Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Gempa di atas meja.


__ADS_3

"Ayuu.. masuk!" Dengan setengah bingung Sarah menyuruh ketiga tamunya masuk. Membuka pintu apartemennya lebar dan dengan senyum meringis dia menggigit bibirnya tidak tahu harus bagaimana menghadapi Nathan.


Dadanya serasa dihimpit. Kenapa juga dia harus ada disini? Orang yang tidak mau ditemuinya, yang sudah membuat nasib seseorang berubah karena perbuatannya.


"Ya Tuhan..jika boleh meminta, boleh tidak kalau dia menghilang saja dari hadapanku atau dari kami?" Dia sibuk bicara dalam hati.


Tiga tahun sudah dia menghindari keluarga Alberto. Tepatnya setelah perceraiannya dengan Adam. Sarah memutus kontak dengan semua keluarga matan suaminya. Dia ingin memulai hidup barunya dengan tenang.


Tapi apa boleh buat. Sarah pikir ini adalah takdir. Meski kita bersembunyi di dalam tanah sekalipun. Pasti dia akan pergi menggali untuk menemukannya.


"Silahkan duduk!" Sarah menyuruh ketiganya duduk di sofa ruang tamu.


Ketiganya duduk sopan setelah dipersilahkan. Tiga pasang mata mau tidak mau melihat objek yang ada di depannya. Yang satu duduk berselancar asik dengan medsosnya. Yang satunya malah asik tiduran di paha si wanita.


"Ehem.. ehem.. " Sarah yang masih kikuk berdehem lumayan keras agar Raisya segera sadar.


Sebenarnya hati Sarah saat ini sangat tidak tenang. Takut orang yang di depannya mengetahui identitas adiknya.


Raisya mencabut pandangannya dari layar handphone. Dengan satu kedipan saja, Raisya mengerti yang harus diperbuatnya.


"Peter.. aku pegal." Raisya mengangkat kepala Peter yang memakai pahanya sebagai bantalan.


"Oh Sorry." Peter bangkit lalu duduk bersandar pada sofa dengan berpura-pura membetulkan rambutnya.


Sarah berdiri lalu pergi ke dapur mengikuti Sarah.


"Kenalkan aku Peter." Dia menyodorkan tangannya untuk berkenalan.


Nathan menyambut uluran Peter dan memperkenalkan dirinya.


"Nathan, ini putriku Michel dan asistenku Reza." Ucap Nathan. Setelah mengenalkan satu persatu mereka pun saling berjabat tangan.


Peter mengangguk.

__ADS_1


"Michel.. sini sayang... mau bantu aunty?" Panggil Sarah pada Michel dari dapur.


"Iya aunty." Jawab Michel sambil melirik Nathan yang ada di sampingnya.


"Daddy aku permisi ke belakang dulu!" Ucap Michel meminta izin.


"Iya baik sayang." Nathan tersenyum. Dan Michel pun berdiri menghampiri Sarah pergi ke dapur.


"Anakmu cantik!" Puji Peter melihat paras Michel.


"Terima kasih!" Ucap Nathan pendek.


"Sini sayang aunty! Tidak terasa kamu sudah besar." Sarah mengusap bahu Michel lembut. lalu menyiapkan piring-piring tambahan yang tadinya disiapkan tiga, sekarang menjadi enam karena adanya tamu tak diundang.


"Hai.. anak manis, siapa nama kamu?" Raisya mengangkat jari-jarinya menyapa Michel.


"Hai miss, nama saya Michel. Senang bertemu kembali dengan miss" Jawab Michel dengan senang hati karena bisa bertemu lagi dengan Raisya yang tadi telah menolongnya, setelah terjatuh di toilet.


"Kalian sudah pernah bertemu?" Kaget Sarah mendengar jawaban dari Michel.


Ya ampun.. Tolonglah ya Allah..kenapa bisa mereka bertemu kembali? Aku benar-benar cemas. Apalagi Nathan berani datang kesini. Akankah mereka mengenalinya. Aku jadi deg-degan begini. Apa yang harus aku lakukan?"


Sarah malah melamun sibuk dengan pikiranya.


"Hei.. kakak malah melamun! Aku udah lapar!" Raisya menegur Sarah, lalu bergelayut manja.


