
"Betul, saya dokter Ferdi." Jawabnya singkat.
"Ya sudah.. saya titip Raisya di sana. Saya percaya anda orang profesional." Ucap tuan Robert yang tahu kemampuan dokter Ferdi. Bahkan rumah sakitnya dengan susah payah mendapatkan dokter Ferdi untuk bisa bekerjasama.
"Baik. Terimakasih atas kepercayaan anda selama ini." Dokter Ferdi berhenti bicara, menandakan kepentingannya dengan tuan Robert itu telah selesai.
Jacky menarik handphonenya lalu mengubah mode pelan.
"Papih.. aku mau menemani Raisya di sini." Jacky agak malu, karena laki-laki yang dianggapnya mesum adalah seorang profesor yang mempunyai klinik.
"Jaga sikap! Jangan malu-maluin papih!" Ucap tuan Robert menasehati Jacky yang sudah berprasangka buruk.
"Iya pih." Jacky menutup teleponnya.
Krekk
Suara pintu dibuka oleh seorang perawat dengan mendorong satu alat pendukung untuk pengobatan Raisya.
"Ini dok alatnya!" Perawat itu memberitahu dokter Ferdi.
"Siapkan alat itu!" Dokter Ferdi menyuruh satu perawat untuk mempersiapkan alat itu agar bisa digunakan.
Perawat yang sudah mendapatkan pelatihan langsung menyeting alat dan menghubungkannya ke bagian listrik juga alat monitor.
"Sudah dok." Perawat itu kembali memberitahu dokter Ferdi, bahwa alat bantu pengobatan alternatifnya sudah siap pakai.
"Pakaikan saya baju dan sarung tangan!" Dokter Ferdi menyuruhnya untuk memakaikan baju dokter yang membungkus badannya juga sarung tangan anti listrik tegangan tinggi.
"Baik dok!" Kini dokter Ferdi sudah siap untuk mengoperasikan alat akupuntur dengan dialiri tegangan listrik.
"Siap ya Raisya. Bismillah." Dokter Ferdi memberitahu Raisya bahwa dirinya akan melakukan pengobatan terapi pada penyakit yang sedang di derita Raisya.
Jacky duduk di tepian kasur melihat pengobatan yang dilakukan dokter Ferdi pada Raisya.
Santai sekali nih dokter. Gue kira dia mesum.
Jacky melihat pada Raisya.
__ADS_1
"Sakit tidak?" Jacky memastikan apakah Raisya merasakan sakit atau tidak.
Raisya menggelengkan kepala.
"Rasanya seperti kesemutan ya?" Dokter Ferdi menimpali pertanyaan Jacky lalu melihat pada Raisya.
Emang siapa yang nanya? Kok dia yang jawab.
Jacky agak mendelik pada dokter Ferdi. Dia menatap curiga, kelihatannya wajah dokter Ferdi seperti menaruh sesuatu pada Raisya.
Raisya mengangguk.
"Nanti lagi kalau kecapean jangan dipaksakan! Kalau tubuh kita drop penyakit apapun bisa masuk. Apalagi kemarin panas, kamu sepertinya kurang minum dan dehidrasi." Dokter Ferdi bicara sambil menggerakkan alat akupuntur listrik ke bagian-bagian titik penting di tubuh Raisya.
Raisya hanya mengangguk.
Hati Jacky terus saja bergemuruh apalagi, sempat mendengar kata 'kamu'
Kok dia bisa seakrab itu sama Raisya. Aku jadi curiga sama mereka.
"Nanti selepas pengobatan ini kamu perbanyak minum ya! Biar kekentalan darahnya bisa berkurang." Dokter Ferdi selesai melakukan terapi. Pengobatan akupuntur di klinik ini sudah menggunakan alat canggih. Bukan hanya sekedar jarum tapi sudah menggunakan alat listrik untuk menstimulasi tubuh agar mengembalikan kelancaran darah.
"Kamu jangan khawatir aku akan disini sepanjang malam." Dokter Ferdi membuka baju khusus yang tadi membungkus badannya dan membuka sarung tangan bekas terapi.
"Memangnya seorang dokter bisa menunggu semalaman untuk pasiennya? Sepertinya pasiennya spesial ya?" Jacky merasa kesal atas pernyataan dokter Ferdi yang berlebihan pada Raisya.
Dokter Ferdi membalikkan badan dan melihat Jacky.
"Mmm... dokter juga manusia. Dia tahu mana yang spesial dan yang tidak." Jawaban dokter Ferdi sangat menohok Jacky.
