
Lily menghela nafas, menatap kakaknya yang terus melihat layar ponsel, bahkan Al berpura-pura seolah tidak mengatakan apa-apa barusan.
Pandangan Lily beralih pada Dahlia dan Devan yang kini berdiri di samping ranjangnya, tautan keduanya sudah terlepas begitu mendengar ucapan Al tadi.
"Selamat ya, hmm ini…" Devan memberikan barang bawaannya kepada Jason begitupun dengan Dahlia.
"Terima kasih kak Lia, kak Devan, oh ya kalian datang bersama rupanya. Aku kira kak Lia bakalan datang kesini sendiri.
"Hmm masa iya, aku tidak ikut menjenguk calon adik ipar," jawab Devan yang membuat wajah Dahlia merona.
"Belum kali, percaya diri banget."
"Kak Al!"
Lily kesal karena lagi-lagi mendengar ucapan kakaknya itu. Apalagi saat melihat ekspresi Dahlia dan Devan saat ini.
"Hah? Kenapa?" Dan dengan memasang wajah polos Al mengangkat kepala menatap sang adik.
"Kenapa kakak bicara seperti itu pada kak Devan dan Kak Lia?" Lily yang tidak bisa terus diam saja, akhirnya mengatakan kekesalannya.
"Apa maksud kamu? Kakak bicara apa sama mereka?"
Kekesalan Lily bertambah karena kakaknya justru pura-pura tidak tahu kesalahannya.
"Itu tadi yang kakak katakan."
"Sudahlah sayang," ucap Jason menenangkan istrinya.
Sementara Dahlia hanya diam saja menunduk, Devan menatap tidak suka pada Al.
"Mengatakan apa maksud kamu? Kakak tidak mengatakan apapun pada kakakmu. Kakak sedang menonton, lihatlah!" Al menunjukkan layar ponselnya pada keempat orang yang ada disana.
Lily lagi-lagi menghela nafas, dia bukan tidak tahu jika itu adalah alasan Al saja.
"Kak Al bisa minta tolong belikan suamiku makanan? Dari tadi dia belum makan," ucap Lily yang tidak ingin membuat Dahlia merasa tidak nyaman disana.
"Baiklah," Al bangun dari duduknya, menghampiri Lily.
"Kalau begitu, kakak pergi dulu, oh ya, kamu siapa namanya?" Pandangan Al tertuju pada Devan.
Devan menunjuk dirinya sendiri. "Aku?"
"Iya memang siapa lagi? Disini yang tidak aku kenal hanya kau," jawab Al cuek.
"Devan."
"Kau ikut denganku!" Ucap Al yang kemudian melangkah menjauh lebih dulu.
Dahlia menatap punggung Al dan Devan bergantian, di pegangnya tangan pria yang sudah menjadi kekasih beberapa bulan ini.
Devan tersenyum, menyentuh tangan Dahlia dan melepaskannya perlahan.
"Tidak apa-apa, aku akan segera kembali," ucap Devan kepada Dahlia yang diangguki terpaksa oleh gadis itu.
Lily dan Jason saling pandang melihat interaksi ketiga orang itu. Keduanya seolah sedang berbicara lewat tatapan mereka.
__ADS_1
Lily meraih tangan Dahlia begitu melihat Al dan Devan sudah keluar.
"Kenapa kak?"
"Hah? Oh tidak apa-apa." Jawab Dahlia tersenyum.
"Kakak tenang saja, mereka bukan anak kecil."
Dahlia mengangguk, paham maksud ucapan adiknya.
Jason mempersilahkan Dahlia duduk, sementara itu dirinya menuju box bayi, dimana putri kecilnya tengah terlelap.
"Kakak tadi sedang bersama Kak Devan?" Tanya Lily memulai obrolan untuk menghilangkan kegelisahan yang terpancar jelas di raut wajah kakaknya itu.
"Iya."
"Kakak jujur sama aku, kak Devan...dia sebenarnya tidak tinggal di rumah kan?"
"Hmm itu…" Dahlia tampak gugup, apalagi melihat Lily yang terus menatapnya.
"Tidak perlu dijawab, aku tahu jawabannya."
"Lily maaf...kakak tidak bermaksud…"
"Aku tahu."
Dahlia memeluk Lily, "Kalau kamu tahu, kamu tidak akan bilang kan?"
Dahlia mengurai pelukan saat tidak juga mendapat jawaban dari adiknya.
"Tergantung."
"Lily please!" Ucap Dahlia dengan tatapan memohon.
"Baiklah, baiklah."
"Makasih."
"Tapi kak, bolehkan aku bertanya? Tapi kakak harus menjawabnya dengan jujur."
"Tentang Devan kan?"
Lily mengangguk, rupanya kakaknya sudah tahu bahwa Lily pasti masih bertanya-tanya akan sosok kekasihnya itu.
"Hmm, Dahlia melihat ke sekeliling.
Dan Jason yang mengerti jika mereka mungkin ingin bicara berdua, akhirnya berpamitan keluar.
"Sekarang kakak katakan!"
