Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Desiran aneh


__ADS_3

"Mom.. " Suara bariton itu terdengar muncul di belakang pintu memanggil Madam Melisa.


"Sini sayang.. " Madam Melisa masih saja memperkenalkan anak bujangan yang kini berjambang jarang mengurus wajahnya setelah kematian Raisya. Dia merasa ikut bersalah setelah kejadian terakhir kali di cafe itu. Pertengkaran antara Raisya dan Nathan di mobil sempat dilihatnya. Dan tak lama kemudian muncul kabar bahwa Raisya meninggal jatuh dari tangga di rumahnya Nathan. Itu membuatnya stress. Karena kecemburuan Nathan disebabkan kedekatan mereka waktu itu.


Beny mendekati Ibunya lalu mencium kedua pipi wanita paruh baya yang masih saja cantik seperti anak muda.


"Mom jadi pergi ke acara nikahan keluarga Alberto? Aku rasa tak penting menghadiri acara itu!" Madam Melisa sontak melotot mendengar anaknya berbicara seperti itu. Karena suara itu pasti jelas terdengar oleh satu ruangan. Dan yang menjadi kepanikannya adalah salah satu keluarga Alberto duduk di depan cermin sedang di make up.


"Ssstt." Madam Melisa menyimpan telunjuk di atas bibir, dia panik sekali. Beny malah mengerutkan dahi tidak mengerti apa yang diproteskan ibunya. Karena dia berpikir bukankah keduanya memang mempunyai pandangan yang sama pada keluarga Alberto? Lalu salahnya apa kali ini? Dan membicarakan keluarga itu sudah sering dilakukan keduanya jika memang sedang ada kaitannya dengan keluarga itu.


Raisya yang mendengar hal itu tidak menanggapi serius. Jangankan tersinggung bahkan peduli pun tidak. Ya.. dia pun sama halnya dengan Beny yang tidak merasa penting harus menghadiri pesta pernikahan Jacky.


"Madam.. selesai.. " Pegawai Madam Melisa nampak puas dengan hasil karyanya.


Madam Melisa yang masih merasa tidak enak karena putranya telah membicarakan keluarga Alberto di depan Raisya seperti tadi langsung menghampiri Raisya dengan senyuman yang mungkin saja dibuat-buat.


"Wah... benaran ini nyonya Nathan? Amazing.. kamu akan jadi bintangnya malam ini." Puji Madam Melisa.


"Terimakasih. Anda dan pegawai anda memang hebat madam." Raisya tersenyum.


Nyonya Nathan? Oh my God.. pantesan mom melotot seperti itu! Ternyata yang aku ghibahin ada disini!


Beny benar-benar malu, dan tak bisa menutup muka. Dia langsung mengusap wajahnya bingung harus melakukan apa. Karena pastinya pembicaraan tadi di dengar oleh wanita yang sedang di dandaninya.


Madam Melisa membaca kebingungan Beny. Dia harus membuat alasan yang bisa mengurangi rasa bersalah anaknya pada Raisya.


"Duh.. mohon maaf ya anak saya bicaranya suka blak-blakan tidak pake rem. Maklum dia tidak suka pesta. Lihatlah penampilannya! Sampai berjambang dan terlihat seperti ini. Dia tidak percaya diri mengantar saya ke pesta nanti. Madam Melisa menarik Beny ke hadapan Raisya.


Degg..


Jantung Raisya dan Beny seperti kompak tertekan.


Yang satu sangat takjub melihat kecantikan perempuan yang ada di depannya. Yang satu lagi agak kaget melihat penampilan laki-laki brewosan yang seperti para rahib jauh nan disana.

__ADS_1


"Aku minta maaf nyonya." Beny mengulurkan tangannya pada Raisya.


Raisya tersenyum, walaupun kaget dia memaklumi orang yang ada di hadapan nya. Mungkin benar apa yang dikatakan Madam Melisa. Dengan penampilan Beny seperti itu, dia pastinya kurang suka dengan acara party. Raisya mengulurkan tangannya.


"Perkenalkan nama saya Raisya. Senang bertemu dengan anda."


"Raisya??? Beny dan Madam Melisa spontan mengeluarkan kata yang sama 'Raisya' langsung melongo dan kaget mendengar nama itu.


