
"Tenang pak Robert!" Reza langsung menenangkan kecemasan tuan Robert yang melihat anaknya seperti itu. Ditambah lagi banyak orang di ruangannya.
"Kenapa tidak ambil ruangan yang tenang?" Tuan Robert menoleh pada Reza.
Reza menunduk. Tak bisa menjawab apapun.
"Sekarang pindahkan! Ambil ruangan plus perawat jaga." Tuan Robert seperti biasa memerintah sesuai keinginannya. Ratna cuman bisa melihat saja tak mampu melawan apapun. Raisya yang tadi sempat tertidur mendengar keributan langsung mengucek mata menyipitkan kelopak matanya melihat apa yang terjadi.
"Pih.. please.. jangan dipindahkan!" Suara lirihnya terdengar memohon.
"Kamu kenapa ada disini? Ruangan ini terlalu sesak dan tidak tenang." Tuan Robert tetap bersikukuh ingin memindahkan Nathan ke ruangan lain.
"Biar saya saja yang pindah." Raisya tak ingin keributan ini terus berlanjut dan dilihat oleh anaknya, Arsel.
"Sebaiknya memang begitu. Kenapa harus menumpang di ruangan orang lain?" Nada bicara tuan Rober mampu membuka luka baru di hati Raisya. Ingin sekali dia melawan ucapannya barusan. Tapi Raisya tak ingin terjadi keributan berlanjut gegara Nathan satu ruangan dengan Arsel.
"Rat.. bantu aku membawa selang infus!" Raisya langsung menggendong tubuh Arsel yang masih lemah. Anak itu hanya melihat satu tanpa banyak bertanya. Apalagi dengan kedatangan orang asing yang tidak. dikenalinya.
"Sya.. please.. !" Nathan mengangkat tangannya tak mengindahkan tuan Robert.
Raisya pura-pura tidak mendengar tak menoleh sedikitpun pada Nathan maupun pada mantan mertuanya. Rasa sakit yang baru saja menggores hatinya terlalu berat Raisya rasakan mengingat keluarga itu terlalu banyak membuat kenangan buruk padanya.
Ratna langsung membawa selang infus menyeimbangi langkah Raisya tanpa banyak protes. Dia tahu sahabatnya sedang tidak baik-baik saja.
Michel melihat Raisya dan Ratna keluar langsung membereskan barang-barang mereka dan mengikuti langkahnya.
"Michel.. kamu diam disini!" Tuan Robert memanggilnya dengan nada suara membentak. Rasa kesal tuan Robert muncul ke permukaan begitu melihat Michel mengikuti mereka.
Michel hanya menoleh sebentar, lalu terdiam sambil memunggunginya.
__ADS_1
"Selangkah kamu keluar dari ruangan ini, aku akan mengusirmu selama-lamanya." Suara tuan Robert yang keras membuat Michel terhenyak. Tanpa bisa ditahan matanya berair, sedih. Tak ayah tak kakek, sama saja sikapnya. Michel merasa bahwa diam bersama mereka malah membuat hatinya sakit. Dia memutuskan untuk mengikuti Raisya. Lalu dia melangkahkan kakinya ke luar ruangan tak menghiraukan lagi Nathan juga tian Robert yang ada di sana.
"Kurang ajar ya!" Tuan Robert yang mendapat pemberontakan cucunya langsung marah.
Uhuk uhuk uhuk... Nathan tak mampu menahan rasa sedihnya melihat orang-orang yang dicintainya pergi dari ruangan itu. Nafasnya tiba-tiba sesak dan sakit menjalar di sekujur tubuhnya akibat pasokan oksigen dalam paru-parunya tersendat.
"Tuan tenang.. pak Nathan panik!" Reza langsung memanggil dokter dan perawat. Tuan Robert langsung mendekati Nathan yang wajahnya mendadak merah matanya agak membesar menahan sesak di dadanya.
"Anakku... jangan mati!" Tuan Robert sangat panik melihat perubahan Nathan yang seperti tercekik akibat pasokan udaranya semakin menipis masuk ke dalam tubuhnya.
"Mohon anda minggir dulu!" Dokter dibantu perawat langsung memasangkan oksigen pada mulut serta hidungnya Nathan agar pasokan oksigennya lancar. Perlahan-lahan sesak di dadanya menurun. Nathan terlihat mulai tenang tetapi matanya terus mengeluarkan krista-kristal bening yang saling menyusul keluar dari ujung matanya. Dia merasakan kesedihan tetapi tidak mampu bicara apapun. Tubuhnya mendadak drop. Detak jantungnya tidak beraturan dan badannya begitu terasa lemas.
