Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Tamparan pertama


__ADS_3

"Tapi, Apa Raisya?" Beny agak heran dengan gurat wajah Raisya yang mendadak seperti takut.


Sepasang mata dari tadi memang sudah menyorot mengikuti gerak-gerik Raisya semenjak masuk ke cafe.


Setelah turun dari bandara, dikarenakan ini hari sabtu pastinya kantor libur dan Raisya tetap bekerja di perusahaan Beny. Makanya Nathan memutuskan untuk pergi menjemput Raisya ke kantornya dengan membawa sebuah harapan bahwa dirinya akan memberi kejutan.


Bukannya kejutan yang bisa diberikan Nathan, malah dia kaget melihat penampilan Raisya sekarang, dia begitu menarik bagi siapapun yang melihatnya.


Bahkan beberapa pasang mata tertuju pada Raisya disaat dia baru saja masuk ke dalam cafe.


Penampilan yang paripurna. Itu kata-kata yang mungkin tepat dia berikan pada wanita yang biasa berpenampilan sederhana, bahkan saking sederhananya dia pernah menyebutnya dengan 'kampungan'


Tapi ada rasa tidak rela di hati Nathan, ketika dirinya melihat Raisya digandeng Beny begitu masuk ke dalam cafe.


Sungguh hal itu membuat emosinya naik ke ubun-ubun dan bisa saja mendidih jika terpantik api.


Apa mereka selalu seakrab itu? Apalagi dia sudah sebulan ditinggalkan. Pantesan saja lebih betah. Karena selain bekerja dia juga bisa menggaet laki-laki yang dia mau. Dasar wanita murahan. Meski dibalut penampilan.. tetap saja murahan.


Pikiran buruk Nathan mulai bermain. Dia mengumpat Raisya seperti lupa akan dosanya sendiri. Hatinya memanas tatkala melihat Raisya akrab berbicara dengan Beny. Sesekali mereka saling melemparkan senyum lalu saling menatap dan kembali tersenyum, tanpa tahu topik apa yang sedang dibicarakannya.


Keberadaan mereka yang hanya berduaan di cafe itu, mirip pasangan anak muda yang sedang menjalin satu hubungan. Membuat orang yang sedang sendirian bisa-bisa cemburu. Ya melihat satu pasang insan yang cantik dan maskulin.


Seharusnya Nathan tak berhak ikut campur dengan kehidupan Raisya, apalagi melibatkan perasaan lain yang membuat kedua belah pihak merasa canggung. Karena hubungannya sekarang hanya sebatas atasan dan bawahan tidak lebih dari itu. Tidak ada suatu ikatan yang membatasi keduanya. Jadi apa hak Nathan harus marah pada Raisya apalagi membatasi ruang gerak kehidupannya?


"Bang.. aku.." Tenggorokan Raisya serasa tercekat ketika mau melanjutkan pembicaraan dengan Beny. Tatapan membunuh laki-laki itu sedang menghunus tajam mengarah padanya.


Degg


Jantung Raisya hampir saja melompat dari tempatnya, ketika sosok yang ditakutinya seperti mengalami teleportasi dimensi, tahu-tahu wujudnya ada di cafe yang sama.

__ADS_1


Apakah dia pun mempunyai indra ke enam sehingga dia bisa tahu, aku makan siang di cafe ini? Tuhannn.. dia manusia apa hantu sih?


"Kamu kenapa Raisya?" Cemas Beny mengikuti netra Raisya yang melihat ke arah lain. Belum juga Raisya sempat menjawab, Reza malah muncul.


"Eh.. bu Raisya. Senang berjumpa kembali!" Reza menghampiri meja yang sedang dipakai Raisya dan Beny. Dengan mengembangkan senyuman, berharap keduanya mempersilahkan duduk memberi ruang pada Reza untuk bisa makan bersama satu meja.


Keduanya mendongak melihat Reza yang berdiri di samping mejanya, melihatnya heran.


"Eh silahkan duduk!" Sambut Beny dengan ramah mempersilahkan duduk pada Reza yang sudah berdiri mematung. Sedangkan kursi dan meja cafe sudah terisi penuh pengunjung tak ada lagi meja yang bisa ditempati Reza.


Rupanya mereka sudah kembali.


Guman Raisya menyadari bahwa keduanya sudah kembali ke Jakarta.