"Kenapa? Ada yang salah dengan nama saya?" Raisya heran melihat reaksi wajah keduanya yang seperti syok.


Keduanya saling memandang lalu kembali menatap Raisya. Beny masih belum melepaskan genggaman tangannya dari Raisya.


"Maaf." Raisya melihat pada tangan Beny, merasa tak nyaman tangannya lama di genggam.


"Eh.. maaf." Beny buru-buru melepaskan genggaman tangannya dengan hati tidak karuan. Antara desiran aneh yang langsung menyergap tubuhnya dan jantung yang berirama tak menentu.


"Apakah anda diundang ke pesta itu?" Raisya melihat ke arah Beny.


"Iy Iya.. " Beny menjawab gugup. Dia merasa malu sudah membicarakan hal itu tadi.


"Iya.. " Beny menjawab dengan perasaan malu.


"Madam.. " Salah satu pelayan butiknya memanggil.


"Iya.. " Madam Melisa yang masih agak bingung menoleh ke arah pegawainya.


"Maaf tuan Nathan memilihkan gaun yang sama dengan anda." Ucapnya sambil memberikan laporan chat dengan Nathan.


Madam Melisa membaca dengan teliti isi pesan yang ada di layar tablet pelayannya.


"Baik.. Dia memang mempunyai selera yang bagus." Puji Madam Melisa yang merasa pilihannya tidak salah.


"Maaf nyonya Nathan. Suami anda memilih gaun ini." Madam Melisa memperlihatkan gambar yang telah dipilih.

__ADS_1


Apa??? Tidak salah dia memilih gaun itu? Lalu maksudnya apa kemarin mengataiku tidak berkelas? Kalau memang dia sekarang malah memilih gaun terbuka yang aku saja merasa risih memakainya.


Raisya terlihat kesal. Tak mengerti jalan pikiran laki-laki itu.


"Mari nyonya kita ganti pakaiannya. Setelah itu anda bisa memotret penampilan anda di lantai tiga." Ucap salah satu pegawai Madam Melisa mengarahkan.


Raisya langsung mengikuti arahannya dan mengganti pakaiannya dengan gaun yang telah dipilih Nathan. Raisya tidak berani menolak permintaan Nathan karena malas sekali untuk bertengkar.


Setelah selesai berpakaian Raisya siap-siap melakukan sesi foto di lantai tiga.


"Oh.. amazing.. siapa lagi ini Madam? Model baru kah?" Wajah sang fotografer terlihat berbinar melihat objek yang indah di depannya.


"Hhmm.. pelanggan VIP kita." Madam Melisa memperkenalkan kliennya di depannya.


"Wooow." Satu kata yang membuat mulut sang fotografer tak berani lagi bicara.


"Siap ya.. action." Sang Fotografer langsung menekan kamera kesayangannya tanpa mengarahkan gaya objek fotonya. Karena instingnya sudah mengatakan, bahwa perempuan yang ada di depannya tampilannya seperti model profesional.


Cekrek cekrek cekrek.. dia malah asik mengambil gambar karena Raisya tahu betul bagaimana harus bekerja di depan kamera.


Sementara Beny terus menatap perempuan itu di layar komputer milik sang fotografer. Dia merasa ada hal yang aneh dengan objek foto yang dilihatnya.


Kenapa aku melihat matanya persis sama dengan Raisya. Bukan hanya mata, malah namanya pun sama. Tidak mungkin dia? Bukankah dia sudah mati beberapa tahun yang lalu?


Beny menggigit jari.


Sementara itu Nathan dan Michel sudah siap dengan penampilan terbaiknya. Kini dia sudah menunggu di lantai dua setelah selesai di make up. Lalu mereka berjalan ke lantai tiga untuk menemui Raisya.


Degg


Nathan berdiri mematung seperti terkena hipnotis. Kedua netranya serius melihat penampilan Raisya. Entah panah apa yang langsung masuk ke tubuhnya. Desiran aneh membuat bulu porinya meremang.


"Silahkan kita ambil foto dulu!" Sang fotografer membuyarkan pikiran Nathan.

__ADS_1


"Hah.. kenapa dengan jantungku ini?"


__ADS_2