
"Ratna kamu mau kemana?" Ratna langsung pergi dari ruang tamu menuju kamarnya dan mengunci pintu.
Dia menangis seseunggukan.
"Om.. Tante.. saya izin menyusul Ratna." Raisya berdiri dan langsung pergi setelah mendapatkan izin dari ayah dan ibunya Ratna.
"Rat... Ratna.. " Raisya memanggil Ratna dari balik pintu kamarnya.
"Aku benci kamu Raisya.. !" Teriakan itu terdengar sampai ruang tamu.
"Raisya.. Sudah jangan dulu diajak bicara! Mungkin dia butuh sendiri" Hendrik yang mengikuti Raisya sudahberdiri di belakang Raisya.
"Iya kak.. Aku pulang dulu ya! Kayanya aku balik lagi sama Irwan."
"Jangan! Biar Irwan pulang sendiri. Tadi mama sama papa sudah bicara sama Irwan. Kalau Irwan benar sungguh-sungguh dia tak akan mundur melihat Ratna seperti itu. Biar aku antar kamu Sya!"
"Baik kak! Aku mau pamit dulu sama Ratna."
"Hhmm." Hendrik menggangguk.
"Ratna.. aku pulang ya!" Ucap Raisya sambil menempelkan telinganya di daun pintu kamar Ratna ingin mendengar jawaban Ratna.
"Pergi! Aku benci kamu Raisya!" Ratna berteriak diselingi isakan.
"Sudah, jangan ambil hati! Nanti juga baikan lagi." Ucap Hendrik membesarkan hati Raisya.
"Iya kak!" Raisya kembali ke ruang tamu berpamitan pulang pada kedua oran tuanya Ratna.
Begitu pun Irwan, dia berpamitan dan pulang terpisah dengan Raisya yang telah mengantarkan nya sampai di rumah Ratna.
"Kita jalan ya Sya! Sambil cari makan." Hendrik mengajak Raisya untuk makan di luar.
"Terserah kakak." Raisya menduga mungkin ada yang ingin dibicarakan Hendrik mengenai Ratna dengannya.
Mobilnya berhenti dan terparkir di sebuah resto ala anak muda yang nuansa interiornya penuh dengan foto k- popers.
"Numben kakak bawa aku kesini?' Raisya agak aneh melihat Hendrik membawanya ke tempat para penyuka artis negeri gingseng.
"Kali-kali, tadinya sih mau bawa Ratna juga. Eh keburu gitu!" Imbuh Hendrik.
"Kamu mau pesan apa Sya?" Hendrik melihat menu yang disodorkan pelayan.
"Chicken cheese n potato aja kak!'
"Minumnya?"
"Aku.. stroberi strong milk."
__ADS_1
"Ya udah pesan 2 sama saya!" Hendrik menyodorkan kembali daftar menu pada pelayan.
"Kakak kok pesan yang sama?" Raisya agak aneh dengan menu yang dipesan Hendrik.
"Aku mau apa yang kamu mau." Hendrik tersenyum menggoda.
"Ih.. kakak ada-ada aja!" Keluh Raisya.
"Sya... sebenarnya aku tuh pengen bawa Ratna ke psikolog tapi belum sempet. Sekarang kayanya sudah waktunya deh kalau melihat Ratna kaya gitu. Masa cita-cita jadi pelakor kamu Sya?"
"Masa iya kak?" Raisya terhenyak kaget mendengar Hendrik berbicara kaya gitu.
"Pantesan aja.. " Raisya mencoba sedang menyambungkan kejadian tadi siang dengan apa yang sedang dibicarakan Hendrik.
"Maksudnya gimana Sya?" Hendrik melihat penuh tanda tanya.
"Iya kan tadi atasan aku nyuapin aku gitu lho kak. Terus dia langsung marah katanya dia bilang 'Aku gak ikhlas' Aku yang di sana gak ngerti apa maksud Ratna. Kalau kakak bilang barusan Ratna sungguh ingin jadi pelakor mungkin dia gak ikhlas kali kalau Nathan jadi suami aku dia jadi pelakor nya." Raisya dengan polosnya berkata seperti itu pada Hendrik. Ditambah dia malah terkekeh tertawa.
"Maksudnya, atasan kamu si Nathan yang pernah nyiksa kamu? Gila kamu Sya! Gue juga gak ikhlas gak ridlo kalau begitu" Hendrik langsung meneguk minuman yang baru saja pelayan sodorkan. Merasa kesal mendengar keakraban Raisya dengan Nathan. Rupanya hati Hendrik sedang memanas.
