Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Dilema cinta


__ADS_3

Jacky terkejut. Hampir saja dia menjatuhkan handphonenya karena suara yang memanggilnya.


"Sherly...?" Mulut Jacky terbuka setelah memutar tumitnya melihat sosok yang memanggilnya. Tanpa sadar handphonenya menyala aktif dari nomor yang tadi dipanggilnya.


"Kenapa belum tidur sayang? Ini sudah malam." Sherly langsung memeluk Jacky mesra. Dia tahu suaminya sedang gelisah dan selaku istri dia ingin menyenangkan suaminya.


"Tadi sudah tidur tapi tiba-tiba bangun." Bohong Jacky tak ingin Sherly mengetahui apa yang dilakukannya.


"Mmm... kamu merokok ya?" Sherly mendongakkan wajahnya menatap Jacky.


"Bau ya? Aku ganti baju dulu ya." Jacky merasa bersalah setelah sekian lama tidak merokok. Entah malam ini rasanya benda itu menjadi teman baiknya yang menemani kegalauannya.


"Mmm... jangan lupa setelah ganti baju, kita main yuk!" Ajak Sherly pada suaminya. Dia berharap dengan berhubungan intim, bisa mengurangi kegalauan suaminya.


"Mmm.. baiklah! Kamu pergilah duluan! Aku akan mengganti baju dan menggosok gigi dulu." Jacky tak mampu menolak ajakan Sherly. Meski awalnya terpaksa tapi karena kebutuhan secara biologis Jacky pun merasa candu akan kenikmatan dunia yang satu ini.


"Baiklah.. aku tunggu di ranjang sayang." Sherly tersenyum menggoda dan melangkah kembali ke kamarnya sambil menunggu Jacky.

__ADS_1


Sherly duduk di meja rias menatap dirinya di cermin. Sedikit merapihkan rambutnya dan menyemprotkan sedikit minyak wangi di badannya agar menambah gairah Jacky ketika menyentuhnya. Tak lupa Sherly mengganti gaun tidurnya agar terlihat seksi dan menggoda. Setelah dirasa cukup Sherly pun membaringkan tubuhnya di ranjang menunggu sang suami.


Sementara Jacky yang tidak sadar bahwa handphonenya telah tersambung pada Raisya menyimpan handphonenya di saku celana dan melangkah pergi ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan mengganti pakaiannya agar bau rokok yang tadi disesapnya tidak tercium oleh Sherly.


Raisya yang dari awal mendengarkan perbincangan antara Jacky dan Sherly merasa hatinya tersayat-sayat. Dia merasa Jacky sedang membalas sakit hatinya dengan sengaja mengaktifkan handphonenya untuk memanasi dirinya.


Beginilah kamu Jacky... apa tidak cukup kamu menyakitiku? Apa salahku tidak cukup untuk dimaafkan? Dimana rasa sayangmu yang dulu kamu ucapkan? Baiklah... mulai saat ini mari kita saling melupakan Jacky... aku akan hidup bahagiakan sebagaimana kamu bahagia.


Raisya pun menutup teleponnya dengan kembali terisak. Kenapa rasa sakit yang ditorehkan Jacky tak berkesudahan? Apakah dengan cara seperti ini dia akan benar-benar akan meluapkannya untuk selamanya.


Tanpa terasa Raisya pun tertidur dengan posisi kenyang menangis sedangkan tangannya masih menggenggam erat benda pipihnya.


Di selang mereka membicarakan hal pekerjaan, Ramos sangat penasaran dengan pemasangan CCTV yang berada tepat mengarah kamar Baron juga Raisya.


"Apa pak Jason sengaja memasang CCTV di kamar bekas kita?" Tanya Ramos heran.


"Seharusnya sejak dulu memang sudah terpasang. Karena kamu terus saja menolak, akhirnya aku menundanya. Tapi untuk sekarang tak ada alasan lagi aku memasang kamera di sana demi keamanan bos kita." Ucap Jason sambil memeriksa dokumen penting yang tadi siang telah dibahas.

