Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Tunggu dia datang


__ADS_3

"Dia bukan siapa-siapa." Jelas Raisya tak ingin Irwan dan Ratna salah paham.


"Bukan siapa-siapa bagaimana Raisya? Dia bilang sayang.. sayang.. kaya gitu!" Ratna tidak percaya dengan apa yang dikatakan Raisya meski dia adalah sahabatnya.


"Jelaskan dari awal Raisya! Bukan aku mengatur hidupmu, tapi kamu harus hati-hati dengan namanya laki-laki. Apalagi kamu baru ditinggalkan Nathan, dan baru saja sakit." Irwan tak ingin Raisya salah langkah. Dia sebagai sahabatnya tak mau Raisya terjerumus pada rayuan lelaki. Ini benar-benar mengejutkannya. Karena dari kemarin-kemarin tidak terlihat Raisya dekat dengan siapapun.


"Aku kenal dia baru beberapa hari." Lirih Raisya sambil tertunduk.


"Apa? Beberapa hari?" Suara Ratna mengagetkan Irwan.


"Ih bebeb.. kaget tau!" Irwan agak kerung.


"He he.. maafin aku yang..!" Ratna nyengir kuda melihat Irwan.


"Terus lanjut! Aku pengen tahu seberapa jauh kamu mengenalnya. Dan dia mengenal kamu." Irwan tidak akan membiarkan Raisya untuk tertipu.


"Awalnya ketika mobilku mogok. Dia memberikan tumpangan untuk menjemput Arsel juga Michel. Terus dia meminjamkan mobilnya karena dia satu komplek dengan aku. Terus waktu dia mau mengambil mobil, aku sedang demam. Dia yang membawaku ke kliniknya. Dia seorang dokter dan mempunyai klinik sendiri. Ketika dia menunggu aku di klinik tiba-tiba dia menyatakan cintanya, tapi aku sudah jelaskan bahwa aku perempuan dengan dua anak. Tapi dia tidak mempermasalah status ku saat ini. Dia malah mengajak nikah, dan memperlakukan aku ya.. seperti tadi." Terang Raisya seadanya.


"Perasaan kamu bagaimana Raisya? Aku heran aja, kok bisa baru ketemu kemarin langsung menyatakan cinta. Apa tidak terlalu cepat?Jangan-jangan dia seorang playboy Sya. Apa kamu sudah tahu asal usulnya? Aku kurang setuju dengan hubungan yang terlalu cepat ini. Apalagi kalau dia tahu kamu punya warisan yang banyak, takutnya ada niat yang lain Sya." Irwan mewanti-wanti akan hubungannya dengan dokter Ferdi. Tak sedikit laki-laki yang langsung suka karena ada niat yang lain dibalik rasa sukanya.

__ADS_1


"Aku.. gak ada hubungan apapun sama dokter Ferdi. Kalau sebatas suka karena dia baik, aku akui.. iya. Untuk ke arah serius, banyak yang mesti dipertimbangkan Rat. Aku.. kan berisiko tinggi lalu hamil lagi. Laki-laki mana yang mau menerima aku yang seperti itu. Apalagi mereka bujang. Pastinya berharap punya keturunan." Raisya melihat serius pada Ratna dan Irwan.


"Maksud kamu mereka?" Irwan mengerutkan dahi menyimak maksud perkataan Raisya.


"Ya.. maksud aku Jacky sama dokter Ferdi." Itulah kenapa Raisya menunda untuk menerima pinangan tuan Robert dan dokter Ferdi. Bukan alasan perasaan semata, tapi lebih ke alasan bagaimana kalau suatu hari mereka menuntut untuk memberikan keturunan.


"Aku mau tanya, kamu cinta sama Jacky tidak?" Irwan sebagai laki-laki ingin tahu seberapa besar cinta Raisya pada orang yang selama ini mencintainya. Ya meski Jacky juga pernah bimbang dengan urusan perasaannya. Antara Sherly dan Raisya waktu itu. Tapi sekarang Jacky sudah sadar bahwa dia hanya mencintai Raisya.


"Aku... " Raisya tertunduk.


