
"Sakit.. sakit... sakit.. aku mohon aku sakit.. " Suara Raisya sampai parau meneriakkan permohonan pada dua orang laki-laki yang sedang tarik menarik tangannya yang terasa sakit karena urat-uratnya saling ketarik.
Sampai suara permohonan itu pun hilang dan badan itu terkulai lemas dan menjadi terasa berat bagi kedua laki-laki yang menariknya.
Jacky tersadar. Matanya langsung menatap Raisya yang sudah tak sadarkan diri. Dia melonggarkan pegangannya dan akhirnya tangannya terlepas darinya.
Jacky mematung tanpa bisa melakukan apapun seolah linglung. Dia hanya menatap kosong melihat badan Raisya diangkat oleh Nathan dan membawanya ke dalam satu ruangan.
"Ra.. maafin aku!" Dia bicara lirih.
Sedangkan di ruangan lain Sherly sedang berhadapan dengan Adam.
"Aku harap kalian tidak melakukan hal tadi di tempat kerja. Aku tak ingin yang lain bergosip buruk tentang dirimu lalu berimbas pada perusahaan kami." Adam mengingatkan Sherly akan perbuatannya tadi.
"Maaf." Hanya kata itu yang bisa diucapkan Sherly pada Adam.
"Dan satu lagi. Aku harap kamu jangan mengejar lagi keduanya. Jangan permainkan perasaan. Atau.. kamu akan tahu resiko yang akan kamu Terima jika tuan Robert tahu sikapmu." Adam mengingatkan akan kekuatan ayahnya jika sudah bertindak.
"Tapi aku benar mencintainya. Aku tidak mau menikahi Nathan sejak dulu. Kamu tahu sendiri hubungan kami dan aku terpaksa terlibat dengan saudaramu yang sakit itu. Kenapa kalian tidak memasukkan dia ke rumah sakit jiwa saja?" Sherly tak mau berdiam diri mendengar Adam mengancamnya.
"Hati-hati kalau bicara! Bisa-bisa akan terbalik jika kamu tak bisa menjaga sikap. Aku harap kamu bisa menjaga diri jika kamu masih ingin hidup dengan damai." Adam berdiri meninggalkan Sherly setelah selesai bernegosiasi dengannya. Ada revisi perjanjian yang harus dibuat bersama Sherly dan perusahaan berkenaan perjanjian kontrak perpanjangannya.
Sherly terdiam. Dia tahu betul harus bagaimana bersikap menghadapi keluarga ini.
Sementara itu hari ini banyak acara penting di perusahaan, sehingga para petinggi perusahaan sangat sibuk dan tidak ada di tempatnya masing-masing.
Raisya mengerjap-mengerjap matanya yang masih terasa silau. Lambat laun netra nya bisa lebih jelas melihat apa yang ada di sekelilingnya.
"Sya.. kamu sudah sadar?" Suara yang amat dikenalinya kini memanggil namanya dengan jelas.
"Dimana aku?" Mata Raisya mengedar mengamati sekeliling ruangan itu. Raisya terbaring di sebuah kasur di satu ruangan yang tak dikenalinya.
"Kamu ada di ruangan oak. Nathan Sya."Jawab Ratna memberitahu Raisya.
Raisya seperti kaget mendengar nama itu disebut. Dia langsung bangun dari tidurnya.
"Pelan-pelan Sya!" Ratna merasa khawatir.
"Bawa aku secepatnya dari sini." Raisya begitu ketakutan dan tak ingin berlama-lama di ruangan yang pemiliknya begitu ditakuti Raisya.
"Tenang Sya! Dia lagi gak ada di ruangan kok! Dia sama Reza sedan sibuk." Ucap Ratna memberitahu Raisya.
__ADS_1
"Pokoknya bawa aku dari sini Rat!" Raisya nampak memohon.
"Iya. Aku akan mengantarkan kamu Sya! Aku sudah minta izin ke bu Mia. Sebentar lagi kak Hendrik menjemput kesini." Terang Ratna yang telah membawa tas Raisya dan juga sudah meminta izin pada bu Mia untuk pulang lebih awal.
"Yuk aku antar!" Ratna meraih tangan Raisya untuk dipapah.
"Sakit Rat! Jangan pegang tanganku!" Raisya meringis. Bekas saling tarik anatara Jacky dan Nathan masih terasa linu jika disentuh. Raisya lebih memilih jalan sendiri tanpa dipapah karena tak ingin orang lain mengenai tangannya.