__ADS_1


"Demi keamanan bos apa demi keamanan dirimu? Aku lihat sejak rapat mata pak Jason selalu tertuju pada bu Raisya. Apa pak Jason menyukai janda kinclong seperti bu Raisya?" Bisik Ramos sambil tersenyum licik.


"Jaga mulut kamu! Bagaimana kalau sampai terdengar oleh pak Baron?" Jason tak ingin ada gosip di antara bosnya juga dirinya karena Ramos asal bicara. Apalagi Ramos adalah sepupu dari Baron.


"Ha.. jangan munafik! Kalau pak Jason suka kenapa tidak langsung bersaing saja! Jangan sampai janda kinclong itu keduluan sama pak Baron. Apalagi kamar mereka berdampingan kaya gitu. Apa karena pak Jason khawatir mereka melakukannya disini? Sehingga tiba-tiba harus memasang CCTV di sana?" Ramos menduga Jason ada hati pada Raisya dan memasang CCTV untuk memantau keduanya.


"Sekali lagi kamu bicara ngawur, aku tak segan-segan mengalihkan posisi ke lapangan." Ancam Jason yang kali ini tak main-main. Karena kalau dibiarkan Ramos terus saja bicara seperti itu, khawatir dia keceplosan dan memicu konflik antara dia dan Baron. Apalagi di saat genting sekarang, semuanya menjadi sensitif.


"Oke, oke! Aku gak bakal ngomongin itu lagi. Jika pak Jason tidak berminat pada janda kinclong itu, terpaksa aku akan maju bersaing dengan pak Baron. Aku rasa janda lebih hot dari perempuan biasa. Jadi aku sangat berminat sekali untuk menaklukkan bu Raisya." Ramos berdiri meninggalkan Jason dengan senyuman liciknya. Ramos yang terkenal dengan playboy tentu tidak akan bisa tenang melihat perempuan yang bening nganggur begitu saja sebelum mereka takluk di bawah rayuan mautnya.


"Ish.. dasar maniak! Awas kamu!" Jason membanting dokumen-dokumen yang sedang dipegangnya sehingga berserakan. Sejak tadi dia sudah bersabar agar tidak terpancing dengan Ramos. Tapi asisten gesreknya itu memang menyebalkan jika sudah berhubungan dengan urusan perempuan. Meski dia punya kuasa untuk memecat Ramos, tapi dia pasti akan mempertimbangkan lagi tentang hubungan baiknya dengan Baron. Apa jadinya jika Ramos mengadu pada Baron, dia pasti kesusahan juga akhirnya.


Jason merebahkan diri di kasur. Dia membiarkan dokumen-dokumen itu tercecer. Dia malah membuka handphonenya yang sudah tersambung ke CCTV yang tadi siang sudah dipasang. Dugaan Ramos memang benar. Sebenarnya ada rasa kekhawatiran yang dirasakannya setelah melihat Raisya menangis. Meski dia tidak tahu sebabnya kenapa Raisya menangis. Jason memasang CCTV itu memang bukan untuk keamanan bosnya saja. Tapi lebih untuk melihat dan memantau apa yang dilakukan Baron dan Raisya.


Tapi dari rekaman CCTV, Jason tidak melihat ada aktivitas antara Barin dan Raisya selain mereka keluar bersama untuk pergi bekerja dan masuk kembali untuk istirahat.


"Ah.. kenapa aku jadi memikirkan dia? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apalagi sigesrek itu terang-terangan akan menggoda Raisya." Jason malah melamun memikirkan cara bagaimana mencegah asistennya agar tidak terlalu dekat dengan Raisya. Dia khawatir Raisya akan masuk ke dalam jebakan Ramos.

__ADS_1


Di satu sisi Jason tak ingin menjadi orang ketiga diantara Raisya dan Baron. Di sisi lain dia pun tak rela kalau Raisya jatuh ke tangan laki-laki lain.


__ADS_2