Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Menyembunyikan fakta


__ADS_3

"Aku akan pastikan pak Reza dulu. Soalnya dia yang terakhir kali menghubungi Raisya. Apa hubungannya dengan hilangnya Michel?" Ratna menatap Jacky dengan menautkan kedua alisnya.


"Michel? Hilang?" Jacky bingung.


"Iya.Tadi aku dengar pembicaraan mereka. Pak Nathan langsung menghentikan kerjanya begitu mendapatkan berita Michel hilang." Terang Ratna.


"Apa kita bisa menghubungi Reza lagi?" Jacky penasaran dengan apa yang terjadi.


"Dia gak aktif. Aku tadi sudah menghubunginya tapi tak bisa." Ratna dan Jacky sedang memikirkan solusi.


"Bagaimana kalau kita ke mall? Kita tanyakan pada keamanan di sana. Apa yang sebenarnya terjadi di sana? Mungkinkah Raisya terlibat sesuatu?Aku harap sih tidak." Jacky mengajak Ratna untuk kembali ke mall. Biasanya kalau malam minggu mall buka lebih panjang dari malam-malam biasa.


"Ya sudah kita ke sana dulu! Ratna menyetujui ajakan Jacky.


Keduanya menuju mall Ciwalk.


Keduanya menemui kepala security.


"Apa? Dia jatuh di tangga?" Jacky kaget. Dia mengusap wajahnya.


Ratna menutup mulutnya. Tak percaya kalau Michel jatuh di tangga darurat ketika mengejar Raisya.


"Jack.. " Ratna melihat Jacky dengan mata berkaca-kaca.


Jacky menatap Ratna. Dalam hati yang terdalamnya dia merasa bersalah mengajak lari Raisya ke tangga darurat dan tak disangka Michel mengikutinya. Dia kira waktu berlari Jacky merasa aman dari kejaran Michel.


"Maaf Pak. Anak itu dilarikan ke rumah sakit mana?" Jacky menanyakan pada kepala security.


"Rumah xxx."


"Apakah bapak melihat wanita ini mengikutinya?" Jacky memperlihatkan foto dari handphonenya.


"Tidak."


"Ya udah terima kasih pak!" Jacky mengusap rambutnya sedang memutar otak. Kemana Raisya pergi? Apakah dia harus mendatangi rumah sakit? Jacky yakin ini ada hubungannya dengan Raisya. Yang menjadi kecemasan Jacky, Raisya tidak memberi kabar sampai saat ini. Dia menebak pasti terjadi sesuatu dengan Raisya, apalagi dia terkait dengan kecelakaan Michel. Jacky tahu sifat Nathan protektif pada Michel. Bahkan sebelumnya pun Nathan pernah terlibat dengan penyiksaan seorang pengasuh Michel gara-gara Michel jatuh ke kolam renang. Nathan pernah menyiksa pengasuhnya habis-habisan. Makanya dia sampai dipindahkan ke Indonesia. Tuan Robert tak mau kasus itu mencuat ke publik.


"Ratna kita ke rumah sakit sekarang!" Jacky mengajak Ratna


Ratna mengangguk.

__ADS_1


Keduanya pergi ke rumah sakit yang dikatakan kepala security. Dimana Michel mendapatkan perawatan.


Tak lama kemudian mobil yang dibawa Jacky terparkir di halaman rumah sakit.


"Rat.. turun!"Jacky melirik ke arah samping.


"Jack.. kok perasaan aku gak enak gini ya." Ratna mengusap dadanya. Jantungnya berdetak tak menentu.


"Kamu mau makan dulu? Sejak pulang kita belum mengisi perut." Jacky mengajak Ratna untuk makan malam. Terakhir makan Jacky bersama Raisya di restoran Jepang. Itu sudah lama banget. Karena fokus memikirkan Raisya dia lupa mengisi perutnya yang sudah terasa perih lagi.


"Aku gak selera. Bagaimana aku bisa makan, sedangkan aku sendiri tidak tahu dimana Raisya." Ratna menjatuhkan air matanya, sedih. Sejak tadi dia menahannya.


"Kita harus ada tenaga Rat buat nyari Raisya. Kalau kita sakit bagaimana kita mencarinya? Kita berdoa, semoga Raisya baik-baik saja." Pinta Jacky pada Ratna agar bisa mengisi perutnya.


"Baiklah. Kita cari kantin rumah sakit. Apa masih buka jam segini?" Ratna tidak yakin kalau kantin rumah sakit masih buka.


