
Adam tidur dengan posisi membelakangi Sarah. Dia pura-pura tidur padahal hatinya sedang berkecamuk.
"Kamu sudah tidur?" Sarah tidur dengan posisi berbaring.
"Hhmm." Adam menjawab pendek.
"Tadi Jacky membawa temannya yang bernama Raisya ke rumah sakit. Wajah dan badannya penuh luka lebam." Sarah bicara pelan sambil berbaring.
"Apa Raisya?" Adam langsung membalikkan badan, tidur miring melihat Sarah. Begitu pun Sarah memposisikan dirinya saling berhadapan dengan Adam.
"Mas Adam tahu?" Mata Sarah melihat Adam dengan jarak dekat.
"Ya tahu lah. Dia staf keuangan barengan Jacky. Pantesan dia gak ada rapat. Kenapa bisa terluka, dan lebam? Kecelakaan?" Tanya Adam penasaran.
"Hhmm. Kata Jacky sih hasil karyanya Nathan. Tapi dia tidak ada bukti. Soalnya Raisya bersikukuh katanya dirampok. Masa di rampok di rumah sakit, habis ketemu Nathan. Itu kan tidak masuk akal?" Bela Sarah yang tak begitu saja percaya dengan alasan Raisya.
"Mmmh. Terus selain lebam Raisya ada luka lain? Misalnya pemerkosaan?" Adam yang tadinya tidak berminat mengobrol dengan Sarah jadi tertarik mendengar cerita Sarah tentang Raisya.
"Menurut hasil dari pemeriksaan sih tidak ada. Atau memang tidak diperiksa? Cuman Raisya harus dioperasi karena empedunya luka dan lambungnya juga kena."
"Separah itukah?" Adam mengerutkan dahinya.
"Mmhmm. Dan aku juga agak pusing sama mereka mas. Awalnya Jacky hanya bilang minta seruangan sama Michel. Aku sih gak curiga siapa yang akan masuk. Dia bilangnya, ada deh.. Tahunya mas, Raisya dimasukin satu kamar dengan Michel. Mas bisa bayangkan bagaimana ketakutan Raisya melihat Nathan?"
"Terus gimana?" Adam semakin penasaran.
"Aku sempat membentak Jacky yang tidak peka sama perasaan Raisya. Maksudnya apa gitu menjadikan Raisya sekamar dengan Michel? Setelah Raisya menangis, baru aku pindahkan ke ruangan lain." Terang Sarah pada Adam.
"Besok aku mau lihat keadaannya. Ini sih tidak bisa dibiarkan. Nathan juga pernah melakukan kekerasan sama ART makanya dipindahkan dari Amrik ke sini. Masa dia gak kapok juga? Apa harus dipenjara dulu baru kapok?" Adam mengesalkan tindakan Nathan yang arogan.
"Iya sih. Ngeri juga lihat adik mas yang satu itu. Kayanya dia harus diterapi ke psikiater deh mas. Takutnya kalau dibiarkan jadi pembunuh." Sarah agak takut melihat perbuatan Nathan yang tidak bisa mengendalikan emosinya.
"Terus Raisya sekarang ada yang menemani tidak?" Adam masih penasaran.
__ADS_1
"Jacky kayanya menginap di sana."
"Kamu tahu penyebab Raisya dipukuli Nathan karena apa?"
"Aku tahu sedikit sih. Jacky yang cerita. Dia kaya balas dendam gitu sih mas. Katanya waktu di Bandung Michel jatuh di tangga darurat karena mengejar Raisya." Terang Sarah pada Adam.
"Lah kenapa juga Raisya harus lari dari Michel?" Adam menatap aneh dengan penjelasan Sarah.
"Untuk semua itu kayanya mas Adam mesti ngomong sama Jacky. Aku sih males ngurusin masalah orang. Dan gak mau ikut campur sama urusan mereka." Sarah melingkarkan tangannya ke tubuh Adam. Dan mendekatkan bibirnya ke rahang Adam.
Adam segera melepaskan tangan Sarah dan mengubah posisinya menjadi terlentang.
"Sar.. aku ada kerjaan di Singapura. Kayanya bakal lama. Sekitar semingguan." Adam mengungkapkan kegelisahan yang dari tadi ditahannya.
"Terus?" Sarah yang biasa cuek tak sedikit pun menaruh curiga.
"Iya, kayaknya kamu akan ditinggal sendiri disini. Kamu gak apa-apa kan?" Adam menghela nafas.
