
"Sarah... Benarkah ini Raisya?" Ibunya Raisya nampak syok melihat sosok gadis cantik di depannya yang diperkenalkan sebagai Raisya, tapi anehnya dia berwajah lain.
"Mah.. ieu Raisya.. Raisya.. ieu mamah." Sarah langsung mengenalkan keduanya.
(Mah.. ini Raisya.. Raisya ini mamah)
Sorot mata Raisya seperti ragu, apakah benar ini ibunya? Dia menatap lamat-lamat mengingat-ingat detail dari wajah sang ibu. Hatinya begitu sakit, manakala dia tidak mengingat sedikit siapa ibunya.
"Mah.. " Raisya langsung menghambur ke arah ibunya. Dia mencoba menarik diri dari keterasingan. Melabuhkan hati yang bimbang di pelukan yang semestinya dia berlabuh. Ibunya Raisya langsung memeluknya erat menyambut hangat anak yang pernah dia lahirkan, yang selama tiga tahun dinyatakan meninggal. Tak disangka anaknya masih hidup, Itu terasa seperti mimpi.
Sikap ibunya Raisya banyak berubah. Dulu cuek, sekarang dia lebih perhatian. Semua kejadian yang menimpanya akhir-akhir ini membuat dirinya belajar menghargai apa yang telah dimiliki, bukan menuntut apa yang tidak dimiliki.
Hatinya begitu sakit, sedih dan putus harap begitu mendengar kematian Raisya. Ternyata ditinggalkan anak itu lebih menyakitkan daripada ditinggalkan kekasihnya.
Ibunya menciumi Raisya berulang-ulang saking bahagia dan senang. Ternyata Raisya masih hidup.
"Raisya.. anak mamah... " Mereka bolak balik mengganti posisi berpelukan. Ya ekspresi tidak percaya pada kenyataan yang baru saja diterimanya.
Sungguh hatinya begitu terharu sehingga bulir-bulir bening segera menganak sungai mencari jalan untuk jatuh. Mereka sama-sama menangis.
Antara tangis dan senyum, dia terus menciumi Raisya berulang-ulang. Rasa haru menyelimuti keduanya. Mereka yang menyaksikan drama ini merasakan hal yang sama sehingga ikut meneteskan airmata.
"Hayuu.. calik! Mamah teu percaya ieu Raisya! Sarah bener ieu teh Raisya? Naha teu make tiung? Jeng naha asa robah kieu wajahnya. Naha kumaha ieu dongengna?" Ibunya memberondong dengan pertanyaan.
Dia sangat syok melihat putri keduanya kini ada di depan matanya. Padahal berita kematian Raisya sudah didengarnya sejak tiga tahun lalu. Dia tak mengerti, sebenarnya apa yang telah terjadi dengan Raisya. Sampai-sampai wajahnya pun ikut berubah.
(hayuu.. duduk! Mamah tidak percaya ini Raisya! Satah ini bener Raisya? Kenapa tidak memakai kerudung? Dan kenapa semua wajahnya berubah begini? Bagaimana ceritanya?
flash back
"Dokter bagaimana ini? Pasien kehilangan banyak darah." Salah seorang dokter yang sedang merawat pasien agak panik.
"Cari cadangan! apakah kita masih mempunyai darah yang sama?"
__ADS_1
"Tidak dok! Dia.. " Kata-katanya menggantung di udara.
"Cepat! Kamu ingin pasien ini meninggal di mejaku?" Bentak Sarah yang sedang menangani pasien gawat darurat yang baru saja dibawa ke rumah sakit. Semua dokter bedah hampir turun semua. Siapa lagi kalau bukan atas perintah tuan Robert sang pemegang saham di rumah sakit ini.
"Dokter.. darahnya benar-benar tidak sama dengan stok yang kita punya. Dia mempunyai golongan darah unik, B+ dimana kita harus mencarinya?" Rupanya dokter yang disuruh untuk mencari tambahan darah agak bingung.
Semua dokter menatap Sarah, menunggu jawaban yang akan dikeluarkan dari mulut Sarah. Mereka tahu hanya Sarah yang mempunyai golongan darah unik di rumah sakit ini. Bisa jadi golongan daranya dibilang langka.
Sarah melongo. "Baiklah. Aku akan mendonorkan sebagian darahku." Sarah membuka jas putih yang sedang dikenakannya.
