
Pov Nathan.
Aku sangat senang mendengar bahwa Raisya mempunyai anak dariku. Aku ada kesempatan untuk kembali rujuk dengannya dengan alasan yang kuat. Tapi sayang Raisya memang terlampau sakit hati dan tidak mau memaafkanku.
Aku sudah berupaya untuk meminta maaf, hatiku sangat rapuh dibuatnya. Aku merasa pasti Raisya tidak akan memaafkanku karena kesalahan yang aku buat memang terlalu banyak.
Selain Raisya mempunyai anak, aku lebih kaget lagi. Ternyata Raisya yang aku nikahi adalah Raisya yang sudah aku anggap mati. Ya ampun... bertambah pula rasa bersalahku padanya.
Aku terus memohon pada Raisya agar dia memaafkanku. Aku tahu bahwa sifat emosinalku memang tidak seratus persen sembuh. Aku menjadi tidak sabaran melihat Raisya. Aku menjadi nekad bunuh diri setelah Raisya menolak mentah-mentah kehadiranku juga tidak mau aku menjadi ayahnya Arsel.
Entah darimana bisikan itu datang. Aku berniat bunuh diri dengan bolpoin yang masih menempel di saku kemejaku. Aku ingin menunjukkan pada Raisya bahwa aku sunguh-sungguh berniat meminta maaf dan ingin kembali padanya.
Akhirnya bolpoin itu berhasil menembus dadaku. Aku yakin bahwa nyawaku sudah diujung tanduk, aku sudah tidak ingat apa-apa lagi.
Aku kira aku sudah mati. Ternyata begitu mengerjap aku sedang berada di rumah sakit. Berarti aku selamat dari maut. Aku yang baru dioperasi merasakan sakit di dadaku. Ya setiap hembusan nafas yang aku rasakan sepertinya uratku ikut tertarik.
__ADS_1
Setelah aku lepas dari masa krisis aku dipindahkan ke ruang perawatan. Yang pertama aku minta pada suster bahwa aku ingin menemui Raisya. Rasa rinduku tak bisa aku tahan lagi. Selepas nyawaku selamat, aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk menemuinya. Aku berharap jika keadaanku lemah seperti ini aku dapat meluluhkan Ray dan bisa mengambil hatinya.
Benar saja dia datang padaku. Dari sorot matanya, aku bisa melihat bahwa Raisya sangat menyesal. Aku berusaha memanfaatkan momen ini. Karena rasa rinduku yang membuncah aku men**** bibirnya dan Raisya pun tak menolak aksiku. Kami seolah lupa lupa dengan masalah kami. Kami sepertinya menikmati aksi itu. Ya sudah sekian lama aku menahan hasrat akhirnya aku bisa melabuhkan tanpa penolakan meski hanya bibir kami yang bertemu.
Aku melihat ada rona merah di wajah Raisya. Mungkin dia malu dan terbakar juga. Di saat itu aku mengungkapkan keinginanku untuk rujuk kembali. Raisya hanya membalas akan memikirkan dahulu dan akan meminta izin pada orangtuanya dahulu. Aku tidak bisa memaksanya langsung menjawab. Sudah diterima begini saja aku sudah bergembira.
Karena Raisya harus menunggu Arsel juga diriku, dia merasa kerepotan. Akhirnya dia beriniatif untuk menggabungkan perawatan aku dengan Arsel agar memudahkannya merawat keduanya. Itu tentu saja membuatku senang. Tanpa diminta aku bisa satu ruangan dengan anakku Arsel.
Aku sangat senang sekaligus bahagia satu ruangan lengkap. Ada Arsel, Michel, Raisya juga Ratna. Melihat interakasi mereka membuatku ingin segera sembuh dan ingin segera merasakan keakraban seperti yang mereka lakukan. Dengan melihat mereka saja rasanya bahagiaku bisa melambung tinggi.
Ya, kebahagiaan yang aku rasakan ini tak lama umurnya. Kedatangan papih membuat suasana menjadi tegang. Raisya tersinggung akhirnya dia keluar dari ruangan dan mencari ruangan baru untuk ditempati Arsel anakku.
