Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Maafkan aku Raisya


__ADS_3

Nathan terkesiap melihat isi pesan yang dikirimkan Michel.


"Tidak... Arsel sayang... tunggu daddy sayang... Daddy sekarang ke sana." Nathan yang tengah di kantor dan sedang berbincang dengan Reza pun mendadak jantungnya seperti berhenti berdetak begitu pesan terbaca.


"Ada apa pak Nathan?" Gumaman Nathan membuat Reza agak heran. Pasalnya mereka sedang berbicara serius tetapi begitu Nathan membaca satu pesan, wajah Nathan langsung terlihat gusar.


"Za... anaku Arsel masuk rumah sakit." Nathan seperti agak lingkung berdiri lalu bolak-balik seperti setrikaan.


"Arsel? Anak? Anak dari mana pak?" Reza tambah bingung.


"Aku pergi dulu Za.. kamu urus semua kerjaanku!" Nathan langsung menyambar kunci mobil dan handphonenya tidak memperdulikan lagi kerjaan yang menumpuk.


"Ah.. baru saja kemarin hilang anak, sekarang ada anak? Pak... kenapa hidup bapak serumit ini sih?" Gerutuan Reza hanya didengar oleh dirinya sendiri.


"Lah.. pak Nathan tadi kemana pak Reza?" Amora yang sedang duduk di meja sekertaris pun agak heran melihat Nathan keluar dari ruangan sambil berlari layaknya orang kebelet.


"I don't know." Reza melengos sambil pusing harus banyak pekerjaan yang tertunda.


Nathan melajukan mobil setengah gila. Dia menancap gas di atas rata-rata dan beraksi seperti pembalap dalam film-film action. Membuat beberapa pengendara membunyikan klakson peringatan dan beberapa sumpah serapah.


Dengan waktu yang terbilang singkat, mobil yang dikendarai Nathan sudah terparkir di depan sebuah rumah sakit. Untungnya Michel mau berbaik hati memberikan informasi pada Nathan meski dia sedang pada mode brontak. Anak itu aslinya memang baik, hanya Nathan saja yang memperlakukannya kasar sehingga Michel tidak mau tinggal bersama ayahnya lagi.


"Sya.. " Suara parau yang sudah dipenuhi rasa cemas muncul di balik pintu. Setelah tadi terlebih dahulu Nathan mendatangi bagian administrasi untuk mencari ruangan Arsel dirawat.


"Pak Nathan... " Irwan dan Raisya ikut kaget melihat Nathan sudah ada di dalam ruang inap anak.


Nathan langsung menghampiri ranjang dimana Arsel terbaring lemah dengan selang infus di tangannya.


"Ngapain kamu kesini?" Wajah Raisya jelas menampakkan ketidaksenangan pada Nathan.


"Aku khawatir Sya... Bagaiamana keadaan Arsel? Kenapa dia sampai dirawat?" Nathan menatap sedih pada Arsel.

__ADS_1


"Pergi dari sini! Aku tak ingin melihatmu lagi." Ketus Raisya tak ingin meninggikan suaranya takut Arsel terbangun.


"Please... Sya aku mohon! Aku sayang sama Arsel, anak kita." Nathan tak mau Raisya menyembunyikan identitas anaknya lagi.


"Dia anakku." Tak tahan mendengar Nathan menyebutkan 'anak kita'


"Maafkan aku Sya.. mulai sekarang aku ingin menebus segala dosa-dosaku pada kalian. Tolong beri aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahan aku Sya!" Wajah Nathan begitu memelas belas kasihan.


Irwan menatap Raisya, lalu kembali menatap Nathan yang sedang memohon. Dia tak ingin keduanya bertengkar di hadapan Arsel.


"Sebaiknya kalian berdua bicara di luar. Biar aku menunggu di sini. Kasian Arsel." Irwan mengambil jalan tengah untuk mereka bedua.


Raisya mengambil nafas panjang lalu menghembuskan nya sekaligus. Dia memejamkan matanya sambil memegang dadanya yang agak sesak.


"Sya... sabar. Kamu harus kuat!" Bisik Irwan pada Raisya. Matanya terbuka, ada cairan yang bergulir di kelopak matanya. Lalu Raisya menyeka ujung kelopak matanya menahan buliran itu agar tidak meleleh. Dia menoleh pada Irwan mencari jawaban. Irwan hanya mengangguk memberi dukungan agar Raisya lebih kuat.


