Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Kelelahan tanda kutip


__ADS_3

Dokter Mely hanya bisa merenung apa yang diinginkan sepasang suami istri itu. Secara kesehatan memang diperbolehkan untuk aborsi jika terdapat sesuatu yang membahayakan pasien, misal janin kena penyakit, ibu dalam keadaan terancam kematian karena adanya janin, karena janin dan ibu memang tidak sehat. Dan untuk alasan penundaan kehamilan rasanya seorang dokter pun harus berpikir ulang antara profesi dan dosa.


"Bagaimana dok? Apakah istri saya bisa dibantu?" Jacky menunggu jawaban dokter Mely yang sekarang terlihay galau.


"Sebaiknya tuan Jacky dan nyonya Raisya berpikir kembali. Mungkin nanti saatnya di rumah ada perubahan. Saya sangat menyayangkan kalau bu Raisya yang sehat harus melepas janinnya. Karena di luar sana banyak pasangan yang menunggu lama bertahun-tahun karena ingin istrinya hamil." Ucap dokter Mely.


Jacky terdiam. Bagaimana harus menceritakan masalah sebenarnya pada dokter Mely. Digenggam erat tangan Raisya, mereka saling menatap sendu. Jauh di balik tatapan mereka sebenarnya ada kehancuran yang harus disembunyikan agar tidak terlihat rapuh.


"Maaf dok! Bisakah dokter menyimpan rahasia kami?" Jacky tahu Raisya tak ingin masalah aibnya diketahui orang. Tapi secara terpaksa dia harus bicara pada dokter Mely agar dia bisa membantu masalah yang kini dihadapinya.


"Iya." Dokter Mely menatap serius pada Jacky.


Jacky mengambil nafas sejenak lalu menghembuskannya dengan mata terpejam. Ada rasa berat yang mengganjal di dadanya.


"Begini dok! Kehamilan istri saya adalah kecelakaan akibat pemerkosaan. Jika istri saya melanjutkan kehamilannya, lalu bagaimana dengan nasib janin ke depannya? Itu akan menjadi sumber konflik yang berkepanjangan sepanjang kami hidup, bahkan akan menjadi masalah juga buat nasib anak malang ini." Jacky akhirnya mengungkapkan semua ganjalan yang ada di hatinya.


Mata dokter Mely langsung melebar karena kaget. Antara percaya dan tidak dia harus mendengarkan apa yang baru saja diucapkan Jacky. Biasanya korban pemer**** diantar oleh orang tua atau kepolisian atau nota bene hasil kriminalitas. Ini yang datang adalah pasien VIP yang keadaan mereka secara keamanan terjaga.


"Baik. Saya akan membantu anda jika keadaannya seperti itu. Tapi anda dan istri harus menandatangani sebuah perjanjian dahulu sebelum tindakan diambil." Dokter Mely harus mematuhi prosedur yang ada, karena kalau tidak dia akan terkena sangsi hukuman penjara dan diancam dicabutnya hak praktek kedokterannya jika melanggar aturan.


"Baik. Kami akan mengikuti aturan. Dan saya minta anda merahasiakan hal ini dari siapapun." Jacky meminta dokter Mely pun menjaga kerahasiaan masalahnya dari siapapun.


"Baik. Silahkan dibaca dahulu prosedur nya! Jika ada yang tidak disetujui anda bisa memikirkannya lagi." Dokter Mely memberikan beberapa lembar surat perjanjian yang harus ditaati oleh pasien dan keluarganya.


Jacky dan Raisya membaca dengan teliti setiap kalimat yang tertera di lembaran itu. Ada rasa sedih dan juga pasrah di hati keduanya. Sedih, mengingat nasibnya yang harus melepas janin tak bersalah. Pasrah, karena mereka berdua tak mempunyai kekuatan untuk menanggung masalah ini ke depannya. Ini keputusan yang terbaik yang bisa diambil keduanya.

__ADS_1


"Bagaimana sayang? Kamu setuju?" Jacky melihat Raisya. Menatap wajah sendu istrinya yang sedang bersedih.


Raisya mengangguk pasrah.


"Baik dok. Saya dan istri menyetujui semua persyaratan yang diajukan di lembar perjanjian ini." Ucap Jacky.


"Saya akan memberikan satu hari untuk perenungan ya pak! Kalau sudah mantaf, baru saya akan mengambil tindakan." Ucap dokter Mely.


