
Baron bukannya menjawab, dia menarik lengan Raisya dan menjauhi Jacky. Entah apa yang dirasakannya, tiba-tiba hatinya merasa terpanggil untuk membelanya.
"Sial." Jacky mendengus kesal diperlakukan seperti itu. Beberapa karyawan restoran melihat ke arahnya. Jacky segera pergi menghindari perhatian banyak orang. Meski dia tidak berhasil membawa Raisya.
Setelah berjalan beberapa langkah menjauh dari Jacky, Baron melepaskan tangan Raisya.
"Maaf.. kalau aku tidak sopan." Ucapnya pelan. Dia tahu kalau dirinya sudah bersikap melewati batas. Padahal selama sepuluh terakhir ini Baron belum pernah dekat dengan perempuan manapun. Bahkan dia sangat menghindarinya.
"Mmm." Raisya menjawab dengan deheman. Raisya merasa tertolong dengan sikap Baron barusan. Raisya bisa menghindari Jacky berkat bantuan Baron barusan. Dia lebih dewasa dibanding Jacky yang memilih untuk menghindar daripada adu mulut di tempat umum
Keduanya kembali ke ruangan. Tapi begitu dia membuka pintu Tedi dengan wajah cemas menghampiri Baron.
"Pak... barusan nyonya besar telfon. Katanya Nuri masuk rumah sakit." Tedi mengabari Baron karena tadi ketika bosnya keluar dari ruangan dia meninggalkan handphonenya di meja.
Baron yang mendapatkan berita itu langsung mengambil keputusan untuk tidak pulang ke kantor.
"Baik. Kalau begitu antarkan aku ke rumah sakit sekarang juga!" Wajah cemas menyelimuti ayah dari dua anak itu. Selama sepuluh tahun Baron menjadi single parent dan dia sudah tidak asing mendengar anaknya masuk ke rumah sakit. Kapanpun dia mendengar anaknya masuk rumah sakit dia akan segera meninggalkan semua kegiatan dan pekerjaannya demi anaknya.
"Baik." Tedi yang sudah lama bekerja dengan Baron sudah tahu apa yang harus dilakukannya. Tanpa disuruh Tedi sudah menghubungi beberapa pendonor yang biasa menyumbang darahnya untuk anak bosnya.
Raisya hanya menatap keduanya dalam diam. Dia tidak tahu apa yang sedang dialami putra bosnya itu sampai harus masuk rumah sakit.
Ketiga orang itu langsung meninggalkan restoran dan kini berjalan menuju parkiran lalu masuk ke dalam mobil yang tadi dikendarai Tedi.
"Apa pendonornya sudah siap?" Tanya Baron pada Tedi. Dia memastikan asistennya sudah menghubungi pendonor atau belum. Rasa cemas juga khawatir sedang menyerang Baron. Wajahnya nampak gelisah dan juga sedikit tidak tenang.
"Belum pak. Tadi nyonya sudah menghubungi pendonor tapi mereka kebetulan sedang berada di luar kota." Jawab Tedi memberitahu Baron tentang kondisi pendonor.
Raisya yang sejak tadi hanya jadi pendengar merasa penasaran dengan apa yang sedang dibicarakan dua orang laki-laki itu.
__ADS_1
"Anak bapak butuh donor?" Tanya Raisya menoleh ke samping. Keduanya sudah berada di dalam mobil yang sama.
"Mmm." Jawab Baron singkat.
"Golongan darahnya apa pak?" Tanya Raisya kembali.
"B+." Jawab Baron terlihat seperti putus asa. Golongan darah anaknya yang langka membuat kesulitan mencari pendonor ketika penyakitnya kambuh.
"Saya bisa donor pak." Jawab Raisya menawarkan dirinya yang kebetulan mempunyai golongan darah yang sama.
"Apa? Kamu..?" Wajah Baron tiba-tiba berubah. Matanya melebar tidak percaya perempuan yang ada di sampingnya bisa mendonorkan darah buat anaknya.
"Iya Pak. Golongan darah saya sama dengan anak bapak." Jawab Raisya yakin.
"Alhamdulillah.. ya Allah.. " Baron terharu mendengar Raisya. Dia mengusap wajahnya dengan perasaan gembira juga senang. Tak disangka di saat genting Allah telah mengirimkan orang yang dibutuhkannya. Tedi yang berada di depan pun ikut mengucap hamdalah. Dia ikut merasakan kebahagiaan ketika barusan mendengar Raisya mempunyai golongan darah yang sama dengan anak bosnya.
