Please Love Me

Please Love Me
Bab 234


__ADS_3

"Kenapa kau tidak mengambil kesempatan ini, untuk mendapatkan adikku?" Tanya Max menatap Jack setelah pria itu memberikan berkas kepadanya.


"Apa maksud Anda Tuan, saya tidak mengerti."


"Kau pikir aku tidak tahu Jack, kau yang telah menyembunyikan Liora," kata Max dengan  senyum mengejek.


"Saya tidak menyembunyikannya."


"Oh ya, lalu apa ini?" Max mengambil ponselnya dan memberikan kepada Jack, laporan dari anak buahnya dimana disana ada foto Jack dan Liora yang sedang duduk bersama.


"Kau pikir aku tidak mengawasi Liora lagi? Aku selalu mengawasinya, jika kalian tahu orang-orangku, tapi kalian tidak tahu orang-orang papi kan? Kalian ini, mau coba membohongi siapa," kata Max menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian tangannya kembali sibuk menandatangani berkas yang ada di tangannya.


"Saya benar-benar tidak menyembunyikannya Tuan," kata Jack yang terus mengelak.


"Ya Jack kamu memang tidak menyembunyikannya, tapi kau tahu keberadaannya tapi kau tidak memberitahu kami."


"Kenapa saya harus memberitahu Anda, tanpa memberitahu pun aku yakin Anda pasti tahu. Buktinya sekarang. Anda sudah seperti seorang penguntit saja, lagian Tuan bagaimana Liora tidak kabur-kabur terus, dia cuma butuh pengertian dari keluarganya, Anda terlalu menekannya hingga dia nekat seperti itu. Dia merasa keluarganya tidak percaya dengannya," jawab Jack.


"Apa Liora yang mengatakan itu?" Tanya Max yang kini mulai terlihat serius.


"Tidak, Liora tidak pernah mengatakan itu."


"Sudahlah, kamu bisa lanjutkan pekerjaanmu," kata Max dan Jack pun mengangguk dan pamit undur diri.

__ADS_1



Liora terus saja menatap ponselnya. Berusaha menghindar dari Ronald ternyata bukanlah yang terbaik, karena ternyata dia kini malah merindukan pria itu.


"Kenapa dia sama sekali tidak menghubungiku? Bukannya seharusnya dia terus membujukku, bukan malah aku menghindar, dia juga ikut menghindar," ucap Liora yang merasa kesal sendiri.


"Dasar pria buaya, atau jangan-jangan dia…tidak, tidak jangan sampai hal itu terjadi, awas saja jika dia sampai dia melakukan itu, aku tidak akan memaafkannya," Liora merebahkan diri di atas ranjang dengan posisi tengkurap, menenggelamkan  wajahnya di bantal.


Dering ponsel menyentaknya dan cepat-cepat Liora melihat siapa yang memanggilnya tengah malam begini.


"Nomor tidak dikenal?" Gumam Liora yang ragu untuk menjawab panggilan itu, karena takutnya itu hanya panggilan iseng. Liora pun memutuskan untuk membiarkannya hingga dering ponselnya mati. Tapi tak lama kemudian, ponselnya kembali berdering, hingga dia pun memutuskan untuk menjawabnya.


"Halo."


"El, aku merindukanmu, sampai kapan kamu akan menghindariku," ucap seseorang dari seberang telepon, dan mendengar suaranya saja membuat hati Liora berbunga-bunga, Liora tidak bisa menyembunyikan perasaannya jika sebenarnya dia juga sangat merindukan pria itu, dia waktu itu hanya kecewa sama Ronald karena pria itu tidak mengerti dirinya yang mencoba mempertahankan hubungan mereka walaupun keluarganya sangat menentangnya. Dia tidak habis pikir dengan pikiran Ronald yang malah akan membawanya kembali.


"Baiklah jika kamu memang masih marah dan tidak ingin berbicara denganku, kamu cukup dengarkan apa yang akan aku katakan."


Terdengar helaan nafas yang begitu kencang dari seberang telepon hingga Liora bisa mendengarnya dengan jelas.


"Aku seperti itu, karena aku tidak mau kamu sampai ribut dengan keluargamu karena aku, dan itu semua bukan berarti aku menyerah pada hubungan kita. Aku mau kamu menunggu dan biarkan aku yang berjuang untuk meyakinkan keluargamu, kamu tahu jika kamu seperti itu, bisa saja nanti keluargamu semakin membenciku, aku takut mereka malah mengira jika kamu sulit dikendalikan karena aku membawa pengaruh buruk untukmu, aku hanya ingin kamu meyakinkan keluargamu dengan cara yang lembut, bukan malah kabur dari rumah. El aku sungguh menyayangimu, seperti keluargamu juga menyayangimu. Aku dibesarkan oleh ayah seorang diri, hingga membuatku kurang kasih sayang, tapi El semua berbeda denganmu, kamu lahir dengan banyak curahan kasih sayang dari mereka semua, apa kamu tega membuat mereka kecewa? Maaf jika sebelumnya aku terlalu memaksakan, tapi itulah tujuanku sebenarnya," ucap Ronald panjang lebar pada Liora.


