
"Daddy.. " Michel membentangkan tangannya, berharap dia digendong ayahnya. Nathan yang sudah mengerti maksud Michel, langsung mengangkat Michel. Lalu dia berjalan menuju parkiran setelah mengurus administrasi rumah sakit terlebih dahulu. Di sana sebuah mobil sudah siap melayaninya.
"Daddy... mana tante?" Michel menatap wajah Nathan penuh harap, menanyakan keberadaan Raisya yang tadi pergi bersama Jacky. Walaupun Michel usianya masih kecil dia sepertinya dia mengerti pertengkaran yang tadi terjadi antara Nathan dan Jacky.
"Dia pulang dulu sayang.." Jawab Nathan aambil masuk ke dalam mobil. Dia mendekap putri kesayangannya dengan penuh kasih sayang. Walau Nathan hidup sebagai single parent, dia cukup perhatian pada Michel.
"Aku mau sama tante.. " Rengek Michel dengan wajah memohon. Michel terlihat tidak arogan lagi seperti sebelumnya. Baru kali ini Nathan melihat Michel terus menanyakan seseorang. Sebelumnya walau dia hidup dengan baby sitter tapi tidak pernah sekalipun dia merengek ingin bersama dengan mereka. Berbeda dengan Raisya, Michel begitu menempel padahal dia baru satu kali bertemu dengannya.
"Tantenya lagi sakit sayang.." Nathan cuman bisa mengatakan hal itu. Dia terpaksa berbohong untuk mengatasi rengekan Michel yang tak bisa diatasinya. Dia pun merasa malu kalau harus memohon pada Raisya. Apalagi tadi sudah berlaku kasar pada wanita itu.
"Daddy kenapa mukul tante?" Michel menyusupkan kepalanya pada dada bidang Nathan sambil bergelayut manja. Anak ini rupanya sedang menyesalkan tindakan ayahnya.
"Tante tadi gak bisa jaga Michel dengan baik. Jadi Daddy kasih hukuman." Kilah Nathan membela diri.
"Daddy jahat... " Michel memprotes. Entahlah apa yang telah Michel rasakan saat ini. Dia terlihat sedih melihat sikap ayahnya pada Raisya.
Nathan hanya mengusap pucuk kepala Michel sambil menatapnya inten. Ada segurat rasa sakit di dalam hati Nathan melihat wajah tak berdosa yang sedang di pangkuannya. Mengingat kejadian masa lalu yang dialami Nathan dengan Sherly.
Nathan kembali menatap ke depan. Wajahnya nampak kelelahan. Dia menyandarkan kepalanya kebelakang sambil memejamkan matanya.
Hari-hari yang melelahkan sudah Nathan jalani. Selain dia harus mengurus perusahaan ayahnya, dia pun harus menangani Michel yang mempunyai gangguan trauma.
Tak lama kemudian Nathan sampai di depan rumahnya. Sebuah bangunan mewah dua lantai yang baru saja dibelinya ketika kedatangannya ke Indonesia. Rumah mewah yang hanya dihuni dua orang pembantu, dua orang baby sitter, dirinya juga Michel nampak seperti rumah tak bernyawa.
Perlahan Nathan turun dari mobil sambil memangku Michel yang sudah tertidur pulas. Dia berjalan menuju kamar Michel lalu perlahan dia membaringkannya di kasur.
Ditatapnya Michel lamat-lamat wajah imut yang selama ini dia cintai. Yang menemani kekosongan hidupnya selama ini juga penglipur lara di saat dia sedang bersedih. Matanya nampak berkaca-kaca melihat wajah polos tanpa dosa yang kini terbaring di kasur.
__ADS_1
Sebentar Michel terlihat melenguh, merubah posisi tidur dengan nyaman. Nathan menyelimutinya sampai menutupi dada. Dikecupnya kening gadis kecilnya dengan penuh kasih sayang. Bibir mungil merahnya terlihat tersenyum
Sebahagia itukah kamu? Membawa senyumnya dalam tidur.
Perlahan Nathan meninggalkan kamar Michel.
Lalu dia naik ke atas menuju kamarnya melonggarkan dasi lalu membukanya. Setelah membuka baju kebesaran yang biasa dipakainya dia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tubuh Nathan terlihat segar setelah mandi. Lalu Nathan memakai pakaian santai dan duduk di tepian kasur.
