
"Sesuai janjiku, aku akan memberitahu dimana aku bertemu dengan mantan istrimu." Ucap Sherly sambil menyisir rambutnya yang sudah mulai rontok. Meski Jacky tidak menanyakan langsung, tapi Sherly pasti tahu Jacky sedang menunggunya. Sherly melihat dari balik cermin melihat Jacky yang sedang bersandar di ranjang sambil berselancar di handphonenya.
Mata Jacky langsung melihat ke depan dan menyimpan handphonenya. Dalam hati Jacky pasti ada keinginan besar untuk mengetahui dimana keberadaan Raisya saat ini.
"Aku pernah bicara bahwa aku pernah bertabrakan di toilet kan?" Sherly membalikkan tubuhnya menghadap Jacky.
"Mmm." Jawab Jacky singkat.
"Ternyata perempuan itu adalah mantan istri kamu Jacky." Ucap Sherly to the point.
"Apa??" Mata Jacky langsung terbelalak kaget.
"Mmm. Aku baru tahu pasti dari foto handphone kamu yang waktu itu tak sengaja jatuh dan aku melihat galeri kamu Jacky." Terang Sherly yang baru mengetahuinya ketika tak sengaja membuka foto di dalam galeri handphone Jacky waktu itu.
Jacky langsung mengguar rambutnya kasar dengan pandangan sebuah penyesalan.
"Kenapa, kamu menyesal waktu itu tidak menolongnya sehingga kamu tidak tahu bahwa perempuan yang pingsan di dalam toilet itu adalah mantan istrimu?" Sherly masih menatap lekat wajah Jacky yang terlihat gelisah.
Jacky hanya diam tak menjawab pertanyaan Sherly.
"Apa dia sedang mengandung anakmu Jacky?" Tanya Sherly kembali, penasaran dengan kehamilan Raisya. Dia tidak banyak tahu tentang penyebab sampai Jacky bercerai dengan Raisya. Yang dia tahu bahwa Jacky belum mengurus perceraiannya sehingga, Sherly hanya bisa menikah siri dengannya.
Jacky masih terdiam dengan mengusap wajahnya lalu menghembuskan nafas kasar.
"Jacky.. " Panggil Sherly ingin menyadarkan suaminya yang terlihat bingung.
__ADS_1
"Mmm." Jawab Jacky singkat.
"Kamu ingin bertemu dengannya?" Disini Sherly paling banyak bertanya tapi tak satu pun pertanyaannya dijawab Jacky.
Jacky diam. Tak memberikan jawaban iya atupun tidak. Dia memilih itu karena tak mau membuat Sherly kecewa ataupun kesal padanya. Di masa-masa ini Jacky ingin membahagiakan Sherly, meski jauh di lubuk hati yang paling dalam dia merasa sangat sakit.
Ya, sakit. Tidak sakit bagaimana di saat detik-detik pertemuannya dengan Raisya dia malah keluar dari toilet. Itulah takdir. Tuhan sedang tidak berkenan mempertemukannya kembali. Hanya helaan nafas dan rasa sesak di dada yang dia rasakan saat ini. Antara ingin berlari mengejarnya dan tak ingin menyakiti perasaan Sherly. Dia kini sudah menjadi istri sahnya Jacky yang mesti Jacky berikan haknya.
"Kok kamu diam saja Jack?" Raut wajah Sherly terlihat lemas melihat sikap Jacky yang diam saja. Sherly malah lebih khawatir melihat Jacky seperti itu daripada Jacky yang seperti biasanya yang bersemangat.
"Gak pa-pa." Jawab Jacky singkat.
"Kalau kamu penasaran, kenapa kamu tidak mencarinya sekarang?" Sherly malah memberi lampu hijau pada Jacky untuk mencari mantan istrinya, yang dia tahu, Jacky sangat mencintainya.
