
Raisya menangis karena gak mungkin ikut berdebat dengan mereka. Dalam hati Raisya ada sejumlah ketakutan yang akan dilakukan Nathan. Apalagi dia sudah datang malam tadi dan mengancam jika menolak Michel, Nathan akan melakukan lebih dari sekadar ciuman. Pastinya. akan ada hal yang lebih mengerikan dari sekadar dipukulinya.
"Tante.. jangan menangis!" Michel kembali naik ke kursi yang ada ditepian ranjang pasien. Mata Michel yang masih murni menatap Raisya dengan tulus.
Raisya masih menutup wajahnya sambil sesekali menyeka air matanya.
"Sya kalau elu gak nyaman di sini, gue pindahin sekarang juga ya?" Hendrik mengambil inisiatif memindahkan Raisya ke rumah sakit lain daripada harus bersitegang dengan Nathan yang terbilang agak psikopat.
Raisya tidak menjawab. Dia hanya sesenggukan tidak tahu harus berbuat apa. Keinginan terdalamnya dia ingin pergi jauh dan tidak menemukan lagi makhluk yang bernama Nathan.
"Sya.. kamu mau gak pindah?" Ratna mengulang pertanyaan Hendrik.
Raisya malah memeluk erat tubuh Ratna. Dia hanya bicara dengan bahasa tubuhnya.
"Kamu tenang! Ada kita disini." Ratna menenangkan Raisya yang baru saja terpukul mendengar pertengkaran dalam ruangannya
"Tante tenang ya! Ada Michel yang jagain tante." Tangan Michel nyang imut menyentuh bagian tubuh Raisya yang bisa dijangkau nya.
"Ih Kobe!" Ratna bicara ketus sambil melirik sebentar pada Michel.
"Apa itu Kobe?" Hendrik yang baru mendengar bahasa itu agak kerung.
"Kokolot Begog tau!' Ratna menjelaskan kepanjangan bahasa KOBE yang diadopsinya selama bergaul dengan Raisya.
"Apaan juga tuh?" Hendrik kembali bertanya.
"Ah udah gak usah ngerti. Nanti tanya aja sama orang sunda." Kilah Ratna langsung kembali melihat Raisya.
"Tante Raisya dipukulin daddy aku ya? Daddy aku jahat ya? Daddy aku gak bakal jahatin lagi tante. Aku bakal jaga tante disini biar daddy gak berani mukulin tante Raisya." Michel dengan segala kepolosan anak kecil dan kecerdasannya bicara tegas mengenai sikap ayahnya yang brutal.
"Ya ampun anak bawang!" Ratna nyengir mendengar celoteh Michel.
"Daddy! Kenapa belum pergi? Daddy gak usah lama-lama disini! Daddy jahat!" Michel mendelik dan langsung melipat tangan di dada dan cemberut pada ayahnya.
"Baik daddy berangkat dulu sayang! Nathan mendekati Michel mau mencium Michel. Tangan Michel langsung mengacungkan 5 jarinya melarang daddy-nya mendekatinya.
"Baik. Michel jangan nakal ya! Daddy berangkat dulu!" Nathan berlalu dari ruangan pergi ke kantor.
__ADS_1
Michel masih memasang wajah marah.
Bibir Ratna mau mundur seperti mengolok-olok perkataan Nathan. Michel langsung melirik pada Ratna dengan tatapan tidak senang.
"Jelek tau!" Michel langsung mengomentari reaksi Ratna.
"Aih.. dasar anak bawang tak tahu diri!" Ratna sebal dengan sikap Michel yang tidak sopan.
"Sudah Ratna! Kamu kok sebelas duabelas" Hendrik mencegah Ratna untuk melayani Michel.
"Kakak yang 13 dan Raisya 14." Ratna yang tidak mau kalah berdebat selalu saja ada jawaban.
"Lieur ah!" Hendrik langsung memijat keningnya.
"Sya coba lihat jari kamu!" Hendrik sedang mengalihkan pembicaraan dan mengamati jari Raisya yang sudah tersemat cincin.
"Wah bagus! Pas di jari kamu Sya!" Puji Hendrik merayu Raisya agar tidak terlalu bersedih.
"Eh bagusan mana dengan yang punya gue?" Ratna langsung mensejajarkan jarinya dengan Raisya ingin dinilai oleh Hendrik.
