
Begitu sampai di depan kediaman Max, Liora langsung turun kemudian membantu Alno dan Vier. Kedua anak itu berlari masuk meninggalkan Liora yang sedang menutup pintu mobil.
"Hati-hati sayang," tegur Liora pada dua keponakannya itu.
Dilihatnya dari arah dalam, Ken berlari dan segera menghampiri kedua sepupunya.
"Kak Alno, piel," Teriak Ken senang.
"Bibi El, apa kita mau beli es klim?" Tanya Ken antusias yang kini juga menghampiri Liora.
"Es Krim?" Tanya Liora bingung karena keponakannya itu tiba-tiba mengatakan tentang Es krim.
"Iya kata Papi, nanti Bibi El mau kesini mau ngajak Ken, Kak Alno, sama piel beli es klim," ucapnya masih dengan semangat.
"Kata Papi?" Gumam Liora. Tapi Kak Max tidak mengatakan apa-apa padaku," ucapnya dalam hati.
Tiba-tiba terdengar suara seseorang yang tiba-tiba sudah ada di belakang Liora hingga membuat gadis itu terkejut dan langsung menoleh, saat merasa seperti mengenal suara pria itu.
"Turuti saja apa maunya El, daripada nanti dia ngambek lagi, mungkin Kakakmu itu lupa mengatakannya padamu."
"Kau lagi," kata Liora begitu melihat siapa orang itu.
Pria itu hanya tersenyum dan menghampiri Ken. "Halo jagoan, kamu mau beli es krim?" Tanyanya pada Ken.
"Mau Paman," jawab Ken semangat.
"Bilang uncle jangan Paman oke, nanti uncle belikan es krim kesukaan kamu yang banyak," kata Pria itu mengangkat Ken membawa ke gendongannya.
"Yeah," teriaknya senang.
"Yeah," Alno dan Vier pun ikut berteriak mendengar itu.
"Oh kalian juga mau ikut, kalau begitu ajak Bibi El!" Perintahnya pada Alno dan Vier.
"Ayo Bibi, kita beli es krim," kata Alno mewakili adiknya.
Liora hanya menatap tajam laki-laki yang sekarang berdiri di sampingnya sambil menggendong keponakannya itu.
"No, Kakak tidak mengizinkan kamu pergi dengan laki-laki sepertinya," kata Max yang baru saja turun dari tangga dan mendengar percakapan Liora dan pria yang baru saja datang.
"Tapi Pi, Ken mau pelgi kok cama ankel," kata Ken menjawab ucapan Papinya.
__ADS_1
Dan Liora kini justru mendengar perdebatan antara kakaknya dan Ronald, apalagi Ronald dengan sengaja menggoda istri kakaknya yang tentunya membuat Max kebakaran jenggot.
Dan perdebatan keduanya berhenti saat tiba-tiba Ken menangis dan mengatakan jika papinya jahat karena tidak mengizinkan dia membeli es krim. Dan untungnya kakak iparnya langsung membujuk putranya itu.
Liora yang pusing mendengar perdebatan kakaknya dengan laki-laki itu lebih memilih menyingkir mengajak Alno dan Vier pergi dari tempat itu menuju ke ruang makan, dimana di sana ada Bibi Sekar yang sedang menyusun makanan di meja makan.
"Kalian duduk disini dulu ya!" Pinta Liora membantu keponakannya itu untuk duduk.
Mencoba menghindar, tapi ternyata kini kedua pria itu juga ikut ke ruang makan dan kembali berdebat. Liora memilih diam dan menyuapi Vier serta Ken bergantian, karena Alno makan sendiri.
"Ankel apa kita jadi beli es klim?" Tanya Ken di sela-sela makannya.
"Sudah malam Ken, nanti gigi kamu sakit, besok saja belinya, Papi akan belikan yang banyak," kata Max pada putranya.
Ken langsung cemberut mendengar ucapan Papinya. Liora yang gemas pun langsung mencium keponakannya.
"Sudah jangan sedih, nanti besok kita jalan-jalan sama-sama, kita beli es krim yang banyak, sama Vira juga, bagaimana?" Liora mencoba membujuk keponakannya itu.
"Janji?" Ken menyodorkan jari kelingkingnya kepada Bibinya itu.
"Ya Janji," kata Liora menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Ken yang imut.
"Sekarang habiskan makannya ya, biar cepat gede," tambah Liora kemudian.
