Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Cinta atau obsesi


__ADS_3

Pagi ini Raisya pergi ke sekolah Michel bersama dengan tuan Robert. Dia berjalan di belakang laki-laki setangah baya itu dengan sedikit tidak percaya diri.


Ya laki-laki itu meski sudah berumur, tapi ketampanan dan aura kegagalannya masih bisa dilihat orang.


Dia masuk ke ruang kantor sekolah baru. Semua orang menunduk hormat. Sepertinya sudah ada sebelumnya yang sudah mengurus urusan sekolah Michel.


Raisya hanya sebagai pendengar saja antara perbincangan kepala sekolah dan tuan Robert.


Apakah dia sangat mencintai cucu-cucunya? Sampai dia sendiri harus turun tangan?


Raisya hanya bergumam dalam hati.


"Ayo. Sekarang kita pulang saja. Anak-anak sudah masuk sekolah dengan aman." Setelah bersalaman, tuan Robert mengajak Raisya ke luar dari ruangan kepala sekolah.


"Tapi pih.. surat kepindahannya belum saya urus." Raisya tahu betul jika perpindahan sekolah harus menyertakan surat kepindahan dari sekolah lama, itu aturan baku yang harus dilakukan siswa pindahan.


"Biarin mereka yang urus. Kamu jangan repot-repot mengurus hal itu." Tuan Robert tak ingin Raisya mengurus hal itu. Karena ada orang yang sudah mengurusnya.


"Mmm baik pih." Raisya menurut begitu mendengar alasan tuan Robert.


"Sekarang kita mampir dulu ke sebuah tempat." Entah apa yang akan dilakukan tuan Robert mengajak Raisya ke tempat yang akan dikunjunginya.


Mobil itu melaju tanpa Raisya tahu kemana mobil itu akan membawanya.


Raisya hanya terdiam dan tak berani menolak.


Sampailah mobil itu diparkir di satu rumah yang tak kalah mewahnya. Seorang penjaga langsung membuka gerbang untuk sang majikannya. Dia menunduk hormat.


Raisya ikut ikut turun mengikuti langkah tuan Robert.


"Duduklah!" Tuan Robert menyuruh Raisya duduk. Seorang pelayan langsung menyuguhkan air teh lemon dingin dan beberapa cemilan di atas meja.

__ADS_1


"Kamu tahu kenapa papih membawamu ke sini Raisya?" Tuan Robert sedang menguji Raisya.


Raisya menggelengkan kepala. Tentu saja Raisya tidak tahu, karena ini adalah pertama kali dia dibawa kesini. Rumah besar dan mewah sepertinya masih baru selesai.


"Ini hadiah papih buat kamu, jika kamu nanti menikah dengan Jacky. Kamu tidak usah tinggal di sana lagi jika kamu nanti sudah menjadi istri Jacky." Tuan Robert sudah menyiapkan rumah ini sejak setahun yang lalu, setelah tahu Jacky bercerai dengan Sherly.


Raisya tentu saja kaget mendengar penuturan tuan Robert barusan. Bukannya tidak senang mendapatkan hadiah semewah ini, tapi Raisya tidak mau memberi harapan pada Jacky maupun tuan Robert. Pasalnya sejak melahirkan Arsel, Raisya belum bisa melepaskan trauma paska melahirkan Arsel.


"Maaf pih.. tapi Raisya... masih ingin sendiri. Belum bisa menikah." Raisya tak mungkin mengorbankan dirinya, karena disisnya masih ada Arsel. juga Michel yang masih membutuhkan perhatian. Bagaimana nanti kalau dia hamil lagi lalu mengalami hal yang sama seperti yang terjadi waktu melahirkan Arsel waktu itu.


"Raisya... papih mohon. Kamu juga sudah tidak muda lagi. Jacky pun sangat ingin menikah denganmu Raisya, papih harap kamu segera menikah." Tuan Robert tidak mau Raisya menolak.


"Tapi pih... Raisya benar-benar tidak bisa." Raisya belum siap jika dia harus terus terang mengatakan sebenarnya.


"Papih tidak mau tahu Raisya.. besok papih akan bicara pada orang tua kamu. Supaya kamu bisa secepatnya menikah." Tuan Robert kembali pada model semula, sebagai pemaksa.


"Papih... please tolong mengerti Raisya! Raisya butuh waktu pih." Wajah Raisya nampak memohon.


