Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Aku bukan wanita penggoda


__ADS_3

"Aku ingin bicara sebentar sama kamu!" Ucap Jacky pada Baron sebelum meninggalkan tempat itu. Hawa perang sepertinya sedang dimulai. Jacky takkan diam saja melihat Baron meraih simPATI banyak orang. Bukan hanya sekedar cemburu tapi lebih dia tak rela Raisya jatuh di pangkuan laki-laki yang sekarang beranak dua itu.


"Baik." Keduanya berjalan agak menjauh dari area parkir. Baron tidak takut sedikitpun. Kenapa harus menghindar. Toh dia tak punya salah.


"Mas.. mereka pada pergi kemana sih?" Ucap Aisyah yang mengkhawatirkan kedua laki-laki itu yang sejak kedatangannya tidak terlihat akur.


"Biarin.. mungkin urusan laki-laki!" Jawab Anwar tak lagi ingin ikut campur masalah keduanya.


"Ayo kita pulang? Apa kalian masih betah disini?" Raisya melihat ke empat anak sedang asik bertukar nomor handphone.


"Tapi papa.. " Nuri seperti bingung melihat ayahnya tidak ada di tempat.


Raisya yang tidak tahu kedua laki-laki itu pergi, celingukan mencari Baron.


"Mbak.. tadi pak Baron pergi dengan pak Jacky." Ucap Aisyah memberitahu Raisya.


"Kemana?" Tanya Raisya cemas.


"Tuh.. kesana!" Jawab Aisyah yang tadi berjalan belakangan melihat Jacky dan Baron pergi meninggalkan mereka.


"Mau ngapain mereka?" Raisya terlihat cemas. Takut terjadi apa-apa dengan mereka.


"Aku titip dulu anak-anak ya! Aku menyusul mereka dulu!" Ucap Raisya sambil melangkah menyusul Jacky dan Baron.


Di tempat yang cukup sepi Jacky menghentikan langkah.


"Kamu tahu kenapa aku membawamu kesini?" Tanya Jacky menoleh ke arah Baron.


"Tidak." Jawab Baron tak begitu mempedulikan Jacky yang sedang diliputi amarah.


"Aku ingin memperingati kamu, agar jangan mendekati Raisya!" Ucap Jacky dengan nada keras.


"Kenapa? Toh dia mantan kamu. Bukan berarti kamu masih memiliki nya kan?" Baron sebagai laki-laki tak bisa diatur-atur dengan siapa dia harus dekat dan menjauh.


"Aku bilang jangan mendekat! Atau kamu ingin akibat nya langsung hah?" Ancam Jacky pada Baron yang sudah mengetahui kondisi perusahaan Baron saat ini yang sedang mengalami masalah.


"Oh.. kamu mengancam? Semakin kamu mengancam semakin aku penasaran dengan mantan kamu itu. Salah siapa kamu melepas dia jadi mantan? Toh dia juga tidak menolak aku." Baron tidak takut sama sekali dengan ancaman Jacky.

__ADS_1


Jacky langsung mencengkram kerah Baron. Dia tak tahan dengan nada Baron seolah melecehkan ancamannya.


"Aku tak main-main Baron. Dia wanitaku selamanya. Tak ada yang bisa mendekati nya selain aku. Dia milikku selamanya! Kamu mengerti?" Jacky melepaskan kerah itu. Ingin sekali dia meninju wajah Baron, tapi dia tak ingin anak-anak melihat kejadian itu.


"Kenapa kamu masih mencintainya? Hah? Aku tak percaya kalau Raisya mempunyai perasaan yang sama sama kamu." Ucap Baron sambil mendengus kasar.


"Aku peringatkan sekali lagi. Jika kamu ingin perusahaan kamu tidak hancur, maka jangan dekati lagi Raisya!" Jacky hendak meninggalkan Baron dan memutar tumit.


"Tunggu! Semakin kamu mengancam Raisya maka semakin dia akan mendekati ku. Mungkin perusahaan aku akan hancur, tapi aku takkan membiarkan kamu menghancurkan hatinya. Dia wanita yang baik." Baron melihat ke arah Jacky. Meskipun Baron belum mengenal jauh Raisya, tapi yakin dengan sikap yang ditunjukkan Raisya dan Jacky seperti itu, pasti ada masalah yang mereka hadapi. Tapi Baron yakin, kalau melihat Jacky kasar seperti itu, masalahnya pasti datang dari pihak laki-laki.


