
POV Raisya.
Aku terbangun. Mataku mengedar melihat sekeliling ruangan. Aku ada di sebuah kamar dengan aksen interior yang sangat elegan. Kesannya klasik, putih dengan motif bunga-bunga mendominasi corak dalam kamar itu.
"How are honey." Suara berat itu mengagetkan. Dia muncul dari balik pintu kamar
"Siapa dia? Kenapa memanggilku honey? Apakah aku kekasihnya?" Aku mengernyitkan dahi, karena tak bisa mengingat apapun.
"Aku senang kamu bisa bangun sayang. Apa kamu lapar?" Dia tersenyum manis memandangku.
Aku hanya bisa menatapnya tanpa bisa menjawabnya.
Satu tahun lamanya aku mengalami koma. Untungnya Peter dan kak Sarah sabar merawatku dengan baik.
Hari ini mereka menyebutnya hari kelahiranku, dimana aku kembali sadar dan terbangun kembali dari tidur lamaku.
Setelah aku sadar, ternyata masih banyak yang harus aku jalani berhubungan dengan kesehatan fisikku diantaranya terapi berjalan, dan operasi dibeberapa bagian tubuhku juga wajahku. Bahkan begitu selesai operasi plastik aku sendiri tak mengenali wajahku.
Tentu perawatan selama ini, pastinya membutuhkan biaya tak sedikit. Kak Sarah dan Peter lah yang membantuku sampai detik ini. Aku, tanpa mereka apalah jadinya.
Aku akan belajar bersabar, buatku inilah kesempatan kedua bagiku untuk hidup kembali. Setelah aku sehat, aku tidak tahu harus memulai darimana. Karena Peter mempunyai klinik perawatan wajah dan body, dia menjadikanku foto modelnya.
Dari sanalah awal mula aku senang berfoto. Dan aku mencoba meng-upload foto-fotoku lebih profesional dan aku membuat beberapa konten yang menurutku itu menarik.
Al hasil, hasil kerja kerasku banyak yang menyukai. Aku banyak mendapatkan tawaran endorsement dan dari situ klinik Peter pun semakin berkembang maju. Aku senang melihat orang-orang yang selama ini membantuku maju berkembang.
Karena tawaran demi tawaran semakin banyak, aku meminta Sarah menjadi manajerku untuk mengurus segala macam kontrak dan yang lainnya yang berhubungan dengan pekerjaan. Lalu Sarah pun berhenti dari profesinya menjadi dokter karena kesibukannya mengurus pekerjaan diriku selama ini.
__ADS_1
Dari sana aku menikmati hidupku, dan aku mulai tergantung pada Peter dan Sarah.
Tahun ini Sarah mengajakku pulang ke Indonesia. Walaupun aku tak banyak tahu siapa diriku, aku hanya mengikutinya saja. Tapi sayangnya, ada beberapa pekerjaan Peter yang harus diselesaikan sehingga Sarah berangkat lebih dulu dan aku baru bisa berangkat sebulan setelahnya.
Akhirnya aku menginjakkan kakiku di negara kelahiranku. Menurut kak Sarah aku sudah tiga tahun tidak bisa pulang karena alasan kesehatanku sendiri. Aku sangat senang bisa datang kesini apalagi nanti akan bertemu keluargaku yang selama ini aku tidak mengingatnya.
Ketika tiba di bandara, aku pergi ke toilet lalu seorang anak berkerudung dengan kulit bulenya menabrakku. Sejenak aku terkesan dengan penampilannya, sudah cantik berkerudung, bule lagi. Aku membantunya berdiri dan berlalu meninggalkannya karena Peter memanggilku.
Sarah menjemput kami di bandara. Lalu membawaku ke apartemennya sebelum bertolak menemui orang tuaku juga kami berencana akan liburan ke Bali untuk merayakan hari kelahiranku yang ke tiga. Ha ha itu seperti balita, menurutku.
Ketika aku beristirahat, aku membantu kak Sarah membuka pintu karena ada bunyi belt di pintu apartemennya. Kebetulan kak Sarah sedang menyiapkan meja untuk kami makan siang.