"Kamu pantes nya jadi modelnya sih Rat!" Hendrik yang tahu jari-jari adiknya yang terawat baik terlalu indah dipandang mata. Memakai Cincin berlian itu ibarat tangan model yang sedang memeragakan iklan sebuah perhiasan.
"Beuuh.. KOBE!" Ratna langsung kesal melihat kelakuan Michel yang posesif pada Raisya.
"Heh Michel. Emang tante Raisya itu milik kamu apa? Gue aja yang hampir sobatan 10 tahun gak posesif kaya elu bocah sotoy!" Ratna kembali berdebat dengan Michel.
"Aduh Ratna. Kuping gue lama-lama rombeng! Elu kaya emak-emak kurang duit gitu! Dari pagi sudah ribut sama Jacky, sama Nathan, sekarang sama anak kecil yang gak mesti lu layanin kaya gitu. Raisya yang matanya bengkak sekarang melayangkan protes pada Ratna.
"He he iya sorry beb.. habis mereka ngeselin Sya!"
"Tahan dikit dong! Mana yang harus dijawab, dan caranya yang baik-baik!" Saran Raisya pada Ratna.
Srotttt
Suara pintu terdengar dibuka. Sarah masuk dengan dua perawat.
"Nona Raisya yang manis. Kita akan visit ya! Sesudah itu saya akan bawa anda keruang MRI, rongsen juga USG ditambah ke fisioterapi. Untuk melihat kondisi perkembangannya." Sarah bagian visit dokter ke ruangan Raisya.
__ADS_1
"Eh Michel juga ada disini! Itu mbak Ina menunggu diluar. Kasian nunggu Michel kayanya. Michel mau sekalian diperiksa juga?" Sarah tersenyum manis melihat bocah imut anaknya Nathan.
"Boleh.. boleh. Aku mau barengan sama tante Raisya diperiksanya." Seru Michel yang kegirangan.
"Mmhh... boleh. Tapi tante Raisya pemeriksaannya lama Michel. Michel mau kan nanti menunggu di ruangan Michel sama mbak Ina? Karena di ruangan tante Raisya tidak boleh ada anak kecil sayang.." Rayu Sarah pada Michel.
"Tapi nanti kalau tante Raisya sudah selesai, Michel boleh barengan disini lagi?"
"Boleh. Tapi gak boleh lama. Nanti Michel terkena virus orang dewasa. Jadi kalau mau istirahat, Michel harus tidur di ruangan Michel sendiri.
"Iya." Michel menunduk sambil cemberut.
"Ya udah perawat, bawa kursi roda untuk Michel! Dan Raisya bawa sama blankar nya saja!" Perintah Sarah pada dua perawat.
"Baik.Dok!" Perawat langsung mendorong Raisya dan Michel ke ruang pemeriksaan. Hendrik dan Ratna mengikutinya.
"Sarr... bisa tidak Raisya dipindahkan ke rumah sakit lain?" Hendrik merasa keberadaan Raisya di rumah sakit itu tidak kondusif.
"Kenapa?" Sarah melirik heran.
"Kamu tahu sendiri tuh bocah sama bokap nya pada gila!"
"Kita lihat saja hasilnya. Mudah-mudahan Raisya kondisinya membaik. Elu khawatir pacar elu dibawa babehnya?" Sarah tersenyum tipis.
"Masalahnya mereka kaya gak normal gitu Sar! Gue khawatir si Nathan kelainan jiwa." Jelas Hendrik pada Sarah. Walaupun Sarah tahu keadaan Nathan sebenarnya, dia tak mau ikut campur urusan mereka.
"Iya nanti gue rujuk kalau Raisya sudah kuat. Gonjang-ganjing ke sana kemari kasian juga sama Raisya! Atau elu mau pelayanan exekutiv?"
"Ya, pake bodyguard 24 jam. Jadi elu gak mesti khawatir kalau Raisya lagi ditinggal sendiri. Rumah sakit ini juga ada layanan kaya gitu.
"Ya udah gue pake yang itu saja!" Hendrik langsung mengambil keputusan.
"Drik.. kamu kangen gak sama gue?" Hendrik langsung melirik pada Sarah.
"Jangan bikin fair Sar! Inget lu udah punya suami." Saran Hendrik.
__ADS_1
Visual Sarah. Cantik gak? Menurut readers cantikan mana Raisya sama Sarah?