"Baik." Jawab Jacky singkat.


"Bapak bisa beristirahat di kamar VIP atau bisa pulang terlebih dahulu untuk perenungan." Ucap dokter Mely memberikan pilihan.


"Bagaimana sayang? Kamu mau yang mana?" Jacky menoleh ke samping melihat persetujuan Raisya.


"Aku ingin di rumah sakit saja!" Ada banyak pertimbangan jika dia harus kembali ke rumah


"Baik. Istri saya ingin menunggu di rumah sakit dok!" Ucap Jacky melanjutkan keinginan istrinya pada dokter Mely.


"Baik. Kalau begitu saya akan persiapkan kamarnya. Sekalian istri bapak juga mendapatkan perawatan, soalnya tekanan darahnya lemah." Ucap Dokter Mely pada Jacky.


"Baik dokter. Saya minta yang terbaik untuk istri saya!" Jacky mengelus lembut punggung Raisya sebagai bentuk dorongan moril pada istrinya.


"Baik. Bapak bisa tunggu di luar dulu ya! Nanti perawat akan membantu mengantarkan pasien ke ruangannya." Ucap dokter Mely mengakhiri pertemuan dengan sepasang suami istri itu.


Jacky dan Raisya pun berdiri lalu tak lupa mereka bersalaman sebagai ucapan Terima kasih atas kesediaanya membantu permasalahan mereka.

__ADS_1


Jacky dan Raisya menunggu di luar ruangan Obgyn. Tangan Jacky tetap menggenggam Raisya erat. Diciumi punggung tangan putih nan lancip itu. Dipeluk erat tubuh ramping istrinya penuh sayang. Saat ini yang diperlukan istrinya adalah laki-laki yang di sampingnya ini akan selalu berada di sampingnya sampai kapanpun. Mencintainya dan terus mencintai nya sampai maut memisahkan.


Raisya menyandarkan kepalanya di dada Jacky.


"Jacky... maafin aku ya.. aku tak bisa menyenangkan kamu sampai sekarang. Aku malah menjadi beban untuk kamu." Ucap Raisya lirih.


"Ish.. jangan begitu. Kamu gak ada salah sayang. Semua yang menimpa kamu adalah kesalahan aku. Justru aku yang harus meminta maaf padamu sayang." Jacky mengangkat dagu istrinya agar menatap wajahnya. Perlahan Jacky mengecup bibir istrinya. Raisya tak bisa menolak sentuhan suaminya meski itu di tempat umum. Untung saja hari itu karena sudah janji temu, tak ada pasien selain dirinya. Jadi ruangan Obgyn terbilang sepi.


Tapi tanpa sepengetahuan mereka, dokter Ferdi memperhatikan keduanya dari lantai dua tepatnya dari balik kaca ruang kerjanya. Ruangan kerja para pejabat tinggi rumah sakit tepat ada di lantai dua, sehingga memudahkan mengawasi kegiatan rumah sakit.


Ada rasa sakit juga sesak melihat sepasang suami istri itu bercumbu di depannya.


Seharusnya dia milikku. Dan sampai kapanpun dia akan jadi milikku.


Rasa keserakahan dokter Ferdi entah kenapa semakin menjadi begitu melihat Raisya. Meski secara kekeluargaan mereka adalah dekat, tapi rasa nafsunya mengalahkan logika sehatnya. Dia begitu terobsesi pada Raisya. Bahkan setelah sekarang menikah pun rasa memilikinya sangat kuat. Padahal sebelumnya dokter Ferdi tidak seperti itu.


Jacky dan Raisya kini beristirahat di ruang VIP setelah kamar yang dipesan sudah disiapkan oleh petugas.


"Jack... " Panggil Raisya yang masih setia bersandar di bahu suaminya.


"Apa sayang..?"Jacky melihat Raisya inten.


" Bagaimana kalau papih menanyakan kita?" Raisya agak khawatir jika keadaannya sekarang diketahui oleh pihak keluarga Jacky.


"Tenang sayang. Aku tadi sudah bilang mau istirahat di rumah sakit, karena kamu kelelahan. Mereka pasti tahu kok, kelelahan dalam tanda kutip." Jacky tertawa nakal sambil mencium bibir istrinya.

__ADS_1


"Tapi aku takut Jack!"


__ADS_2