
Sepanjang malam Jacky memeluk Raisya. Ada rasa damai yang dirasakan keduanya. Berbagi selimut dengan dekapan hangat penuh kasih sayang dari sang suami.
"Hoam.. " Raisya terbangun. Waktu menunjukkan jam empat subuh. Raisya membuka selimut lantas melepaskan tangan kekar yang melingkar di pinggangnya.
Jacky yang merasakan pergerakan langsung terbangun dengan mata menyipit.
"Kamu mau kemana sayang?" Tanya Jacky ingin tahu kemana istrinya akan pergi.
Raisya turun dari ranjang sambil memakai piyama karena merasa malu harus bertelanjang pergi ke kamar mandi.
"Mmm... sebentar lagi subuh. Aku.. mau mandi dulu!" Jawab Raisya sambil menoleh ke belakang.
"Kita bareng sayang! Nanti kita sholat berjamaah." Ucap Jacky ingin memulai hidup barunya dengan kebaikan. Selama ini dia memang jarang shalat dan taat beribadah. Cenderung hampir tidak pernah. Tapi begitu cobaan demi cobaan terus mengujinya, ada niat ingin mendekatkan diri pada yang di atas agar hidupnya lebih tenang dan damai.
"Mmm." Raisya tidak menolak keinginan Jacky untuk mandi bersama. Ya mumpung adzan subuh belum mulai mereka bisa membersihkan tubuh dulu sebelum memulainya shalat.
Jacky dengan senang hati menggosok tubuh Raisya dari belakang. Ada perasaan yang tenang ketika sang suami bisa melakukan kebaikan untuk istrinya. Sesekali dikecup bahu Raisya dari belakang untuk menambah kemesraan suami istri itu.
"Jacky.. jangan lama-lama! Nanti subuh nya kesiangan!" Raisya mengingatkan Jacky yang keasikan berlama-lama di bathtub.
"Iya sayang. Kita bilas sekarang ya!" Jacky bangkit dan membilas tubuhnya dibawah kucuran shower. Begitupun Raisya keduanya kini telah selesai mandi.
Setelah itu, keduanya mengeringkan badan dan juga rambutnya. Lalu keduanya memakai baju putih bersih untuk melakukan shalat subuh berjamaah.
Jacky yang baru pertama kali jadi imam, merasa deg-degan takut ada gerakan yang salah dan bacaan shalat yang lupa. Maklum identitas agamanya selama ini hanya ada di dalam KTP saja. Jadi ini adalah shalat pertama yang dilakukan Jacky.
Dua rakaat shalat subuh terasa seperti lama. Selain hafalan Jacky yang belum lancar, Jacky pun harus pelan-pelan mengingat gerakan shalatnya. Khawatir ada yang terlewat ataupun salah. Tapi Raisya sangat bahagia sekali melihat perubahan dan kesungguhan Jacky menjadi imamnya. Beberapa kali Raisya mengucap. syukur di setiap sujud nya atas kebaikan yang diberikan Allah atas dirinya juga keluarganya yang baru akan dijalaninya.
Raisya mengambil tangan Jacky lalu menciumnya dengan takzim. Dan Jacky pun menarik kepala Raisya untuk diciumnya dengan penuh kasih sayang.
"Terima kasih sudah mau bersamaku ya Raisya. Maafkan segala kesalahanku selama ini. Mari kita berdoa sama-sama agar keluarga kita dikaruniakan keberkahan dan sakinah mawaddah warohmah." Ucap Jacky yang tak habis-habisnya merasa bersyukur bisa menikah dengan Raisya. Walau cobaan untuk ke arah sana begitu panjang dan sulit ditempuh.
"Iya. Aku juga Jack.. maaf aku belum bisa memberikan gak kamu seutuhnya. Bantu aku untuk menyelesaikan masalah ini Jack. Aku takut sekali." Raisya melabuhkan kepalanya di dada Jacky.
Jacky mengelus kepala Raisya dengan lembut lalu mengecupnya.
__ADS_1
"Iya. Apapun yang terjadi jangan sampai kita berpisah ya sayang.. " Ucap Jacky ingin keutuhan rumah tangganya bisa kuat meski harus menghadapi cobaan ke depannya.
"Mmm... Jack.. " Raisya bergerak lalu duduk menghadap Jacky.
Jacky menatap wajah istrinya dengan tatapan sayang.
