Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
menyakitkan


__ADS_3

"Suster mohon maaf saya titip dulu... " Raisya kembali merenung. Mau mengatakan 'anak saya' kan bukan anaknya. Kalau tidak mengatakannya nanti malah mereka curiga Raisya dianggap penculik. Suster yang diajak bicara lantas melongo menanti kelanjutan dari pembicaraan Raisya.


"Saya.. mau shalat dulu Sus. Mumpung anaknya lagi tidur." Terpaksa Raisya menyambungkan dengan kalimat lain. Kebetulan Raisya sejak tadi tak bisa meninggalkan Michel karena merengek ingin ditemani. Padahal waktu dzuhur sudah hampir mepet ke ashar. Dari tadi hati Raisya merasa tidak tenang dan bersalah sudah melalaikan waktu shalat nya.


"Iya silahkan bu. Biar saya tungguin kalau anaknya bangun." Untung perawat yang dititipin mau mengerti. Mungkin melihat sikap Michel yang dari menempel tidak mau ditinggalkan. Perawat itu pun duduk di samping Michel yang sudah mulai tertidur.


"Terima kasih suster, saya ke mushola dulu." Raisya dengan langkah setengah berlari menuju mushola khawatir shalat dzuhur nya keburu akhir.


"Alhamdulillah ya Allah... Michel sekarang sudah mendingan. Mudah-mudahan sore ini sudah bisa pulang." Kalimat harapan disematkan Raisya dalam penghujung doa dalam sujudnya. Dia merasa sangat takut jika terjadi apa-apa maka dirinyalah yang pertama disalahkan.


Benar saja waktu shalat ashar langsung berkumandang setelah Raisya menyelesaikan shalat dzuhur yang keakhiran.


"Ya Allah... ampuni segala dosa hamba. Mungkin kejadian hari ini ada kaitan dengan dosa hamba." Lirih Raisya setelah selesai berdzikir. Raisya buru-buru melipat mukena dan mempercepat langkahnya takut Michel bangun.


"Kriuk.. kriuk.. " Suara perutnya mendadak berbunyi keras.


"Waduh aku lupa tadi sudah pesan makanan. Sekarang perutku malah perih lagi." Keluh Raisya sambil memegang bagian perutnya.


"Masih tidur ya Sus?" Raisya sedikit tenang melihat Michel tenang tertidur.


"Iya bu." Perawat tadi tersenyum.


"Maaf Sus... saya mau tanya. Kira-kira kapan ya saya boleh membawanya pulang?" Raisya cemas takutnya Michel dicari ayahnya.


"Harus konsul dulu bu. Kebetulan pergantian shift nanti jam 5. Kalau ibu mau menanyakan boleh tidaknya nanti menunggu jam 5. Mudah-mudahan kalau demam sama ruamnya hilang sudah bisa dibawa pulang." Terang perawat pada Raisya.


"Oh begitu ya?" Raisya terlihat kecewa. Karena jam kantor sampai jam 4. Raisya harap sebelum jam 4 Michel sudah dibawa pulang. Takutnya ayah Michel mencari.


"Kriuk.. kriuk.. " Suara perutnya kembali berbunyi menagih jatah makan yang sudah terlewat. Raisya membuka tasnya hendak mencari handphone untuk mengabari Hesti dan memesan pesanan layan antar.


'Mana ya..?" Raisya membolak-balikan semua isi tasnya. Tapi benda pipih yang dia miliki tak ada di tasnya.


"Waduh jangan-jangan jatuh ya.. " Keluh Raisya berbicara sendiri.


Di lain tempat Nathan begitu cemas mendengar berita dari Jacky bahwa Raisya dan Michel sejak tadi siang tak ada di kantor. Ditambah pesanan makanannya pun masih utuh sampai sore.

__ADS_1


"Reza.. kita balik ke kantor! Besok kita lanjut lagi survei ke cabang galeri lainnya." Nathan menyuruh Reza untuk kembali ke kantor.


"Tapi sebentar pak! Ratna belum selesai membuat salinan. Mungkin kita menunggu sebentar, bisa pak?" Reza meminta Nathan untuk menunggu beberapa saat sampai Ratna menyelesaikan printan hasil dari salinan laporan tiap-tiap gerai.


"Aku tunggu kalau tidak lama." Nathan terlihat cemas. Wajahnya yang tadi terlihat berwibawa sekarang mendadak terlihat seperti orang bingung.


