
"Aku masih belum mengerti kak, maksudnya apa?" Raisya berharap Sarah menjelaskan sedetail mungkin apa yang dimaksud dengan mencintai wanita yang sama.
"Dulu Nathan dan Jacky sama-sama menyukai Sherly. Sampai akhirnya Nathan mendapatkan Sherly dan mempunyai anak Michel. Ya.. karena Sherly mencintai Jacky, mereka akhirnya berpisah. Ketika Sherly ingin kembali pada Jacky, dia belum bisa menerima Sherly dengan sepenuh hati karena dianggap Sherly telah mengkhianatinya."
"Seiring waktu, Jacky bekerja bareng kamu Raisya. Mungkin dalam diamnya dia menyukai kamu, tapi dia tidak berani mengungkapkannya karena masih trauma akan masa lalu nya pada Sherly. Kalian hanya dekat sebatas pertemanan saja."
"Pada saat yang sama Nathan dipindahkan ke kantor cabang Jakarta, dan kamu menjadi bagian staff nya. Dari sana lah Nathan mulai menyukai kamu."
"Lalu apa aku menyukainya kak?" Raisya sama sekali tidak mengingat masa-masa itu sehingga meminta penjelasan dari Sarah.
"Kakak yang waktu itu belum terlalu dekat dengan kamu, tidak tahu jelas Raisya. Tapi dilihat dari kebersamaan kalian sudah sangat inten. Apalagi Michel telah menganggapnya sebagai ibu."
Raisya terdiam.
Pantas saja anak itu memanggilku ibu
"Lalu apa yang harus aku lakukan kak? Aku.. tidak mengenalnya bahkan aku lupa siapa dirinya."
"Sya.. kalau kamu tidak segera menikah Jacky akan menggagalkan pernikahannya dan akan terus mengejar mu. Kakak rasa dia sudah mulai mencurigaimu dan itu berbahaya buat kamu."
"Tapi kak.. aku tidak kenal Nathan, masa aku menikah dengannya. Terus apa dia juga mau sama aku?" Raisya agak tidak setuju dengan ide gila itu. Apa harus sebegitunya dia melindungi dirinya sampai harus menikahi laki-laki itu.
"Nathan sudah setuju." Sarah mengeluarkan nafas kasar. Sarah tahu kekuatan mantan mertuanya itu dalam memaksa orang lain.
"Apa??? Aih.. kenapa juga dia setuju kak? Ah.. " Raisya menutup wajahnya dengan kedua tangannya lalu menangis.
"Maafkan aku Sya.. kakak tidak bisa menjagamu. Kakak gagal melindungi kamu. Akhirnya seperti ini." Raisya memeluk Sarah lalu menumpahkan kesedihan dan ketidakberdayaan nya di bahu Sarah.
__ADS_1
"Kalau yang terbaik menurut kakak aku harus menikah, aku menurut aja kak." Bulir-bulir bening saling bersusulan mewakili suasana hati Raisya yang tak bisa diungkapkan. Sarah melonggarkan pelukan, lalu Sarah menatap Raisya menghapus air mata nya yang meleleh di pipi. Sejuta rasa bersalah Sarah pada Raisya tergambar dari wajahnya yang berkaca-kaca. Dia harus tegar dan tidak boleh lemah dihadapan Raisya. Ini semua dia lakukan demi keselamatan Raisya. Walaupun belum ada jaminan Nathan sudah sembuh dari gangguan emosionalnya. Tapi melihat dari catatan medis yang diberikan tuan Robert padanya semuanya menyatakan sembuh.
"Kak.. boleh aku meminta sesuatu?
Sarah menganguk.
"Sebelum menikah aku ingin bertemu dulu dengan Nathan? Ada yang ingin yang kubicarakan dengannya."
"Baik.. nanti aku akan menghubunginya." Sarah tak bisa menolak permintaan Raisya. Dia tahu Raisya pun sebenarnya menolak rencana ini. Tapi apa mau dikata ini harus dilakukan untuk mencegah hal-hal yang bisa membahayakannya.
####
Di lain tempat tuan Robert sedang berbicara dengan Nathan.
"Apa tidak salah papih? Aku harus menikahi dia?" Di tengah kebingungannya Nathan harus kembali menerima kenyataan harus menikahi Raisya. Dia menggelengkan kepala tidak mengerti dengan keputusan tuan Robert yang tiba-tiba menyuruhnya menikahi dia.