"Ishh.. " Jacky mendelik.
"Aku akan menunggunya di sini. Jadi kamu gak usah berlebihan untuk menghabiskan semalaman disini!" Jacky agak melebarkan mata seolah mengancam dokter Ferdi.
"Mmm... baiklah. Kalau kamu bisa mengobatinya. Meski begitu aku akan tetap tinggal disini. Karena ini rumahku juga. Jadi tidak ada yang melarangku untuk tetap tinggal disini." Dokter Ferdi melengos dari hadapan Jacky. Emosi dokter Ferdi terbilang stabil. Dia tak mudah terprovokasi oleh keadaan.
"Menyebalkan sekali.. " Jacky mengepalkan kedua tangannya.
__ADS_1
Kenapa mereka saling menyerang? Ada apa diantara mereka?
Raisya hanya bergumam dalam hati melihat sejak awal Jacky dan dokter Ferdi agak bersitegang.
"Jacky.. Anak-anak bagaimana?" Raisya melihat ke arah Jacky menanyakan perihal Michel dan Arsel.
"Mereka ada di mansion papih. Ra.. kamu kok bisa dibawa kesini? Terus kamu kenal baik sama dokter itu?" Rupanya Jacky tidak bersabar ingin menanyakan tentang hubungan dia dengan dokter Ferdi.
"Jacky.. aku mau minum." Raisya jadi teringat pesan dari dokter Ferdi tadi.
"Oh.. iya." Jacky langsung membawakan air mineral ke tangan Raisya dan membantunya minum dengan sedotan yang sudah tersedia.
"Ma kasih." Ucap Raisya semu serak. Tenggorokannya terasa sakit sekali. Banyak bicara membuat otot-otot di rahangnya seperti tertarik keluar.
"Ya." Jacky menaruh kembali botol mineral yang baru saja Raisya minum.
"Dia tetangga aku Jacky. Kamu jangan berlebihan begitu. Dia yang menolongku membawa kesini." Jawab Raisya tak ingin Jacky berburuk sangka.
"Mmm.. sudah kenal lama dengan dia?" Tanya Jacky yang ingin detail menanyai Raisya.
"Baru tadi siang. Mobilku mogok. Dia menolongku lalu meminjamkan mobilnya dan sekarang dia membawaku ke rumah sakitnya." Raisya tak sedikitpun mencurigai dokter Ferdi.
"Tadi??" Jacky melebarkan matanya, kaget. Dia menyangka Raisya sudah mengenalnya lebih lama. Ternyata baru tadi siang.
"Ra.. kamu harus waspada! Siapa tahu dia ada niat buruk sama kamu. Masa baru kenal aja sudah mau baik nolongin orang. Apa cuman sama kamu aja Ra? Aku malah curiga dia naksir sama kamu. Kalau dia sampai naksir kamu, awas aja ya! Gue gak akan segan-segan bertindak." Jacky tidak bisa menahan diri untuk marah.
"Ya ampun Jacky.. Lama-lama aku jadi horor liat kamu. Kamu jadi jahat gitu sih?" Raisya menggelengkan kepalanya. Agak kesal mendengar umpatan Jacky.
"Lho kok bilang aku jahat Ra?" Jacky terlihat kecewa.
"Kamu.. tuh bikin jantung aku takut. Aku bukan milik kamu Jack. Jadi kamu gak usah deh ngatur-ngatur aku! Terserah aku mau dekat sama siapa saja. Kamu lama-lama kaya mirip seperti.. " Raisya tidak melanjutkan bicaranya.
"Mirip siapa? Nathan maksudmu?" Jacky malah jadi memanas mendengar Raisya bicara seperti itu.
"Sudah ah.. aku mau tidur." Raisya membelakangi Jacky, tidur miring ke sebelah kanan.
"Kenapa sih Ra.. dari dulu kamu kaya gitu terus. Kamu gak peka banget sama perasaan aku. Apa memang kamu tidak suka sama aku? Baik.. aku tidak akan melarang kamu lagi. Mulai sekarang silahkan kamu mau jalan sama siapa aja, suka-suka kamu lah!" Jacky berdiri melengos dan melangkah keluar ruangan Raisya. Ada rasa sakit hati di dadanya. Selama ini Jacky menaruh hati sama Raisya, tapi Raisya selalu saja abai. Harga diri Jacky sekarang seperti jatuh.
__ADS_1
"Apa Raisya selama ini tidak menyukaiku? Hah.. "