Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Maafkanlah


__ADS_3

"Kenapa dia dibawa kesini? Kaya yang kehabisan kamar saja!" Rupanya Nathan kesal ketika blankar yang dibawa oleh petugas medis ke ruangan Michel adalah Raisya.


"Ya... kali aja elu bangga dengan hasil karya elu yang arogan itu." Jacky menimpalinya.


"Jacky.. please..! Elu kalau mau ikhlas, mau gak bawa gue ke ruangan lain? Gue gak mau keributan!" Raisya menatap Jacky dengan mengehelas.


Jacky terdiam.


"Jacky.. mending aku siapin aja ruangan lain ya! Aku gak mau rumah sakit heboh. Please... kasian Raisya!" Sarah meminta Jacky untuk tidak bertindak arogan.


Jacky masih terdiam juga tak menggubris saran Sarah.


"Daddy itu siapa? Kok kaya mumi? Kenapa seruangan sama Michel?"


"Temen daddy.. Dia numpang tidur disini. Kamu jangan liat ke sana mending tidur yuk!" Nathan berusaha menutupi identitas Raisya dengan mengatakan teman. Dia pun buru-buru mengajak Michel untuk tidur.


"Jacky... please! Kalau elu begini berarti gue gak mau temenan lagi sama elu!" Sekarang perasaan Raisya benar-benar kalut. Bagaimana mungkin Jacky tega menempatkan dirinya dengan Michel. Bahkan kalaupun Raisya memaafkan perbuatan Nathan bukan berarti dia bisa bebas seperti ini. Belum juga lukanya sembuh dia harus menghadapi Nathan dalam keadaan fisik dan hatinya tak baik-baik saja.


"Jacky.. Kamu denger Raisya ngomong gak sih?" Sarah ikut menyesalkan perbuatan Jacky yang sama-sama arogan. Dikira Sarah pasien bukan korban penganiayaan Nathan. Dia tidak mau ada resiko besar di rumah sakit tempat dia bekerja. Sarah membentak Jacky yang hanya diam saja.


"Iya gue denger. Tapi gue pengen si Ular itu menyaksikan kebiadaban perbuatannya yang psikopat. Dia harus bertanggungjawab sama perbuatannya!" Jacky balas membentak.


Raisya menangis. Dia terisak bukan hanya fisiknya yang sakit dan terluka. Sekarang hatinya begitu sakit dan perih harus dipaksa seruangan dengan Michel.


"Ra.. " Jacky baru tersadar kalau sikapnya membuat Raisya bersedih. Dia mendekati Raisya.


"Kok suaranya kaya tante Raisya... Daddy.. " Michel walau badannya terhalang oleh badan Nathan masih mengenali suara Raisya. Dan dari tadi obrolan mereka pun terdengar oleh Michel.


"Sudah tutup kuping kamu! Kita bobo kaya kemarin ya!" Nathan mengelus halus kepala Michel.


"Gak mau.. Michel mau lihat dulu! Kalau bukan tante Raisya baru Michel mau bobo." Rupanya anak kecil itu tak bisa dibohongi lagi. Dia meronta dari dekapan ayahnya yang sedang memeluk Michel di ranjang pasien.

__ADS_1


"Maafin aku Ra.. Ya udah kita pindah ya!" Jacky melihat Sarah untuk memberikan kode memindahkan Raisya ke ruangan lain. Sarah pun tak ingin berkepanjangan, dia mengangguk mengiyakan apa yang diinginkan Raisya.


"Tante Raisya... " Walau tubuhnya dikepit Nathan dia malah berteriak memanggil Raisya.


"Tante... Michel sayang tante.. jangan tinggalkan Michel lagi tante!"Hik hik hik... Michel menangis sedih mendengar suara blankar didorong keluar ruangan.


Nathan memeluk Michel tanpa bisa berbicara apapun. Semua kekesalannya pada Jacky yang telah membawa Raisya sekamar berhasil diredam. Nathan memang paling sulit meredam marah apalagi hubungannya menyinggung Michel.


"Michel mending tidur yuk sama daddy, sudah malem lho! Biar Michel cepet keluar dari rumah sakit ini. Nanti Michel bisa main bebas lagi." Rayu Nathan dengan lembut.


"Michel gak mau bobo sebelum liat dulu tante Raisya!" Tolak anak kecil bule berpipi gembil menggemaskan.