Dokter langsung mengontrol alat vitalnya.
"Mohon keluarga pasien bisa tenang. Pak Nathan tak boleh panik. Bisa-bisa dia terbatuk dan menyebabkan sesak nafas." Dokter memperingatkan tuan Robert.
"Pak Nathan baru saja lepas dari masa kritis. Mohon anda tidak membuat keributan yang menghambat pemulihannya!" Dokter rupanya mengetahui keributan di ruangan itu.
"Iy iya dok. Saya mohon.. lakukan yang terbaik untuk anak saya!" Pintanya dengan memohon.
"Saya sudah melakukan yang terbaik.Tapi mohon tuan juga bisa bekerjasama!" Jawab dokter agar tuan Robert mengerti kondisi Nathan.
"Baik dok." Tuan Robert tak lagi memohon. Nathan hanya bisa menatap lemah pada tuan Robert dan Reza. Di balik dadanya dia sedang menjerit untuk bisa dikembalikan lagi bersama anaknya Michel juga Arsel seperti tadi.
Tuan Robert dituntun Reza duduk di sofa. Dokter dan perawat merapihkan alat bantu Nathan. Lalu setelah itu keluar dari ruangan sambil mendorong blangkar bekas Arsel keluar.
Tuan Robert duduk lemas di atas sofa. Dia sangat mencemaskan kondisi Nathan. Apalagi tadi dia sempat bertemu dokter dan menanyakan kondisi Nathan. Dia tertunduk bingung. Diantara tiga anaknya baru Nathan saja yang mempunyai keturunan. Sedangkan Adam setelah bercerai dengan Sarah dia belum juga menikah lagi. Da jangan katakan bahwa Jacky sudah mempunyai anak. Setelah pernikahannya Jacky malah hidup terpisah dengan Sherly. Dia mengetahui kebusukan Sherly yang telah membuat Raisya menderita. Foto-foto syurnya bersama Nathan yang sudah direncanakannya ternyata terbongkar juga akhirnya. Sungguh keluarga Alberto sedang krisis keturunan.
Di alain tempat Raisya sudah kembali menidurkan Arsel dengan tenang. Kepalanya semakin berdenyut tatkala tadi tuan Robert membuat kegaduhan.
__ADS_1
"Sya.. kamu sakit?" Ratna memegang kening Raisya. Dia sedikit deman.
"Kepalaku sakit." Ucap Raisya sambil memejamkan matanya.
"Sudah tidurlah! Mau aku panggilkan dokter?" Tanya Ratna dengan serius.
Raisya menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah mending kamu tidur. Sebentar lagi bakal visit dokter." Ratna berencana memeriksakan Raisya begitu ada pemeriksaaan dokter.
Rat langsung menurut. Dia membaringkan tubuhnya langsung memejamkan mata agar bisa tidur. Dari semalam tidurnya tidak teratur. Mungkin sakit kepala dan demamnya karena disebabkan kurang tidur dan masuk angin saja.
Ruangan itu hening. Ratna kini sedang menatap Michel yang napak murung.
"Michel.. sini!" Ratna memanggilnya agar mendekat.
Michel pun mendekat dan duduk di samping Ratna.
"Kamu kenapa meninggalkan daddy kamu?" Tanya Ratna heran karena Michel malah mengikutinya bukan tinggal bersama ayahnya.
"Michel mau di disni saja." Ucap Michel tak memberikan jawaban detai.
Ratna mengusap Michel dengan lembut punggungnya. "Kamu yang sabar! Anak sabar disukai Allah Subhana wata'ala."
Michel mangangguk paham.
Ratna menarik nafas panjang lalu menghembuskan nya kasar. Dia agak pusing menghadapi keluarga Nathan yang arogan.
Bagaimana dengan kehidupan Raisya sebelumnya? Pastinya sahabat yang satu ini sudah bisa menebak. Menghadapi keluarga Alberto harus ektra segalanya. Ya fisik ya jiwa. Mengingat keluarga itu kasar dan tak ada manis-manisnya. Baru saja Ratna melihat seperti itu saja sudah pusing, apalagi Raisya. Sepertinya Ratna tidak sanggup jika harus diuji sama.
__ADS_1