"Eh.. malah sebelas duabelas ini teh!" Cicit Raisya dan langsung mencicipi pesanannya. Sementara Hendrik sedang mengatur emosinya agar tidak meledak di saat ini.
Malam berlalu. Raisya sudah mulai gelisah.
"Kak pulang yuk sudah malam." Raisya melihat jam yang melingkar di tangannya. Waktu menunjukkan jam 9 lebih.
"Sya, kamu mulai besok pindah kost!" Hendrik seperti tak mau tinggal diam setelah mendengar pembicaraan Raisya barusan.
"Gue gak mau elu terlalu dekat sama bos kamu! Dia tuh bukan laki-laki baik Sya! Kamu pengen hidup kamu runyam?" Padahal di dalam hati Hendrik, dia sedang cemburu dan tak ingin Raisya menjadi milik orang lain.
"Apa hubungannya dengan harus pindah kak?" Raisya masih belum mengerti dengan inti pembicaraan Hendrik.
"Aku sudah beli apartemen. Kamu pindah ke sana!" Hendrik tak mau kalau tempat Raisya terlalu dekat dengan kantornya. Khawatir Nathan sewaktu-waktu mengunjunginya.
"Kakak berlebihan. Mendingan kakak sekarang ngurusin masalah Ratna kak. Kapan kakak mau konsul ke psikolog? Nanti biar aku antarkan!"
"Kalau Sabtu bagaimana?"
"Iya bolehlah. Asal jangan hari kerja. Aku soalnya sibuk banget."
"Iya deh. Ntar kakak coba ngobrol dulu sama Ratna."
"Hayu kak pulang!" Raisya sudah menselendangkan tasnya siap-siap mau pulang.
"Ya sudah. Kita pulang!" Hendrik berdiri dan mengantarkan Raisya.
Sementara itu Nathan yang sedang membaringkan tubuhnya tak bisa juga memejamkan mata. Dia beralih duduk di sofa lalu menelpon Reza.
__ADS_1
"Za kamu lagi dimana?" Ucap Nathan menanyakan keberadaan asistennya yang sedari tadi belum mengabarinya.
"Saya masih di kantor pak!" Reza memilih pergi lagi ke kantor karena masih banyak yang harus dikerjakannya. Kalau dibiarkan malah makin bertumpuk.
"Ya udah gue pergi ke sana juga!" Nathan yang tadi tak bisa memejamkan matanya memilih pergi ke kantor untuk membantu Reza.
"Baik Pak. Terserah bapak!"
Telepon. langsung ditutup.
Nathan langsung mengambil jaket untuk melindungi badannya di malam hari. Dia keluar dari rumahnya segera melajukan mobilnya ke arah kantor.
Begitu mendekati kantornya mobilnya agak melambat, karena mobil yang ada di depannya berhenti.
Sepasang Netra nya menyorot tajam pada orang yang baru saja turun dari mobil yang ada di depannya
"Raisya?" Kedua alisnya tertaut.
Terlihat Raisya melambaikan tangann pada orang yang ada di dalamnya. Lalu mobil itu pun pergi dari hadapannya
Sekarang Nathan melajukan mobilnya pelan mengikuti kemana Raisya pergi.
"Apa yang sedang dia lakukan malam-malam begini? Bukankah tadi semua karyawan dipulangkan?" Nathan bertanya-tanya.
Tid
Tid
Tid
Suara klakson mengagetkan Raisya yang sedang berjalan sendiri di sisi trotoar.
Mata Raisya langsung melihat pada mobil yang ada di sampingnya.
"Pak Nathan.. " Keterkejutannya belum selesai ditambah melihat Nathan tiba-tiba ada di depan matanya.
"Masuk!"
"Masuk? Masuk kemana pak?" Raisya terlihat bingung.
"Ke hotel! Mau kemana lagi jam segini masih kelayapan, kalau bukan nyari sampingan." Ketus Nathan.
"Ayo masuk! Apa mesti aku paksa?"
Raisya yang tahu karakter Nathan yang kasar sangat takut kalau dia mengulang kembali perbuatannya.
"Iy iya pak! Saya masuk. Tapi bapak janji gak bakalan menyiksa saya lagi!" Raisya memastikan dirinya aman.
__ADS_1
"Masuk! Jangan sampai aku akan mengulanginya!"
"Iy Iya pak, saya masuk." Gugup Raisya.