Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Akhirnya diterima


__ADS_3

"Kenapa harus minta maaf Ra? Aku butuh jawaban Iya, bukan maaf." Jacky masih menatap Raisya.


Raisya yang tadi menunduk kini berani melihat Jacky.


'Menikahlah dengan yang lain!" Ucap Raisya yang sangat malu menghadapi Jacky.


"Aku sudah pernah menikah dengan yang lain kok Ra! Yang belum itu, aku menikahi kamu Ra!" Jacky berusaha menjawab sesantai mungkin.


"Tapi aku tak bisa Jack!" Raisya menyeka air matanya.


"Kenapa tidak bisa?" Tanya Jacky yang tak mau menyerah begitu saja.


"Aku terlalu kotor Jack." Ucap Raisya memandang kosong ke depan. Bayangkan dirinya yang telah dinodai kini jadi hantu dalam dirinya.


"Kotor? Mmm.. aku juga kotor Raisya. Tapi aku berani melamar kamu. Kenapa kamu tak coba menerima aku sih Raisya?" Jacky yang sejak awal bertemu Raisya sudah terang-terangan ingin melamar Raisya selalu saja berakhir dengan penolakan.


"Jacky!" Raisya tak tahu harus bicara apalagi untuk menolak Jacky.


"Aku akan menerima kamu apa adanya Raisya. Aku tahu apa yang telah menimpamu."


Degg..


Dada Raisya terhenyak


Apa dia tahu aku sudah dinodai?


Raisya menatap Jacky. Keduanya saling bersitatap.


"Ayolah menikah! Mari kita perbaiki kesalahan kita selama ini. Kita mulai lagi dari awal. Mau kan kamu menikah denganku?" Terang Jacky jujur.


Raisya sedang mencari jawaban di dalam netra Jacky.


"Tapi.. aku... "


"Ssstt... jangan sebutkan! Aku sudah tahu semuanya dari kak Sarah dan kak Adam. Mari kita menikah. Aku akan menerima kamu seutuhnya Ra! Percaya sama aku!' Jacky mencoba meyakinkan Raisya.


Hik hik hik


Raisya malah menangis kembali.

__ADS_1


"Mari kita hidup damai Ra! Kita akn belajar sama-sama memperbaiki kesalahan kita di masa lalu demi masa depan kita. Bukankah kita sudah terlalu lama kenal, tapi kita malah menjadi musuh satu sama lainnya. Mari kita saling memaafkan. Mulai lagi dari awal untuk melangkah ke depan." Jacky tak ingin Raisya terus-terusan trauma.


"Tapi Jacky... bagaimana kalau aku hamil?" Akhirnya Raisya bicara tentang kekhawatirannya.


"Jika kamu hamil, aku tetap akan menikahi mu. Dan aku akan menunggu masa nifas kamu selesai baru aku akan menyentuhmu. Dan kita akan menyerahkan anaknya pada ayahnya yang sebenarnya. Dia harus tahu dan harus bertanggungjawab dengan anak yang sudah dititipkan di rahim kamu.' Ucap Jacky. Meski hatinya merasa sakit tapi akalnya tetap harus sehat.


"Jadi kamu serius akan menikahiku?" Ucap Raisya agak tenang setelah mendengar pengakuan Jacky.


"Memang kapan aku tidak serius? Aku selalu serius. Kamu aja yang selalu ragu." Kalau sudah begitu keluar sifat asli Jacky. Tidak mau disalahkan.


"Iya.. aku juga tahu salah aku banyak sama kamu." Raisya mulai bisa tenang.


"Jadi kamu mau kan menikah sama aku?" Jacky yang belum menerima jawaban Raisya masih bersikukuh dengan pertanyaan itu.


"Emang jawabannya harus sekarang?" Raisya melihat Jacky.


"Ya iyalah.. orang nanyanya juga sekarang bukan tahun depan." Dengan cueknya Jacky sudah kembali ke mode lama. Bicara nyaman seperti itu pad Raisya.


Hening


"Kok diam? Apa diam kamu berarti iya?" Jacky mencoba mendekat wajahnya pada Raisya.


"Ya.. melamar kamu lah. Masa makan kamu? He he " Jacky tertawa jahil.


"Lalu.. kenapa kamu malah menjkahi aku yang sudah ternoda ini, bukannya perempuan itu banyak?" Raisya butuh keyakinan.


