
Kriuk
Kriuk
Kriuk
Rasa perih dan suara keroncongan datang dari perut Raisya. Raisya menggeliat dan mengucek matanya.
"Lapar... " Raisya memegang perutnya yang terasa sakit karena jam makan siang telah lewat. Setelah tadi mengompres keningnya tanpa sadar Raisya malah tertidur di sofa yang ada di kamar hotel. Bahkan dia pun melupakan janjinya pada Baron untuk turun ke bawah untuk makan bersama.
Setelah kesadarannya mengumpul, dia mencari handphonenya.
Dilihat layar handphonenya ada sekitar 20 panggilan tak terjawab.
Kring
Kring
Kring
Baru saja akan membalas panggilan, suara dering nyaring tandanya ada panggilan masuk.
"Assalamu'alaikum pak, maaf." Raisya buru-buru meminta maaf pada Baron setelah tadi tahu panggilan terbanyak masuk ke handphonenya adalah panggilan dari Baron.
"Kamu baik-baik saja Raisya?" Cemas Baron yang sejak tadi khawatir karena panggilannya tak juga dijawab.
"Baik Pak. Maaf tadi saya ketiduran handphonenya saya lupa silent." Jawab Raisya sambil menganggukkan kepala meski orang nya tak ada di tempat.
"Oh..iya tadi saya mau mengajak kamu makan, terpaksa saya makan duluan karena kamu susah ditelepon." Ucap Baron sedikit tenang sudah mendengar suara Raisya.
"Iya maaf Pak, jadi merepotkan." Ucap Raisya tidak hati pada bosnya.
__ADS_1
"Ya sudah, saya pesankan saja makanan untuk kamu. Nanti pelayan yang akan mengantarkannya sampai depan kamar kamu." Ucap Baron yang sudah sejak tadi memesan tapi karena Raisya belum menjawab jadi makanannya ditunda untuk dikirimkan sampai ke kamarnya.
"Iya baik pak. Terimakasih atas kebaikan bapak." Ucap Raisya tak lupa mengucapkan terimakasih.
"Iya sama-sama." Baron menutup handphonenya.
Sejak tadi Jason mendengar percakapan antara Raisya dan Baron. Dia penasaran sekali kenapa perempuan itu tidak turun ke restoran. Apa mungkin perempuan itu mengenalinya juga? Tapi dilihat sekilas Raisya tidak menunjukkan kekagetan berbeda dengan dirinya. Jason jadi penasaran pada Raisya. Ingin sekali dia bertemu dua mata dan bertanya padanya. Hal itu membuat dirinya jadi tidak sabar.
"Bagaiamana dengan bu Raisya pak?" Tanya Jason ikut menanyakan keadaan Raisya.
"Dia ketiduran. Mungkin kecapean." Ucap Baron membuat alasan.
"Mmm... begitu ya? Apa ini pertama kalinya dia bepergian jauh?" Tanya Jason ingin tahu.
"Saya kurang tahu. Dia baru bekerja denganku satu bulan ini. Kami jarang berbicara hal-hal di luar kerjaan." Jawab Baron apa adanya. Dia tidak menaruh curiga kalau Jason mengenal Raisya.
Ada perasaan tenang di hati Jason. Setidaknya bos besarnya tidak menjalin hubungan dengan Raisya. Tinggal dia mencari tahu apakah Raisya sudah menikah atau belum. Itu PR terbesarnya.
"Mmm." Jawab Jason pendek.
Tanpa diminta ternyata informasi tentang Raisya meluncur begitu saja dari bibir Baron. Entah itu peringatan atau pemberitahuan. Yang jelas buat Jason itu adalah informasi paling berharga. Dia tidak mempermasalahkan bagaimana Raisya dan yang lainnya. Yang penting sekarang statusnya sendiri meski dia seorang janda beranak satu dan mempunyai mantan yang dikatakan Baron, dia tidak peduli.
Jason hanya terdiam. Dia tidak menolak ataupun mengiyakan.
"Wah.. waktunya pak Jason melepaskan masa lajang nih!" Ucap salah satu bawahannya yang lain yang tak lain asistennya Jason.
Jason hanya menggerakkan ujung bibir nya sebelah. Dia agak malu harus ketahuan isi hatinya di depan umum. Jadi dia memilih senyum kecut daripada senyum sumringah. Padahal dalam hati terdalamnya dia sedang menari-nari.