"Tidak Sher.. aku rasa dia sudah ada yang mengurus." Jawab Jacky yang teringat bagaimana laki-laki yang mengaku kakaknya itu mau berkorban dan terlihat sangat menyayangi nya. Kalaupun dia datang pasti dua wanita akan merasa tersakiti. Perasaan Jacky tak bisa dibagi adil jika berhadapan pada kedua wanita itu. Lebih baik saat ini memang dia tak menemuinya dahulu.
"Tidak Sher.. Terima kasih. Lagian dia sudah bukan siapa-siapa aku lagi." Jawab Jacky sambil menunduk dan sesekali membuang muka. Antara mulut dan hati nurani Jacky memang benar-benar bertentangan saat ini.
"Ya sudah kalau kamu maunya begitu." Sherly membalikkan badan kembali bercermin dengan sesekali mencuri pandang pada Jacky yang masih terlihat gelisah.
Di rumah sakit dimana Raisya dirawat, Aisyah duduk di tepian kasur yang sesekali dia mengusap lembut punggung Raisya yang masih belum sadarkan diri setelah dikuret.
"'Mbak Raisya... kok kaya tidur tenang begitu ya mas?" Ucap Aisyah melirik suaminya yang sedang duduk di sofa sambil bekerja di depan laptopnya. Dia tak tega meninggalkan istrinya berjaga sendirian di rumah sakit menunggui Raisya yang belum sadar.
"Iya. Kata dokter sih paling sejam juga sudah sadar, tapi ini sudah hampir dua jam kok masih belum sadar." Anwar merasa ada yang janggal.
__ADS_1
"Bukankah mas mau menghubungi keluarga nya? Nanti bagaimana kalau kita disalahkan?" Aisyah mengingatkan suaminya agar menghubungi keluarga Raisya.
"Iya. Mas juga kepikiran. Nanti kita tunggu apa hasil dokter. Kalau mbak Raisya baik-baik saja setelah pemeriksaan nanti malam, kita tidak usah khawatir. Tapi kalau ada yang tak biasa, baru kita hubungi keluarganya. Kita tunggu dulu hasil pemeriksaan dokter saja dulu.
"Mudah-mudahan mbak Raisya cepat sadar dan pulih." Aisyah berharap banyak orang asing yang di depannya itu cepat sadar dan pulih dengan segera.
Krekk
Pintu terdengar dibuka. Muncul dokter dan dua perawat dari balik pintu hendak memeriksa keadaan Raisya.
"Bagaimana pasien sudah ada tanda-tanda sadar?" Tanya dokter pada Aisyah. Aisyah yang sedari tadi duduk langsung berdiri dan bergeser ke samping untuk memberikan ruang pada dokter agar bisa memeriksa Raisya dengan leluasa.
"Belum dok." Jawab Aisyah jujur. Ada rasa kekhawatiran di raut wajah Aisyah meski tertutupi cadarnya.
"Mmm... tekanan darahnya rendah. Apa pasien punya riwayat penyakit lain? Normalnya sejam juga sudah sadar. Tapi ini sudah hampir dua jam tapi masih belum sadar.' Dokter mulai merasakan kejanggalan pada Raisya.
Aisyah menoleh ke arah suaminya menunggu jawaban dari suaminya. Dia tak bisa menjawab pertanyaan dokter barusan mengenai riwayat penyakit Raisya.
Anwar segera berdiri dan menghampiri dokter.
"Maaf dok. Saya kurang tahu mengenai riwayat penyakitnya." Ucap Anwar menjawab jujur.
"Kalau begitu pasien harus diperiksa intensif ya! Untuk memeriksa apa ada penyakit penyertanya atau tidak. Mudah-mudahan pasien tidak koma." Dokter meminta izin keluarga pasien untuk memeriksa keadaan Raisya secara detail.
"Baik dok. Lakukan apa yang terbaik untuk kakak saya dok." Ucap Anwar memberikan izin.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu. Pasien akan diperiksa ke ruang MRI kalau bisa kalian selesaikan dahulu untuk biaya pemeriksaan ke ruang administrasi." Dokter menyuruh Anwar menyelesaikan administrasi lebih dulu.