"Kakak memang berpacaran dengannya, tapi…"
"Tapi…"
"Kakak belum tahu apapun tentang dia, hanya dia yang memang kuliah di tempat yang sama dengan kakak."
__ADS_1
Lily menatap Dahlia tak percaya.
"Lalu?" Tanya Lily ingin tahu sejauh apa Dahlia mengenal kekasihnya itu.
"Lalu apa?" Tanya Dahlia tidak mengerti.
"Kakak tidak bertanya apapun tentangnya dan dia juga tidak ada niat memberitahu pada kakak tentang dirinya?"
Dahlia hanya menggeleng.
"Dan kakak tidak bertanya?"
Kembali gadis itu menggelengkan kepalanya.
"Kak…"
"Sudahlah Ly, dia punya privasinya sendiri, dan kakak menghargai itu. Lagian kita masih pacaran, bukan akan menikah, dan lebih baik kita membicarakan hal lain saja, kakak tidak ingin membahas hal seperti ini lagi kedepannya."
"Tapi kak…"
"Lily kakak datang kesini untuk melihat kamu dan putrimu, bukan membahas tentang kehidupan pribadi kakak. Tapi Jika kamu ingin terus membicarakan hal ini, lebih baik kakak pulang sekarang!" Dengan cepat Dahlia memotong ucapan Lily.
Lily diam saja, dirinya terkejut mendengar Dahlia berkata seperti itu, bahkan yang Lily dengar ada rasa kesal pada nada bicara kakaknya.
"Sudahlah, kakak akan pulang sekarang," Dahlia bangkit dari duduknya dan melangkah menjauh, dan Lily hanya bisa menatap kepergian kakaknya itu, dirinya benar-benar tidak tahu harus berbicara apa.
Saat sedang sibuk dengan pikirannya, tiba-tiba pintu terbuka, Jason mendekat ke arah sang istri dan mengelus rambut wanitanya itu.
"Ada apa? Apa kalian bertengkar?" Tanya Jason hati-hati, tadi saat dirinya duduk di kursi tunggu tepat di depan ruang rawat istrinya, dirinya melihat kakak iparnya itu keluar sambil menyeka air mata. Jason hendak mengejar dan menanyakan apa ada masalah, tapi tidak jadi karena pria itu lebih memilih untuk masuk ke dalam ruangan istrinya. Jason buru-buru membuka pintu dan benar saja, istrinya terlihat melamun, Jason mendekat dan langsung diusapnya penuh sayang rambut sang istri, berharap bisa sedikit membuat perasaannya jauh lebih tenang.
Bukannya menjawab pertanyaan suaminya, Lily justru menangis, dan dengan cepat Jason menarik sang istri ke dalam pelukannya. Jason diam membiarkan istrinya, sampai akhirnya Lily pun berbicara.
"Apa salahku bertanya seperti itu? Aku hanya khawatir dengan kak Lia, apa itu salah? Aku hanya ingin memastikan jika memang Kak Devan yang terbaik untuk Kak Lia, tapi kenapa kak Lia malah marah sama aku," tangis Lily dalam pelukan suaminya.
"Ssst, Kak Lia tidak marah, mungkin dia lagi ada masalah saja."
"Tidak, aku yakin kak Lia tadi marah."
"Memangnya apa yang tadi kalian bicarakan?" Jason mengurai pelukan, menatap wajah sang istri dan menghapus dengan jarinya air mata Lily yang membasahi pipi.
"Aku hanya tanya tentang kak Devan. Aku heran karena kak Lia tidak tahu apapun tentangnya, aku bilang kenapa kak Lia tidak bertanya, tapi kak Lia akhirnya malah marah dan berpamitan pergi." Lily menatap Jason dengan mata yang berkaca-kaca.
Jason menghela nafas panjang, dia ragu mengutarakan pendapatnya yang takutnya justru akan membuat istrinya semakin sedih.
"Kenapa diam saja?"
"Sayang…" Jason menjeda ucapannya menimbang akan meneruskan perkataannya atau tidak.
"Kenapa?"
"Kamu ingat, aku aku sudah pernah bilang jangan terlalu ikut campur, bagaimanapun kakakmu sudah dewasa dan dia bisa bebas menentukan pilihannya sendiri, dan mungkin saja kakakmu juga punya alasan kenapa dia berbuat seperti itu. Kita hanya bisa mendukungnya selagi itu hal yang baik, kita tidak boleh menghakiminya, atas dasar apa yang terjadi pada dirinya sendiri. Dan lagi, tidak semua orang bisa terbuka seperti kita, semua orang punya pendapat dan pilihan masing-masing untuk jalan yang dia tempuh kedepannya, semua orang punya rahasianya masing-masing, dan kita harus menghargai keputusannya itu," Jason menyingkirkan helaian rambut Lily yang ikut basah karena air mata.
"Bagaimana? Apa sekarang kamu mengerti?"
Jawab Lily dengan anggukan, Jason tersenyum dan kembali membawa Lily ke dalam dekapannya.
__ADS_1