
"Michel... ini bunda... " Raisya mengejar Michel yangs sedang berjalan sendirian menjauh darinya. Dia heran kenapa anak itu menjauhi gerbang sekolah dan tidak menunggunya datang. Padahal jam kepulangan sekolah masih ada beberapa menit lagi.
"Bunda... " Michel menoleh ke belakang dan melihat Raisya mendekatinya. setengah berlari. Raisya berjongkok menahan nafas yang engos-engosan.
Raisya mengatur nafas menahan dadanya yang agak sesak.
"Kamu.. kenapa.. tidak menunggu...?" Suara Raisya terputus-putus karena nafasnya belum seratus persen normal setelah barusan berlari.
"Bunda... " Michel memeluk Raisya sambil menangis.
"Kenapa sayang? Kok menangis?" Raisya agak terkejut mendapati Michel menangis.
Dia terus terisak dan tak mau bicara.
"Ya udah.. kita pulang yuk! Kasian Arsel di mobil sendirian." Raisya menuntun bahu Michel melangkah ke arah mobilnya yang sedang terparkir.
Michel masuk dan duduk di belakang.
"Ma.. kakak kenapa nangis?" Arsel melihat Michel yang sedang menyeka matanya.
"Kakak lagi sedih sayang... " Jawab Raisya yang. sedang memasang sabuk pengaman dan menyalakan mesin mobilnya.
"Kita mau makan dulu sayang? Atau mau langsung ke rumah tante Ratna?" Raisya menoleh ke belakang menunggu persetujuan Michel.
"Terserah bunda... " Michel tidak nampak pasrah.
"Acel.. mau langsung ke rumah papa.. " Dia tak mau ketinggalan untuk ikut menjawab.
"Oke. Tapi mama mau beli dulu makanan ya, biar nanti kita makan sama-sama di rumah tante Ratna. Oke?" Raisya berusaha seceria mungkin agar Michel tidak bersedih.
"Oke.. " Arsel senang karena akan bertemu yang dianggap papanya.
Mobil Raisya berhenti di depan salah satu restoran cepat saji. Dia memesan beberapa porsi dan paket untuk bisa dimakan bersama.
Tak lama kemudian mobil Raisya pun sampai di depan rumah Ratna.
Raisya membuka safety belt punya Arsel. Dan Arsel sudah tidak sabar untuk segera turun. Anak. itu membuka pintu lalu langsung berlari ke dalam rumah.
"Rara... Riri... Acel datang.. " Anak itu pun langsung mencari si kembar.
"Arsel... " Si kembar muncul dari kamarnya. Mereka langsung bergabung entah apa yang sedang dibicarakan ketiga bocah itu
Ketiganya pergi ke ruang khusus bermain dan memainkan mainan.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum." Raisya masuk sambil menenteng dus makanan dibantu dengan Michel.
"Sepi.. nih." Raisya melongok ke sana kemari tapi tidak ada yang menyahut.
"Bunda.. tantenya gak ada ya?' Michel pun ikut heran rumah terasa sepi.
"Sebentar mungkin tante lagi di ruko." Ratna masuk ke pintu yang menghubungkan rumah Ratna dan rukonya.
"Eh.. bu Raisya." Salah satu pegawainya menyapa Raisya.
"Mana bu Ratna?" Tanya Raisya pada salah satu karyawan yang ada di ruko.
"Mmm... tadi mengantar pak Irwan ke dokter. Mungkin sebentar lagi datang." Jawabnya pada Ray.
"Oh.. pak Irwan sakit ya?" Raisya baru tahu kalau Irwan sedang sakit.
"Iya bu.. sudah dua hari pak Irwan demam." Karyawan itu kembali menjawab.
"Oh.. ya udah saya tunggu di rumah." Raisya kembali masuk ke rumah Ratna.
"Bunda.. sudah ketemu?" Michel sedang menata makanan di atas meja makan tanpa disuruh. Michel yang sudah biasa melakukan pekerjaan rumah kecil sudah lebih mandiri dibandingkan anak seusianya.
"Om Irwan katanya sakit. Tante Ratna sedang ke dokter. Lebih baik kita tunggu sambil makan. Bentar bunda mau panggil anak-anak dulu." Raisya melangkah untuk memanggil anak-anak untuk makan.