Dan alangkah terkejutnya, tamu yang ada di depan pintu, salah satunya adalah anak perempuan yang tadi menabrakku sewaktu di toilet bandara. Aku pikir mereka adalah tamunya kak Sarah dan aku tak terlalu ingin tahu, apa hubungannya dengan kak Sarah.
Aku mencoba berkenalan dengan anak itu. Ternyata namanya Michel, lalu yang di depan apakah yang berwajah bule itu ayahnya Michel? Lalu apa hubungannya dengan kak. Sarah? Kenapa dia memanggilnya aunty? Ah.. itupun tidak sanggup aku tanyakan karena perutku sudah keroncongan minta diisi.
Karena dia ada dihadapkan ku otomatis mau tidak mau aku bisa melihat wajahnya. Meski aku sudah lama bergaul dengan Peter tapi perasaan aku tidak seperti sekarang. Aku seperti mempunyai ketertarikan dengan laki-laki di depanku. Sesekali aku mencuri-curi pandang padanya walau dia terlihat cool tidak sama sekali menatapku.
Sejak awal aku sudah memilih menu ayam geprek pedas karena aku suka sekali dengan menu itu. Entah karena Sarah sering memasak menu itu atau memang pada dasarnya aku memang suka. Aku begitu menikmati rasa ayam itu. Walau sensasi panas dan seperti terbakar terasa di mulut dan kerongkongan, aku tetap saja melahap ayam itu dengan tenang.
Sampai aku rasakan pergerakan di area pahaku. Jari-jari itu seperti menggelitik dan aku merasa terganggu. Menurutku itu sangat tidak sopan. Walaupun aku memakai baju pendek tapi jika diperlakukan seperti itu aku merasa terhina.
Aku menatap laki-laki yang ada di depanku. Awalnya aku tertarik, penilaian ku jadi berubah setelah dia berani berbuat tidak sopan alias melecehkan aku dengan pergerakan di bawah meja.
Lantas aku memelototinya, tapi dia malah berlagak tidak berdosa seperti menanyakan sesuatu 'Apa? Kenapa?'
Masih dalam saling melihat, pergerakan itu malah diulanginya lagi. Aku jengkel dan marah sampai aku menendang kakinya dan spontan kakinya membuat hentakan di atas meja. Piring dan gelas bergerak dan bersuara akibat ulah kami.
__ADS_1
Sarah yang kaget malah menyangka itu adalah gempa. Semua orang di meja melihat Sarah yang terkejut.
Setelah itu, laki-laki yang di depanku terlihat wajahnya tidak senang. Dai melirik ke arah Peter dengan tatapan seribu pertanyaan. Peter malah menggidikan bahunya sebagai jawaban 'tidak tahu.
Laki-laki itu lalu tertunduk seperti bingung dan malu. Lalu dia bersuara.
"Maaf kak Sarah bolehkah saya berpindah tempat dengan kak Sarah?
" Lah maksudnya apa dia ingin duduk di sampingku?" Aku melihat dia dengan wajah tak setuju.
"Ee... baik." Kak Sarah menyetujuinya walu terdengar gugup.
Keduanya bertukar tempat, lalu kami melanjutkan acara makan kami walau aku sendiri sepertinya sudah kehilangan selera.
"Kenapa makannya tidak dilanjutkan?" Ucapan itu malah terdengar seperti menghina.
"Terserah aku mau lanjut atau tidak." Aku menjawabnya dengan ketus. Lalu aku berdiri menyudahi acara makanku karena kesal. Semua orang melihatku dengan tatapan heran.
Setelah mencuci tangan aku masuk ke dalam kamar untuk menghindari kontak dengan laki-laki itu. Aku langsung berselancar dengan media sosial melihat perkembangan followers dan comen para netizen. Sejenak aku melupakan kejadian barusan. Sampai Sarah masuk ke dalam. kamarku.
"Sebenarnya apa yang terjadi tadi?" Rupanya Sarah penasaran dengan perubahan emosi ku.
"Gak pa-pa."
"Kamu kira, kakak bilang gempa itu nyata?"
Jangan lupa mampir ya di novel temen aku yang satu ini. Jangan lupa kasih like dan komentar. happy reading 🥰😍j
__ADS_1