"Ya gak pa-pa selama itu pekerjaan. Aku dukung aja mas." Tangan Sarah mulai beroperasi meraba-raba dada Adam yang sejak tadi menghindari disentuh Sarah.
"Mas Adam hari ini agak aneh." Sarah membaringkan dirinya dengan posisi seperti semula terlentang.
Adam tidak menjawab apapun. Seumur hidupnya baru kali ini dia harus menyimpan sesuatu dalam dadanya yang membuat dirinya sesak dan tidak bisa bernapas dengan lega. Adam yang biasa kalem dan tidak pernah neko-neko, tentu ketika dia melakukan sesuatu di luar batas perasaan berdosanya akan lebih kentara dibandingkan dengan yang sudah biasa melakukan.
"Kamu.. bosan sama aku mas?" Tiba-tiba Sarah berbicara seperti itu.
Masih tidak ada jawaban dari Adam. Dia hanya mendengarkan saja tanpa mau bersitegang dengan Sarah.
Setelah itu tak ada lagi pembicaraan antara Sarah dan Adam. Tak lama kemudian terdengar suara halus dari Sarah menandakan dia sudah tertidur.
Adam membalikkan badannya dengan posisi miring melihat Sarah. Diamatinya wajah Sarah dengan seksama.
"Maafkan aku Sar!" Adam hanya bergumam dalam hati. Tanpa bisa mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
Di lain tempat Ratna membaringkan tubuhnya di kasur kesayangannya dengan desain perempuan banget, aneka desain pink. Dia menatap langit-langit mencerna apa yang sudah dikatakan Raisya waktu itu.
"Ya aku harus mulai bisa mandiri tanpa Raisya. Selama ini aku hanya mengikutinya kemanapun dia pergi. Aku juga bingung harus darimana memulainya. Apakah aku harus memulai dengan punya pacar? Tapi siapa yang mau pacaran denganku? Selama ini tak ada laki-laki yang mengajakku serius berhubungan." Ratna bicara di dalam hatinya.
Sarah mengambil handphonenya lalu menekan nomor Jacky.
"Halo."
"Iya halo."
"Ada apa Ratna? Elu belum tidur?" Jacky melihat jam yang melingkar di tangannya. Waktu menunjukkan jam 10 lewat.
"Belum ngantuk. Raisya gimana Jack?"
"Dia sudah tidur." Jawab Jacky sambil melongok sebentar ke arah ranjang pasien. Terlihat Raisya sudah tidur dengan tenang.
"Ada apa telepon malem-malem?" Jacky bertanya heran pada Ratna.
"Gue kesepian Jack!" Jawab Ratna tanpa dipikir dulu.
"Maksudnya?" Jacky mengerutkan dahi.
"Entahlah hati gue gak enak rasanya. Dari tadi susah tidur. Gak tahu gue harus gimana?" Ratna menceritakan kegelisahan hatinya tanpa dia pun mengerti apa dan bagaimana mengatasinya.
"Elu kepikiran Raisya ya? Sebaiknya elu tidur gih! Besok bagian elu nginep disini. Gue meski ngantor." Jacky menyuruh Ratna tidur lebih cepat. Lagian Jacky pun sudah merasa lelah sekali sesudah bolak-balik Jakarta -Bandung dalam waktu seharian ditambah harus menginap di rumah sakit.
"Iya gue udahan dulu. assalamu'alaikum." Ratna memutuskan sambungan teleponnya.
"Aneh.. kesepian. Kaya kalian pacaran saja!" Jacky menggerutu lalu membaringkan tubuhnya di sofa. Melanjutkan tidurnya yang baru saja dimulai. Acara tidurnya jadi terpotong oleh suara telepon.
Dan di kamar yang berbeda, Nathan masih belum bisa memejamkan matanya. Dia turun dari ranjang Michel. Michel sudah terlihat tidur pulas. Nathan melangkah perlahan semu menjinjitkan kakinya, takut langkahnya terdengar.
Nathan melangkah pergi keluar dari ruangannya. Dia melihat kiri-kanan mengamati lorong sekitar rumah sakit. Terlihat sepi. Bahkan beberapa perawat pun menundukkan kepalanya di atas meja piketnya, karena tidak ada pasien yang mengeluh.
__ADS_1
Bagi yang belum ambil hadiah bulanan. Kutunggu! he he kalau tidak hangus dalam 2hari. Saya kasih ke yang laen...