Tedi memang sering susah ketika anak bosnya kambuh dari sakitnya. Penyakit leukemia yang dideritanya sejak lahir belum bisa sembuh. Dia menunggu Karena yang paling sibuk mencari pendonor adalah dirinya. Seperti sekarang ini. Ketika dibutuhkan, pendonor sedang berada tidak ada di tempat atau kadang pendonor sedang sakit dan berhalangan. Untung Raisya bisa menolongnya kali ini. Kalau tidak Tedi bisa kelimpungan mencari darah langka ini ke tiap bank darah.
"Terima kasih ya Raisya!" Ucap Baron tanpa sadar dia telah menggenggam tangan Raisya erat di pangkuannya. Dia seperti mendapatkan pertolongan yang teramat berharga. Baron sangat mencintai kedua putrinya lebih dari apapun.
Apalagi setelah istrinya meninggal. Dia merasa hidupnya hampa. Kalau bukan kedua putrinya mungkin Baron takkan bertahan kuat sampai sekarang.
Raisya yang mendapatkan perlakuan Baron seperti itu hanya bisa diam. Mungkin laki-laki itu butuh pegangan di saat hatinya rapuh seperti sekarang. Ada rasa canggung yang dirasakan Raisya. Dia membuang muka ke arah samping untuk menghindari tatapan yang membuat dirinya lebih canggung lagi.
Kring
Kring
Kring
__ADS_1
Suara panggilan terdengar dari handphone Baron. Baron baru sadar bahwa tangannya menggenggam perempuan yang seharusnya tak disentuh.
"Maaf.. maaf." Baron meminta maaf pada Raisya sambil membungkukkan badannya. Dia malu sekali karena baru menyadari kekeliruannya.
Raisya hanya tersenyum tipis menanggapi permintaan maaf dari Baron. Dia tak mau Baron merasa tidak enak padanya. Sebenarnya Raisya pun sama malunya. Terlihat Baron malu sekali. Wajahnya memerah karena menahan rasa malu dan canggung. Dia segera mengambil benda pipih dari sakunya dan menggeser panggilan.
"Halo ma." Sapa Baron menyapa orang di seberang telepon.
"Kamu sudah sampai mana?" Terdengar suara perempuan paruh baya yang agak panik.
"Sudah di jalan ma. Sebentar lagi sampai." Jawab Baron berusaha menenangkan.
"Bagaimana, apa pendonor nya sudah dapat belum?" Cemas suaranya sedikit terdengar bergetar mengkhawatirkan kondisi cucunya yang kini sedang terbaring lemah.
"Alhamdulillah sudah ma." Jawab Baron sambil menoleh ke arah Raisya.
"Alhamdulillah kalau begitu. Mama jadi tenang. Mama sudah menyuruh beberapa orang untuk mencari darah cadangan, tapi katanya lagi kosong." Ungkap perempuan paruh baya yang kini sedang berbicara dengan Baron yang diketahui dia adalah ibu nya Baron. Semenjak meningal suaminya dia tinggal bersama Baron dan juga cucunya.
"Iya ma. Doakan semoga semuanya lancar." Ucap Baron meminta doa agar dilancarkan urusan nya.
"Iya.. Hati-hati di jalan nak. Mama tunggu di sini. Semoga Nuri cepat sembuh." Ungkap Ibunya Baron masih dengan nada sedih.
"Iya ma. Aamiin." Ucap Baron mengamini doa ibunya.
"Mama tutup teleponnya ya! Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
Panggilan pun berakhir. Baron menarik nafas lega. Kekhawatirannya kini berkurang dengan adanya Raisya yang bisa mendonorkan darahnya untuk anaknya, Nuri. Sejak lahir Nuri sudah mengidap penyakit mematikan itu.
__ADS_1
Hati Baron begitu sedih setelah ditinggalkan istri tercintanya ketika melahirkan anak keduanya, Nuri. Perasaan bersalah sampai kini masih bersemayang dalam pikirannya. Semenjak latian ayahnya Baron sibuk mengurus perusahaan sehingga perhatian pada keluarga berkurang. Apalagi ketika istrinya mengandung anak kedua. Baron sering meninggalkan istrinya karena urusan bisnis perusahaan yang menuntut dirinya harus sering keluar kota. Akhirnya ketika mengandung Nuri mental istrinya sering drop yang mengakibatkan janin yang dikandungnya lahir kurang sehat.
Baron merasa sangat berdosa pada almarhum istrinya juga Nuri. Semenjak kematian istrinya dia mengurangi kesibukannya di perusahaan yang mengakibatkan perusahaannya agak terbengkalai.