"Jack.. aku ingin periksa lebih awal ke dokter." Ucap Raisya mengungkapkan keinginannya.
"Untuk apa?" Jacky belum mengerti dengan tujuan Raisya pergi ke dokter.
"Aku tak mau terlambat Jack. Jika sudah tumbuh janin disini, aku ingin mengeluarkannya segera. Aku tak ingin menunggu masa haid datang." Ucap Raisya lebih jelas mengungkapkan maksudnya untuk mendatangi dokter.
"Baik. Jika itu keinginan kamu. Aku akan mengantarkan kamu ke dokter terbaik." Jacky tak mau Raisya banyak pikiran. Sepertinya Raisya butuh konsultasi dengan dokter ahli dan psikolog.
"Terima kasih ya Jack.. " Raisya memeluk suaminya bahagia.
Ah.. kenapa. gak dari dulu kamu tuh datang seperti ini?
Raisya bergumam dalam hatinya merasakan kebahagiaan menikah dengan Jacky.
Raisya mendongak melihat suaminya.
"Emang kamu dipanggil apa?" Tanya Raisya asih merasa canggung.
"Mmm.. ya seperti pasangan lainnya lah. Mas.. abang.. atau terserah lah.. asal jangan panggil nama." Protes Jacky.
"Mmm.. " Raisya menautkan kedua alisnya.
"Mas Jacky... ah gak pantes. Bang Jack.. kaya tukang ojek. Apa ya?" Raisya masih bingung harus mengganti panggilan Jacky.
"Ayolah.. masa gak ketemu yang pas?" Ucap Jacky penasaran.
"Ah.. belum ketemu. Nanti aku pikir-pikir lagi. Sekarang biarlah begini aja!" Raisya menyerah harus mencari panggilan untuk Jacky.
"Ya udah. Kita beres-beres yuk! Kamu mau jalan-jalan gak?" Ajak Jacky pada Raisya.
__ADS_1
"Aku keingetan anak-anak Jack.. Apa aku harus menelpon mereka dulu? Kasian Arsel pasti nyari-nyari aku." Raisya sebagai ibu dua orang anak tak bisa lepas memikirkan kedua anaknya.
"Teleponlah.. tadi aku sudah tanya sama papi, dia baik-baik aja." Ucap Jacky sambil mencium kening Raisya.
"Aku telepon dulu ya!" Raisya mengambil benda pipih dan menghubungi anak-anaknya. Sementara itu Jacky malah asik mengendus-ngendus rambut Raisya lalu beralih ke telinga dan turun lagi ke leher.
"Jacky.. geli ih.. " Bukannya berhenti Jacky malah terus asik mengendus sebagian inci leher jenjang Raisya.
Bicara Raisya semakin tidak fokus manakala tangan Jacky terus saja mengedar di sekitar dada dan perut Raisya.
"Mama.. ayah mana ma?" Arsel menanyakan Jacky.
"Ini.. ada di samping mama." Raisya sambil menyunggingkan bibirnya menahan geli.
"Mana ma? Kok ayah gak kedengeran?" Arsel dan Michel yang dari bicara dengan Raisya tak mendengar suara Jacky.
"Jacky.. ini anak-anak ingin bicara." Raisya yang menyodorkan handphone ke arah Jacky malah Jacky mengarahkan bibirnya ke bibir Raisya.
"Hammpph... " Suara aneh pun jadi keluar dari keduanya.
Perlahan Jacky mematikan handphone Raisya. Dia sudah tidak tahan ingin mencicil forplay.
"Jacky.. anak-anak ingin bicara sama kamu malah kamu matikan." Protes Raisya ketika pagu*** nya terlepas.
"Gak pa-pa.. mama sama ayahnya sedang pacaran dulu. Nanti aku telepon sayang.. aku minta sesuatu sama kamu boleh?" Jacky yang sudah tak tahan menginginkan hal lain untuk memuaskan.
"Apa?" Raisya mengerutkan dahi.
Jacky membisikkan sesuatu di telinga Raisya.
"Aku... belum pengalaman. Jadi tidak tahu." Raisya bingung karena belum pernah melakukan apa yang diminta Jacky.
"Please... Mau ya? Aku bimbing dikit-dikit, asal bisa keluar." Jacky dengan wajah memohon begitu berharap Raisya bisa memuaskannya.
"Baiklah. Tapi maaf.. aku belum punya pengalaman." Raisya berterus-terang.
__ADS_1