
"Siapa Dira?" Raisya agak mengernyitkan dahi. Rasanya dia tak mengundang siapapun. Kalaupun Ratna pastinya dia bakal langsung masuk.
"Gak tahu. Tapi.. yang jelas.. cakep abiss!" Dira tersenyum sambil mengangkat dua jempolnya.
"Temuin dulu tamunya, sekalian ajak makan!" Ucap ibunya Raisya.
"Raisya ke depan dulu ya mah."
"Mm.. " Ibunya Raisya mengangguk sambil menyuapi Arsel yang sangat menikmati aneka masakan neneknya.
Raisya berdiri meninggalkan meja makan, dan melangkahkan kakinya ke depan ke ruang tamu
"Dokter Ferdi... " Raisya benar-benar kaget, hampir saja jantungnya meloncat melihat dokter Ferdi ada di rumahnya.
"Raisya.. " Wajah dokter Ferdi terlihat berbinar begitu melihat Raisya. Tidak melihat Raisya beberapa hari saja, rasanya seperti sudah beberapa tahun. Ada rasa rindu yang menggunung yang siap tumpah kapan saja.
"Duduklah!" Raisya jadi canggung begitupun dokter Ferdi yang terlihat mesem-mesem menahan malu dan rindu.
"Kamu sehat Raisya?" Dokter Ferdi tersenyum, matanya menatap lekat Raisya. Dia tidak mau kehilangan Raisya sekejap pun dari pandangannya.
"Alhamdulillah dok." Raisya mengangguk. Dia sekarang sedang berusaha menata hatinya agar tidak mudah terpesona oleh dokter Ferdi yang sekarang sedang ada di depannya menatapnya dengan penuh rasa rindu.
"Mmm.. dokter kok bisa tahu saya ada disini?" Raisya heran kenapa dokter Ferdi bisa sampai di rumahnya.
"Mmm.. ikut GPS handphone kamu. Tadi sih sempet eror juga. Tapi alhamdulillah sampai juga, setelah tanya-tanya di depan." Terang dokter Ferdi dengan senyuman terbaiknya. Kalaulah Raisya masih single, bisa jadi langsung jatuh hati melihat dokter Ferdi dengan penampilan maksimal. Mempunyai kulit bersih bercahaya mengeluarkan aura kuat, tampan, dan tinggi. Wanita mana yang tidak akan jatuh hati melihat laki-laki yang sedang tersenyum manis di depannya dengan segala pesonanya.
"Raisya... kenapa tamunya gak diajak makan...?" Ibunya Raisya langsung masuk ke ruang tamu. Tadinya berteriak tapi begitu melihat anak muda tampan yang sedang duduk di depan Raisya, nada suara ibunya perlahan-lahan menjadi pelan. Dia kaget melihat wajah dokter Ferdi.
__ADS_1
Ya Allah... kenapa dia mirip sekali ketika dia waktu muda?
Ibunya Raisya melongo menatap wajah dokter Ferdi.
"Eh.. mamah." Raisya terhenyak melihat ibunya sudah berdiri tidak jauh dari kursi.
"Ini.. kenalin ibu saya. Mah.. ini dokter Ferdi... " Raisya mengenalkan ibunya pada dokter Ferdi.
"Saya Ferdi bu.. " Dokter Ferdi hendak cium tangan
Tapi ibunya Raisya seperti terkena sihir, dia masih berdiri mematung dengan tatapan aneh tak percaya melihat dokter Ferdi.
"Mah.. " Raisya menepuk pundak ibunya pelan.
"Iya.. " Suaranya mendadak seperti tercekat lalu menoleh ke arah Raisya dengan tatapan kosong.
"Mah.. itu dokter Ferdi mau salaman." Raisya agak heran melihat ibunya bengong saja tidak merespon apapun.
"Mama kenapa?" Raisya segera menuntun perlahan ibunya dan mengarahkannya untuk duduk.
"Gak apa-apa." Tatapan ibunya Raisya seperti syok melihat dokter Ferdi. Perlahan pandangannya memindai dari atas sampai bawah dokter Ferdi.
"Dia siapa Raisya?" Ibunya Raisya menoleh ke arah Raisya meminta penjelasan siapa sebenarnya laki-laki yang sedang bertamu di rumahnya.
"Dia dokter Ferdi mah." Jawab Raisya.
