Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Awal Sebuah kesalahan.


__ADS_3

Raisya masuk ke apartemennya Hendrik yang dulu pernah dibelinya. Dengan perasaan was-was Raisya melangkah ragu memasuki apartemen itu. Pasalnya di dalam apartemen hanya ada dua orang dewasa yang perasaan mereka sama-sama. samar.


"Duduk Sya! Aku buatkan dulu makanan ya!" Hendrik yang sudah terbiasa hidup sendiri memasak bukanlah hal yang sulit. Dia selalu menikmati apa saja dalam hidupnya tanpa harus dibuat susah, termasuk urusan perut. Jika dia ada waktu luang dia menyempatkan diri memasak dan jika sibuk dia cukup memesan makanan sesuai selera.


Fokus dalam hidupnya sekarang adalah bagaimana dia menjadi laki-laki sukses. Bukan tanpa alasan dia melakukan itu. Ada tersimpan satu trauma yang membuat Hendrik mengambil keputusan untuk berkarir setinggi mungkin dan hanya menyukai wanita saja tanpa lebih. Apa yang terjadi pada Hendrik tidak ada seorang pun yang tahu. Hanya dirinya dan Tuhan lah yang tahu.


"Ada yang bisa kubantu?" Raisya menghampiri Hendrik.


" Gak usah! Duduklah!" Hendrik sudah meniriskan spageti dan siap membumbuhinya dengan bumbu saos. Gerakannya memang cepat. Sehingga tidak lebih dari 15 menit spageti buatannya susah terhidang di atas meja bersama dengan irisan bakso yang dimasak bareng dengan bumbu.


"Kamu mau minum apa?" Tanya Hendrik yang masih lengkap memakai celemeknya.


"Aku air putih saja kak." Pinta Raisya tidak ingin banyak merepotkan.


"Oke." Hendrik membawa dua botol air mineral ke atas meja lalu menaruh satu di depannya dan menyodorkan satu botol lagi ke depan Raisya.


"Terimakasih kak." Ucap Raisya menerima botol itu lalu membukanya serta meneguknya beberapa tegukan. Kerongkongannya terasa segar setelah terisi air mineral yang diberikan Hendrik.


"Ayo makan! Aku masak yang praktis dulu saja ya! Kalau ingin makan berat nanti kita bisa beli di restoran sambil pulang." Ucap Hendrik karena ini masih terbilang pagi restoran yang jadi langganannya biasa belum ready di jam segini.


"Gak usah kak! Ini saja sudah cukup. Tadi aku sudah sarapan kok. Lagian pulangnya saya harus jemput Michel." Ucap Raisya tak mau Hendrik terbebani.


"Michel kakaknya Arsel?" Tanya Hendrik sambil menyuap spageti buatannya.


"Iya."


"Kamu repot tidak mengurus anak dua?" Hendrik menanyakan seputar mengurus anak.


"Mmm.. yah.. dinikmati saja. Buat aku nikmat saja. Repotnya ada.. bahagianya juga banyak." Raisya tidak terlalu pusing tentang anak, dia malah repot dengan urusan pasangan.


"Mau nambah lagi gak dari aku?" Hendrik menatap Raisya ingin tahu bagaimana respon Raisya.

__ADS_1


"Maksud kak Hendrik?" Raisya mengerutkan dahi sedang menunggu kejelasan apa. yang diucapkannya.


"Mari menikah. Aku ingin menikah denganmu." Hendrik dengan wajah serius mengajak Raisya. menikah.


"Ha?" Raisya malah melongo.


"Serius. Aku akan mengajak kamu menikah. Mau ya?" Ajaknya dengan wajah memelas.


Emang.. beli cendol apa? kok segampang itu para lelaki mengajak nikah. Kalau aku masih single sih mau-mau aja. Tapi.. sekarang? Dua anak dengan masalah yang pelik. Aku harus mikir ribuan kali.


"Mau dong Sya!" Hendrik kembali bicara.


"Kak.. kakak serius? Kenapa harus aku sih kak? Kan kakak banyak tuh ceweknya. Kenapa gak mengajak mereka saja?" Raisya tidak mau terperdaya. Meski dulu Raisya tahu Hendrik adalah pacaranya Sarah dan pernah juga menyukainya sewaktu dia masih sendiri. Tapi takdir berkata lain. Dia harus terperangkap dalam kehidupan Nathan.


