Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Please...


__ADS_3

Pov Raisya


Yang namanya takdir sama nasib emang kita gak tahu. Semuanya perkara ghaib yang manusia tidak tahu. Manusia hanya bisa berusaha dan berdoa.


Seperti pagi ini, tiba-tiba mobil Ratna harus menabrak mobil yang di depan. Dan yang bikin kita terkejut, itu mobil cap singa moncong kenapa bertengger disana. Ampun dah.. makk... tekor bandar.


Alhasil. Ratna hanya menunduk. Aku tahu betul Ratna dengan semua traumanya. Aku keluar untuk bernegosiasi, karena kalau harus bayar dengan uang, pastinya tidak sedikit. Untungnya sebelum aku bicara dia duluan memberi ganti harus mengasuh anaknya. End... itu bikin aku gagal fokus.. tampannya...


Astaghfirullah..ko ini mata jelalatan kaya gak sekolah ya? Harusnya aku mikir bagaimana dengan tampannya nabi Yusuf? Dia mah kayanya lewat deh... Makanya kalau lihat orang tampan tuh ulah hokcay neng he he. Aku hanya tertawa sendiri dalam hati.


Hari itu aku mencoba mengasuh anak bule yang lucu.. tapi emakkk... tolong. Ternyata itu. adat jeung sifat meni teu lucu pisannn... sampei gue harus berderai-derai air mata. hiks hiks hiks


Tapi bagaimana juga aku harus inget. Bagaimana harus ganti rugi. Aku gak mungkin menyerahkan itu semua pada Ratna.. tapi aku tuh mikir sendiri ya. Ko aku jadi bodoh begini mengambil resiko yang gak aku buat. Apa ini alasan karena sebuah persahabatan? Masih belum on ini pikiran.


Terus terang aku kaget sampai aku harus membawa anak ini ke rumah sakit. Aslinya aku tuh tegang banget. Ternyata mengasuh anak itu tak segampang yang aku kira. Dan aku baru merasakan yang namanya jadi ortu repot begini. Selama ini aku suka protes aja bawaannya. Tapi dengan kejadian ini aku jadi mengerti.


Wadau.. aku kena tampar... innalillahi.. mimpi apa atuh neng tadi malam? Kayanya ini sudah ditulis di Lauhil mahfudz sebelum aku brozol ditampar babehnya. Kalau kamu nanya sakit. Ya sakitlah... Tapi, aku buru-buru istighfar.. kayanya aku ada dosa yang balesannya memang harus ditampar. Itu cuman alasan aku biar ga terlalu nusuk dihati hiks hiks hiks... pengennya sih mewek. Tapi aku malu. Ntar saingan deh sama si Michel.


Aku tahu Jacky tidak menerima aku diperlakukan seperti itu. Aku sih gak sakit hati.. karena aku menanggung sebab akibat perbuatan aku sendiri. Cuman aku malu aja... ditampar di tempat umum apalagi harus di depan Jacky. Aku kaya cewek murahan yang gak punya harga diri. Makanya aku hanya diam ketika dia ngajak makan. Aku sebenarnya malu.


Ini lagi si ayang... malah nginep disini? Aku jadi gak tenang mau tidur, karena dia tidurnya rusuh. Ditambah Jacky kenapa dia menutup teleponnya? Gak biasa baperan gitu. Apa aku salah bicara?


Semalaman aku bikin laporan sisa pekerjaan yang belum selesai ditambah aku harus mengalah tidur di bawah karena Ratna tidur di atas. Pagi-pagi aku agak kurang enak badan. Semua tulangku rasanya pegal.


Di pagi hari ini seperti harus senam jantung. Klakson mobilnya yang nyaring, ternyata dia sudah ganti lagi mobil baru. "Hei.. sebenarnya dia itu siapa sih..?"


Senam jantung kedua, adalah Jacky. Numben betul dia turun dari mobil yang bertengger binatang buas itu. Apa dia sedang membuktikan sesuatu? Ya ampun tatapan mautnya Jacky... kenapa kamu Jack, Pms?

