Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Sayang siapa lagi?


__ADS_3

"Alhamdulillah sehat. Kamu bagaimana Jack?" Raisya balik bertanya.


"Aku baik-baik saja!" Jacky tersenyum, matanya tidak terlepas menatap Raisya.


Kamu baik-baik saja? Padahal tubuh kamu kan tidak baik-baik Jack! Bilang sama dia, aku sakit Ra...


Jacky hanya bicara dalam hati saja, apa yang dirasakannya.


"Mmm... katanya besok mau operasi Jack?" Raisya tahu, Jacky tidak mau mengungkapkan apa yang dirasanya. Tidak mau Raisya ikut mengkhawatirkannya.


"Iya. Aku minta doanya ya!" Dengan malu-malu Jacky meminta dukungan. Memang sejak dulu Jacky bukan tipekal laki-laki yang gampang mengeluh, apalagi harus mengemis-ngemis kasihan. Dia tak mau orang lain tahu sisi lemahnya. Bahkan selama ini Jacky selalu tampil sebagai penolong Raisya. Jacky menguatkan diri agar tidak terlihat lemah di depan Raisya.


"Iya. Aku doakan semoga operasinya lancar dan kamu kembali sehat." Ucap Raisya mendoakan dari jauh untuk kesehatan Jacky juga kelancaran operasinya.


"Aamiin. Terimakasih Ra." Jacky senang sekali Raisya mengucapkan hal itu. Meski perkataan itu memang terbilang standar. Hati Jacky sekarang sedang melompat-lompat kegirangan mereka bisa akur kembali. Karena hampir seminggu lebih tidak bertemu Raisya. Terakhir kali bertemu mereka saling diam bahkan seperti perang dingin.


Sekarang giliran bicara rasanya keduanya seperti canggung. Malah terkesan kaku.


Setelah basa-basi itu keduanya malah terdiam saling memandang, tidak bicara lagi.


"Mmm.. kamu baik-baik ya di rumah! Jaga diri dan makan sehat biar tidak sakit lagi!" Jacky akhirnya bicara untuk mencairkan kekakuan.


"Ya.. Terima kasih Jack. Apa boleh aku menyusul kesana Jack?" Tanpa pikir panjang, Raisya ingin ikut menyusul ke sana. Dia takut menyesal seperti halnya pada Nathan.


"Mmm... sebentar, kamu bicara dulu sama papih ya!" Jacky bingung jika harus mengiyakan. Padahal dalam lubuk hatinya yang terdalam dia ingin sekali didampingi Raisya. Tapi dia harus bijak juga, karena di belakang Raisya ada Michel dan Arsel yang harus sekolah.

__ADS_1


Jacky memberikan handphonenya pada tuan Robert. Biarlah ayahnya yang mengambil. keputusan.


"Raisya.. kamu boleh pulang dulu ke Bandung. Nanti biar papih yang bilang sama sopir untuk mengantarkan kamu ke sana juga nanti yang menjemputmu." Tuan Robert menyarankan Raisya untuk pulang, agar suasana hatinya tidak banyak berpikiran negatif, apalagi dia baru saja sembuh.


"Tapi pih.. anak-anak kan sekolah." Sekarang Raisya malah menolak untuk pergi karena Michel baru saja pindah sekolah dan sekarang harus bolos pula. Bagaimana dengan pelajarannya yang nanti tertinggal.


"Kamu boleh bawa Arsel, Michel jika ingin ikut kamu bawa saja! Tapi kalau takut pelajarannya tertinggal biar dia tinggal saja!" Tuan Robert tak bisa merasakan bagaimana Michel tak mau kehilangan Raisya.


"Gak usah pih. Nanti saja kalau papih sudah pulang. Nanti Raisya pulang ke Bandung week and saja." Raisya berencana akhir minggu akan pulang ke Bandung agar Michel bisa dibawa juga ikut ke Bandung. Dia tidak mungkin meninggalkan Michel sendirian di Jakarta.


"Gak pa-pa ma. Kalau mama mau berangkat. Michel gak pa-pa kok." Tumben Michel mau ditinggal sendirian. Biasanya kemana Raisya pergi dia tak mau ditinggalkan.


