
Seminggu susah Raisya dirawat. Sarah setia menunggunya di rumah sakit. Hari ini adalah kepulangan Raisya ke rumah setelah dirawat selama seminggu.
"Kak Sarah.. aku.. ingin mengunjungi makam bapak. Aku belum sempat mendoakannya." Pinta Raisya pada Sarah. Sarah pun tersenyum pada Raisya. Dia tak berani mengungkit apapun ketika berbicara dengan Raisya. Dia tahu betul kondisi kejiwaan Raisya sedang tidak baik-baik saja paska diperkosa.
"Baiklah adikku sayang.. Kita akan pergi bersama." Sarah membereskan baju-baju Raisya ke dalam tas.
"Assalamu'alaikum." Sarah dan Raisya menoleh ke arah pintu setelah mendengar seseorang mengucapkan salam. Dari suaranya suaranya sih sudah kenal. Dia pasti Adam.
"Waalaikumsalam." Keduanya kompak menjawab salam Adam.
"Hei.. aku punya kejutan lho buat kalian." Ucap Adam mengembangkan senyumnya.
Raisya dan Sarah saling memandang, lalu keduanya tersenyum menatap Adam.
Di luar sana ada yang sedang deg-deg anan menunggu giliran masuk untuk memberikan suprise. Berulangkali dia mengatur nafas agar dadanya bisa tenang.
Ya.. Jacky.. dia memaksa pulang stelah dua minggu dirawat di rumah sakit Singapura. Sekarang dia sudah bisa berjalan, meski kakinya sedikit ngilu. Dia lebih banyak duduk dan sesekali berdiri atau berjalan untuk memberikan stimulasi pada syaraf-syarafnya agar cepat pulih.
Kemarin sewaktu datang ke Indonesia, dia sempat bicara dengan Sarah dan juga Adam. Ketika Jacky mendengar sesuatu yang menimpa Raisya, hatinya benar-benar hancur, kecewa dan marah. Bagaimana tidak Jacky tidak hancur ketika mendengar orang yang dicintainya ternyata telah dinodai. Ya.. sebagai manusia biasa wajarlah dia kecewa dan marah. Seharian itu Jacky menghabiskan diri dengan merenung, bahkan untuk menerima semuanya dia sebenarnya tidak siap.
Untunglah Adam segera mengingatkan Jacky. Ya.. Adam dan Sarah adalah pasangan suami istri yang baru saja rujuk setlah sekian tahun bercerai. Mereka memutuskan kembali bersatu setelah merenung sekian tahun dan akhirnya menyerahkan segalanya pada yang di Atas. Beberapa tahun itu mereka gunakan untuk mendekatkan diri pada yang Maha Kuasa. Karena tanpa itu semuanya akan hambar dan tak pernah merasa damai. Setelah menemukan kemantapan hati keduanya memutuskan untuk saling memaafkan apa yang sudah lalu. Mereka bertekad untuk memulainya dari awal lagi dengan bekal ilmu juga tawakkal.
Jacky merasa terenyuh dengan apa yang dikatakan Adam. Setiap manusia bisa saja tergelincir. Tapi hanya sedikit sekali orang yang bisa naik kembali ke tempat yang baik. Itu butuh tekad dan modal yang kuat. Kuncinya jika kita bergantung selalu dengan yang di atas, pastinya dia akan selamat. Bisa jadi keburukan-keburukan yang datang asalnya dari diri kita sendiri. Sedikit saja kita memilih jalan, tentunya kita akan menempuh tujuan yang berbeda.
Begitupun ujian yang selama ini kita jalani, tidak semata-mata karena Tuhan sedang menguji, tapi memang kita sedang salah memilih jalan.
Jacky akui selama ini menyukai Raisya, tapi dia enggan untuk jujur. Bahkan ketika Sherly datang dia serakah untuk memiliki keduanya. Dan lagi-lagi.. keburukan yang dia buat sendiri yang mengakibatkan Raisya sampai di tangan Nathan.
Semua keburukan pastinya datang dari diri kita sendiri. Mungkin saja apa yang selalu menimpa Raisya pun adalah salah satunya ada campur tangan dirinya.
Ingin baik tapi tanpa bertobat dulu, itu sulit. Ibaratnya ketika memakai baju kotor, kita tak mungkin dianggap bersih kalau baju yang kita pakai tidak dicuci dahulu.