__ADS_1


Dan lelaki itu seperti menatap aku dengan pohon tanda tanya kelihatannya. Aku mengurungkan niat untuk satu lift dengan mereka. Bisa jadi kalau satu lift aku bisa sesak mendadak. Yang repot gue sendiri kan?


Eh ini lagi dia malah ninggalin aku di belakang. Ampun...habis sudah rasa maluku yang ingin ditutupi.


Aku heran sejak kapan Jacky jadi baperan gitu? Sampai aku dikasih tugas rodi. Tapi aku gak takut tantangan. Aku akan kerjakan sebisaku dulu. Kalau gak bisa aku akan lanjut esok hari.


Sebenarnya dalam pikiranku banyak bergelayut masalah-masalah. Aku berpikir apa ada yang salah dengan sikapku selama ini? Toh orang tidak suka melihat diri kita lemah apalagi banyak mengeluh. Biarkan semua, aku sendiri yang tahu. Aku akan mengalihkan semuanya pada pekerjaan. Mengeluh tiada guna jika dikeluhkan pada manusia.


###


"Sya kamu sudah makan?" Hesti melongok kembali ke dalam kubikelnya.


"Sudah mbak nyicil!" Raisya melihat Hesti yang berdiri di samping pembatas kubikel.


"Kaya kredit aja nyicil."


"He he.. " Raisya tersenyum.


"Emang kenapa mbak?" Mata Raisya menatap heran


"Kayanya sih.. si Jacky suka deh sama elu Sya!"


"Ya ga pa-pa mbak suka-suka dia ajalah mbak!" Raisya dengan santainya bicara seperti itu.


"Eh elu.. gak peka banget. Menurut kamu si Jacky gimana orangnya Sya?" Entahlah Hesti tiba-tiba kepo.


"Hhhmm.. Emang kenapa mbak?"

__ADS_1


"Kalau baik kenapa elu gak mau Sya?"


"Ihh mbak.. emangnya kapan dia nembak aku?" Raisya menjawab sambil membereskan kertas-kertas di atas meja yang siap dibundel.


"Kalau dia nembak lu gimana Sya?"


"Matilah mbak!" Raisya menahan senyum karena ingin menertawakan lawakannya.


"Ih elu.. gimana sih. Dibawa serius malah gitu!" Hesti melengos.


Terdengar pintu dibuka. Bu Mia baru datang setelah jam makan siang.


"Sya.. kamu ke ruangan ibu ya! Sambil bawa laporan yang disuruh Jacky!


"Baik bu!" Tanpa lama Raisya mengikuti langkah bu Mia.


"Ini bu, laporan rugi laba perusahaan selama tiga tahun terakhir. Untuk laporan rinci dari masing-masing divisi tinggal diprint bu. Terus untuk studi kasus tiap divisi saya belum bisa karena harus ada kunjungan pada tiap divisi untuk melihat bagaimana mempresentasikan budget dan progres yang akan mereka kembangkan. Biasanya ibu sendiri yang akan turun langsung." Raisya berusaha menjelaskan apa yang dia bisa.


"Laporan yang ini sudah cukup. Nanti aku bawa ke dewan direksi. Dan untuk laporan divisi sebaiknya kamu bareng sama Jacky, biar dia bisa ngasih masukan untuk laporan yang akan kamu buat. Hhhmm yang satu ini perasaan aku kasih tugas sama Jacky deh!" Dahi bu Mia mengerut.


"Tapi sudahlah! Aku pengen tahu kemampuan kamu sampai dimana. Jadi kerjakan saja!" Bu Mia tidak memperpanjang masalah.


"Baik bu!"


"Kenapa jadi gue harus ngerjain laporan dia?" Raisya bergumam sendiri


Raisya keluar dari ruangan bu Mia. Ternyata Jacky sudah ada di depan mejanya.

__ADS_1


Raisya mengangkat bibirnya untuk tersenyum ketika Jacky melihat ke arahnya. Tapi dia hanya melihat sebentar tanpa ekspresi apapun langsung mengalihkan pandangannya ke arah komputer.


"Eh please deh... kenapa gue jadi kaya orang punya dosa ginih sih?" Raisya bicara sendiri.


__ADS_2