"Itu bukan tante Raisya.. itu orang lain Michel." Bohong Nathan.


"Daddy bohong kan? Michel tadi denger orang lain juga memanggil tante dengan Raisya. Suaranya juga mirip kok!" Michel tak bisa dibohongi lagi.


"Iya itu cuman Raisya yang lain Michel, kan nama Raisya itu banyak. Bukan hanya tante Raisya yang Michel kenal." Tatapan Nathan fokus melihat Michel.


"Michel gak mau.. daddy jahat. hik hik hik." Michel kembali menangis tersedu-sedu membuat siapapun yang mendengarnya merasa kasihan. Nathan benar-benar bingung harus menghadapi Michel. Apakah dia harus bertahan atau harus mengikuti keinginan Michel. Terpaksa demi keinginan anaknya yang sangat dicintainya Nathan mengambil handphone dan menekan nomor seseorang.


"Ngapain elu nelepon gue?"


"Hhhmmm... " Di seberang telepon, seseorang mendengar Michel menangis.


"Boleh aku bicara sama Raisya?"


"Gak."


"Aku mau minta maaf." Nathan akhirnya menurunkan rasa gengsinya demi Michel.


"Maaf? Lalu dari kemarin elu kemana aja? Nutup hati nutup telinga hah?"

__ADS_1


"Lalu sekarang demi mengatasi tangisan anak elu baru mau minta maaf?"


Nathan diam tak bisa berbicara apapun lagi menghadapi cercaan Jacky.


"Gue gak ada kepentingan sama elu Jacky. Gue mau bicara sama Raisya. Terserah dia mau maafin gue apa tidak, itu urusannya. Yang penting gue harus ngomong dulu sama dia." Nathan akhirnya menemukan alasan untuk bisa berbicara pada Raisya.


"Gue gak bakal biarin elu semena -mena lagi sama Raisya. Lu hanya manfaatkan Raisya demi anakmu saja yang gak bisa elu hentikan tangisannya. Iya kan?" Jacky langsung menutup telepon Nathan. Tak memberikan kesempatan pada Nathan untuk meminta maaf pada Raisya.


"Michel mau ketemu sama tante Raisya?" Nathan sedang mencari akal agar Michel berhenti menangis dulu.


"Iya daddy.. Michel pengen bertemu dengan tante Raisya." Anak itu terisak sambil menyeka matanya.


"Oke besok kita bertemu dengan tante Raisya ya! Sekarang Michel bobo dulu! Ini sudah malam. Barusan daddy telepon. Malam ini tante Raisya harus tidur katanya. Paling bisa bertemu esok hari sayang.. " Nathan tersenyum melihat Michel, sedang merayu anaknya agar mau mengikuti keinginannya. Michel hanya melihat wajah ayahnya meyakinkan dirinya apakah dia harus percaya atau tidak.


"Beneran daddy gak bohong? Daddy suka boong!" Michel tak begitu percaya. Anak cerdas memang selalu berpikir dengan kritis.


"Iya besok kita akan usahakan bertemu dengan tante Raisya. Kalau sekarang kita akan dimarahi dokter karena waktunya untuk tidur gak boleh keluar kamar." Nathan mencari-cari alasan untuk menemui Raisya dan menahan Michel agar menundanya.


"Iya.. janji daddy besok mau ajak Michel bertemu tante Raisya?" Michel meminta kepastian bahwa ayahnya tidak membohongi dirinya.


"Iya daddy janji. Sekarang Michel mau kan tidur? Daddy sudah ngantuk sayang.. kalau gak tidur sekarang, besok ketiduran."


"Iya." Michel mau diajak tidur setelah Nathan meyakinkan anaknya besok bisa menemui Raisya.


Di lain tempat Jacky mendengus kesal setelah menerima telepon dari Nathan.


"Siapa Jack?" Raisya curiga setelah menerima telepon Jacky terlihat tak senang.


"Ular." Dia menghempaskan badannya ke sofa.


"Tadi aku dengar Michel menangis." Dia tak tega mendengar tangisannya.

__ADS_1


"Dia tadi mau bicara sama kamu. Katanya mau minta maaf." Dengus Jacky sambil melemparkan handphonenya.


"Jangan menaruh dendam terlalu lama. Capek Jack!" Raisya yang sudah bisa duduk melihat Jacky dengan wajah penuh harap.


__ADS_2