"Apa hubungannya dengan kamu Raisya?" Entah apa yang mendorong ibunya Raisya bertanya begitu gamblang menanyakan identitas dokter Ferdi.
__ADS_1
"Dia teman Raisya. Kami bertemu di klinik saat Raisya sakit. Rumahnya pun satu komplek. Waktu Raisya pingsan, dokter Ferdi lah yang membawa Raisya ke kliniknya.
Ibunya Raisya masih bengong. Pikirannya seperti kosong. Hatinya sedang menerka-nerka, kenapa ada laki-laki yang sama mirip wajahnya, ibarat pinang dibelah dua.
"Mama kenapa melamun saja?" Mata Raisya agak menyipit memperhatikan ibunya yang berubah jadi pendiam.
"Gak.. gak kenapa-kenapa. Mmm... kenapa tamunya tidak diajak makan? Anak-anak makannya sudah kayanya. Tinggal kamu yang belum Raisya. Mama masuk duluan ya!" Ibunya nampak murung. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Padahal sebelum kedatangan dokter Ferdi dia tak apa-apa. Ibunya Raisya masuk ke dalam kamar.
"Mmm.. dokter ibu saya sudah memasak banyak, kalau dokter tidak keberatan mari kita makan!" Raisya semu malu untuk menawarkan pada dokter Ferdi.
Ngapain juga dia datang ke sini.. bikin acara weekand aku gagal deh... apalagi si mamah kenapa jadi keliatan murung setelah dateng dokter Ferdi? Apa mama tidak suka melihat dokter Ferdi datang? Jadi kagok begini...
Raisya hanya bicara dalam hati. Dia agak canggung dokter Ferdi datang ke rumahnya. Pasti ibunya Raisya sebentar lagi akan menginterogasi habis-habisan. Dia tak mampu berbuat apa-apa. Meski Raisya sebenarnya menyukai dokter Ferdi, tapi saat ini dia tak ingin memberi harapan lebih padanya, dia mencoba mengikuti saran Irwan. Bukan tidak mau Raisya memilih, tapi memang kondisi sekarang yang sudah beranak dua, juga terikat dengan keluarga Alberto, langkahnya semakin menyempit. Makanya dia kemarin menghindari dokter Ferdi. Eh ini malah menyusul ke Bandung. Raisya tak bisa menghindar lagi kalau begitu.
"Dokter.. mari!" Raisya mempersilahkan dokter Ferdi untuk masuk ke ruang makan. Meja makan sudah kosong. Michel sudah masuk ke kamar dia sedang asik ngobrol dengan Sinta. Sedangkan Arsel sedang dibawa Dira juga Arif melihat-lihat binatang peliharaannya.
"Terimakasih." Ucap dokter Ferdi merasa senang sudah bertemu dengan Raisya juga keluarganya. Dia melihat sekeliling rumah Raisya, rumahnya cukup nyaman dan besar. Dia sedang bertanya-tanya apa pekerjaan orang tua Raisya.
"Mari dok Ini piringnya!" Raisya menyodorkan sebuah piring pada dokter Ferdi. Raisya yang tadi sudah menyiduk nasi dan sayur, nasinya jadi mengembang.
"Kamu.. tadi sedang makan ya?" Dokter Ferdi melihat nasi di atas piring Raisya agak mengembang karena tadi terendam air sayur sop iga.
"Mm.. iya." Raisya menjawab pelan.
"Sini tukar nasinya!" Dokter Ferdi begitu saja membawa piring yang ada di depan Raisya tanpa bisa Raisya cegah. Pergerakannya cepat sekali. Dokter Ferdi memberikan nasi baru pada Raisya.
"Dokter.. gak usah! Itu nasi saya jangan dimakan!" Raisya agak merenggut melihat dokter Ferdi membawa piringnya.
__ADS_1
"Gak apa-apa. Aku dulu malah sering makan nasi kaya gini agar kenyang. Maklum di panti segalanya terbatas. Anak-anak yang sedang perkembangan, kadang makannya banyak. Tapi kita juga harus peka pada teman yang lain. Kasihan kalau mereka tidak kebagian jatah. Jadi terpaksa saya harus membiarkan nasinya membengkak, lalu nanti saya makan agar perut saya bisa kenyang." Dokter Ferdi tersenyum miris, kalau mengingat kejadian yang waktu lalu.
"Ada siapa bu?" Pak Kardi seperti mendengar suara asing di ruang makan.