__ADS_1
Ya.. begitupun ketika dia berniat untuk menikahi Raisya. Dia tidak berusaha memantaskan dirinya dahulu, dengan meminta maaf atas segala dosa-dosanya.
"Hei... kok melamun!" Adam membuyarkan lamunannya.
"Kak.. kok aku jadi deg-deg an gini ya?" Jacky meraba dadanya. Ritme jantungnya kian cepat.
"Sudah.. bismillah saja! Kamu harus tawakkal jika kamu nanti ditolak sama Raisya. Sekarang Raisya sedang butuh dukungan kamu." Ucap Adam membesarkan hati Jacky yang sedang deg-deg an.
"Ya kak." Jacky mengangguk.
'Kamu siap?" Adam sudah siap mendorong kursi roda yang diduduki Jacky.
"InsyaAllah siap." Jacky memantapkan hatinya untuk melamar Raisya sekarang juga. Dia akan menerima segala kekurangan Raisya plus kelebihannya. Adapun berhasil dan tidaknya lamarannya diterima Raisya, Jacky telah berserah diri.
"Tara... " Adam berteriak sambil mendorong kursi rodanya Jacky.
"Jacky... " Raisya terkejut melihat kehadiran Jacky yang sudah ada di depannya.
Matanya berembun. Ada rasa sakit yang sedang muncul ke permukaan begitu Jacky sudah ada di depannya.
"Assalamu'alaikum. Apa kabar Raisya?" Jacky berusaha tersenyum pura-pura tidak tahu apa yang menimpa Raisya. Dia ingin tetap tegar meski dia sendiri merasa pahit dan getir.
Dia saja merasa hancur, apalagi Raisya. Masih bisa hidup saja itu sudah beruntung. Karena tak mudah untuk menjalani kehidupan seperti Raisya. Sudah diperkosa oleh orang terdekat, punya tanggungjawab mengurus anak, dan yang paling berat adalah bagaimana dia nantinya kalau sampai hamil?
Bukan hanya dirinya tapi bagaimana dengan anak yang dikandungnya? Belum. cemooh yang akan diterimanya. Itu pasti cobaan yang akan diterima Raisya.
Lalu siapa lagi kalau bukan dirinya yang akan menjaga dan menerima apa adanya?
"Alhamdulillah baik Jack. Kamu sendiri bagaimana?" Jawab Raisya lirih. Dia tak berani mengangkat wajahnya dihadapan Jacky.
"Alhamdulillah baik dan sehat. Kamu mau lihat?" Jacky yang melihat Raisya tertunduk malu, langsung berdiri memperlihatkan kemajuannya.
__ADS_1
"Wah... MasyaaaAllah." Sarah yang baru saja melihat Jacky berdiri tegak sempurna merasa tercengang. Raisya menatap ke arah Jacky, dia pun merasa kaget melihat Jacky sudah bisa berdiri.
"Senyum dong jangan melongo begitu!" Ucap Jacky mengingatkan Raisya.
Raisya mengembangkan senyumnya pura-pura tersenyum.
"Kamu senang lihat aku Ra?" Jacky menatap lekat pada Raisya.
"Iya." Raisya berkata pelan. Matanya yang tadi sudah berembun kini malah menetes.
"Eh.. kok. nangis?" Jacky mendekati ranjang yang sedang ditempati Raisya. Di duduk di sampingnya.
"Kita cari makan dulu ya!" Sarah mengedipkan matanya pada Adam. Adam paham maksud isyarat Sarah.
"Jangan lupa beli juga buat kita!" Ucap Jacky pada keduanya.
"Iya. Cerewet banget!" Seperti biasa Sarah kalau susah bertemu Jacky seperti Tom and Jerry.
Keduanya keluar dari ruangan untuk memberikan privasi pada keduanya.
"Kapan datang dari Singapura?" Raisya menoleh ke samping bertanya pada Jacky.
"Kemarin pagi. Sebenarnya sih belum bisa pulang. Cuman aku... kangen sama kamu Ra." Ucap Jacky jujur.
Raisya tertunduk. Ada beban mental yang sedang ditanggungnya sekarang.
"Ra.. mau kan menikah denganku?" Jacky melihat Raisya yang sedang menunduk.
Hening
Tes
__ADS_1
Air mata Raisya jatuh di pergelangannya.
"Maaf Jack... maafin aku." Lirih Raisya sambil menangis sesenggukan.