"Ish.. nanti saja! Biar kita bareng-bareng ke sana." Raisya menolak untuk pergi tanpa Michel.


"Baik pih. Terimakasih. Semoga lancar operasinya. Papih sama Mamih sehat selalu." Ucap Raisya.


"Iya. Aamiin. Terima kasih." Tuan Robert segera menutup teleponnya.


"Ma.. kenapa mama tidak pergi ke Bandung. Michel gak pa-pa kok di sini juga." Michel melihat wajah Raisya.


Raisya membalas melihat wajah Michel lamat-lamat. Ada ketidak relakan di netra anak cantik itu sebenarnya. Raisya bisa memahami, apa yang dirasakan Michel.


"Sini sayang.. " Raisya membentangkan tangannya diikuti Michel yang memeluknya.


"Mama gak mungkin meninggalkan kamu sendirian, kecuali kamu nanti sudah punya suami yang akan menjagamu." Michel melonggarkan pelukannya dan menatap wajah Raisya.

__ADS_1


"Apaan sih mama.. baru juga Michel kelas satu SMP sudah bicara menikah." Bibirnya mengerucut melayangkan protes pada Raisya.


"He he.. iya.. iya.. mama juga tahu. Tapi kan tidak tahu namanya jodoh, besok lusa gimana ada naksir kamu?" Raisya memegang bahu Michel.


"Ah.. paling juga mama kali! Mama kali yang mau nikah sekarang, ada om Jacky ada om Ferdi ada juga om Hendrik. Mama yang akan ninggalin Michel, karena mama besok lusa akan menikah." Michel mengungkapkan apa yang ada di dalam pikirannya.


"Mmm.. bisa saja kamu ya!" Raisya mengacak rambut Michel.


"Mm.. mama kira-kira bakal memilih siapa ma buat calon suami?" Sejak kemarin Michel penasaran pada perasaan Raisya tiga laki-laki yang sedang menyukainya.


"Menurut kamu siapa kira-kira? Padahal kamu tadi dengan beraninya memanggilnya papa sama om Jacky." Raisya ingin tahu alasan kenapa Michel bisa memanggilnya Jacky dengan sebutan papa. Padahal kemarin-kemarin, Jacky sama Michel kaya Tom and Jerry. Tiap ketemu pastinya suka saling ledek.


"Mmm.. gak tahu ma. Semenjak daddy meninggal, Michel merasa sendirian. Michel senang menjaga daddy meski daddy kaya begitu. Michel juga senang menjaga mama karena mama juga orang baik yang selalu menjaga Michel sejak kecil. Tapi.. mama kan sebentar lagi akan menikah. Mama tak perlu Michel lagi untuk menjaga mama. Nanti ada suami mama yang jagain mama. Michel ingin menjaga om Jacky sebagaimana om Jacky berkorban nyawanya untuk Michel." Michel tertunduk.


"Akh.. " Raisya mengehela nafas panjang. Ada rasa sakit di dalam dadanya ketika Michel mengatakan hal itu. Seolah sebentar lagi mereka akan berpisah. Pastinya jika Raisya salah memilih suami, ada banyak hati yang akan terluka, terutama Michel.


"Bukan Michel yang jaga mama. Tapi mama akan jaga Michel selagi mama bisa. Kamu jangan khawatir dengan pilihan mama. Mama rela kalau mama tidak menikah lagi. Toh mama sudah punya dua anak." Raisya memeluk Michel lalu membelainya dengan halus.


"Ma.. " Michel tak kuasa menahan haru. Dia memeluk Raisya erat.


"Terimakasih ma.. mama sudah hadir untuk Michel. Maafin Michel ya ma.. selama ini Michel selalu bikin mama repot. Michel sayang mama.. " Butiran bening keluar dari kedua matanya. Saling mencurahkan apa yang ada dalam isi hatinya masing-masing.


"Mama juga sayang kalian. Maafin mama belum bisa berbuat yang terbaik." Ucap Raisya sambil mencium pucuk kepala Michel.


"Mama.. Acel juga cayang mama..cayang kaka.. cayang oppa.. cayang omma.. cayang om Jacky.. Mama mau cayang siapa lagi? Biar Acel cayang lagi." Dengan lucunya Arsel bicara cadel.

__ADS_1


__ADS_2