"Emang.. wanita itu banyak Ra. Sayangnya aku hanya suka kamu. Bagaimana puas tidak dengan jawaban aku?" Jacky tahu Raisya tak mudah untuk ditaklukkan. Makanya dia dinodai mungkin sebabnya adalah sama. Ketika seseorang sangat menyukai, lalu mendapatkan penolakan biasanya dia akan nekad. Kecuali orang yang masih waras otaknya.


"Beneran kamu siap menerima resiko? Lalu bagaimana kalau orang tua kita tahu bahwa anak yang aku kandung bukan anak kamu?" Raisya sulit untuk menerima pinangan Jacky. Banyak resiko yang akan jadi pertimbangannya.


"Kita akan pergi ke Singapura untuk sementara sambil menunggu pengobatan kita setelah kita menikah." Jawab Jacky dengan rencananya.


"Lalu Michel dan Arsel?" Tentu dia anak ini juga harus dipikirkan.


"Sarah ingin mengurus mereka sementara masalah kita belum selesai. Nanti kalau kamu sudah aman, Michel dan Arsel akan kita bawa ke Amerika Ra. Aku ingin tinggal dulu di sana untuk beberapa tahun. Agar pernikahan kita bisa stabil. Kalau di sini kemungkinan apa yang akan kita tutupi akan sulit." Jawaban Jacky cukup membuat Raisya yakin.


"Baiklah... tapi.. ada yang harus kamu ketahui." Raisya belum memberitahu Jacky tentang hal ini.


"Apa?" Jacky melihat ke arah Raisya dengan kerutan di dahinya.

__ADS_1


"Aku.. berisiko melahirkan Jack."


"Maksudnya?" Jacky belum mengerti apa yang diucapkan Raisya.


"Sewaktu melahirkan Arsel aku pendarahan banyak, sampai aku koma Jack. Jadi kalau aku melahirkan lagi ada kemungkinan aku... " Raisya menghentikan perkataannya.


Jacky langsung mengerti apa yang dikatakan Raisya.


"Kalau begitu.. Mari kita berobat. Aku akan tetap mendampingi kamu sampai akhir. Jika sangat beresiko, kita akan minta pendapat dokter dari sekarang. Syukur-syukur kamu tidak hamil Ra. Ah.. tapi apapun yang terjadi, mari kita saling menguatkan. Itu yang aku perlukan Ra." Jawaban Jacky lagi-lagi membuat Raisya terharu.


"Terimakasih Jack. Maafkan aku ya Jack!" Ucap Raisya kembali berderai air mata.


"Eits... aku bukan butuh itu. Sekali lagi aku butuh kepastian Ra. Apakah kamu mau menikah denganku?" Entah pertanyaan ke berapa ini ya? Jacky belum bisa tenang kalau Raisya belum menjawab.


Raisya mengangguk.


"Alhamdulillah ya Allah.. " Jacky langsung mengucap syukur.


"Aku sudah menyiapkan sesuatu buat kamu Ra." Jacky mengambil sesuatu dari saku jasnya.


Sebuah kotak perhiasan yang berisi gelang yang sudah diukir nama Jacky dan Raisya.


"Kamu suka?" Jacky memperlihatkan gelang itu.


"Cantik." Raisya tersenyum bahagia. Kali pertama dia mendapatkan hadiah selayaknya seorang calon istri.


"Aku pakaikan ya!" Jacky menawarkan dirinya untuk memakaikan gelang yang sudah diukir nama dirinya dan Raisya.


Raisya mengangguk.


Jacky memakaikan gelang batang yang bertahtakan permata biru di tengahnya pada lengan Raisya.


"Terimakasih Jack... kamu sudah mau menerima aku apa adanya. Aku berharap suatu hari aku bisa membalas kebaikan kamu Jack." Raisya terharu, air matanya kembali menetes.


"Ra.. gak usah jadi beban. Biarlah setiap. kebaikan yang berikan Allah yang balas. Yang penting sekarang kita saling menyayangi sampai tua nanti." Jacky sebenarnya terharu juga. Akhirnya nasibnya bisa juga melamar Raisya.


"Maafkan aku ya Jack!" Raisya tak kuasa menahan sedih dan gembiranya sekaligus.


"Iya.. sama. Maafin aku juga!" Ucap Jacky tak mau membuat Raisya menangis lagi.

__ADS_1


"Eh aku telepon Adam dan dulu ya! Nyari makan apa nyari hotel sih?" Jacky menggerutu.


__ADS_2