Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Tidur bersama Michel


__ADS_3

Setelah shalat magrib Raisya dan Arsel turun ke bawah untuk makan malam bersama keluarga tuan Robert. Raisya yang paling terakhir tiba di ruang tamu sangat dinantikan oleh tuan Robert dan Jacky.


"Maaf.. Raisya barusan mengurus Arsel dulu." Ucap Raisya agak tidak enak hati karena membuat orang-orang yang ada di meja menunggunya.


"Gak pa-pa duduklah!" Tuan Robert menyuruh Raisya duduk.


"Arsel kenapa tidak di kursi?"Jacky menegur Arsel yang terus saja menempel di paha Raisya.


"Arsel duduk sama om!" Jacky berusaha untuk mengambil Arsel dari pangkuan Raisya.


Arsel menggelengkan kepalanya, malah langsung menelusupkan kepalanya di dada Raisya.


"Maaf Arsel agak rewel. Dia tidak mau lepas. Dia terus saja memangil-mangil papanya." Ucap Raisya tanpa pikir panjang mengatakan papa.


"Dia inget sama Nathan?" Tuan Robert melihat ke arah Raisya.


"Eh.. bukan. Maksud Raisya.. Arsel ingin bertemu Irwan. Karena sejak kecil dia sudah menganggap Irwan ayahnya. Setelah hampir seminggu lebih ini dia tidak bertemu jadinya rewel terus." Keluh Raisya yang sedang bingung menghadapi Arsel.


"Ayo sama papa Jacky aja, mau?" Jacky kembali membuka tanganya untuk meraih Arsel.


"Mama.. aku mau pulang!" Arsel merajuk terus ingin pulang ke rumah Ratna. Karena selama ini Arsel sudah menganggap bahwa rumah itu adalah rumahnya.


"Ini kan rumahmu sayang.. " Ibunya Jacky kaget mendengar permintaan Arsel yang ingin pulang.


"Mmm maaf pih.. mih.. sepertinya Raisya harus pulang ke Bandung. Arsel rewel terus minta pulang. Raisya juga agak tidak nyaman kalau Arsel suka menangis keras tiba-tiba. Apa boleh pih.. mih..?" Raisya mengungkapkan niatnya ingin pulang ke Bandung.


"Mmm... gimana ya?" Tuan Robert agak bingung.


"Sebenarnya ada yang ingin papih sampaikan juga sih Raisya sama kamu." Tuan Robert yang tadinya mau bicara setelah makan, melihat Raisya bicara seperti barusan jadi mengubah niatnya.


"Iya pih ada apa?" Raisya melihat tuan Robert serius.


"Mmm... papih sama mamih... berniat menggantikan Nathan dengan Jacky Raisya." Mulut tuan Robert begitu berat mengungkapkan niatnya pada Raisya.


"Maksud papih?" Raisya belum jelas apa maksud perkataan dari tuan Robert.

__ADS_1


"Mmm.. papih ingin kamu menikah dengan Jacky Raisya." Suara tuan Robert hampir saja tercekat untuk memperjelas tujuannya.


Raisya menoleh ke sebelah tepatnya melihat Jacky.


"Tapi pih... Raisya belum bisa. Raisya ingin merenung dulu untuk saat ini. Raisya... ingin pulang ke Bandung dulu pih." Raisya tertunduk tidak mau melihat langsung tuan Robert.


"Mmm... papih mengerti. Semua orang di rumah ini masih berduka. Biarlah yang pergi kita ikhlaskan dan yang hidup harus melanjutkan kehidupannya. Papih tidak ada niat apapun selain demi kebaikan semuanya. Michel dan Arsel butuh ayah Raisya. Papih juga mengkhawatirkan kamu." Ucap Tuan Robert tidak mau memaksa Raisya untuk terburu-buru.


"Iya pih. Raisya ucapkan Terima kasih atas perhatian papih dan semuanya. Tapi untuk saat ini Raisya ingin memantaskan diri dulu, dan ingin berintropeksi." Raisya saat ini butuh ketenangan batin setelah beberapa waktu yang lalu dia terus-terusan diuji.


"Baiklah.. Besok kamu bisa ke Bandung diantarkan sopir." Ucap tuan Robert.


"Michel juga mau ikut bunda..." Michel melihat pada Raisya.


