Please Love Me

Please Love Me
Bab 246


__ADS_3

"Kamu temani Kak Olive saja ya sayang," ucap Tiffa berpamitan pada putrinya, sedangkan William hanya diam saja.


Liora menatap kedua kakaknya bergantian, Stevano memberi isyarat dengan anggukan, setuju dengan apa yang dikatakan maminya.


"Biar aku dan Max saja yang mengantar mami dan papi," ucapnya kemudian.


"Baiklah," jawab Liora. Dia kemudian langsung pergi meninggalkan mereka dan pergi menuju kamarnya. 


Semua orang menatap Liora saat gadis itu menaiki anak tangga.


Tiffa menatap Jasmine, dan Jasmine yang mengerti arti tatapan mertuanya, hanya mengangguk.


"Ayo!" William mengajak istrinya untuk segera memasuki mobil. Stevano dan Max lalu mengikuti.


Liora yang kini sudah sampai di dalam kamarnya, berjalan menuju jendela, dia membuka tirai, melihat diam-diam dari atas, papi dan maminya yang kini masuk ke dalam mobil. 


"Hati-hati Mi, Pi," ucap Liora, setelah mobil Stevano pergi, kini Liora melangkah menuju ranjangnya.


Liora merebahkan tubuhnya, dia ingin mengistirahatkan hati dan pikirannya yang merasa lelah. Pandangannya menerawang ke langit-langit kamarnya, air matanya jatuh begitu saja, entah kenapa dia ingin sekali menangis saat ini. Hingga akhirnya Liora buru-buru menyeka air matanya, begitu dia mendengar ketukan pintu.


Tok


Tok


Tok


"Masuk!" Ucap Liora yang tidak merubah posisinya sedikitpun.


"Kenapa?" 


Seseorang melongokkan kepalanya sedikit, melihat Liora yang kini rebahan dengan posisi telentang. Tidak mendapat sahutan dari Liora, akhirnya dia pun memutuskan untuk masuk.


Liora duduk dan menatap siapa orang yang baru saja masuk ke dalam kamarnya.


"Kak Olive, maaf aku tidak tahu yang masuk kakak."


"Tidak apa-apa, kamu kenapa?" Tanya Jasmine yang kini duduk di hadapan adik iparnya.


Liora tersenyum, "Aku juga baik-baik saja, Kak Olive tidak perlu khawatir," ucapnya yakin.


Jasmine manggut-manggut mengerti.

__ADS_1


Tiba-tiba obrolan mereka terhenti saat mendengar bunyi ponsel Liora.


Liora mengambil ponsel yang tadi dia letakkan di atas meja nakas, melihat nama pemanggil, dan meletakkan kembali ponselnya saat tahu siapa yang menghubunginya.


"Kenapa tidak dijawab?"


"Hmm tidak, itu hanya telepon tidak penting kak," jawab Liora yang kini duduk melipat kedua lututnya.


"Baiklah, kalau begitu Kakak tinggal dulu ya, mau lihat anak-anak," pamit Jasmine lalu keluar dari kamar Liora.


"Hmm Liora, apa tidak sebaiknya kamu meluruskan masalah kalian, setidaknya kamu butuh penjelasannya, entah itu dari foto-foto yang Max berikan ataupun karena dia yang menghilangkan beberapa bulan ini, aku bukan membelanya, tapi semua orang punya alasan saat melakukan sesuatu, ya sudah Kakak pergi sekarang," kata Jasmine yang kini menutup pintu dan benar-benar pergi.


Liora menghela nafas, yang Jasmine katakan memang benar, tapi dia tidak bisa melakukannya, dia takut jika jawaban dari Ronald akan mengecewakannya dan membuat dirinya kembali terluka, sungguh dia belum siap untuk itu.


Liora mengambil ponsel yang kembali berdering, bukannya menjawab, Liora justru menonaktifkan ponselnya, setelah itu dia memutuskan untuk langsung tidur. Dia bahkan melupakan jika Max akan berbicara dengannya sepulang dari mengantar mami dan papi mereka.


*


*


Pagi-pagi sekali, Lily dan Jason sudah bersiap hendak pergi, seperti yang mereka bicarakan semalam, mereka akan mengunjungi Vega. Lily menitipkan Cinta pada ayah dan ibunya, karena tidak mungkin jika Lily dan Jason mengajak Cinta yang masih kecil.


"Ibu hanya pergi sebentar ya sayang," pamit Lily pada putrinya yang justru malah menangis karena ingin ikut dengannya.


