Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Minta Bunda


__ADS_3

"Michel anak baik daddy... mana mungkin Michel gak baik. Daddy sayang banget sama Michel.. " Nathan tersenyum getir. Setiap kali melihat Michel dengan keadaan begini hatinya begitu sakit. Anak sekecil ini harus menanggung keegoisan orang dewasa. Rasa cintanya masih besar pada Sherly. Begitu melihat Michel hatinya begitu tersayat. Apalagi melihat dia tergeletak lemah tak berdaya Nathan seolah tak ada semangat hidup. Semangat hidupnya kini hanya untuk Michel seorang. Demi cinta dia kepada Sherly, Nathan harus bertahan mengasuh Michel sendirian.


"Daddy kenapa menangis?" Michel memperhatikan mata Nathan yang berkaca-kaca. Air beningnya sudah berkumpul di ujung kelopak matanya siap jatuh. Hatinya begitu lemah mengingat masa lalunya yang tercermin di diri Michel.


Nathan yang lahir dari istri kedua pak Robert yang biasa orang menyebutnya pelakor tentu sejak kecil Nathan sudah menanggung beban mental yang cukup berat. Ditambah perlakuan dari keluarga Robert sendiri seolah tak ingin Nathan menjadi bagian keluarga itu seringkali melukai harga diri Nathan.


Dan bukan itu saja. Nasib sudah menjadi bubur Nathan harus berbagi cinta kekasihnya dengan saudaranya sendiri. Entahlah.. Nathan seolah ingin merebut apa saja yang dimiliki saudaranya hanya karena selama ini dia haus pengakuan dan persejajaran perlakuan. Dia ingin hidup selayaknya keluarga Alberto. Tapi tetap saja sekuat apapun dia, tetap dirinya merasa menjadi buangan.


"Daddy tidak menangis sayang.. daddy hanya terharu melihat Michel." Sanggah Nathan.


"Daddy kapan kita pulang? Michel ingin bertemu tante Raisya.. kangen." Mata Michel yang masih suci terlihat begitu damai menatap Nathan. Michel dengan polosnya membicarakan Raisya pada Nathan.


"Mmhh.. Michel cepet sembuh ya! Daddy harap Michel jangan menemui lagi tante Raisya. Dia bukan orang baik Michel. Buktinya Michel sekarang sakit. Itu gara-gara tante Raisya kan?" Nathan berusaha menanamkan kebencian pada Michel agar tak lagi ketergantungan pada Raisya. Entahlah apa yang terjadi dengan perasaan Michel sehingga dia ketergantungan pada Raisya. Padahal pertemuan dengan Raisya hanya baru dua kali. Tapi seolah Raisya sudah dapat tempat di hati Michel.


"Tante Raisya baik kok. Dia tidak pernah marah sama Michel. Kenapa daddy seperti membenci tante Raisya? Jangan-jangan tante Raisya takut sama daddy? Atau Daddy mukul lagi Tante Raisya? Hik hik hik. Michel malah menangis.


"Eh.. kenapa Michel menangis sayang?" Nathan heran Michel malah menangis.


"Daddy jahat. Suka mukul tante Raisya. Hik hik hik.. Michel menangis. Nathan menyeka butiran-butiran air mata Michel yang polos. Anak kecil memang sangat sensitif, dia bisa membedakan mana orang baik dan bukan, dengan mata batinnya. Michel melihat kasih sayang Raisya tulus sejak pertemuan pertamanya. Ketulusannya itu yang membuat Michel terikat pada Raisya dan nyaman berdekatan dengannya.


"Sudah sayang... jangan menangis! Daddy jadi sedih kalau melihat Michel menangis seperti itu. Michel kan ada daddy. Kenapa sih suka tante Raisya?" Nathan penasaran dengan isi hati anaknya.


"Hik hik hik.. Michel ingin punya bunda seperti yang lain daddy... " Michel membentang tangannya seperti biasa minta digendong dengan manja. Tapi Nathan tak bisa menggendongnya karena badan Michel harus tidur terlentang dulu agar penyembuhannya lebih cepat. Dia hanya mengelus-elus badan Michel agar tenang kembali.


"Ohh.. jadi Michel pengen punya bunda? Bagaimana kalau daddy nyari bunda tapi bukan tante Raisya? Michel mau?" Entah darimana ide itu keluar begitu saja dari mulutnya Nathan. Padahal selama ini Nathan tak pernah membuka diri pada perempuan lain.