"Kamu kan sekolah Michel." Jacky mengingatkan Michel. Baru satu hari sekolah masa harus bolos lagi.


"Michel pokoknya mau ikut bunda. Gak mau ditinggal!" Michel setengah merengek. Setelah kematian Nathan tak ada lagi yang lebih dekat dengannya kecuali Raisya.


"Michel... nanti bunda balik lagi kok! Michel kan harus sekolah. Masa harus bolos lagi." Raisya membujuk Michel dengan lemah lembut.


"Michel gak mau ditinggal bunda!" Matanya mengembun.


"Bunda.. gak sayang sama Michel. Bunda can sayang sama Arsel saja!" Michel berdiri dan menghentakkan kakinya pergi ke kamarnya sambil berderai air mata.


"Yah labil deh." Jacky menghela nafas.


"Sudahlah kita makan saja. Nanti juga dia terbiasa. Jangan dibiasakan untuk terlalu diturut kemauannya!" Tuan Robert kembali ke mode serius.


Raisya tertunduk semuanya jadi serba salah. Dia tak mungkin terus-menerus tinggal bersama di rumah tuan Robert tanpa sebuah ikatan karena pastinya fitnahnya lebih besar. Dan dia pun tak mungkin membawa Michel karena keluarga Nathan lebih berhak atas diri Michel.


Malam itu semuanya menyimpan kebingungan atas sikap Michel yang tidak mau berpisah dari Raisya.


Raisya mengetuk pintu kamar Michel tatkala Arsel sudah tidur.


"Michel... ini bunda sayang.. kamu bisa buka pintunya?" Raisya mengetuk pintu kamar Michel yang terkunci dari dalam.

__ADS_1


Tak ada jawaban.


"Michel... sayang... bunda boleh tidak bicara sama kamu?" Raisya bicara pelan-pelan tidak mau anak itu ngambek.


Masih tidak ada jawaban.


"Michel.. sudah tidur?" Tanya Raisya. Padahal dia tahu lampu kamarnya masih menyala. Biasanya Michel kurang nyaman jika tidur dengan lampu menyala.


"Ya sudah... kalau Michel sudah tidur. Selamat tidur ya! Bunda tidak jadi pergi ke Bandung kok. Bunda mau nemenin Michel saja." Raisya mencoba memancing apakah Michel sudah tidur apa belum.


Apa dia mau keluar tidak jika aku pancing seperti itu?


Raisya hanya bicara dalam hati.


"Assalamu'alaikum." Ucap Raisya sambil menempelkan wajahnya di pintu kamar Michel. Dia ingin tahu reaksi anak itu.


"Bunda.... " Teriakan Michel terdengar jelas. Langkanya pun terdengar seperti berlari. Dia membuka kuncinya lalu handle pintu itu terbuka.


Raisya yang masih berdiri di pintu sudah siap-siap melihat Michel.


"Bunda... " Michel langsung memeluk tubuh Raisya yang sedang berdiri di pintu.


"Mmm.. sayang... dikira bunda sudah tidur." Raisya pura-pura tidak tahu.


"Bunda... beneran bunda gak akan pergi?" Michel mendongak menatap Raisya.


"Mmm... bunda malam ini mau tidur sama Michel boleh?" Raisya tidak menjawab pertanyaan Michel malah balik bertanya.


"Jawab dulu pertanyaan Michel!" Michel tidak mau Raisya masuk ke kamarnya sebelum menjawab pertanyaannya.


"Iya. Bunda sudah ngantuk. Pengen tidur." Raisya merangkul Michel dan mengajaknya mendekati ranjang.


"Ayo bobo!" Raisya membuka selimut lalu membaringkan tubuhnya di kasur Michel.


"Bunda... kok. Arsel ditinggal?" Michel menatap heran melihat sikap Raisya yang meninggalkan Arsel tidur sendiri.

__ADS_1


"Bunda lagi pengen bobo sama Michel. Tadi oppa tidur bersama Arsel." Jawab Raisya. Tadi tuan Robert menyuruhnya untuk membujuk Michel agar tidak membiarkan Michel marah terlalu lama. Ternyata dia juga merasa khawatir jika Michel akan berlaku nekad jika dibiarkan begitu saja.


"Oh.. beneran oppa ada di sana?" Michel memastikan Raisya jujur padanya.


__ADS_2