"Disana ada mart Rat!" Kalau kantin tidak buka kita beli apa saja yang bisa mengganjal perut." Jacky merangkul bahu Ratna yang kelihatan lemah. Dia tahu perasaan Ratna pastinya lebih cemas dari Jacky. Ya perasaan sahabat yang begitu dekat pastinya lebih sensitif.


"Masih buka Rat! Kantin rumah sakit biasanya buka 24 jam sih." Jacky merasa senang ketika pintu kantin masih terbuka lebar. Dan beberapa tim medis terlihat duduk di sana sambil menikmati camilan dan aneka makanan. Mungkin mereka yang shift malam.


"Kamu mau pesan apa?" Jacky melihat Ratna yang terlihat tidak bersemangat.


Jacky pergi ke counter memesan beberapa makanan yang bisa dimakan. Tak lama kemudian pelayan mengantarkan dua nampan ke meja.


"Makanlah Rat! Kita harus sehat. Biar ada tenaga." Jacky memberi suport pada Ratna.


Ratna mengangguk. Dia menyeruput coklat hangat juga memotong roti yang tadi dipesannya. Jacky memilih membeli kopi dan nasi goreng.


Ratna menghentikan makannya mengambil handphone dan menekan kembali nomor seseorang. Dia penasaran, feel nya entah kenapa masih merasa Raisya ada bersama mereka.


"Kamu telepon siapa Rat?" Jacky mengamati Ratna.


"Pak Reza. Kenapa gak aktif terus. Apa karena lagi bersama pak Nathan gitu?" Raisya berbicara sambil mengamati layar handphonenya.


"Habiskan dulu makanannya!" Jacky melihat roti yang dipesan Ratna baru habis setengah.


"Kenyang." Jawab Ratna pendek. Sekarang pikirannya sedang tidak tenang. Jangankan untuk menghabiskan makanan, untuk bisa memasukkan roti yang dipesan barusan saja tenggorokannya terasa begitu sulit.


"Ya udah kita pergi. Kalau kamu sudah makannya. Aku juga sudah aja!"

__ADS_1


Ratna menurut, langsung berdiri mengikuti langkah Jacky keluar dari kantin.


"Kita ke bagian informasi dulu. Kita tanyakan! dimana Michel dirawat."


"Iya." Ratna mengikuti ide Jacky.


"Maaf pak apakah ada pasien yang sedang dirawat atas nama Michel usia 4 tahun?" Jacky bertanya pada petugas administrasi.


"Sebentar ya pak! Saya cari dulu di komputer." Petugas itu pun mengetik data yang disebutkan oleh Jacky.


"Maaf Pak. Saat ini tidak ada. Ada juga pasien yang baru keluar beberapa jam yang lalu. Apakah dia asal Jakarta?" Petugas administrasi sedang mencocokkan data.


"Iya. Nama ayahnya Nathan Alberto."


"Oh iya betul pak. Pasiennya sudah ditranfer ke rumah sakit Jakarta. Atas permintaan orangtuanya." Terang petugas.


"Bisa minta alamat rumah sakitnya?" Jacky meminta rumah sakit Jakarta yang akan merawat Michel.


"Baik pak! Saya salinkan dulu ya!" Petugas tadi menyalin alamat rumah sakit yang diminta Jacky di atas secarik kertas.


'Ini pak!" Petugas itu menyodorkan secarik kertas pada Jacky.


"Terimakasih!" Ucap Jacky pada petugas yang telah membantunya.


"Iya sama-sama."


Jacky melihat Ratna murung. Dia menepuk bahunya memberi dukungan agar kuat.


Tiba-tiba ada perawat yang menghampiri petugas administrasi dengan tergesa-gesa.


"Bisa kamu hubungi wali pasien secepatnya? Pasien kritis harus segera dioperasi"


"Ini pasien yang heboh tadi bukan?" Petugas administrasi melihat sebuah KTP yang disodorkan perawat padanya.


"Iya, namanya Raisya. Cepetan! Dokter lagi nunggu keputusan." Bentak perawat pada petugas administrasi.


"Raisya?" Ratna dan Jacky saling memandang dengan tatapan kaget. Suara perawat tadi masih jelas terdengar oleh Jacky dan Ratna.


Jacky langsung membalikkan badan melihat perawat yang ada di belakang punggungnya, heran.

__ADS_1


__ADS_2