"Yeayy... ketiganya langsung berlarian ke meja makan.
"Arsel belum ganti baju. Michel.. tolong buka baju sekolahnya! Sama cuci tangan. Bunda ambil baju dulu." Raisya naik ke kamarnya nyang berada di lantai dua.
Krekk...
"Astaghfirullah.. " Raisya kaget sekali kamarnya ada penghuninya yang sedang tidur pulas di kasurnya.
Ngapain dia malah tidur disini? Bukannya di rumah mama.
Raisya menggerutu pelan sambil membuka lemari baju mengambil baju Arsel yang ada di lemari juga baju Michel.
"Jangan menggerutu!" Hendrik ternyata terbangun begitu keributan di bawah terdengar sampai kamar.
"Maaf.. menganggu." Raisya buru-buru keluar dari kamarnya. Sekarang dia yang merasa risih karena Hendrik malah tidur di kamarnya. Meski begitu dia tidak punya hak untuk melarangnya tidur di kamar itu, karena dia pun hanya menumpang di rumah Ratna.
Raisya segera mengganti baju Arsel. Setelah selesai di mencuci tangan untuk makan siang bersama.
"Asalamualaikum." Terdengar suara Ratna yang baru saja datang.
__ADS_1
"Mama... " Si kembar langsung menyapa Ratna.
"Eh.. ada kamu juga Sya." Ratna terkejut melihat Raisya yang sedang duduk di meja makan.
"Iya.. aku sengaja kesini. Arsel rewel terus pengen ketemu Irwan. Katanya Irwan sakit Ratna?" Raisya melihat ke arah Ratna. Ratna duduk di meja dan meneguk air yang sudah ada di meja makan.
"Iya.. sudah dua hari demam. Dia sekarang lagi tidur." Jawab Ratna terlihat tidak semangat.
"Ohh... pantesan Arsel inget terus.. insting anak lebih tajam." Jawab Raisya sekenanya.
"Mmm... dasar anak papa." Ratna mengelus kepala Arsel yang sedang menyuap ayam tepung ke mulutnya.
"Apa katanya Rat?" Raisya menanyakan penyakit yang diderita Irwan.
"Katanya sih ispa." Jawab Ratna.
"Oh.. mungkin kecapean sama kurang minum." Raisya menanggapi Ratna.
"Gak tahu.. dia tiap malam begadang terus. Mungkin karena itu juga." Jawab Ratna yang menilai suaminya terlalu banyak begadang. akhir-akhir ini.
"Emang lagi banyak kerja?" Raisya menyodorkan sepiring nasi yang sudah berisi lauk pauk.
"Tahu.. dia gelisah terus semenjak kamu pindah ke rumah tuan Robert. Katanya rumah jadi sepi. Terus dia ngerjain kerjaan biar tidak gelisah." Ratna berdiri berjalan ke arah wastafel untuk mencuci tangan dan kembali duduk.
"Pantesan.. Arsel juga suka gelisah. Kayanya mereka satu hati." Raisya kembali menanggapinya.
"Iya sih.. semenjak kamu gak ada perasaan kaya ada yang hilang. Biasanya kita ngumpul ini ngilang. Malah si kembar juga suka pada gak mau main bawaannya nempel aja." Ratna mengeluhkan ketidak hadiran Raisya.
"Ya..bagaiman lagi Rat. Malah aku juga ingin pulang ke Bandung. Gak enak tinggal lama di sana. Fitnahnya terlalu besar." Raisya termenung.
"Kamu nikah cepetan. Resiko hidup mom single parent tuh berat di fitnahnya." Ucap Ratna.
"Belum kepikiran Rat."
"Mama gak boleh nikah lagi! Nanti papa Acel kasihan." Arsel tiba-tiba menyela.
"Ya ampun.. papa Irwan itu bukan papa Arsel dia itu papanya si kembar." Michel bicara agak tinggi pada Arsel.
"Mama... " Arsel menangis.
"Ih.. malah nangis lagi." Michel berdiri lalu mencuci tangannya dan menggendong adiknya yang menangis.
"Kakak.. nakal." Arsel meronta memukul Michel tapi Michel tidak menggubris Arsel. Dia membawa Arsel keluar dari ruang makan.
__ADS_1
"Kayanya aku harus memberi pengertian Arsel Rat."