Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Urutan takdir


__ADS_3

Keringat mengucur deras diiringi bibirnya yang seperti tersenyum padahal meringis karena sakit perut yang dideranya semakin nyeri.


Tadinya Ratna yang tertidur satu kasur dengan Raisya tak ingin membangunkan wanita yang baru saja dianggapnya pengganti sebagai sahabatnya yang meninggal.


Tangannya yang sudah lemas dilayangkan lalu mengusap bahu Raisya. Dia sudah sangat payah karena sejak satu jam terakhir rasa sakit di dalam perutnya kian kencang.


Raisya mengerjapkan mata karena sentuhan itu menarik kesadarannya dari alam mimpi.


"Ratna.. " Walaupun matanya masih lengket dan hanya bisa melihatnya sambil menyipit tapi dia tahu betul wanita yang baru jadi sahabatnya sedang tidak baik-baik saja.


Keringat yang sebiji jagung yang keluar dari balik pelipisnya sudah membasahi rambut-rambut halus di sekitar kening Ratna.


"Kamu.. mules?" Raisya mengerutkan dahi sambil mengamati raut wajah Ratna.


Ratna yang sudah tidak kuat menahan rasa sakit kini hanya bisa mengangguk menerima pertanyaan dari Raisya.


"Sebentar aku beritahu kak Sarah ya!" Raisya turun dari ranjang ingin memberitahu Sarah karena sepertinya Ratna akan melahirkan.


"Kak Sarah... Kak.. bangun!" Sarah mengerjapkan matanya menelisik melihat siapa yang telah membangunkan dirinya.


"Ada apa?" Sarah bangkit dari duduknya lalu mengikat rambutnya sambil mengumpulkan kesadarannya.


"Ratna kak.. sepertinya dia sudah mau lahiran. Coba lihat dulu kak!" Pinta Raisya agak khawatir.


"Iya sebentar kakak pakai kerudung dulu." Sarah memakai kerudung praktis yang sudah tersedia di gantungan besi di kamarnya. Lalu keduanya masuk ke dalam kamar Raisya.


"Rat.. kamu mules?" Sarah bertanya pada Ratna.


Ratna lagi-lagi hanya mengangguk sambil meringis. Mungkin kalau ada di rumahnya Ratna bisa bebas mengekspresikan kesakitan nya dengan menangis atau bisa-bisa mencakar Irwan. sebagai pelampiasan. Beruntung kali ini dia tidak jadi korban pelampiasan istrinya.


"Maaf kakak lihat dulu ya, coba bantu kaki kamu nya diangkat!" Sarah ingin memastikan apakah Ratna sudah mulai pembukaan. Walaupun dia dokter tapi bukan spesialis kandungan. Tapi pengetahuan dasarnya memang sudah dipelajari.


Ratna yang semula tidur miring kini tidur terlentang dan mengangkat kedua kakinya ditekuk seperti posisi akan melahirkan.


Sarah memeriksa Ratna.

__ADS_1


"Bagaimana kak?" Raisya yang ada di samping Ratna sambil mengelus dahinya bertanya tentang keadaan Ratna.


"Sudah ada pembukaan. Coba kamu bangunkan Irwan dan siapkan mobil untuk membawa Ratna ke rumah sakit!"


"Baik kak... " Raisya berdiri dari tepi kasur tapi tangan Ratna menarik baju Raisya.


"Kenapa Rat?" Raisya melihat Ratna penuh tanya.


"Jangan tinggalkan aku ya Sya! Aku takut!" Ratna dengan suara parau nya menyatakan kegalauan hatinya pada Raisya.


"Iya.. aku akan temani kamu. Aku akan panggilkan suamimu dulu ya! Sebentar!" Ucap Raisya menenangkan Ratna.


Tangan Ratna melanggar dan terlepas.


"Coba kamu tarik nafas dengan tenang ya! Jangan lupa berdoa!" Ucap Sarah sambil mengelus lembut kakinya yang sudah diturunkan kembali.


"Sayang... " Irwan tergopoh-gopoh menghampiri Ratna.


"Bagaimana kak Sarah?" Irwan panik.


"Tapi.. perlengkapan bayi nya di Jakarta, bagaimana ini?" Irwan bertambah panik.


"Ya udah. Kita langsung ke rumah sakit saja!"


"Biar bapak yang nyupir aja Sar!" Ucap Ferdi ayah sambung Sarah.


