
Jacky yang tidak tahan dengan adegan kemesraan Nathan dan Raisya turun dari Altar. Adegan mereka bukan hanya menusuk mata bahkan hatinya pun terasa sakit.
Jacky pergi meninggalkan Sherly seorang diri di atas altar. Entah kemana dia pergi. Yang jelas dia ingin pergi jauh dari kerumunan itu yang berhasil mengoyak hati menjadi berkeping-keping.
Ya, pesta ini terasa seperti perayaan sakit hati, bukan perayaan suka cita. Seharusnya pernikahan adalah suatu acara kebahagian bagi sepasang insan yang akan mengarungi bahtera rumah tangga. Tentu rencana Nathan berhasil membuat sepasang pengantin ini patah hati dan merasa hancur lebur. Pembalasan yang terlalu menyakitkan.
Begitu Jacky meninggalkan altar, Sherly mematung di atas sendirian. Dia terpaksa menyambut para tamu yang baru datang dengan senyuman pura-pura bahagia. Dia harus pintar menyembunyikan kesedihannya di depan para tamu agar tidak terlalu kelihatan menyedihkan.
Nathan membuka jasnya lalu memakaikannya pada Raisya. Dia ingin menyudahi dramanya dengan tidak lagi mempertontonkan kemolekan tubuh Raisya sebagai tontonan gratis. Dia membawa Raisya pulang sementara Michel dibawa tuan Robert ke mansionnya.
Nathan sampai di depan rumahnya diantar Reza. Kepalanya sedikit berdenyut setelah tadi menenggak dua gelas wine dari pelayan pesta. Dia menarik tangan Raisya dan menggenggamnya masuk ke dalam rumah.
"Lepaskan tanganku sakit!" Raisya ingin melepaskan genggaman Nathan.
Nathan tidak menghiraukannya dia terus saja menarik Raisya menaiki anak tangga lalu memaksa masuk ke dalam kamarnya.
Brakk
Pintu ditutup dengan keras lalu Nathan menguncinya dari dalam. Dia melepaskan genggamannya dari tangan Raisya.
Raisya sangat ketakutan dengan sikap Nathan yang menjadi dingin dan sorot matanya tajam menyalang ke arahnya. Kemarahan yang sejak tadi ditahan-tahan sepertinya akan meledak di kamar ini.
"Kenapa kamu membawaku ke sini?" Raisya agak gemetaran melihat langkah Nathan terus maju mendekatinya. Entah kenapa hati Raisya sangat takut melihat Nathan saat ini.
"Kenapa? Kamu istriku bukan? Aku berhak atas dirimu!" Nada suaranya yang dingin membuat bulu kuduk Raisya berdiri. Langkah kaki Raisya terus mundur selangkah demi selangkah. Ketakutannya semakin menjadi manakala langkah Nathan terus maju. Sosok yang terlihat tampan kini terlihat menyeramkan dengan mata memerah dan wajah yang marah Nathan setengah mabuk.
"Bukankah kita sudah menandatangani perjanjian, tidak ada kontak pisik diantara kita. Tapi kamu sudah melanggarnya." Raisya melipat kedua tangannya di atas dada menutupi bagian belahan dadanya yang terbuka.
"Panggil aku mas. Aku suamimu. Jangan pernah membuat aku marah dengan tingkahmu yang menggoda laki-laki lain seperti tadi!" Rupanya Nathan merasa cemburu ketika Raisya berdansa dengan Beny.
__ADS_1
"Iy iya.. Aku minta ma maaf.. " Raisya terbata-bata.
Tapi langkah Nathan tak juga berhenti sampai Raisya terpentok tembok dinding yang ada di kamar Nathan.
"Kamu mau menghindar kemana lagi ha?" Nathan yang sudah melihat Raisya mentok di tembok langsung mengungkungnya dengan dua tangannya. Wajahnya kini begitu dekat bahkan hampir menempel.
"Hhmm... maafkan aku.. aku.. aku tadi sudah salah padamu." Jantung Raisya kian berlompatan dan keringat dingin mulai keluar dari celah pori-pori. Badannya bergetar hebat mendapatkan perlakuan dari Nathan seperti ini.