"Kalian sedang apa?" Tanpa mereka duga ternyata Raisya sudah ada di depan mereka berdua.


"Tidak.. kami sedang berbincang-bincang sebentar. Ada yang perlu kami bicarakan." Ucap Baron sambil menyembunyikan hal sebenarnya.


Raisya menatap Jacky dan Baron silih berganti. Dia benar-benar takut kalau dua laki-laki ini akan saling adu jotos.


"Kenapa? Kamu takut kita berkelahi?" Baron segera merangkul Jacky dan melihat Raisya yang sedang dipenuhi rasa cemas.


Jacky langsung menepis tangan Baron yang tiba-tiba merangkul. pundaknya.


"Ya tadinya aku ingin sekali meninjunya. Tapi tanganku ini terlalu berharga, jadi aku tidak akan membiarkan tanganku terkotori karena harus adu otot dengan dia. Apalagi kalau sampai kedua anaknya melihat wajah ayahnya lebam. kena tonjokan." Jawab Jacky ketus lalu menarik tangan Raisya dengan paksa agar meninggalkan Baron di belakangnya.


"Kenapa? Apa kamu sekarang jadi penggoda?" Bisik Jacky di telinga Raisya.


"Kamu jangan kurang ajar Jacky!" Raisya tentu tidak terima kalau dirinya dituduh jadi wanita penggoda.


"Hah? Kamu jadi munafik Raisya! Setelah kamu menggoda kakakku, lalu menggoda Ferdy, apa itu tidak cukup?" Bentak Jacky tidak bisa menahan lagi kegundahan hatinya Raisya menjadi milik laki-laki lain.


"Jacky lepasin!" Raisya kembali menghentakkan tangannya dari genggaman Jacky. Tapi lagi-lagi tidak berhasil. Jacky malah semakin menarik Raisya dengan kasar.


"Jacky lepasin tidak? Atau aku akan berteriak." Raisya ingin melepaskan diri dari Jacky.


Bukk


Tanpa aba-aba Baron meninju wajah Jacky lantas dengan spontan Jacky pun melepaskan genggaman tangannya daru Raisya.


"Sedari tadi aku menahan diri pak Jacky! Tapi sikap anda terlalu kasar pada Raisya. Saya tidak akan membiarkan dia kesakitan." Jawab Baron dengan nafas tersenggal menahan marah.

__ADS_1


"Kamu kira aku takut?" Jacky melayangkan pukulan ke arah Baron.


Bukk


Seketika itu juga bibir Baron langsung mengeluarkan darah.


Bruggg


Raisya pingsan di tengah kedua laki-laki itu yang sedang membalas pukulan.


"Raisya.. " Baron segera menghampiri Raisya yang pingsan.


"Awas! Biar aku yang mengangkatnya!" Jacky mendorong Baron sehingga badannya ikut terhuyung.


Baron mengalah daripada harus ribut kembali.


Jacky segera mengangkat tubuh Raisya dan melangkah menuju area parkir.


Dari kejauhan Anwar melihat Jacky sedang mengangkat tubuh Raisya.


"Ada apa dengan mereka?" Ucap Anwar kaget. Tadi dia melihat Raisya baik-baik saja tapi sekarang malah tubuhnya diangkat Jacky.


"Buka pintu mobil!" Ucap Jacky menyuruh Anwar agar membuka mobil Raisya.


"Baik." Anwar segera membuka pintu mobil tepat nya pintu kedua. Jacky lalu menaruh Raisya di jok kedua.


"Kenapa dengan mbak Raisya?" Tanya Aisyah. kaget. Karena tadi dia melihat Raisya baik-baik saja.


"Anak-anak suruh naik mobilku saja! Bawa Raisya ke rumah sakit terdekat!" Ucap Jacky pada Anwar tanpa menjawab pertanyaan Aisyah.


"Baik." Jawab Anwar tanpa menunggu lama.


"Anak-anak naik mobil ayah dulu ya! Mama mau dibawa ke rumah sakit dulu!" Aisyah mengajak Michelle dan Arsel naik mobil Jacky.


"Mama kenapa tante?" Tanya Michel heran


"Mamah tidak tahu. Makanya dia mau dibawa ke rumah sakit." Ucap Aisyah tak bisa menjawab pertanyaan Michel.

__ADS_1


Sekilas Michel melihat Jacky, ada luka lebam di pipinya. Lalu anak itu menoleh ke arah Baron ada luka di ujung bibir nya.


__ADS_2