Gawat ini mah. Mesti buru-buru setor wajah kalau si beruang tidak mau mengamuk.


"Bang.. aku gak jadi diantar. Aku mau bareng sama pak Reza saja." Ucap Raisya sambil berdiri pamit berlalu tanpa mengindahkan pandangan aneh dari Beny, juga Reza pada Raisya.


Raisya khawatir jika Nathan melihatnya sedang bersama dengan Beny, bisa-bisa dia mendapatkan konsekuensi yang tak bisa diprediksinya. Hal itu benar-benar menyiksa batin Raisya. Pokoknya jangan sampai membuat kesalahan dihadapan Nathan, itulah yang sedang dipikirkan oleh Raisya saat ini. Bukankah itu seperti perbudakan? Andaikan dia bisa mengadu mungkin dia akan melaporkannya ke bagian komnas HAM.


Reza memilih satu meja dengan Beny, karena dia sudah tahu kebiasaan Nathan yang tidak mau satu meja dengan bawahan. Gayanya seperti raja saja.


"Selamat siang pak Na.. than." Suaranya terdengar terputus, gugup begitu Raisya menghampiri Nathan yang sedang duduk di meja lain. Walau suhu Jakarta panas tapi suhu tubuh Raisya mendadak dingin dan kedua telapak tangannya seolah membeku memegang es. Dia merekatkan kedua telapak tangannya agar tidak terlihat gemetar.


Sekarang Raisya duduk manis mirip seorang budak yang mudah takut jika melihat majikannya marah. Raisya duduk saling berhadapan dengan Nathan.


Nathan menurunkan pandangannya lalu beralih melihat makanan yang sudah disuguhkan pelayan cafe tanpa menjawab sapaan Raisya.


Mungkin tensi darahnya menurun drastis ketika wanita yang sedang disorotinya langsung tunduk menurut sesuai keinginannya walau dia tidak bicara.

__ADS_1


Raisya merasa perlu melakukan itu agar Nathan tidak menatapnya penuh amarah. Ya semata-mata karena takut, dia melakukan itu bukan karena hal lain.


Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir Nathan begitu juga dengan Raisya yang memilih diam tak mengganggu acara makan si beruang kutub.


Raisya menghela nafas lebih kasar dari biasanya. Setelah satu bulan ini jantunganya mulai berdetak teratur beristirahat dari aktivitas senam irama Nathan. Tapi sekarang mulai senam pemanasan, kembali dan siap-siap bertempur menghadapi medan perang.


Kenapa juga dia ada disini sih? Apa sengaja membuat aku jantungan? Kalau bukan karena hutang.. Aku sudah memilih pergi sejak kemarin.


Raisya hanya mampu berbicara sendiri dalam hati. Jika Raisya mempunyai pilihan ganda mungkin dia ingin memilih lari dan sembunyi dari kekejaman si beruang kutub.


"Hhhmm akhirnya dia tahu cara berpikir benar. Kalau dari sejak awal dia bisa begitu, mungkin aku tak akan menyakitinya." Gumam Nathan dalam hati sambil menikmati makan siangnya dengan lahap.


Sampai Nathan menghabiskan makan siangnya, keduanya tak saling berbicara. Diam membisu seperti robot.


Nathan mengelap ujung bibirnya lalu berdiri dari kursi keluar cafe. Raisya yang melihat pergerakan Nathan langsung mengekor mengikutinya.


Nathan masuk ke dalam mobil begitu pun Raisya mengikutinya lalu duduk di samping Nathan.


"Sudah berapa laki-laki yang sudah kamu layani?" Nathan bicara sambil memantik rokoknya lalu menyesap dan mengepulkan nya ke luar jendela mobil.


"Apa??" Raisya melebarkan matanya dan menoleh ke arah samping memperjelas ketidak mengertiannya atas isi kalimat yang Nathan lontarkan.


Nathan membuang rokoknya ke luar dan secepat kilat meraih tengkuk Raisya mendekatkan wajahnya lalu meraih bibirnya dengan paksa melampiaskan sesuatu yang bergejolak sejak tadi.


Plakk


Raisya spontan menampar Nathan.


Teman-teman ada novel bagus.. aku suka banget.. readers pastinya bakal puas deh dengan novel temen aku yang satu ini.

__ADS_1


mampir ya di novelnya jangan lupa like dan komennya.. happy reading.



__ADS_2