"Iya pak!" Sarah menyetujuinya. Karena kalau Irwan yang mengemudi khawatir tidak tenang.


Mereka berangkat dengan memakai dua mobil. Sepertinya penghuni rumah semua ikut berangkat ke rumah sakit untuk mengantar Ratna.


Setelah sampai di rumah sakit Ratna langsung ditangani dokter kandungan dan Raisya di dalamnya. Sarah menangani Irwan yang malah pingsan tak kuat melihat darah.


Ayah dan ibunya Sarah menunggu di luar ruangan sama cemasnya. Ikatan batin mereka seakan sudah kuat seperti pada anaknya sendiri.


Sesekali mereka mengucapkan doa lalu pandangannya terus bolak-balik melihat pintu kamar bersalin.

__ADS_1


Persalinan kembar memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Raisya yang menunggu di dalam ruangan sudah tak terhitung mendapatkan cakaran Ratna yang menjadi pelampiasan merasakan nyerinya melahirkan. Terkadang Raisya ikut menarik nafas dan mengeluarkan nafas seperti yang diintruksikan dokter pada Ratna. Terkadang dia pun meringis karena menahan sakitnya cakaran Ratna pada bagian lengannya. Raisya seolah tak peduli kalau tangannya yang mulus beberapa sudah terluka karena Ratna.


"Alhamdulillah...bayinya sudah selamat. Keduanya sehat." Pekik dokter yang menangani persalinan.


Ratna terlihat lemas tak bertenaga setelah barusan mengeluarkan dua bayi kembar selisih 15 menit dari kelahiran ke satu ke kelahiran ke dua. Tenaganya sangat terkuras sekali. Ratna memilih melahirkan normal ketimbang cesar, katanya ingin merasakan seperti wanita normal pada umumnya.


Kedua bayi sudah dibawa ke ruang inkubator sedangkan Ratna beristirahat di ruang rawat ibu bersalin ditemani oleh Irwan yang sudah sadar dari pingsannya.


"Terima kasih ya.. sudah menemani anak saya dengan baik. Mohon maaf sudah merepotkan kalian!" Ucap ibunya Ratna yang baru saja datang dari Jakarta. Kelahiran Ratna yang tak terduga malah dia melahirkan lebih awal dari perkiraan dokter.


"Iya sama-sama bu! Sudah kewajiban kami menolong Ratna." Ucap Ibunya Sarah berbasa-basi.


Sarah dan Raisya duduk menyandarkan pada kursi sambil tertidur m. Acara tidurnya jadi terganggu gara-gara proses melahirkan Ratna.


"Maaf sepertinya kami akan pulang dahulu karena mereka akan pergi pagi ini ke Bali." Ibunya Sarah berpamitan pada kedua orangtuanya Ratna mengingat Sarah dan Raisya harus terbang ke Bali karena ada jadwal pekerjaan di sana.


"Oh iya silahkan." Ucap mereka tersenyum.


"Hei.. hayu pulang dulu! Mumpung masih pagi. Kebetulan jam masih menunjukan jam 3 dini hari jadi masih ada waktu untuk tidur dulu di rumah sebelum mereka berangkat.


"Oh.. iya." Sarah membangunkan adiknya Raisya untuk segera pulang. Lalu sebelum pulang tak lupa mereka berpamitan pada semuanya.


Tak lama kemudian mobil yang dikemudikan ayahnya Sarah pun sudah terparkir di depan rumahnya. Mereka segera turun dan masuk ke dalam rumah melanjutkan acara tidur nya sebelum waktu subuh.


Sementara itu di lain tempat Jacky tidak bisa tidur tenang semalaman. Andaikata Adam mabuk mungkin begitu ada berita bahwa Sarah ada di Bandung mereka akan segera menyusul. Tapi apalah daya membawa orang yang tidak sadar malah nantinya akan mempermalukan dirinya sendiri.


Mata Jacky seperti mata panda. Lingkaran hitam. karena tidak bisa tidur terlihat kentara di matanya.


"Dam.. bangun! Ini sudah pagi." Jacky membangunkan Adam.


Adam menggeliat kesadarannya mulai terkumpul walaupun sakit kepala nya masih terasa berat.


"Ada apa?" Adam masih belum sadar bahwa dirinya sedang ditunggu.


"Cepat kamu mandi dan siapkan dirimu! Kita akan ke Bandung bertemu Sarah."

__ADS_1


"Ah enggak!"


__ADS_2