana ke hotel? Dan setelah kita menghabiskan waktu bersama, kamu mau minta apa, tas mahal, mobil atau uang?" Tanya Ronald tersenyum mengejek.
Liora menoleh dan menatap Ronald tajam, tidak mengerti apa yang dikatakan pria itu.
"Aku bilang diam, bukan bicara tidak jelas seperti tadi."
"Hei ayolah, aku tahu apa yang kamu inginkan sekarang baby!" Ucap Ronald yang kini menarik pinggang Liora, sepertinya Liora sedang mengujinya saat ini.
__ADS_1
Liora menahan dengan menggenggam tangannya tapi pandangan Liora justru tidak menatap Ronald, Liora terus menatap ke depan.
Liora sedikit mendorong tubuh Ronald dan melepaskan tangan Ronald yang ada di pinggangnya.
"Jangan seperti ini! Dan kumohon bantu aku kali ini saja." Pinta Liora hingga sebuah suara membuat Ronald berbalik badan. Karena posisinya tadi berhadapan dengan Liora.
"El siapa ini?" Tanya seorang pria paruh baya.
"Papi!" Liora langsung melepaskan tangannya yang menggenggam tangan Ronald dan memeluk William erat, mendiamkan dan menghindari orang tuanya belakangan ini, membuat kerinduan Liora berkali-kali lipat saat bertemu ayahnya kembali.
"Sayang kamu belum menjawab pertanyaan Papi," kata William melepaskan pelukannya, dan menatap putrinya.
"Mami aku kangen," Kini Liora bergantian memeluk Tiffa tanpa menjawab pertanyaan Papinya.
Sementara Stevano, Jasmine dan Jason yang juga berada disitu menjemput Stevano menatap Ronald bingung.
"Kak Olive!" Setelah memeluk Tiffa, Liora kini memeluk Jasmine, Kakak Iparnya.
"Liora jangan erat-erat kasihan keponakanmu!" Peringat Stevano yang melihat Liora memeluk Jasmine dengan perut besarnya terlalu erat, dan mendapat peringatan itu Liora hanya bisa mencebikkan bibirnya.
"Jangan peluk-peluk, kamu belum jawab pertanyaan Papi siapa pria itu," tanya Stevano menunjuk Ronald dengan dagunya.
"Ya sudah kalau Kakak tidak mau dipeluk, aku mau memeluk Alno," ucap Liora melihat Alno yang ada di gendongan Kakaknya, tapi lagi-lagi Stevano menahannya.
"Alno sedang tidur, nanti dia bangun," jawab Stevano membuat wajah Liora langsung ditekuk.
"Dasar pelit!"
"Lebih baik kamu jawab pertanyaan Papi tadi," perintah Stevano kepada adiknya.
Liora menatap Jason, dan menghela nafasnya perlahan, kemudian berbalik badan dan merangkul tangan Ronald, menariknya hingga tepat di hadapan Kakak dan Papinya.
"Pi, kenalkan ini kekasihku…" Liora mencoba mengingat nama yang tadi pria itu sebutkan, karena tak kunjung ingat, Liora pun kemudian menoleh ke arah Ronald dan berucap tanpa suara, memberi kode pada Ronald untuk memperkenalkan diri.
__ADS_1
"Oh ya perkenalkan, namaku Ronald Alvian," ucap Ronald memperkenalkan diri menjabat tangan William dan Tiffa.
"Pi, Bu, aku pulang dulu ya, kasihan Alno dan Jasmine," pamit Stevano kepada Papi dan Ibunya.
"Ya kalian hati-hati ya, Jason pelan-pelan saja nyetirnya," pesan Tiffa pada Jason yang akan menjadi supir Tuan Mudanya.
"Baik Nyonya," jawab jason membungkukan badan dan berpamitan untuk ke mobil lebih dulu membawa koper Tuan dan Nyonya Mudanya.
William pun mengangguk, kemudian memeluk putra dan menantunya, diikuti dengan Tiffa dan Liora.
"Jangan ngebut nyetirnya, antarkan mereka sampai selamat," ucap Stevano datar pada Ronald sebelum akhirnya dirinya menggandeng istrinya dengan putranya yang masih tertidur di gendongannya berlalu pergi setelah berpamitan.
Sementara Liora masih saja menatap kepergian Jason dan hal itu disadari oleh pria yang ada di sampingnya.
"Oh jadi Nak Ronald sengaja kemari menemani El menjemput kami?" Tanya Tiffa ramah disertai dengan senyum penuh kelembutan.
"Oh itu, Iya Bibi, tadi El mengajakku menjemput Paman dan Bibi, katanya sekalian berkenalan," ujar Ronald tenang, walaupun jujur saja, Ronald sedikit bingung, kenapa gadis di sampingnya memanggil pria dan wanita ini, papi dan mami.
"Terus siapa wanita yang waktu itu dipanggilnya Ibu, atau jangan-jangan gadis ini adalah anak dari seorang selir?" Ronald langsung menggelengkan kepalanya karena berpikiran seperti itu, "Seperti di jaman kerajaan saja," lanjutnya dalam hati.
"Kamu kenapa Nak, apa pusing?" Tanya William yang jadi khawatir pada orang yang dikenalkan putrinya sebagai kekasihnya terus menggeleng-gelengkan kepala.
"Oh saya tidak apa-apa Paman, ya sudah Ayo! Biar saya yang membawa kopernya," kata Ronald menawarkan diri untuk membawa koper Tiffa dan William.
"Tidak perlu Nak, Paman bisa membawanya sendiri," ujara William tidak enak.
"Tidak apa-apa Paman, biar saya saja, mari!" Kata Ronald yang mempersilahkan sepasang suami istri itu untuk berjalan lebih dulu.
"El sayang, hei kenapa malah melamun Ayo!" Ajak Tiffa yang justru melihat putranya diam di tempat dan menatap lurus ke depan.
"Ah iya Mi," Liora pun berjalan mengikuti Maminya belum menyadari jika ada seorang pria yang membawa koper berjalan di belakangnya.
Hingga mereka pun sampai di mobil milik Liora. Liora membuka bagasi mobil, dan saat Liora berbalik hendak mengangkat koper milik orang tuanya, dirinya terkejut mendapati Ronald masih ada disana.
__ADS_1
"Mau apa kau mengikutiku?" Teriak Liora spontan, lupa jika disana masih ada Papi dan Maminya.