Raisya tertunduk.


"Aku titip Arsel dulu ya!" Raisya dengan suara serak berkata pada Irwan lalu berjalan ke luar ruangan.


Nathan hanya mengangguk lemah. Dia berjalan mengikuti Raisya.


Tepatnya di sebuah taman yang masih berada di area rumah sakit, Nathan dan Raisya duduk sambil tertunduk. Keduanya masih canggung harus memulai pembicaraan.


"Maafkan aku Sya.. " Nathan menoleh ke arah Raisya.


Hening tak ada jawaban.


"Aku tahu dosaku menggunung padamu Sya.. aku tak berhak mendapatkan kebaikan darimu. Aku memang jahat. Bahkan aku laki-laki yang paling kejam sama kamu dan Arsel." Dada Nathan terlihat berguncang menahan tangis. Tangis laki-laki yang sekarang terlihat rapuh tak berdaya. Kini semua orang yang dicintainya pergi dan membencinya.


Raisya melirik hatinya meski diliputi rasa benci, tapi begitu mendengar Nathan menangis seolah mengikis rasa bencinya dan sedikit menaruh iba.

__ADS_1


Raisya kembali tertunduk tak tahu harus bagaimana mengambil sikap.


"Aku... ingin menebus kesalahanku pada kamu dan Arsel Sya.. aku mohon kasih aku kesempatan!" Dengan mata yang berlinang dia menoleh ke arah Raisya lalu Nathan duduk bersimpuh di hadapan Raisya.


"Maafin aku Sya.. kamu boleh pukul aku, siksa aku, tapi please... jangan pisahkan aku dengan anak-anak!" Nathan mengambil tangan Raisya memohon dengan sangat.


Raisya mengangkat wajahnya melihat dengan serius wajah Nathan. Apakah ada kesungguhan di dalam dirinya atau hanya sekedar bersandiwara.


Kini ada dua sisi yang sedang berbicara dalam. hatinya.


*Sya... dia serius. Coba kamu maafkan Nathan


Sya.. jangan tertipu dengan wajah dramatisnya! Kamu harus ingat, ketika dulu dia menyiksamu berkali-kali. Apa tidak cukup dia diberi kesempatan oleh kamu Sya? Ingat jangan tertipu!


Sya.. apa salahnya untuk memberikan kesempatan lagi. Mungkin saja dia sudah berubah. Apakah kamu pernah melihat dia memohon seperti itu? Dia serius ingin bertobat Sya.


Kamu jangan lemah Sya! Kamu jangan mau terus-terusan dimanfaatkan oleh dia. Dia itu pria kejam Sya*..


Raisya menarik tangannya dan menggelengkan kepalanya.


"Aku... tak mau melihatmu lagi! Jangan pernah muncul di depanku lagi bahkan di depan Arsel!" Raisya langsung bangkit.


"Please Sya... aku mohon! Beri aku kesempatan untuk menebus kesalahan aku Sya.. aku janji tidak akan menyakiti kalian lagi. Aku tidak tahan lagi Sya... please. " Nathan meraih kaki Raisya yang sudah berdiri memohon dengan sungguh-sungguh agar dia bisa diberi kesempatan untuk menebus kesalahannya pada Raisya juga Arsel putranya.


"Hhh.. silahkan bersujud dan menangis. Dimana perasaan kamu ketika kamu hampir saja menghabisi nyawaku? Dimana hah?" Bentak Raisya dengan wajah sudah bercucuran air mata.


"Dimana hati kamu Nathan saat kamu memperlakukan aku kasar ketika kamu menyentuhku?"


"Lalu sekarang kamu dengan mudahnya ingin aku memaafkan kamu, mengaku Arsel anak kamu, dan memberi kesempatan?"


"Itu tidak akan aku lakukan wahai Nathan psikopat. Aku tidak ingin tertipu lagi." Raisya menendang Nathan dan spontan Nathan terjungkal ke belakang.

__ADS_1


"Baik Sya... jika kamu tidak ingin melihatku lagi." Nathan mengambil sebuah bulpoint yang disematkan dalam sakunya, dan dengan kekuatan penuh dia menancapkan tepat di dadanya.


"Maafkan aku Sya... " Semburan darah segar langsung keluar dari dadanya.


__ADS_2