Selesai makan, Liora bersama Bunga kini tengah duduk di ruang keluarga menyaksikan tayangan televisi kesukaan keponakannya. Ronald pria itu sudah pamit dari sepuluh menit yang lalu, sedangkan Max sedang menidurkan Ken di kamarnya. Liora kemudian melihat jam dan memilih untuk pamit.
"Kak aku pamit pulang, sepertinya Vier sudah mengantuk."
Bunga menatap pada jam dinding di ruangan itu, "Lebih baik menginap saja, ini sudah malam, tadi kau kemari bersama siapa?" Tanya Bunga khawatir.
"Menyetir sendiri, tadi aku memang sengaja membawa anak-anak, karena Kak Vano terus saja mual-mual dan akan hilang jika berada di dekat Kak Jasmine, katanya sih itu karena kehamilan Kak Jasmine. Apalagi Vira juga tadi sangat rewel karena Papanya sakit, dia juga sangat menempel sama Mamanya. Kak Bunga juga tahu jika Mami dan Papi kemarin baru saja ke luar negeri, sementara Ibu dan Ayah Kak Jasmine juga sedang ada urusan di luar kota dan akan kembali besok siang," kata Liora menjelaskan kenapa dirinya memilih membawa Alno dan Vier jalan-jalan. Bunga pun mengangguk mengerti posisi Kakak Iparnya itu.
"Ada apa?" Tanya Max melihat Bunga dan Liora bergantian.
"Liora akan pulang sekarang, dan ini sudah malam, aku khawatir, apalagi perginya sama anak-anak," kata Bunga menceritakan kepada suaminya.
"Honey bagaimana kalau kamu yang mengantarkan Liora saja, aku juga ingin makan sesuatu, dan mau kamu yang membelinya," kata Bunga yang tiba-tiba menginginkan sesuatu.
"Benarkah? Jadi anak Papi ingin apa?" Tanya Max antusias.
"Tunggu maksud Kak Max apa berkata seperti itu?" Pertanyaan Liora berhasil mengalihkan pandangan Max dari istrinya.
__ADS_1
"Apalagi, jika bukan kamu akan menambah keponakan lagi," jawab Max dengan senyuman lebar di bibirnya.
"Benar Kak Bunga?" Tanya Liora memastikan kepada Kakak Iparnya.
Bunga pun mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Liora.
"Wah selamat ya Kak, aku ikut bahagia," kata Liora langsung menatap Kakak Iparnya, ingin memeluk tapi susah karena ada Vier yang sudah terlelap di pangkuannya dan Alno juga sudah tidur tepat di antara dirinya dan Bunga.
"Ya sudah ayo, Kakak antar sekarang!" Kata Max yang kini membantu mengangkat tubuh Vier, agar Liora bisa bangun.
"Tunggu Kak, kaki aku kesemutan."
"Mana kunci mobilmu!"
Liora memberikan kunci mobilnya, membiarkan Max membawa Vier lebih dulu kesana.
"Biar Kakak saja," ucap Max yang sudah ada disana lagi.
Liora hanya mengangguk kemudian berjalan di belakang Max setelah berpamitan pada Bunga.
"Kamu di belakang saja, kasihan mereka nanti terbentur," kata Max saat mereka sedang berjalan ke arah mobil Liora.
"Nanti mobilnya kakak bawa," ucap Max dan Liora mengangguk.
Max kemudian langsung mengemudikan mobil Liora ke kediaman orang tuanya.
Beberapa menit menempuh perjalanan mereka pun sampai. Stevano keluar begitu mendengar suara mobil yang dipastikan jika itu Liora.
"Kenapa sampai malam?" Tanyanya kemudian.
"Maaf Kak, tadi Alno dan Ken keasyikan nonton, jadi lupa waktu.
"Dimana mereka?"
"Mereka tertidur," jawab Liora menoleh ke belakang dimana Max kini sedang menggendong Alno. Stevano kemudian berjalan ke arah mobil dan mengangkat Vier yang juga sudah lelap tidurnya.
Tak lama Max keluar, "Kenapa belum masuk? Sana masuk sudah malam!" Perintah Max pada Liora yang justru masih di depan rumah, sibuk dengan ponselnya.
"Iya Kak, ini juga mau masuk kok."
Max mengangguk dan memasuki mobil adiknya itu, lalu segera melajukannya meninggalkan pelataran kediaman orang tuanya.
__ADS_1
Melihat mobilnya yang sudah menjauh, Liora pun memutuskan untuk masuk, tapi dirinya dikejutkan oleh seseorang yang tiba-tiba menepuk bahunya.