Dokter langsung memasangkan oksigen. Sesak yang aku rasakan perlahan berangsur membaik. Tapi dokter langsung memeriksa dengan serangkaian chek yang aku sendiri tidak mengerti. Badanku langsung drop, padahal kemarin aku sudah merasa baikan.
Dan tak kusangka ternyata aku mengidap kanker paru stadium 4. Itu pukulan hebat untuk mental ku. Aku yang baru saja selamat dari maut seolah malaikat maut tidak rela melepaskan kekuasaannya untuk terus menguntitku dengan penyakit mengerikan. Entah sejak kapan aku mengidap penyakit itu. Tapi yang jelas memang hidupku tidak sehat yang selalu pecandu rokok. setelah hidupku berantakan.
__ADS_1
Setelah menerima berita itu, aku meminta dokter yang menangani ku untuk merahasiakannya. Aku tak ingin semua orang bersedih mendengar berita itu.
Sekarang nafasku bertambah sakit. Rasanya ada sesuatu yang menggerogoti dalam dadaku. Setelah kemarin nyawaku hampir saja melayang sekarang aku dibuat nyawaku sedikit demi sedikit melemah. Aku sadar mungkin dosa-dosaku terlalu banyak sehingga Tuhan menyadarkan aku dengan cara ini.
Aku berpikir mungkin umurku memang tidak lama lagi. Ada keinginan yang ingin aku lakukan dalam waktu dekat ini. Aku ingin menikahi Raisya. Aku sampaikan keinginanku pada papih dan papih tidak menolak untuk mengabulkan keinginanku ini.
Dalam keadaan payah aku masih ditemani Michel. Anak itu dengan setia menemaniku setelah beberapa waktu ke belakang memang suasana aku dan Michel sempat tidak baik. Tapi anak itu dengan setia menungguku tanpa mengeluh atau terlihat kesal.
Dan tak disangka kedatangan Jacky di ruangan ku. Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya. Ya terakhir kali sejak pernikahan aku dan pernikahannya dengan Sherly. Aku tidak banyak tahu tentang kehidupan mereka dan tak pernah mencari tahu. Buatku aku sudah merelakan Sherly dengan kehidupannya dan aku dengan kehidupanku meski memang Sherly tidak lepas dengan kehidupan Michel selalu ibu dan anak.
Kami mendadak akrab. Tepatnya Jacky memulai dahulu meminta maaf padaku setelah permusuhan diantara kami berlangsung cukup lama. Entah angin apa yang membuatnya datang lalu meminta maaf padaku. Aku melihat bola matanya, aku sedang mencari kejujuran dimatanya. Dia nampak bersungguh-sungguh melakukan perbuatannya. Aku tak bisa menolak niat baiknya apalah kondisi aku juga tidak tahu apakah aku masih mempunyai umur panjang ataupun tidak.
Aku menerima permintaan maafnya. Aku mencoba berlapang hati untuk menerima sikapnya yang sudah berusaha. Aku pikir aku pun punya andil besar dalam permusuhan itu.
Setelah Jacky meminta maaf, dan waktunya berpamitan akan pulang datanglah Amora. Aku menilai dia perempuan yang pintar memanfaatkan situasi. Beberapa kali dia sedang mencuri pandang pada Jacky. Bahkan aku kurang suka atas sikapnya yang terlalu agresif. Jacky berpamitan pulang. Dan sekarang Amora seperti leluasa menggodaku.
__ADS_1
Dalam hati aku berharap Amora tak nekad melakukan sesuatu padaku. Saat aku tidak bisa melakukan balasan pada Amora, malah Jacky masuk kembali dan mengusir Amora.
Keeseokan paginya tak disangka papih melakukan video call bersama Raisya dan Arsel. Aku bahagia sekali melihat keduanya walau lewat vidieo. Itu sudah cukup bagiku. Kalau aku sehat mungkin aku akan langsung menyusul ke sana. Tapi sayangnya aku lemah tak berdaya.