Please Love Me

Please Love Me
Bab 282


__ADS_3

Liora terus saja menatap ponsel, suaminya belum menghubungi sejak pagi, gadis itu tampak gelisah sedari tadi. Kertas-kertas yang tadi di pegangnya, dia letakkan kasar ke atas meja, Liora memilih berbaring di kasurnya, berharap jika Ronald akan menelponnya. Gadis itu tidur terlentang menatap langit-langit kamarnya. Sudah tiga hari ini suaminya pergi ke luar negeri padahal belum satu minggu mereka mengambil cuti, tapi karena Davian sakit dan tidak bisa pergi, mengharuskan Ronald yang pergi untuk mewakili paman sekaligus bos nya itu.


Saat Liora tengah sibuk dengan pikirannya,  buru-buru dia mengambil ponselnya saat mendengar notifikasi pesan masuk. Wajah yang sedari tadi ditekuk langsung berbinar, tapi wajahnya kembali murung saat ternyata bahwa hanya pesan operator lah yang dia dapatkan. 


"Sibuk banget sih kamu, bahkan tidak mengirimi aku satu pesan pun," kesal Liora membanting ponsel di atas tempat tidur.


Liora bangun kemudian turun dari ranjang, memilih keluar, karena percuma saja, di kamar pun gadis itu sama sekali tidak bisa memejamkan mata.


Liora berjalan keluar kamar membuka pintu balkon, gadis itu memeluk tubuhnya sambil menatap langit yang tampak gelap.


"Sepertinya akan hujan," gumamnya pelan. 


Liora kemudian duduk di kursi, mengangkat kedua kaki dan kini memilih memeluk kedua lututnya. Saat sedang melamun, gadis itu tersentak saat tiba-tiba selimut  tersampir di bahunya.


"Kak Vano?"


Pria yang ternyata Vano duduk di sebelah Liora.


"Kenapa di luar? Anginnya kencang, tidak baik buat kesehatanmu," ucapnya kemudian ikut menatap langit.


"Aku tidak bisa tidur, Kak Vano sendiri kenapa belum tidur? Ini sudah jam 1 loh." 


"Habis makan, biar ke cerna dulu makanannya."


"Dinihari begini?"


"Hmm."


Liora menatap kakaknya, lewat tengah malam kakaknya makan, padahal tadi mereka sudah makan malam bersama.


"Jangan menatap kakak seperti itu, kehamilan kakak iparmu kali ini, membuat selera makan kakak naik," ucap Stevano yang sepertinya tahu arti tatapan Liora.


"Memang bisa seperti itu?"


Stevano kemudian hanya menjawab dengan mengedikan kedua bahunya.


"Tidak bisa tidur kenapa? Apa kamu merindukan suamimu?"


"Tidak," jawab Liora mengalihkan wajahnya.

__ADS_1


"Bohong," skak Stevano.


"Kenapa tidak dihubungi saja? Jika rindu teleponlah, tidak perlu gengsi. 


"Aku takut mengganggunya," cicit Liora.


"Ya sudah, maka biarkan saja, dan jangan dibuat galau. Lagian jangan selalu Ronald saja yang harus selalu menghubungi duluan, jika kamu yang menghubungi dia dulu, kakak rasa juga tidak masalah, karena bisa saja Ronald sibuk, dan saat kamu memutuskan untuk menghubungi dia dulu, selain untuk memperhatikannya juga mengingatkan dia untuk makan atau untuk istirahat dulu, barangkali dia yang terlalu sibuk melupakan waktu makannya. Ronald pasti senang jika kamu perhatian seperti itu padanya, jika kamu tidak mau menghubungi dulu, dan tidak mau mengalah, ya sudah, ujungnya bakal kurang komunikasi."


"Wah baru kali ini aku mendengar Kak Vano bicara panjang lebar dan apa tadi galau? Wah kakak sudah tertular siapa?"


Stevano mengernyit mendengar ucapan Liora, dirinya tidak mengerti.


"Tertular maksudmu? Kakak tidak sakit, kakak sangat sehat."


Liora terkekeh, saat melihat ekspresi bingung kakaknya yang tidak mengerti maksud ucapannya tadi.


"Maksudku kata-kata Kak Vano loh, belakangan ini kakak selalu mengatakan kata-kata gaul, kakak tidak sekaku dulu, kak Vano sudah benar-benar menemukan pawangnya."


"Kamu ada-ada saja, kakak memang gaul dari dulu, kamu saja yang tidak tahu, sudahlah kakak mau tidur dulu, kamu juga harus tidur, besok kamu bukannya sudah mulai bekerja? Masa cutimu sudah habis bukan?"