Sarah mengerti bagaimana dia harus bertindak dan harus menolong pasiennya. Walaupun harus mengorbankan dirinya sendiri. Saat ini Sarahlah yang bisa menolong pasien.
Salah satu dokter yang berada di ruangan itu segera membawa cadangan blangkar untuk Sarah berbaring. Lalu memasangkan selang infus, darah langsung mengalir ke pasien. Cara ini prosesnya lebih cepat.
"Wah..dia sangat beruntung. Ada orang yang mempunyai golongan darah yang sama dengan dokter Sarah." Dokter Aldi terdengar senang melihat pasien yang terbaring di depannya bisa tertolong berkat golongan darah Sarah yang bisa didonorkan.
"Bagaimana dia? Apakah dia bisa tertolong?" Tuan Robert bertanya pada kepala rumah sakit. Dia melihat langsung kinerja para dokter dari satu ruangan yang tembus pandang yang berada di lantai dua. Ruangan yang dikhususkan untuk mengamati kinerja pada dokter jika sedang beroperasi. Terkadang ruangan ini digunakan untuk sarana edukasi bagi para dokter-dokter junior melihat para seniornya melakukan operasi pada pasiennya.
Setelah delapan jam melakukan operasi darurat, akhirnya operasi bisa diselesaikan. Retak pada tengkorak pasien dan gegar otak pada pasien untuk sementara bisa diatasi. Sarah keluar dari kamar operasi dengan tubuh lemas, begitupun dengan beberapa dokter lainnya.
"Aku mau istirahat dulu!" Ucap Sarah.
"Dokter Sarah akan pulang?" Salah satu perawat bertanya pada Sarah.
"Rasanya aku tak bisa. Aku sebaiknya tidur di rumah sakit saja. Badanku lemas tak ada tenaga." Keluh Sarah yang sudah mendonorkan darahnya juga ikut membantu proses operasi.
"Tapi.. dokter Sarah ditunggu di ruang kepala rumah sakit." Bisik perawat itu.
"Bilang saja, aku butuh istirahat dan bicarakan saja setelah aku bangun nanti!" Sarah melengos ke ruangan khusus para dokter dan tim medis tidur.
Sarah langsung menghempaskan badannya dan tidak terlalu pusing dengan baju dinasnya yang masih menempel lengkap.
"Dokter Sarah.. " Seseorang memanggilnya.
__ADS_1
"Hhmm."
"Apa anda tidak sekalian saja mengetes DNA Pasien?"
"Tidurlah! Aku lelah.. "
"Aku rasa dokter Sarah perlu melakukannya."
"Hei.. aku capek. Bisakah tidak bicara lagi?"
"Baiklah. Selamat istirahat!"
Keduanya pun terlelap karena lelah setelah melakukan operasi dadakan.
***
"Kak.. Kakak... tolong aku kak! Bawa aku sejauh mungkin dari sini! Aku takut dia membunuhku." Wajahnya sangat ketakutan, dia terus saja menarik roknya.
"Raisya.. apa yang sedang kamu lakukan?" Sarah melihat Raisya duduk bersimpuh dibawah kakinya.
"Bawa aku kak.. bawa aku dari sini! Aku mohon.. tolonglah..!" Dari tatapannya yang menghina, airmata Raisya kian deras berjatuhan.
Sarah tak bisa berbuat apapun. Dia hanya melihat Raisya yang sedang duduk sambil menangis.
Dari kejauhan datang seorang laki-laki yang menghampiri keduanya, lalu dengan kasar tangannya yang kuat menarik paksa tangan Raisya, menjauhkannya dari Sarah. Lalu dia menyeretnya mengikuti arah kakinya, sehingga kaki Raisya pun terluka karena bergesekan langsung dengan jalan yang dilaluinya.
Sarah yang menyaksikan kekerasan itu tidak bisa tinggal diam. Dia langsung berlari mengikuti laki-laki itu namun karena tidak hati-hati kakinya terpeleset, jatuh.
Bukkk
Seketika itu juga Sarah kaget, jantungnya berlompatan bertabuh lebih keras. Ternyata dia jatuh dari ranjang
"Ah.. aku bermimpi rupanya. Tapi Raisya?"
__ADS_1