Ratna mengantarkan Raisya ke bawah di tempat lobi sambil menunggu Hendrik menjemputnya.
"Sya apa yang terjadi? Kok kamu sampai diangkat sama Nathan?" Ratna tadi sempat kaget melihat bestie nya pingsan dan sampai diangkat oleh Nathan ke dalam ruangannya.
Raisya bukannya menjawab malah terisak. Ratna hanya menatap Raisya tanpa melanjutkan lagi pembicaraannya. Dia mau mengusap bahu Raisya tapi takut Raisya kesakitan. Tangannya lalu mengusap kerudung Raisya dengan lembut sebagai bentuk rasa dukungan untuk Raisya membesarkan hatinya yang sedang bersedih.
Raisya merangkul Ratna lalu membenamkan dirinya di bahu Ratna.
"Aku lelah Rat... " Kalimat itu akhirnya diucapkan Raisya pada Ratna.
Ratna mengusap-usap kerudung Raisya tanpa tahu harus mengatakan apa. Adakalanya seseorang hanya butuh bahu untuk bersandar untuk melepaskan penat di hatinya tanpa banyak bicara. Sekarang itu yang dibutuhkan Raisya. Dia butuh bahu bersandar untuk sekedar melepaskan segala kesesakkan yang ada dalam hatinya.
"Sya.. mobil kak Hendrik sudah datang." Ratna melihat pesan yang dikirim oleh Hendrik yang mengabarkan dirinya sudah ada di depan pintu perusahaan.
"Kamu bisa jalan Sya?" Ratna tak mau menggandeng tangan Raisya takut kesakitan seperti tadi.
Raisya mengangguk pelan.
"Kenapa dia?" Hendrik berbisik pada Ratna.
"Sst." Ratna memajukan bibirnya dan menggelengkan kepala. Saat ini Ratna melarang Hendrik menanyakan masalah Raisya.
Sepanjang jalan hanya hening.
"Hei kakak pengen setel lagu boleh?"
"Biar aku pilihkan ah.. kakak seleranya beda sama aku." Ratna buru menekan tombol bluetooth dan memilih beberapa beberapa lagu kesukaannya.
"Ini yang pengen kakak.. yang setel kamu." Keluh Hendrik.
"Ah.. kakak. kan lagu-lagu klasik aku gak suka." Ratna langsung menyandarkan bahunya ke belakang begitu slow pop. langsung berputar.
"Ah ini mah kesukaan eneng-engeng bucin. Kakak pengennya yang ini.. kita campur saja. Satu lagi kesukaan kamu satu lagu kesukaan kakak gimana?" Hendrik menawarkan pada Ratna.
__ADS_1
"Ya udah mana handphone nya. Aku gak tau lagu kesukaan kakak." Ratna meminta handphone Hendrik.
"Nih!" Hendrik menyodorkan handphonenya pada Raisya.
Dia langsung membuka handphone kakaknya.
"Heh.. " Ratna memperlihatkan sebuah foto yang dipakai wallpaper handphone kakaknya.
"Sssttt." Hendrik memberi isyarat untuk menutup mulut.
"Nanti kita bicara di rumah kak!" Ratna bicara ketus.
"Iya. Asal jangan sekarang!" Tolak Hendrik sambil menatap fokus ke depan.
Tak lama kemudian mobil terparkir di depan kostan Raisya.
"Sya.. mau ku antar?" Ratna menoleh ke belakang. Kebetulan Raisya duduk di belakang.
"Gak usah! Aku gak pa-pa kok!" Raisya tersenyum tipis.
"Terimakasih kasih ya kak Hendrik!" Ucap Raisya mengucapkan terimakasih.
"Sama-sama sayang.. " Hendrik seperti memasang wajah mempesonanya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Raisya melambaikan tangan pada Ratna lalu berjalan ke depan. Mobil Hendrik berlalu meninggalkannya.
Raisya masuk ke kostan dan menyimpan tas kerjanya di atas meja. Lalu membaringkan tubuhnya di atas kasur.
Kring
Kring
Kring
Sebuah panggilan masuk. Raisya menatap layar handphone tapi langsung membalikan layar dan menyimpan handphonenya di atas kasur. Raisya memilih menutup wajahnya dengan satu tangan dengan memejamkan matanya.
Suara panggilan kembali masuk, tapi Raisya mengabaikannya. Raisya ingin mengistirahatkan pikirannya dengan tenang.
__ADS_1