"Hmmm iya, kakak duluan saja, bentar lagi aku masuk kok."


"Kamu harus ingat kata-kata kakak tadi," ucapnya lalu kembali melanjutkan  langkahnya.


Sedangkan Liora kembali terdiam, mencoba mencerna nasihat kakaknya tadi.


"Apa aku perlu menghubunginya, tapi bagaimana jika aku justru mengganggu pekerjaannya? Tapi yang diucapkan Kak Vano juga benar, bagaimana  jika Ronald terlalu sibuk hingga sampai lupa waktu, melewatkan makanan dan istirahatnya, lalu dia sakit, siapa yang akan mengurusnya sementara aku jauh darinya," ucap Liora dalam hati.


Cukup lama memikirkan itu, Liora pun akhirnya bangkit, berjalan masuk, menutup pintu balkon dan kembali ke kamarnya.


Liora berjalan ke arah ranjang, mengambil ponselnya yang menyala, gadis itu tersenyum saat melihat nama suaminya di layar tengah memanggil. Buru-buru Liora menggeser ikon berwarna hijau, dan tak lama muncul wajah sang suami yang terlihat begitu kusut, dua kancing kemeja teratas sudah terbuka, bahkan dasinya sudah menghilang entah kemana.


"Baby, apa aku mengganggumu? Maaf aku baru pulang tadi, untuk mendapatkan kerjasama ini sangat menguras waktu dan tenaga."


"Tidak kok, kamu tidak mengganggu, aku juga belum tidur."


"Kenapa belum tidur? Bukankah disana sudah jam…" Ronald terlihat melihat jam di pergelangan tangannya.


"Dua dini hari," tambahnya kemudian.

__ADS_1


"Aku menunggumu," ucap Liora dengan suara teramat lirih.


"Apa baby, aku tidak mendengar."


"Hah, tidak….aku tidak mengatakan apa-apa."


Ronald mengangguk, kemudian kembali berkata, "Ingin rasanya menyelesaikan pekerjaan ini, dan segera kembali, aku sudah sangat merindukanmu baby. Apa kamu juga merindukanku?"


"Tidak." Jawab Liora cepat, mengalihkan wajahnya tidak berani menatap Ronald.


Liora kemudian menatap layar, saat tidak mendengar lagi suaminya berbicara. Dan bisa lihat jika Ronald memasang wajah kecewanya.


"Apa karena ucapanku tadi?" Gumam Liora pelan yang bahkan tidak bisa Ronald dengar.


"Ya sudah aku mau mandi dulu," ucap Ronald.


"Aku merindukanmu, sangat merindukanmu, aku juga ingin kamu cepat pulang dan kita bisa bersama lagi," ucap Liora cepat saat suaminya itu akan mengakhiri panggilan mereka.


Wajah Ronald yang tadi tidak terlihat dan hanya langit-langit, kini kembali muncul setelah mendengar ungkapan kerinduan Liora, bahkan pria itu kini tersenyum manis.


"Rasa lelahku sepertinya langsung lenyap saat mendengar ungkapan rindu darimu baby," ucap Ronald.


Liora tersipu malu merutuki dirinya yang tadi seperti sangat bersemangat saat bilang kata rindu.


"Coba baby ulangi lagi," kata Ronald sengaja ingin menggoda istrinya.


"Tidak mau, tadi ucapanku juga sudah sangat jelas," Liora berkata tapi Ronald tidak melihat wajah istrinya di layar.


"Baby kamu kemana? Masa iya, aku disuruh memandangi lampu," protes Ronald yang yakin jika ponsel istrinya di geletakkan begitu saja di atas ranjang.


"Ayolah baby, aku masih ingin terus menatap wajahmu!"


"Tapi kamu jangan menggodaku seperti tadi lagi."


"Ya tidak bisa gitu dong baby, lagian aku suka wajah kamu yang merona saat aku menggoda."


"Ronald! Ya sudah kalau seperti itu, aku matikan nih ponselnya," ancam Liora.


"Baiklah aku janji," pasrah Ronald "Tapi untuk kali ini saja," tambahnya dalam hati.

__ADS_1


Setelah mendengar suaminya berjanji tidak akan menggodanya. Liora pun mengangkat ponsel dan mengarahkan ke depan wajahnya, Ronald tersenyum melihat itu. Keduanya kemudian melanjutkan obrolan, hingga Ronald tidak lagi mendengar istrinya menyahuti ucapannya dan dia yakin jika saat ini, istrinya pasti sudah tertidur, setelah memastikan itu, Ronald pun mengakhiri panggilan, meletakkan ponselnya begitu saja, lalu bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


__ADS_2