
Dua minggu sudah berlalu. Waktu terasa cepat berjalan, Raisya sudah menyiapkan laporan kerjanya pada Baron.
Semua materi sudah terkumpul dan beberapa pengacara juga pihak kepolisian sudah dihubungi untuk melayangkan gugatan. Tapi Baron lebih memilih untuk rapat intern terlebih dahulu untuk menyelesaikan masalah perusahaan yang dianggapnya menyimpang.
"Kapan pak Baron akan kembali ke Jakarta?" Tanya Jason melihat bosnya.
"Mungkin besok atau lusa. Sebelumnya aku ingin pergi ke pertambangan dulu sebelum kembali ke Jakarta." Jawab Baron ingin mengontrol ke pertambangan sebelum dia pulang ke Jakarta. Ada yang dirasa harus dikontrol nya melihat kondisi pertambangan sebelumnya ada yang yang harus diperbaiki.
"Baik. Nanti akan saya siapkan kendaraan untuk pergi ke sana." Jason langsung menghubungi Ramos untuk kebutuhan kontrol ke daerah pertambangan dan mengkondisikan tempat pada pimpinan di sana terlebih dahulu.
"Kamu mau ikut?" Baron bertanya pada Raisya yang sedang menginput data.
"Ke sana mau apa pak?" Raisya bingung untuk datang ke lokasi pertambangan.
"Barangkali saja kamu ingin tahu lokasi pertambangan." Ucap Baron.
"Kalau pun tidak juga tidak apa-apa." Baron hanya menawari saja tidak berniat memaksa. Karena kunjungannya ke sana memang tidak ada hubungannya dengan Raisya. Baron ingin memeriksa kondisi pertambangan, kalau-kalau ada yang harus diperbaiki mengingat ada laporan bahwa ada beberapa titik yang rawan kecelakaan.
"Baik saya ikut. Sekalian saya juga pengen tahu bagaimana kondisi pertambangan sesungguhnya. Selama dua minggu ini saya hanya di dalam ruangan. Apa salahnya di hari terakhir saya ikut pak Baron ke lapangan." Raisya akhirnya memutuskan untuk ikut ke lokasi pertambangan sambil ingin tahu bagaimana kondisi pertambangan.
"Baik. Kalau begitu, sampai jumpa nanti." Baron pun menutup beberapa berkas laporan hendak kembali ke mess.
"Saya duluan ya, bu Raisya!" Baron berdiri hendak keluar ruangan. Terburu-buru meninggalkan kantor. Biasanya dia akan meninggalkan kantor setelah acara makan siang. Bahkan setelah makan siang pun Baron suka melanjutkan pekerjaan. Tapi entah kenapa siang itu Baron terlihat cas dan membuatnya cepat-cepat pergi ke mess.
"Bu Raisya mau makan siang sekarang?" Jason merapihkan berkas tanpa memperdulikan Baron yang pergi lebih awal.
__ADS_1
"Boleh." Jawab Raisya yang melihat jam di pergelangan tangannya memang sudah waktu jam makan siang.
Setelah mematikan komputer juga merapihkan dokumen, keduanya berlalu menuju kantin kantor dimana semua karyawan biasa makan.
Jason dan Raisya mengambil meja yang masih kosong. Mereka duduk saling berhadapan setelah mengambil menu siangnya.
Duduknya mereka menjadi pusat perhatian, karena kini tak ada Baron maupun Ramos di sisi mereka.
"Boleh aku duduk di sini?" Seorang wanita dengan penampilan tak kalah modis menarik kursi di sebelah Jason.
Jason mendongak begitupun Raisya.
Replek Jason menggeser kursinya agar tidak terlalu rapat dengan wanita yang sudah lama dikenalnya itu. Ada perasaan yang tidak nyaman begitu Melisa tiba-tiba duduk di sampingnya. Wajah Jason agak kikuk begitu Melisa duduk di sampingnya dan Raisya ada di depannya.
Raisya hanya memasang senyum. Dia tak berhak melarang atau apapun pada perempuan yang baru saja duduk di samping Jason. Hanya saja ada rasa yang aneh dirasakannya begitu melihat perempuan itu semakin akrab.
Jason menoleh ke arahnya.
"Maaf Melisa.. aku tidak bisa. Aku ada kerjaan bersama pak Baron." Tolak Jason sambil melihat ke arah Raisya.