Lily jadi tidak tega melihat Cinta yang terus menangis, sambil mengulurkan kedua tangan mungilnya minta ikut.


"Sayang," Lily menatap suaminya yang baru saja datang dengan mobilnya.


"Princess Ayah jangan nangis ya, Ibu sama Ayah hanya pergi sebentar, beli cake strawberry, princess Ayah mau kan?"


Cinta langsung berhenti menangis, dia menatap ayahnya, wajahnya masih di penuhi air mata, tapi tak lama gadis kecil itu mengangguk.


"Wah jadi princess papa mau cake stroberi, baiklah, nanti papa pulang bawa cake stroberi ya?"


"Tobely banyak," ucap Cinta membentangkan tangan lebar-lebar.


Alan dan Dea ikut tertawa melihat tingkah cucu mereka. Bahkan Alan dan Dea sudah bergantian mencium pipi Cinta.


"Siap!" Jawab Jason hormat.


Gadis kecil itu kini sudah kembali tertawa.

__ADS_1


Lily mendekat dan menghapus sisa air mata putrinya di wajah. 


"Pintar banget sih anak siapa ini?" Ucap Lily yang kini menciumi seluruh wajah putrinya gemas.


Cinta justru tertawa kegelian.


"Ya sudah Ayah sama Ibu pergi dulu ya," kini giliran Jason yang mendekat pada putrinya.


"Kiss Ayah!" Pinta Jason dan langsung mendapatkan ciuman di pipi oleh putri kecilnya. 


Kini giliran Jason yang mencium seluruh wajah putrinya.


"Ibu juga dong sayang, masa cuma ayah yang dapat kiss," ucap Lily iri.


Cup


Lily tersenyum kemudian mereka pun segera masuk ke dalam mobil, terlihat Cinta melambaikan tangan dan Lily membuka kaca membalas lambaian tangan putrinya.


Lily menutup kaca mobil kembali setelah putrinya sudah tidak tampak lagi. Wanita itu membenarkan posisi duduknya, "Setidaknya ada celotehan Cinta yang membuat aku lupa akan kesedihan ini," ucapnya tersenyum, mungkin saja membayangkan tentang putrinya.


Jason tersenyum, satu tangannya terulur menggenggam tangan sang istri.


"Tuhan mengambil ibu, dan mengirimkan malaikat kecil pada kita, Tuhan membuat kita merasa kehilangan, tapi Tuhan juga membuat kita merasakan kehadiran, kita sedih tapi digantikan dengan tawa kebahagiaan," ucap Lily menatap lurus ke depan.


Jason mengecupi punggung tangan istrinya, tidak bisa berkata apa-apa.


Lily tersenyum meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja. Jason pun kini kembali fokus mengemudi hingga akhirnya mobil mereka telah sampai di pemakaman umum. Keduanya pun turun dan menghampiri sebuah makam bertuliskan nama Vega.


"Bu, Lily datang hari ini, cucu Ibu sudah besar sekarang, dia sudah bisa berjalan, tapi maaf Lily tidak bisa membawanya, oh ya sebentar lagi Cinta juga akan merayakan ulang tahunnya yang pertama, ibu pasti melihatnya dari sana kan? Lihatlah! Lily kini sudah tidak menangis lagi, jadi ibu tidak perlu khawatir," kata Lily mengusap nisan yang bertuliskan nama Vega itu.


Setelah Lily menyapa, kini giliran Jason yang menyapa, Jason sebenarnya tahu, jika istrinya itu kini sedang berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh.


Selesai mereka berdoa, kini Lily dan Jason kembali memasuki mobilnya.


Begitu duduk kini air mata Lily jatuh begitu saja, seberapa keras dia mencoba menahannya, nyatanya itu bukan hal yang mudah.


Jason menarik Lily ke dalam pelukannya, "Aku yakin kamu bisa, semua hanya butuh waktu, aku tahu waktu tidak bisa menyembuhkan luka, tapi seiring berjalan waktu bisa sedikit mengobati, hingga sakitnya berkurang."


"Oke, ayo jalan sekarang, kita harus belikan putri kita cake stroberi seperti yang kau janjikan tadi, jika tidak dia pasti akan terus menagihnya," kata Lily yang kini menghapus air matanya, melepaskan pelukan Jason dan kembali tersenyum.


"Baiklah," Jason mencium bibir Lily sekilas, lalu mulai mengendarai mobil meninggalkan tempat itu segera.

__ADS_1


  


__ADS_2