"El kamu menangis?" Tanya Ronald yang panik karena mendengar isakan dari seberang telepon.

__ADS_1


"El kamu baik-baik saja kan? El jawab aku sekarang! Kamu kenapa?" Ronald langsung turun dari tempat tidurnya, berjalan mondar-mandir, hatinya gelisah karena Liora terus saja menangis tanpa menjawab satupun perkataannya.


"Maaf," ucap Liora lirih dan Ronald lega mendengarnya karena dia yakin jika Liora pasti baik-baik saja.


"Maafkan aku, karena sudah berpikiran buruk tanpa bertanya dulu padamu, aku tidak tahu jika maksudmu seperti itu," kata Liora lagi di tengah isak tangisnya.


"Aku mau menjelaskan padamu saat itu, tapi sepertinya kamu tidak mau mendengarkanku, aku yang harusnya minta maaf karena sikapku membuatmu jadi salah paham, maafkan aku El."


"Tidak Ronald, kamu tidak salah, akulah yang salah, saat itu aku memutuskan kabur dari rumah juga bukan sepenuhnya salahmu. Aku hanya merasa keluargaku terutama Kak Max sama sekali tidak pernah mengerti aku, aku orang yang tertutup dan mereka selalu salah menanggapi atas apa yang aku lakukan. Mereka selalu melakukan apapun untukku tapi tidak bertanya lebih dulu padaku, apa aku bahagia atau tidak, aku tahu mereka ingin yang terbaik untukku, tapi aku juga ingin mereka membicarakan dulu hal yang mereka lakukan padaku dulu baik-baik, meminta pendapatku bukan malah langsung memberikan keputusan mereka sendiri. Dan aku masih canggung dengan semua itu, dulu aku dibebaskan oleh Ibu untuk melakukan apapun yang aku suka selama itu membuatku bahagia dan tidak melewati batas, ibu selalu mendengarkanku dulu, memahami keinginanku, sebelum akhirnya dia memutuskan untukku, dan tak lupa sebelum itu, Ibu selalu menanyakan pendapatku tentang keputusannya. Tidak seperti sekarang, aku merasa asing dengan kehidupanku. Aku tahu aku salah, tak seharusnya aku bersikap seperti itu pada keluargaku, tapi aku melakukan ini karena aku ingin mereka mencoba mengerti aku," jawab Liora kemudian.


Ronald setia mendengarkan apa yang gadisnya katakan, tapi hal itu justru membuatnya bingung.


Kehidupannya dulu?


Ibu?


Berbeda dengan hidupnya sekarang?


Ronald benar-benar tidak mengerti. Hingga dirinya pun memutuskan untuk bertanya.


Liora lupa jika Ronald tidak tahu apapun tentang hidupnya dulu, Liora pun menceritakan semua, bagaimana dirinya kecelakaan, dia dibesarkan oleh ibunya sampai dia ketemu kembali pada keluarganya, Liora ceritakan hingga tidak ada yang terlewat sedikitpun.


Dan Ronald tercengang mendengar cerita gadisnya itu, dirinya benar-benar tidak menyangka hidup Liora dulu seperti itu. Dia mengira jika selama ini Liora lahir dan hidup dalam keluarga yang cukup berpengaruh, tidak menyangka jika Liora pernah mengalami hal semacam itu.

__ADS_1


"El, aku tidak tahu kamu mau menuruti ucapanku atau tidak, tapi El maukah kamu kembali ke keluargamu, kurasa kalian hanya saling salah paham, karena diantara kalian sama-sama egois dan tidak mau mencurahkan isi hati kalian satu sama lain, padahal aku yakin jujur di hati kalian masing-masing, kalian saling menyayangi, keluargamu hanya ingin yang terbaik untukmu walaupun cara mereka salah, karena yang terbaik buat mereka belum tentu terbaik untukmu, begitupun sebaliknya," ucap Ronald kemudian setelah mencerna semua dari apa yang Liora katakan.


Dan Ronald mengacak rambutnya frustasi karena sudah langsung membahas hal itu, yang kini justru membuat Liora kembali terdiam.


__ADS_2