"Yang jelas Sya! Biar aku urusin masalah kamu biar tidak menggantung seperti sekarang. Kalau kamu suka aku akan bicara baik-baik sama Jacky masalah kamu. Kalau kalau dia tidak menerima kekurangan kamu, kamu tinggal cari laki-laki yang akan menerima kamu apa adanya. Kamu juga bisa berobat. Tapi urusannya berbeda jika kamu tidak menyukai Jacky. Aku tidak akan ikut campur dengan urusan itu. Kamu bisa memilih laki-laki lain yang kamu sukai." Irwan tak ingin Raisya bingung sendiri.


"Mmm.. beri aku waktu." Raisya ingin meyakinkan hatinya dahulu. Selain itu dia pun ingin pulang ke Bandung untuk membicarakan hal ini dengan ibunya. Dia butuh dorongan dan dukungan dari orang-orang terdekatnya.


"Oke. Kalau kamu ingin merenung silahkan. Tapi jangan memberi harapan palsu pada dokter Ferdi. Aku tak suka kamu plin plan. Selesaikan satu-satu baru kamu boleh memilih pasangan yang lain. Jangan menduakan perasaan yang nantinya akan melukai semua orang!" Irwan berkata tegas.


"Nah.. itu baru laki gue!" Ratna bergelagut manja di tangan Irwan. Dia bangga dengan ketegasan Irwan selama ini. Dia tidak pernah menjalin hubungan yang tidak serius dengan perempuan manapun selama ini. Ratna adalah satu-satunya perempuan yang langsung dilamar Irwan, meski dulu Irwan juga pernah menyukai Raisya.


"Ya udah.. kalau kamu tidak serius. Jangan angkat teleponnya dan jangan jawab pesannya!" Irwan menyarankan tegas seperti itu.

__ADS_1


"Kok gitu?" Raisya merenggut.


"Mau kamu bagaimana Raisya? Mau memberi harapan? Jangan plin plan! Kalau kamu tidak tegas, nanti kamu sendiri yang dapat masalh. Jangan main-main dengan perasaan!" Irwan memberikan saran.


"Mending Raisya pulang aja dulu ya yang.. biar ngobrol dulu sama mama." Raisya belum bisa berpikir untuk sekarang.


"Ya begitu juga bagus. Sebaiknya kamu jangan dulu berhubungan dengan laki-laki lain. Selain kamu baru ditinggal Nathan, kamu harus peka juga sama Jacky! Tidak etis jika kamu malah memikirkan diri kamu sendiri sedangkan keluarga Alberto sedang tidak baik-baik saja." Irwan lebih cenderung jika Raisya memilih bersama Jacky. Selain mereka sudah dekat, keduanya juga sudah saling mengenal.


Di lain tempat Jacky sudah turun dari pesawat langsung diantar ke rumah sakit terbaik yang ada di Singapura. Setelah mendengar keadaan Raisya yang kurang peka padanya, Jacky memilih ingin berobat di luar negeri untuk memulihkan tulang yang sudah patah dan terkena retakan.


"Mih... mamih sama papih pulang saja! Biar aku sendiri di sini. Kan ada perawat yang merawat Jacky di sini. Kasian kalau Raisya dan anak-anak sendirian di rumah." Hati dan perasaan Jacky tetap saja terpaut pada mereka. Dia tak bisa melupakan begitu saja.


"Kamu sembuh dulu jangan banyak pikiran!" Tuan Robert tak mau Jacky terlalu banyak khawatir. Di satu sisi kasihan juga kalau Jacky cacat, satu sisi dia juga membutuhkan Jacky secepatnya untuk perusahaan.


"Tapi aku kangen pih.. masa iya tidak boleh menelpon?" Jacky ingin sekali menghubungi Raisya dan anak-anak. Rasanya dia tak tahan tidak melihat mereka.


"Kamu sembuh dulu Jacky! Bagaimana nanti kalau Raisya menolak kamu kalau keadaan mu seperti itu?" Ibunya Jacky tak mau kalau Jacky suatu saat tak bisa memberikan keturunan karena lumpuh. Makanya dia tak mau menunda lagi pengobatan Jacky agar segera pulih seperti semula.


"Iya mih.. tapi Jacky kangen sama mereka. Bolehkan Jacky menelpon mereka?" Jacky memelas agar keinginannya bisa dipenuhi.

__ADS_1


"Tunggu Raisya menghampiri kamu Jacky!"


__ADS_2