"Carilah perempuan yang sebanding dengan kamu. Kamu lajang, wajah kamu juga tampan, kamu juga punya karir bagus, pastinya banyak perempuan yang mau sama kamu." Baron seperti tidak setuju kalau Jason memilih Raisya.
"Bukan tidak ada bos. Udah banyak perempuan yang naksir dan pe de ka te, ya.. tapi pak Jason ini pemilih mungkin. Entah seleranya sama janda muda yang aduhai mungkin." Ramos cekikikan meledek atasannya yang selalu dingin pada perempuan. Padahal usianya kini sudah 35 tahun. Entah apa yang membuat laki-laki tampan itu tidak tertarik dengan perempuan selama ini. Bahkan banyak juga perempuan-perempuan di sekitar kantor nya yang tak kalah cantik dengan artis-artis ibukota. Tapi Jason tidak tergerak hatinya untuk mencoba berhubungan dengan perempuan. Dan hal itu tak ada yang tahu alasannya.
__ADS_1
"Oh... begitu ya?" Baron melihat pada Jason yang sedang memelototi Ramos.
"Sebaiknya pelayan segera mengantarkan makanan ke kamarnya Raisya
Mungkin dia juga kelaparan. Jam makan siang sudah berlalu terlalu lama. Tak baik jika dia melewatkan makan siangnya." Ucap Baron.
"Baik. Biar saya pesankan pak." Jason malah menawarkan dirinya sendiri untuk pergi ke tempat pemesanan tidak menyuruh anak buahnya.
"Bapak lihat sendiri kan? Pak Jason begitu semangat kelihatannya." Ramos langsung melirik pada Baron, diikuti dengan pandangan Baron yang mengamati Jason dari jauh.
"Sebaiknya tidak mendekati bu Raisya jika tidak ingin bermasalah! Dia disini sedang bekerja bukan mencari jodoh." Pandangan Baron masih tak lepas dari Jason yang sedang bicara pada pelayan restoran yang sedang menyuruhnya pergi mengantarkan pesanan.
"Baik." Ramos tak mendebat dengan bos besarnya.
Tak lama kemudian Jason pun kembali ke kursi setelah menyuruh pelayan mengantarkan makanan untuk Raisya.
"Besok pagi jam berapa penerbangan kita?" Tanya Baron mengubah topik.
"Ya sekitar jam 8 pagi pak." Jawab Jason yang sudah membooking pesawat kecil untuk sampai ke Kotabaru.
"Baiklah kalau begitu. Sampai jumpa besok." Baron berdiri dari kursi nya hendak meninggalkan mereka berdua dan akan kembali ke kamar hotel.
Sementara itu Raisya telah menerima makanan dari pelayan hotel dengan sepucuk surat yang dititipkan di pelayan itu.
Raisya hanya bisa mengernyitkan dahi melihat surat itu. Karena lapar Raisya tidak bisa berpikir jernih. Dia memilih untuk melahap makanan yang barusan diantar pelayan daripada memikirkan surat yang dititipkan.
Setelah beres makan barulah Raisya membaca kembali surat yang tadi tidak sempat dicernanya.
"Akhirnya aku bertemu kembali dengan cinta pertamaku yang lama kucari. Mungkin Tuhan mengirimkannya untukku agar bisa berjodoh. Maaf waktu itu aku belum sempat mengucapkan Terima kasihku padamu Raisya. Ongkos damri yang kau berikan begitu berharga di hatiku daripada sebongkah berlian. Aku sudah lama mencarimu bahkan setiap pulang aku selalu menunggumu di gerbang sekolah. Tapi ternyata Tuhan belum mempertemukan aku denganmu.
Salam dari aku pengagum beratmu semasa abu-abu. Jason"
__ADS_1
Raisya melohok tak percaya dengan apa yang ditulis Jason di kertas itu. Pantas saja sejak pertama melihat nya dia seperti kaget dan rikuh. Ternyata dia mengenalnya sejak lama. Dan Anehnya, sekeras apapun Raisya mengingat Jason, dia tak ingat sedikitpun tentang sosok Jason.
"Ah.. mungkin dia salah orang. Mungkin saja ada orang yang memiliki wajah yang sama mirip denganku, sehingga dia menganggap diriku adalah orang yang selama ini dicarinya. Atau mungkin ini modus dia kali?" Raisya tak mau terlalu percaya dengan orang asing yang baru saja ditemuinya.