"Seriuslah. Masa tidak." Jawab Hendrik dengan pembawaannya yang santai.


"Iya.. tapi kenapa harus aku gitu kak? Kan masih banyak cewek-cewek cantik yang single yang suka sama kakak. Bukannya pesona kakak selalu menjadi magnet para kaum Hawa?" Raisya bicara terkekeh-kekeh mengungkapkan isi hatinya. Sudah lama dia tidak tertawa seperti ini. Ada rasa bahagia yang terpancar dari hati Raisya.


"Iya.. tapi kan aku sudah punya anak dua. Kakak lebih pantas mencari yang lebih baik dari aku." Tolak Raisya dengan halus.


"Mmm... gak masalah buat aku kamu punya anak sepuluh juga. Yang penting aku nyaman sama kamu." Hendrik tidak putus harap mendengar penolakan Raisya.


"Ah.. kakak.. pusing aku." Raisya beropang dagu agak pusing menanggapi ajakan Hendrik menikah. Raisya tak tahu banyak mengenai kepribadian dan kebiasaannya Hendrik. Apalagi dia lama di luar negeri bisa jadi ada kebiasaan-kebiasaan yang dia tidak ketahui.


"Kak.. aku bantu cuci piringnya ya!" Raisya membawa piring yang sudah kosong dan gelasnya ke wastapel.


"Sya... " Hendrik langsung memeluk Raisya dari belakang. Sontak membuat Raisya kaget dengan aksi Hendrik yang tiba-tiba memeluknya.


"Maaf kak.. aku gak nyaman." Raisya langsung menolak sikap Hendrik yang terlalu berani.


"Sebentar saja!" Hendrik berbisik di telinga dan menempelkan wajahnya di pipi sebelah kanan Raisya mengeratkan pelukannya di pinggang Raisya.

__ADS_1


Raisya menghentikan pergerakan tangannya yang tadinya mau melepaskan tangan Hendrik. Jantungnya kian berdegub kencang dengan hati yang penuh was-was. Mereka adalah dua orang dewasa yang pikirannya sudah beda dunia. Gampang terpancing hasrat dan nafsu.


"Kamu tahu untuk siapa apartemen dibeli?" Hendrik bicara dengan tetap menempelkan wajahnya di pipi Raisya.


Raisya terdiam.


Mene ketehe...


Raisya hanya menjawab dalam hatinya.


"Itu buat kamu Raisya." Hendrik menjawab pertanyaannya sendiri.


"Sejak melihat kamu aku sudah suka. Tapi.. kamu nya selalu saja abai. Malah kamu memilih Nathan laki-laki yang pernah menganiaya kamu." Hendrik sedang mengingat kejadian masa lalu.


"Aku kira kamu beneran mati Sya. Nyatanya kamu masih hidup dan malah melanjutkan hidup kamu dengan pria itu." Nada bicara Hendrik agak pelan seperti menahan kekecewaan dalam hatinya.


"Tapi.. aku tak masalah. Kamu sekarang sudah free dengan dua anak. Makan menikahlah denganku Sya! Aku mau kamu jadi istriku." Hendrik melonggarkan pelukannya dan membalikkan tubuh Raisya agar saling berhadapan.


"Mau ya Sya?" Pinta Hendrik dengan menatap netra Raisya.


Jantung Raisya rasanya sudah hampir lelah dengan sportnya.


"Tapi.. aku kan.. "


Cup


Bibir Raisya tiba-tiba tidak diberi kesempatan untuk berbicara.


Hendrik langsung me**** bibir Raisya dengan lahap. Dia sudah menahan hasrat yang memggebu di atas ubun-ubun nya. Dia ingin merasakan bibir Raisya yang sejak dulu diinginkannya namun tak ada kesempatan untuk sedekat ini.


Hendrik seperti hilang akal sehat dia terus saja me*** bibir Raisya meski Raisya tidak membuka mulutnya sama sekali.

__ADS_1


Ini salah Raisya.. kamu... sudah salah


__ADS_2