"Kamu.. mirip wanita pelacur Raisya! Kamu pandai sekali menggoda laki-laki. Kenapa sekarang kamu harus takut padaku ha? Sedangkan kamu bisa tertawa dengan laki-laki lain?" Nathan menempelkan keningnya di kening Raisya. Nafasnya jelas tercium bau alkohol.
"Aku.. minta maaf.. sekali lagi aku minta maaf." Raisya memejamkan matanya sudah tak bisa berkutik apapun.
"Maaf? Apakah cukup dengan maaf?" Nathan terus saja menyerang Raisya. Padahal gelang pendeteksi sedari tadi bergetar memperingatkan kondisi emosinya.
"Mau kamu apa?" Raisya bingung harus bagaimana melepaskan dirinya dari kungkungan laki-laki itu.
Nathan menarik tangan Raisya dari dadanya langsung menarik gaun dengan cara paksa sehingga dan menyerbu ke ceruk leher Raisya dengan ganas.
"Sadar Nathan elu gila apa?" Raisya berteriak kencang sampai memekikkan telinga Nathan. Nathan merasa terganggu dengan menarik diri dari ceruk leher Raisya. Lalu melampiaskan kemarahannya dengan menampar keras wajah Raisya.
Tak berhenti di situ. Nathan menarik Raisya dan ingin me**** secara kasar. Raisya memberontak karena merasa ini adalah sebuah pemaksaan. Nathan telah melanggar kesepakatan yang pernah ditandatanganinya sebelum pernikahan.
Karena mendapatkan penolakan, Nathan langsung mendorong keras Raisya ke atas ranjangnya. Namun naas karena jarak antara ranjang masih ada jarak Raisya malah terpelanting membentur nakas yang ada di dekat tepi ranjang.
Raisya seketika ambruk tak sadarkan diri tergeletak di atas lantai. Darah menggenang di lantai keluar dari kepalanya yang terbentur nakas.
Nathan terhenyak, mulutnya menganga melihat cairan merah keluar dari kepala Raisya.
"Tidak.. tidak.. tidak.. " Teriakan itu menggema sampai terdengar ke luar kamar.
__ADS_1
Bi Siti langsung keluar kamarnya, kaget mendengar teriakan Nathan. Jantungnya berdetak tidak karuan takut kejadian tiga tahun yang lalu terulang kembali.
Bi Siti langsung naik ke lantai dua mengebor pintu kamar Nathan memastikan majikannya tidak apa-apa. Tapi instingnya mengatakan bahwa sudah terjadi sesuatu.
"Tuan Nathan.. buka pintunya. Apa yang terjadi?" Bi Siti memberanikan diri berbuat lancang, meneriakkan suaranya di depan kamar Nathan.
"Tidak.. tidak.. tidak" Nathan menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak percaya melihat apa yang telah dilakukannya pada Raisya.
Dia langsung duduk di samping Raisya lalu merangkul tubuh Raisya ke dalam pelukan dadanya.
"Raisya.. maafkan aku Raisya.. maaafkan aku.. kamu tak boleh mati.. kamu tak boleh mati." Ucap Nathan terus maracu. Pikirannya sekarang bae tengah gila, bukannya menolong Raisya dengan cepat malah dia semakin menguatkan pelukannya pada Raisya.
"Tuan Nathan.. buka! buka pintunya!" Bi Siti mendengar jelas racun Nathan yang mengatakan beberapa kali 'Raisya jangan mati'
Bi Siti panik. Dia tak mau sesuatu yang buruk terjadi di kamar Nathan.
Bi Siti mengedarkan pandangan mencari akal untuk membuka pintu kamar Nathan. Tapi karena dia perempuan tenaganya tak mungkin kuat untuk mendobrak pintu.
Bii Siti tidak menemukan solusi, dia menuruni anak tangga dan memanggil satpam rumah untuk bisa membongkar pintu kamar Nathan.
"Bi Siti coba cari kunci cadangan. Biar saya yang mendobrak pintunya.
"Baik."
Seorang Satpam langsung naik ke lantai dua untuk memastikan apa yang terjadi di kamar itu.
"Pak Nathan.. buka pintunya! Apa yang terjadi di dalam?"
"Tidak.. Raisya tidak mati. Dia cuman jatuh.. Dia tidak mati. Dia cuman jatuh." Nathan terus saja meracu. Badannya bergetar hebat mengingat masa kelam itu kembali dalam ingatannya.
__ADS_1
mampir yuk di karya aku yang lainnya