Yang dilihat pura-pura tidak dengar dan tidak peduli. Raisya membuang muka sambil melihat ke sembarangan arah.
"Kamu pasti bohong kan? Sudah lama kita tidak jalan bareng. Kok kamu sekarang kaya gini sih?" Melisa memasang muka cemberut.
Jason yang agak malu, terlihat kebingungan. Selama ini kedekatan dia dengan Melisa hanya sekadar atasan dan bawahan meski memang Melisa lebih terlihat akrab dari karyawan-karyawan lainnya, tapi diantara keduanya tak ada hubungan apapun. Entahlah dengan Melisa sendiri yang sudah menaruh hati pada Jason sejak lama.
__ADS_1
"Maaf saya duluan!" Raisya berdiri dari kursinya padahal makanannya masih banyak dan hendak menyudahi makan siangnya. Rasa yang ditelan terasa hambar ketika mendadak harus melihat adegan dua insan berbeda jenis kelamin di depan nya.
"Ra... tunggu! Raisya!" Jason ikut-ikutan menarik kursi hendak menyusul Raisya. Tapi sebuah tangan menahannya agar tetap di kursi.
"Kamu mau kemana Jason? Ada hubungan apa kamu dengan dia? Bukankah dia itu wanitanya pak Baron.
Deg
Raisya menghentikan langkahnya begitu Melisa mengatakan dirinya sebagai wanitanya pak Baron, begitupun dengan Jason yang menatap Melisa dengan tajam. Ternyata desas-desus tentang gosip Raisya dengan Baron sudah menyebar di antara karyawan. Dan entah siapa yang memulai gosip itu.
"Jangan bicara sembarangan kamu! Dia.. orang kepercayaan pak Baron. Mereka tidak ada hubungan apapun." Jason rasa dia harus menjelaskan pada Melisa tentang gosip itu.
"Lah.. kalau bukan, mana mungkin mereka ketahuan satu kamar. Lalu apa yang dilakukan orang beda jenis dalam satu kamar kalau mereka tidak ada hubungan apapun?" Ucap Melisa membuat orang-orang yang berada di sekitar meja keduanya ikut menyimak pembicaraan.
"Bisa tidak kamu diam? Atau kamu sudah bosan bekerja?" Mata Jason mengedar melihat beberapa orang sedang menyoroti ke arahnya.
Raisya yang berdiri mematung pun memutar tumit lalu melangkah kembali ke arah meja yang sedang di tempati Jason dan Melisa. Dia tidak terima kalau dia di fitnah dengan gosip itu.
"Maaf diantara kami tidak ada hubungan apapun. Kalaupun ada yang pernah melihat kami satu kamar bukan berarti kami melakukan hal sesuai dengan apa yang kamu duga. Waktu itu server internet di kamarku macet, dan terpaksa aku memanggil pak Baron sebagai orang terdekat. Jadi aku harap kamu segera menghentikan gosip tidak benar itu antara aku dan pak Baron." Ucap Raisya menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi antara Baron dan dirinya.
"Dengar Melisa! Apa yang dia katakan. Sebaiknya kamu berhati-hati jika berbicara!" Jason langsung menghempaskan tangannya dari genggaman Melissa.
"Hah? Memangnya kita akan begitu saja percaya dengan penjelasan kamu, hei wanita baru? Asal kamu tahu, semua orang sedang membicarakan kamu!" Melisa terlihat marah begitu melihat Jason lebih membela Raisya. Melisa sangat kecewa melihat laki-laki yang selama ini diharapkannya malah terlihat dekat dengan Raisya.
"Stop bergosip! Dia bukan wanitanya pak Baron, tapi dia calon istriku. Sekali lagi kamu mengatakannya lagi. Kamu siap-siap berhenti dari pekerjaan kamu!" Jason tak tahan mendengar Melisa terus saja bicara. Padahal dia sudah bicara baik-baik agar Melisa tidak bicara berlebihan.
__ADS_1
"Apa???" Melisa kaget. Matanya melotot ke arah Jason juga Raisya. Dia tak menyangka kalau Jason telah memilih Raisya sebagai calon istrinya. Padahal dirinya yang sudah lama mengenal Jason selama ini tidak mendengar bahwa Jason punya pacar ataupun punya calon istri.