Raisya diam. Dia belum tahu waktu yang bisa dijanjikannya.


"Apa kamu memang tidak berniat menikah dengan Jacky?" Tuan Robert masih ingin kepastian dari Raisya.


"Bagaimana kalau Jacky menikah dengan yang lain saja pih?" Raisya yang belum bisa lepas dari kekhawatirannya akan sulitnya melahirkan memilih untuk tidak menikah dulu sebelum menemukan solusi.


"Raisya!!" Tuan Robert sepertinya marah. Nada suaranya meninggi.


"Maaf pih. Daripada menunggu ketidakpastian mending Jacky memilih calon istri yang lain. Raisya ingin mengurus anak-anak." Raisya tertunduk.


"Papih bisa saja menjodohkan Jacky, Raisya. Tapi lihatlah dia sangat mencintai kamu. Menurut papih itu yang terbaik. Selain Jacky menemukan orang yang dicintainya, anak-anak juga bisa terlindungi Raisya." Tuan Robert melunak kembali.


"Tapi.. berikan kesempatan pada Raisya pih.. Raisya juga ingin merasakan mencintai dan dicintai. Meski dulu memang Raisya menyukai Jacky tapi.. setelah Jacky menyerahkan Raisya pada Nathan, Raisya sendiri menjadi was-was pih"

__ADS_1


"Was-was kenapa Raisya?"


"Raisya takut dengan sikap Jacky yang pendendam dan Raisya menilai Jacky seperti terobsesi. Dia mudah sekali marah pih." Raisya sedang mencari alasan bagaimana tuan Robert bisa menerima alasannya untuk menunda pernikahan.


"Biar papih nanti nasehati Jacky. Tapi papih tetap akan datang ke orang tua kamu Raisya." Tuan Robert tidak mudah mengalah, dia tetap bersikukuh pada pendapatnya.


"Bagaimana jika suatu hari Raisya menikah dengan dengan yang lain pih?" Raisya ingin tahu reaksi tuan Robert.


"Kamu tidak akan bertemu lagi dengan Michel dan Arsel." Ucap tuan Robert dengan wajah kecewa.


"Kenapa pih? Mereka juga membutuhkan Raisya pih." Raisya tidak setuju dengan apa yang dikatakan tuan Robert.


"Makanya kamu pikirkan baik-baik!" Tuan Robert berdiri sambil menelepon seseorang.


"Bagaimana? Apa sudah kamu bereskan?" Suara tuan Robert agak sedikit menakutkan Raisya. Suaranya seperti sedang menekan seseorang.


"Sudah."


"Bagus. Buat mereka tidak berdaya! Aku tak mau cucuku terganggu." Tuan Robert menutup teleponnya. Lalu kembali duduk.


"Rencana kamu sekarang mau apa Raisya?"


"Sekarang Raisya akan pulang pih. Nanti anak-anak biar Raisya yang jemput. Sekalian Raisya ingin mendaftarkan diri di kelas pelatihan pengobatan alternatif." Raisya kemarin melihat satu klinik pengobatan alternatif membuka kelas yang letaknya tidak jauh dari sekolah. Cita-cita Raisya yang dulu ingin menjadi dokter belum kesampaian. Mungkin sekarang saatnya Raisya bisa mendalami ilmu pengobatan lewat jalan alternatif untuk bisa mengobati pasien.


"Baguslah! Kamu ada kegiatan. Kalau kamu ingin bekerja, bantulah Jacky di perusahaan papih. Kamu bisa jadi sekertarisnya atau asprinya. Dengan begitu papih tidak banyak khawatir dengan kalian." Terang tuan Robert yang tak ingin Jacky jauh-jauh dari Raisya.


"Iya pih. Raisya memilih kegiatan yang tidak menyita waktu agar bisa memperhatikan anak-anak." Semangat Raisya untuk bekerja di perusahaan agak menurun. Dia tahu bekerja di perusahaan waktunya sangat padat. Untuk sekarang Raisya ingin membagi waktunya untuk mengasuh anak-anak.


"Ya sudah.. nanti kamu pulang diantar sopir. Ingat pikirkan apa yang tadi papih ucapkan Raisya." Tuan Robert tak ingin Raisya abai pada ucapannya.


"Iya pih. Raisya pulang duluan." Raisya berdiri meninggalkan tuan Robert dan memilih kembali ke rumah.

__ADS_1


__ADS_2