"Iya. Aku tak mau kejadian yang lalu terulang kembali, dimana Jacky dan kamu memperebutkan Sherly yang berakhir kekacauan."
"Kamu lihat bagaimana kelakuan Jacky yang berkelahi dengan kamu, hah? Dia bisa-bisa menggagalkan pernikahan dengan Sherly dan mengejar Raisya." Ucap tuan Robert yang mengkhawatirkan kondisi kedua anaknya bakal saling berebut jika mereka mengetahui siapa sebenarnya Raisya. Bahkan kecurigaan Jacky pun sudah diketahui tuan Robert.
"Bukan urusanku lagi dia mau menikahi Sherly ataupun Raisya. Aku tidak ingin ikut campur dengan kehidupannya." Nathan tak mau hidupnya lebih rumit lagi.
"Yang aku butuhkan sekarang, kamu menikah saja dulu dengan dia. Terserah jika kamu tidak cocok nanti bisa menceraikannya." Dengan berat hati tuan Robert berkata seperti itu. Tak ada alasan lagi untuk memaksa Nathan selain bicara tega.
"Papih... " Nathan kecewa dengan keputusan ayahnya yang dengan mudah mengatakan hal itu. Pernikahan dianggapnya seperti main-main.
"Kamu mau apalagi? Apa kamu mau Arnetta jadi istri kamu tapi dia mengabaikan Michel? Apa kamu tidak kasihan sama Michel yang sudah bertahun-tahun mengalami trauma. Kamu butuh istri yang menyayangi Michel Nathan." Suara tuan Robert agak naik satu tingkat.
__ADS_1
Nathan terdiam. Ada benarnya apa yang dikatakan tuan Robert. Dia membutuhkan sosok perempuan yang akan menyayangi Michel sebagai ibu pengganti.
"Baik.. aku setuju. Tapi aku ingin bertemu Raisya sebelum aku menikah. Aku akan mengajukan beberapa hal padanya sebagai perjanjian pra nikah."
"Terserah kamu. Papih ingin kamu menikah sebelum Jacky. Jangan sampai Jacky menggagalkan pernikahannya karena mengejar Raisya." Tuan Robert sangat khawatir jika keduanya nanti mengetahui kebenarannya Raisya. Dia tak sanggup harus melihat kekacauan lagi.
"Baik.. aku akan pergi ke resort untuk bertemu dengan Raisya." Nathan langsung berdiri dan meninggalkan tuan Robert di ruangannya.
"Apakah ini karma buatku, sehingga kedua putraku saling berebut perempuan?" Tuan Robert bermonolog.
###
Di sebuah restoran. Nathan dan Raisya sudah duduk berhadapan. Bisa dibaca dari raut wajah keduanya saling mengirim sinyal tidak senang. Tapi Nathan harus mengatur emosinya agar tujuan bertemu dengan Raisya bisa berhasil.
"Kamu mau makan apa?" Tawar Nathan memulai pembicaraan sebelum bicara pada inti masalah.
"Makan apa saja tak masalah, asal tidak beracun saja." Jawab Raisya ketus.
"Baik.. aku pesankan ayam rica-rica saja. Kata Michel kamu suka sekali makanan pedas." Nathan memerankan beberapa makanan dan minuman agar suasananya tidak terlalu tegang. Ada peribahasa 'Ajaklah musuhmu untuk mengisi perutnya, dengan sendirinya dia akan melunak tanpa mengangkat senjata.'
Raisya tak banyak bicara. Setelah pesanan datang mereka pun makan tanpa banyak bicara.
Setelah keduanya menyelesaikan acara makannya. Nathan menyodorkan satu amplop yang berisi perjanjian pra nikah.
"Bacalah! Semua yang ada dalam isi surat itu banyak menguntungkanmu. Aku tk ingin pernikahan ini merugikan ku juga kamu." Sepasang bola mata Nathan siap mengamati ekspresi Raisya.
Raisya membaca isi surat itu dengan teliti.
__ADS_1
"Aku setuju. Dan satu lagi, aku ingin pernikahan ini dirahasiakan. Tak ada dokumentasi dan tak ada undangan."
"Aku Setuju. Deal."