Dia mengambil sebuah benda pipih yang bukan miliknya di atas nakas. Matanya melihat benda pipih dengan merk standar jauh dengan merk yang dimilikinya. Bayangan kejadian tadi tiba-tiba terlintas di kepalanya.
Dia sedang memikirkan perbuatannya yang ringan tangan. Kenapa tadi dia begitu ringan menampar Raisya karena masalah Michel. Apakah dia sangat ketakutan kehilangan putri kecilnya? Jawabannya, Nathan pun tak mengerti.
Di lain tempat Jacky sedang menikmati soto ayam bersama Raisya dimana tempat ini banyak dikunjungi kalau menjelang malam. Selain harganya cukup terjangkau rasanya pun memang enak di lidah.
Jacky melihat mangkuk yang sedari tadi hanya diaduk-aduk oleh sendok yang dipegangi Raisya.
"Kenapa tidak dimakan Ra?"
"Ya sudah kalau begitu aku pesankan untuk di rumah. Nanti kalau kamu lapar bisa dimakan." Jacky berdiri memesan makanan lalu membayar tagihannya.
"Yuk pulang! Sepertinya kamu sudah lelah!" Jacky menarik tangan Raisya lalu menuntunnya ke luar.
"Aku antarkan sampai ke kost!" Walau Raisya tak banyak bicara, Jacky tahu Raisya sedang tidak baik-baik saja.
Raisya hanya berjalan patuh tak menolak bantuan Jacky. Sampai pintu pagar yang mana bertengger post satpam Raisya berhenti.
"Sudahlah kamu pulang!" Raisya berbalik melihat Jacky.
__ADS_1
"Iya. Aku pulang. Kamu baik-baik ya! Nanti aku telepon sampai di rumah." Jacky menatap wajah wanita di depannya dengan tatapan penuh arti.
"Tapi.. " Raisya baru ingat.
"Kenapa?" Jacky mengernyitkan dahinya.
"Handphone ku.. kayanya hilang deh." Wajah Raisya terlihat sedih.
"Pantesan tadi aku telepon gak aktif!" jawab Jacky membenarkan apa yang terjadi.
"Ya sudah kamu tunggu sebentar di kostan ya!" Jacky langsung bergegas pergi. Raisya melihat punggung Jacky hilang seiring langkahnya yang menjauh.
Raisya berjalan masuk ke kostan lalu membuka pintu dengan sisa tenaganya. Menyimpan tasnya di atas meja lalu membaringkan tubuhnya di atas kasur dengan menutup sebagian wajahnya dengan tangan.
Walau matanya tertutup tapi pikirannya terus berjalan-jalan. Satu sisi Raisya merasa sakit hati dengan sikap buruk Nathan dan satu sisi lagi dia bersyukur Michel bisa selamat.
"Hah... begini ya rasanya menjaga anak! Antara cemas dan takut. Wajar saja dia sampai menamparku. Pastinya aku juga seperti itu kalau jadi oran tua." Gumam Raisya menilai kejadian tadi
"Hah.. lucunya kamu Michel... kamu sekarang lagi apa? Apa kamu lagi menjerit-jerit seperti gempa? Aku gak kebayang daddy kamu tiap hari mendengar jeritan mu. Aku saja yang baru mendengarnya, sampai stress." Senyum Raisya terlihat mengembangkan menanggapi sikap Michel.
"Tapi daddy mu tampan abis." Gumam Raisa.
Tanpa disadari Raisya tersenyum sendiri membayangkan Nathan. Anehnya bukan lagi sakit hati yang dirasakannya sekarang malah dia sedang mengagumi laki-laki tampan bermulut pedang itu.
Suara adzan magrib berkumandang menyadarkan lamunan Raisya.
"Astagfirullah.. aku kok lupa belum mandi padahal sudah adzan." Raisya berbicara sendiri lalu langsung meloncat dari kasur langsung bergegas menuju kamar mandi. Setelah itu Raisya segera shalat magrib lalu mengaji.
__ADS_1
Suaranya yang begitu merdu membuat seseorang yang akan mengetuk pintu kostan nya mengurungkan niatnya.
"Raisya kau idolaku." Ucapnya.