__ADS_1


"Gak mau.. Michel mau tante Raisya!" Michel kekeh ingin Raisya menjadi ibunya. Anak segede gini sudah bisa memilih mana yang baik untuk dirinya dan juga ayahnya.


"Kalau mommy Sherly gimana? Daddy mau mommy Sherly jadi bunda kamu Michel. Karena memang dia yang telah melahirkan Michel ke dunia ini."


"Hik hik hik."


Michel kembali menangis. Dia banyak menyimpan trauma di hatinya. Michel yang dulu sering diperlakukan kasar oleh Sherly masih menyimpan ingatan masa lalunya. Hatinya seolah sakit ketika nama Mommy disebut. Banyak yang tidak diketahui Nathan dibalik trauma Michel. Anak itu mempunyai bayangan hitam mengenai ibunya sendiri.


"Michel.. jangan sedih ya! Michel mau melihat daddy sedih?" Nathan melihat Michel dengan tatapan menghiba.


Michel menggelengkan kepalanya.


"Sekarang Michel tidur ya! Ini masih malam. Daddy temani Michel disini sampai tidur." Nathan kembali melebarkan bibirnya tersenyum manis pada Michel.


Nathan beralih menuju sofa membaringkan tubuhnya sambil menangkub kedua tangannya di dada. Dia memikirkan apa yang baru saja dikatakan Michel. Dia juga sedang mengulang ingatannya, kemarin yang telah kalap menyiksa Raisya.


Apakah dia baik-baik saja? Bagaimana kalau dia mati. Ah.. kenapa aku tak bisa menahan diri? Bagaimana kalau dia parah? Apa dia akan melaporkanku?


Nathan berbicara sendiri. Penyakit tantrumnya terkadang timbul begitu saja tanpa bisa dikendalikan. Seharusnya Nathan menjalani terapi untuk bisa mengendalikan emosi.


###


"Jack.. " Ratna memangil nama Jacky ketika dia terbangun dari tidurnya. Dilihatnya jam yang melingkar di tangannya juga selang infus yang sudah mulai habis.


Jacky terbangun ketika mendengar namanya dipanggil.

__ADS_1


"Ratna.. kamu bangun?" Jacky mengucek matanya dan mengedip-ngedipkan matanya, agar kesadarannya berkumpul.


"Aku ingin melihat Raisya Jack. Dan infus aku sudah habis. Aku udah baikan." Ratna terbangun dari tidurnya. Setelah tadi dokter menyuntikkan vitamin, badannya terasa bugar.


"Jam berapa ini ya?" Mata Jacky masih terasa lengket.


"Jam 2. Aku ingin melihat Raisya Jack." Ratna mengulang lagi permintaannya.


"Iya.. nanti aku antar. Sebentar aku panggilkan perawat untuk membuka infusan nya." Jacky memanggil perawat untuk membuka selang infusan.


"Ayo kita kesana! Mudah-mudahan operasinya lancar." Ucap Jacky sambil mengajak Ratna ke tempat dimana Raisya dioperasi. Tadi Jacky dan Ratna tertidur karena badannya terlalu lelah untuk begadang.


Keduanya menunggu di depan ruangan operasi dengan sejuta harap.


Kecemasan Ratna kentara sekali. Matanya terus saja naik turun melihat lampu yang menyala di atas ruang operasi.


"Banyak doa Rat! Semoga Raisya kembali sehat." Jacky menguatkan Ratna dengan menepuk bahunya.


"Jack.. Kira-kira kenapa Raisya sampai dioperasi? Apa dia dipukulin orang? Atau bagaimana?" Ratna penasaran dengan keadaan Raisya.


"Aku juga tidak tahu. Nanti selesai ini kita tanyakan pada dokter yang menangani Raisya." Jawab Jacky.


"Kira-kira kenapa juga Raisya harus celaka di rumah sakit? Kok aku curiga ya sama Bos Nathan." Ratna melirik Jacky.


Jacky hanya terdiam. Sebenarnya dugaan Ratna sama dengan Jacky. Tak mungkin Raisya tiba-tiba kritis. Lagian siapa yang dendam dengan Raisya? Sedendam-dendamnya orang pasti berpikir dua kali.

__ADS_1


__ADS_2