"Reza.. aku mau tanya. Kau hafal staf di keuangan?" Mata Nathan mengarah pada Reza dengan penuh harap.


"Ya. Bapak perlu data mereka?" Reza seperti membaca pikiran Nathan.


"Kamu kirimkan datanya sekarang bisa?" Nathan tak sabar ingin menghubungi seseorang.


"Kalau data secara lengkap sih paling besok pak. Kalau nomor telepon saya bisa kirimkan sekarang. Oh iya, sebelumnya ada juga orang keuangan yang pernah jadi staf kita pak, namanya Raisya. Dia dipindahkan ke bagian keuangan karena permintaan bu Mia pada pak Adam. Kalau yang punya Raisya sih masih ada datanya di saya pak."


"Coba lihat!" Nathan memerintahkan Reza memperlihatkan data Raisya.


"Yang ini pak." Reza menyodorkan tabletnya pada Nathan.


Deg


"Kamu kirimkan datanya ke handphone aku!" Nathan tanpa menunggu lama menyuruh Reza mengirimkan data Raisya.


"Baik Pak!" Reza pun langsung mengirimkan data Raisya tanpa menaruh curiga.


"Sisanya mungkin besok saya kirimkan pak, data orang keuangan yang bapak butuhkan" Usul Reza.


"Baik." Nathan yang sudah menemukan apa yang dibutuhkannya dan menjawab Reza tanpa kendala.


Nathan terlihat menekan satu nomor yang baru saja dia save di layar handphonenya. Dia mendekatkan benda pipih di telinganya. Namun yang terdengar hanya balasan operator.


Deg


Dada Nathan semakin tak beraturan. Lalu dia menekan kembali nomor yang sama, dan jawaban yang sama pula yang dia dengar.


"Reza... ayo! Sudah belum? Aku gak bisa menunggu lama." Nathan sudah tidak sabar ingin segera sampai di kantor.

__ADS_1


"Sudah pak!" Untung Ratna sudah menyelesaikan tugasnya lebih cepat. Ketiganya lalu kembali ke kantor.


Begitu sampai Nathan langsung berlari menuju ruangan bagian keuangan.


"Mana Raisya?" Suara itu mengagetkan Jacky yang sudah membereskan meja kerjanya berikut meja Raisya.


"Udah gue bilang, dia gak ada." Jacky dengan wajahnya yang ketus menjawab Nathan.


Nathan mengedarkan pandangannya disekitar kubikel Raisya.


Deg


Matanya jatuh pada sebuah kotak susu yang disimpan dibawah meja.


"Antarkan gue ke rumah sakit terdekat!" Suaranya agak meninggi.


Jacky menatap Nathan yang gelisah.


"Buruan!" Nathan berteriak. Raut wajahnya seperti lingkung dipenuhi kecemasan.


Jacky yang memang tak menyukai Nathan mendadak menaruh iba melihat perubahan wajah Nathan yang tak biasa.


"Sudah gue antar!" Jacky ke luar ruangan menuju parkiran diikuti langkah Nathan.


Sepanjang perjalanan Jacky melihat Nathan gelisah. Tapi dia tak berani untuk bertanya. Sampailah di satu rumah sakit terdekat. Nathan langsung berlari ke bagian informasi lalu langsung menerobos masuk ke dalam ruangan UGD.


Sosok yang dicarinya terlihat sedang mengobrak- ngabrik tasnya. Nathan tanpa pikir panjang mendekati Raisya.


Plakkk


Sebuah tamparan keras mengenai Raisya sampai badannya terhuyung. Raisya yang kaget juga merasakan nyeri langsung memegang pipinya. Dia menatap ke arah Nathan dengan mata membesar dan bibir bergetar. Seketika itu juga badannya lemas.


"Bego banget ya lu.. dasar gak becus! Lu mau bunuh anak gue?" Nathan yang emosi tidak sadar suaranya yang kencang membuat Michel terbangun dan menangis karena kaget.


"Hei.. elu gue antar bukan untuk kurang ajar ya Nathan!" Sebuah hantaman keras mengenai wajah Nathan karena Jacky tak terima kalau Raisya diperlakukan seperti itu.

__ADS_1


"Hei.. sadar! Ini rumah sakit!" Seorang dokter berteriak memprotes sikap Nathan dan Jacky yang sedang berkelahi.


__ADS_2