Raisya merasakan perutnya menagih untuk diisi. Sudah dari tadi perutnya menahan lapar ketika wanginya masakan Sarah menusuk ke dalam hidungnya.


"Eh.. iy ya." Sarah langsung tersadar dari lamunannya.


"Sayang..panggilkan daddy mu dengan yang lainnya! Kalian pastinya sudah lapar juga." Sarah meminta Michel untuk memanggil orang-orang yang ada di ruang tamu untuk datang ke ruang makan.


"Baik aunty." Michel kembali ke ruang tamu untuk memanggil mereka.

__ADS_1


Raisya duduk manis di kursi ke dua dengan piring yang sudah terisi nasi dan ayam geprek kesukaannya.


Semuanya telah datang ke meja makan. Para lelaki makan duduk bersebrangan dengan para kaum perempuan.


Dari kursi pertama, ada Reza. Di kursi kedua ada Nathan dan Peter menduduki kursi ke tiga. Sedangkan di bagian perempuan, di kursi pertama ada Sarah. Di kursi kedua Raisya dan Michel berhadapan dengan Peter di bangku ke tiga.


Satu persatu mulai memilih menu yang ada di meja sesuai selera masing-masing.


"Michel.. tidak suka pedas ya?" Sarah melihat piring Michel hanya mengambil ayam tepung, salad dan kentang goreng.


"Iya aunty." Jawab Michel yang sejak kecil tidak dibiasakan makan pedas.


"Wah.. inilah aslinya orang Indonesia yang suka pedas. Si raja api sedang beraksi!" Peter melirik Raisya yang di piringnya sudah penuh dengan sambal pedas temannya ayam tepung. Dia menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan selera Raisya yang menyukai kepedesan level tinggi.


"Kita tidak kan?" Peter menoleh pada Nathan meminta pendapatnya, karena sama-sama orang bule mungkin kebiasaannya pun bisa dipastikan hampir sama.


"Mmm." Nathan menjawab pendek dengan mengangkat sebelah bibirnya, hanya tersenyum tipis. Lalu pandangannya beralih mengamati perempuan yang ada di depannya yang sedang menikmati rasa sensasi pedasnya ayam geprek buatan Sarah.


Ditengah sibuknya mengunyah ayam pedas dengan hawa panas yang bergelora di seluruh mulutnya dan juga rahangnya, satu kaki telah menyentuhnya. Raisya menghentikan makannya merasakan geli karena ada gerakan kaki menyentuh kakinya. Sebagian besar kakinya yang kalau duduk memang terbuka sampai paha atas. Raisya balas menyenggol kaki yang ada di depannya karena menyangka laki-laki yang di depannya itulah yang telah tidak sopan menyentuhnya.


Nathan spontan mengangkat wajahnya karena kakinya sengaja ada yang menyenggol. Lalu Nathan melihat Raisya dengan penuh tanya. Kalau diterjemahkan mungkin dia sedang berkata 'Kenapa? Ada apa?'


Begitu pun Raisya yang merasa tamu yang ada di depannya malah menyorot tajam padahal sudah tidak sopan menggelitiki kakinya, balas menatapnya dengan nyalang.


Kedua pasang mata saling menatap. Sedang mengadu kekuatan dengan saling menyerang lewat tatapan matanya, masing-masing mempunyai arti berbeda.


Yang satu mengirim pesan bertanya, yang satu lagi tidak menerima diperlakukan tidak sopan.


"Gila kali nih cowok!" Ucap Raisya dalam hati.


Masih dalam keadaan saling menatap. Kaki seseorang kembali menyentuh kaki Raisya. Tentu itu menambah Raisya kesal dan jengkel.


"Eh..Bukannya sadar malah dia sengaja kembali menyentuh! Dasar laki-laki mesum!" Umpat Raisya.

__ADS_1


Tanpa bertanya, Raisya langsung menendang kaki yang ada di depannya. Otomatis membuat pergerakan di atas meja. Dan alhasil sebagian gelas-gelas bergoyang terhentak dan piring-piring pun terangkat dan menimbulkan suara karena bertubrukan dengan garpu dan sendok di atasnya.


"Wah gempa?" Sarah spontan berbicara kaget, begitu hentakan di atas meja bergerak dan mengagetkan beberapa orang yang tidak tahu apa kebenarannya.


__ADS_2